Share

Bab 2

Author: Purnawirawan S.
Veyra menatap Daven dengan tatapan dingin. "Nggak mau dijelaskan?"

Daven hanya melirik alat monitor. Detak jantung Axton perlahan sudah kembali stabil.

Bukan karena dia begitu peduli pada Axton. Dia hanya seorang dokter, sedangkan Axton adalah pasien.

Daven bangkit dan berjalan melewati Veyra. "Ya, ini gara-gara aku."

Setelah kata-kata itu terlontar, hawa dingin perlahan muncul di wajah Veyra, seperti pertanda dia akan marah.

Saat Daven baru saja melangkah keluar dari pintu ruang rawat, Veyra memanggilnya, "Berhenti!"

Langkahnya terhenti. Daven tahu, Veyra pasti akan kembali membela Axton.

Namun, yang tidak disangka Daven, kali ini Veyra tidak mempermasalahkan hal itu lebih jauh.

"Aku mau ajak Axton ke pantai. Malam ini aku nggak pulang."

Daven teringat pesan yang masuk tadi, lalu mengangguk. "Aku tahu. Aku sudah lihat pesannya."

Melihat wajah Daven yang tetap tenang, dada Veyra terasa sesak. Emosi di matanya pun menjadi semakin dalam. "Malam ini aku akan nginap bersamanya. Kamu ... nggak keberatan?"

Daven sedikit tertegun. Sudah berapa lama? Sudah berapa lama Veyra tidak pernah menanyakan pendapatnya?

Saat ini, Daven baru benar-benar memperhatikan Veyra. Rambut Veyra yang dulu berwarna cokelat keemasan dan sedikit bergelombang, kini sudah diluruskan dan dicat hitam. Kaus sederhana berwarna krem dipadukan dengan rok putih panjang.

Rambut hitam lurus, rok putih, gaya berpakaian yang mengingatkan pada cinta pertama, semuanya adalah gaya yang disukai Axton dan juga keinginan Axton yang ke-21.

Pandangan Daven beralih ke tas yang tersampir di bahu Veyra. Di dalamnya ada ponsel miliknya. Kode sandi ponsel Veyra adalah tanggal ulang tahun Axton, sedangkan gambar layar kuncinya adalah foto Veyra dan Axton yang entah kapan mereka ambil bersama.

Itu adalah keinginan Axton yang ke-30.

Tubuh istrinya dipenuhi jejak pria lain. Bagaimana mungkin dia tidak peduli? Hanya saja, meskipun dia peduli, apakah Veyra akan berhenti melakukannya?

Setelah begitu banyak pertengkaran, Daven sudah lama mendapatkan kesimpulannya. Tidak ada gunanya.

Daven mengalihkan kembali pandangannya. Dia kembali melangkah meninggalkan ruang rawat dan hanya meninggalkan satu kalimat sebelum pergi. "Aku tahu kamu tahu batas."

Veyra tertegun sesaat. "Aku ... tahu batas?"

Dia mengulang perkataan Daven dengan suara serak. Kalimat itu terasa begitu familier.

Dulu, dia sendiri sering mengucapkannya. Kini, Daven justru menggunakannya untuk menyindir balik dirinya. Veyra merasa sangat tidak nyaman.

"Vey, apa aku membuat kalian bertengkar?" Tiba-tiba suara Axton terdengar.

Veyra tersadar dari lamunannya. Dia perlahan duduk di kursi di samping ranjang. Wajahnya tanpa ekspresi. Dia juga tidak menjawab.

Dia hanya memasang meja kecil di atas ranjang dengan pelan, lalu membuka kotak makanan dan meletakkannya di atas meja.

"Kamu pasti lapar, 'kan? Makan malam dulu."

Axton melihat hidangan yang tersusun rapi di dalam kotak makanan. Jelas sekali makanan itu dipesan dari restoran favoritnya.

Restoran itu sangat ramai. Bahkan untuk memesan makanan saja harus melakukan reservasi dua hari sebelumnya.

"Terima kasih, Vey." Axton mengambil sendok dan mulai makan. Kemudian, dia melihat masih ada satu kotak makanan lagi. "Masih ada satu kotak. Kamu nggak mau makan?"

Veyra terdiam menatap kotak makanan yang satunya. Kotak makanan itu sebenarnya untuk Daven.

