FAZER LOGINTiara dan Mahesa sedang berada di sebuah restauran. Mahesa menyempatkan diri untuk merayakan usahanya dan juga ingin makan malam bersama Tiara."Gimana kerjaan hari ini?" Mahesa bertanya sembari memotong steak untuk Tiara.Tiara yang sedang melamun, menoleh perlahan. "Baik, Mas."Pikirannya kini sedang tertuju pada sebuah foto yang dia temukan saat bekerja tadi. Tiara ingin bertanya, tapi dia takut mengganggu mood Mahesa."Aku yakin, kamu sama Siska pasti hanya teman," Tiara bergumam dalam hati sambil menatap Mahesa yang terlihat ceria.Merasa ditatap, Mahesa mendongkak. "Kenapa Ra? Ada yang mau kamu bicarakan sama aku?"Tiara tersentak, lalu menggeleng kepala."Tidak Mas ...."Mahesa memberikan piring tersebut pada Tiara. "Wajah kamu kaya lagi bingung. Apa kamu sakit?"Tiara memggeleng lagi."Aku hanya cape saja Mas."Mahesa mengusap pipi Tiara."Ya sudah selesai makan kita pulang dan istirahat."Tiara menganggukkan kepala. Mereka berdua makan dengan khidmat, sesekali Mahesa bercanda de
Sesuai ucapan Mahesa tadi malam, Tiara akhirnya dibawa ke tempat usahanya.Mobil berhenti di depan sebuah kafe dengan tampilan sederhana tetapi terlihat nyaman.Papan nama bertuliskan Ruang Rasa terpampang jelas di bagian depan. Tiara turun dari mobil dan memandang bangunan itu dengan mata berbinar.“Ini Ruang Rasa?” Tiara menatap sekelilingnya.Mahesa ikut turun dan mengangguk.“Iya.”Tiara melangkah mendekat. Matanya menyusuri bagian depan kafe yang terlihat sudah siap menerima pelanggan.“Mas, kamu benar-benar membangun tempat ini?” Tiara bertamya, seakan belum percaya.Mahesa tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya. “Iya. Aku ingin punya usaha yang bisa aku kelola sendiri.”Tiara menoleh kepadanya.“Kenapa kamu enggak pernah cerita?”Mahesa merangkul Tiara.“Aku kan sudah bilang. Aku ingin memberikan kejutan.”Tiara tersenyum kecil.“Bagus sekali, Mas.”Mahesa kemudian mengajak Tiara masuk.Begitu pintu terbuka, beberapa karyawan yang sedang mempersiapkan kafe menyapa Mahesa.
Tepat jam delapan malam, Mahesa menjemput Tiara. Mereka masuk ke dalam mobil.Sejak kedatangan Karina, pikiran Tiara tertuju pada Mahesa. Dia takut jika ucapan Karina ada benarnya, mengenai Mahesa yang malu tentang dirinya.Mahesa menoleh ke arah Tiara."Ada yang mengganggu pikiran kamu?"Tiara tersentak, lalu wajahnya berubah tersenyum."Ah tidak ... Hanya saja aku ingin bertanya boleh?"Mahesa membenarkan duduknya. "Ada apa, cerita sama aku,Ra."Tiara menatap Mahesa lekat, lalu menghela napas panjang. "Apa kamu malu jika aku bekerja sebagai pelayan cafe?"Mahesa mengerutkan kening."Siapa yang bilang? Memangnya aku terlihat malu jika kamu bekerja?"Tiara menggeleng pelan."Tidak ada, itu hanya pikiranku saja."Mahesa menggenggam lengan Tiara."Ra, aku tidak merasa malu dengan pekerjaan yang sedang kamu lakukan. Yang ada, aku yang harusnya malu pada diri sendiri karena kamu jadi bekerja lagi seperti ini."Tiara membalas genggaman Mahesa."Kamu sudah berusaha bertanggung jawab sebagai suami
Setelah mengantarkan Tiara ke tempat kerjanya, Mahesa melanjutkan perjalanan menuju kafe Ruang Rasa. Dia melangkahkan kakinya menuju Cafe.Begitu tiba, dia langsung masuk dan mengambil alih beberapa pekerjaan yang sejak pagi belum terselesaikan. Ada beberapa hal yang harus diperiksa sebelum kafe mulai ramai, mulai dari persediaan bahan makanan hingga laporan penjualan.Siska yang sejak tadi berada di dekat meja kasir segera menghampiri Mahesa. Dia sadar sudah jatuh hati terlalu dalam.pada pria itu.“Mahesa, baru datang?” Siska tersenyum ramah seperti biasanya.“Iya. Ada yang perlu aku cek?” Mahesa meletakkan ponselnya di atas meja.Siska menggeleng. “Sebenarnya enggak banyak. Aku sudah urus sebagian.”Mahesa mengangguk pelan.“Bagus. Berarti tinggal aku periksa.”Siska memperhatikan Mahesa yang sibuk membaca laporan. Dia kemudian mengambil segelas kopi yang baru dibuat oleh barista dan meletakkannya di samping pria itu.“Ini buat kamu.” Siska mencoba memberikan perhatian pada Mahesa.M
Setelah mendapatkan pesan dari seseorang, pikiran Tiara kali ini benar-benar tidak baik-baik saja. Foto yang baru saja diterimanya terus terbayang di kepala.Namun, dia tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan. Tiara tahu, satu foto tidak cukup untuk membuktikan apa pun. Bisa saja ada penjelasan lain yang belum dia ketahui. Dia menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri.“Aku enggak boleh langsung percaya.” Tiara kembali melihat foto tersebut. Mahesa memang terlihat sedang bersama seorang wanita yang belum dia kenali, tetapi tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa membuktikan bahwa mereka melakukan hal yang tidak semestinya.Lagipula, Mahesa pernah mengatakan bahwa dirinya sedang mengurus suatu urusan. Mungkin inilah urusan yang dimaksud.Tiara menggenggam ponselnya, lalu mengurungkan niat untuk menghubungi Mahesa. Dia tidak ingin membuat suasana rumah tangganya menjadi panas hanya karena sebuah pesan dari orang yang bahkan tidak dia kenal.“Aku akan tanya langsung sama
Seharian Tiara sudah bekerja dengan baik di hari pertamanya. Sambil beristirahat dia membuka ponsel dan tidak ada pesan satupun dari Mahesa.Sedikit cemas, tapi dia berusaha untuk tidak berpikiran hal aneh kepada suaminya. Tiara melanjutkan kembali istirahatnya yang hanya tinggal dua menit lagi.“Mungkin Mas Mahesa lagi sibuk,” gumamnya pelan.Dia meletakkan ponsel di sampingnya.Tiara baru saja hendak berdiri seketika ponselnya bergetar.Satu pesan masuk ke ponselnya, nama yang muncul di layar membuat gerakannya terhenti. Tiara segera meraih ponselnya."Ra, sepertinya aku tidak bisa menjemput kamu pulang kerja."Senyum Tiara seketika meredup."Kamu mau ke mana?""Aku masih ada urusan, enggak apa-apa kan kamu pulang sendiri?"Beberapa detik dia terdiam, sampai akhirnya membalas kembali. "Iya aku bisa pulang sendiri. Kalau begitu jangan pulang larut malam ya."Tiara menunggu balasan, tapi ternyata sudah menunggu lima menit Mahesa tak kunjung membalas. Entah kenapa, ada perasaan tidak ny