Veyra tahu akhir-akhir ini Daven merasa diperlakukan tidak adil, tetapi dia juga tidak menginginkan situasi seperti ini.

Axton sedang sakit. Masa dia harus berpangku tangan dan tidak peduli?

Lagi pula, Daven laki-laki. Kenapa selalu mempermasalahkan hal-hal kecil seperti ini? Bukankah itu terlalu berlebihan?

Namun, Veyra juga tahu selama ini dia memang terlalu mengabaikan Daven. Karena itu, hari ini dia sengaja menyiapkan makanan untuk Daven.

Tentu saja isi di kotak makanan itu tidak sebagus isi di kotak makanan Axton. Nanti malah terlihat seolah dia sedang memohon kepada Daven.

Namun, siapa sangka ketika dia berinisiatif mengajak Daven berbicara, dia malah disindir. Hal itu membuat hatinya semakin kesal.

Melihat Veyra tidak berkata apa-apa, Axton berinisiatif membukakan kotak makanannya. "Kamu baru mengambil alih perusahaan, pasti sibuk sekali. Makan sedikit saja bareng aku."

Veyra mengangkat alis dan hendak mencegahnya. Namun, Axton sudah membuka kotak makanan itu.

Di dalamnya, makanan tersusun berantakan. Sayurannya bahkan sebagian besar sudah layu. Axton sedikit terkejut melihatnya. "Ini ...."

Veyra menarik kotak makanan itu dengan tenang, lalu menutupnya kembali. "Sisa makanan kemarin."

Sambil berkata begitu, dia memalingkan wajah ke arah pintu. Nada bicaranya terdengar dingin. "Ini untuk Daven. Dia cuma pantas makan makanan sisa."

....

Daven tiba di kantor wakil direktur rumah sakit, menyerahkan surat pengunduran diri yang sudah dipersiapkannya sejak awal.

"Pak Indra, seperti yang kusampaikan kemarin, aku ingin mengundurkan diri."

Indra sudah mendekati usia 50 tahun. Meski rambutnya telah memutih, dia masih terlihat penuh semangat. Dia sudah bekerja sebagai wakil direktur rumah sakit selama hampir sepuluh tahun.

Dia menerima surat pengunduran diri Daven, lalu berkata, "Daven, terus terang saja, sepertinya kamu sudah menyinggung seseorang. Aku nggak tahu siapa orangnya secara pasti. Yang jelas, ada yang sudah memberi peringatan ke rumah sakit agar nggak mempekerjakanmu."

"Jadi, kalau kamu pergi dari sini, kamu mungkin akan kesulitan mendapatkan pekerjaan."

Daven mengangkat bahu. "Kalau aku tetap di sini juga nggak ada gunanya. Memang jabatanku dokter, tapi gajiku bahkan lebih kecil daripada perawat."

Indra dibuat tertawa olehnya. "Hahaha. Kamu menyindirku ya?"

Usai berkata begitu, dia menggeleng. "Daven, aku juga nggak bisa berbuat banyak. Gimana kalau kamu kasih tahu aku siapa yang sudah kamu singgung? Kalau aku punya kenalan yang bisa membantu, mungkin aku bisa mencoba menjembatani kalian dan melihat apa masalahnya bisa diredakan. Aku tahu kamu dokter yang hebat."

Daven terdiam. Grup Salim menargetkan dirinya bukan karena masalah lain. Mereka hanya merasa dia tidak pantas menikah dengan Veyra.

Di dalam keluarga, ibu mertuanya mengajak adik iparnya bersama-sama mengucilkannya. Di luar, ayah mertuanya menekan kariernya.

Situasi seperti ini bukan baru terjadi sehari atau dua hari. Hanya saja, Daven tidak menyangka bahwa setelah tiga tahun menikah dengan Veyra, dia terus menahan diri dan mengalah, sementara Keluarga Salim masih tetap memandang rendah dirinya.

Daven selama ini terus bersabar menghadapi Keluarga Salim karena mencintai Veyra. Namun sekarang, sikap Veyra terhadapnya pun sudah tidak seperti dulu lagi. Tentu saja dia tidak akan terus merendahkan diri demi mencari perhatian dan hanya membuat dirinya sendiri dipermalukan.

Kemarin, Daven sudah mengambil keputusan. Pesan konfirmasi pemesanan kamar yang diterimanya hari ini pun semakin menguatkan tekadnya.

Dia tidak akan terus mengejar-ngejar mereka lagi!

"Terima kasih, Pak. Tapi nggak perlu."

Mendengar itu, Indra menghela napas. Dia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pengunduran diri itu.

"Oke. Lima hari lagi kamu sudah bisa resmi meninggalkan rumah sakit. Aku akan menuliskan surat rekomendasi untukmu. Nanti kamu bisa membawanya saat melamar ke tempat temanku. Seharusnya dia mau menerimamu demi aku."

Daven tertegun. Wajahnya yang sejak tadi tanpa emosi akhirnya menunjukkan sedikit senyuman lembut. Surat rekomendasi ini memang dia butuhkan.

"Terima kasih, Pak. Selama lima hari terakhir, aku akan merawat dua pasien yang menjadi tanggunganku dan menyelesaikan tugasku dengan baik sampai akhir."

Melihat sikapnya itu, Indra menepuk bahunya. "Sama-sama. Kerja saja seperti biasa."

Setelah keluar dari kantor wakil direktur rumah sakit, Daven sebenarnya hendak melanjutkan pemeriksaan pasien.

Namun, ketika melewati meja perawat, seorang gadis berseragam perawat berwarna merah muda menghalangi jalannya.

Gadis itu berwajah cantik dan polos. Di wajahnya bahkan ada sedikit kemiripan dengan Veyra. Dia adalah adik ipar Daven, Valeria. Dia sebentar lagi lulus dan datang ke rumah sakit hanya untuk magang.

Keluarga Salim selalu menyatakan kepada publik bahwa mereka memiliki aturan keluarga yang ketat. Bahkan Valeria pun harus memulai dari bawah untuk dilatih.

Namun, berbeda dengan Daven, Keluarga Salim sama sekali tidak menyembunyikan identitas Valeria sebagai putri bungsu Grup Salim. Mereka bahkan seolah ingin seluruh dunia mengetahuinya.

Karena itu, meski hanya seorang perawat magang, semua orang di rumah sakit akan berusaha mengambil hati Valeria dan tidak berani memberinya pekerjaan berat sedikit pun.

Saat ini, Valeria yang menghalangi jalan Daven mendongakkan kepala menatapnya. Wajahnya yang biasanya polos dan manis ketika berhadapan dengan orang lain, di hadapan Daven justru berubah menjadi angkuh.

Keluarga Salim benar-benar luar biasa dalam mewariskan seni berakting.

Selama dua tahun terakhir, meski Daven dan Veyra selalu bersikap dingin satu sama lain, dia tetap tidak pernah berani bersikap lalai terhadap keluarga Veyra.

Namun sekarang, dia sudah mengambil keputusan. Tidak ada lagi alasan untuk terus mengalah dan menahan diri.

"Ada apa?"

Melihat Daven bersikap sedingin itu, Valeria sampai tertegun. Biasanya Daven selalu berusaha bersikap baik kepadanya. Kenapa sekarang sikapnya berubah begitu drastis?

Amarahnya langsung tersulut. Dia berkacak pinggang. "Kamu kenapa sih? Kalau bukan karena tadi Kak Veyra menyuruhku bawain makanan untukmu, aku juga malas meladenimu. Jangan sok dekat deh."

Daven mengernyit. Veyra membawakannya makanan? Dia seketika teringat dua kotak makanan yang ada di kamar pasien tadi.

"Nih! Jangan bilang aku kenal kamu!"

Dengan wajah kesal, Valeria mengambil kotak makanan dari meja perawat, lalu hampir melemparkannya ke tubuh Daven.

Setelah itu, dia masih menggerutu, "Buang-buang waktuku saja. Aku masih harus bikin skripsi."

Saat Daven berhasil menangkap kotak makanan itu, tutupnya terbuka setengah karena dilempar terlalu keras.

Isi makanan di dalamnya pun terlihat. Bahkan lebih buruk daripada makanan cepat saji. Daun-daun sayuran sudah layu dan beberapa potong daging semur hampir menghitam. Sepertinya makanan itu bahkan sudah sedikit basi. Bau asam langsung tercium.

Valeria juga melihatnya.

"Pfft ...." Dia tidak bisa menahan tawa dan langsung memegangi perutnya. "Hahaha. Pantas saja. Aku heran kenapa Kak Vey tiba-tiba bersikap baik padamu. Ternyata itu makanan sisa!"

Sudut bibir Daven bergerak sedikit. Dia menutup kembali kotak makanan itu, lalu meletakkannya kembali di atas meja perawat tanpa mengubah apa pun.

Valeria langsung tidak senang. "Hei! Kak Vey berniat baik, tahu! Kamu kenapa sih? Kamu seharusnya bersyukur dia mau bawain kamu makanan!"

"Bahkan kalau Keluarga Salim cuma melempar sepotong tulang, akan ada banyak orang yang berebut untuk menggigitnya. Jangan nggak tahu diri!"

Kata-kata kejam itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Daven melambaikan tangan. "Kalau begitu, kasih anjing saja."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 50

    Vero buru-buru menutupi ponselnya dengan tangan.Namun, sudah terlambat.Daven sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."Bu ... Bu Veyra, obatnya su ... sudah aku dapatkan. Sekarang aku sedang di lobi perusahaan."Saat Vero hendak menutup telepon, Daven mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga.Suara Veyra masih terdengar dari seberang, "Oke. Gimana suasana hati Axton sekarang? Ginjal donor yang sebelumnya cocok dengannya tiba-tiba nggak bisa digunakan. Dia pasti sangat kecewa.""Besok dia keluar dari rumah sakit. Aku harus meluangkan waktu untuk menemani dia. Coba periksa jadwalku besok. Kalau ada yang nggak terlalu penting, batalkan semuanya ...."Dengan wajah tanpa ekspresi, Daven membuka mulut dan memotong perkataannya, "Veyra."Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat orang di seberang telepon terdiam sesaat."Daven?"Veyra mengenali suaranya."Kamu sudah selesai masak dan mengantarkannya secepat ini? Aku nggak punya waktu untuk turun. La

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 49

    Daven hanya melihat sekilas, lalu menarik kembali pandangannya. Dia langsung meletakkan kotak makanan di atas meja resepsionis.Resepsionis itu sedikit tidak sabar, tetapi tetap mampu mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih tersenyum ketika berkata, "Pak, kalau ini pesanan makanan, silakan letakkan di kotak sesuai departemennya ya. Dengan begitu, karyawan akan lebih mudah mengambilnya dan Anda juga bisa menghemat waktu."Daven menggeleng. "Ini untuk Bu Veyra. Aku sudah lihat kotak-kotak di sana, tapi nggak ada kotak untuk direktur utama."Mendengar itu, sang resepsionis tertegun. Dia menatap Daven dengan sedikit curiga.Demi bisa bertemu dengan Bu Veyra, beberapa mitra bisnis sebelumnya juga pernah melakukan berbagai cara yang tidak terduga."Maaf kalau lancang, Anda ini siapa?"Mendengar pertanyaan itu, Daven sedikit tertegun.Siapa dirinya?Tukang masak?Atau pengasuh pria?Apa pun sebutannya boleh.Hanya satu yang tidak boleh, yaitu suami Veyra.Daven tiba-tiba kehilangan k

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 48

    "Antarin makanan untuk anjing?"Valeria tertegun.Saat mengobati luka Daven hari ini, dia juga mendengar Daven mengatakan bahwa lukanya akibat digigit anjing. Akan tetapi, sejak kapan dia memelihara anjing?Tiba-tiba, Valeria teringat pesan yang baru saja dikirim kakaknya. Matanya langsung membelalak. Dia menatap punggung Daven yang semakin jauh.Valeria buru-buru mengirim pesan kepada Veyra untuk mengadukannya.[ Kak, Daven bilang kamu anjing! ]....Beberapa saat kemudian, Daven sudah membawa sekantong kotak makanan plastik yang telah dibungkus.Sebenarnya, Veyra tidak terbiasa dengan makanan dari luar. Dalam keadaan normal, dia hanya mau makan masakan Daven. Namun, kalau benar-benar tidak sempat atau sedang terburu-buru, dia juga akan makan seadanya di luar.Biasanya, makanan luar yang tidak terlalu ditolak Veyra adalah telur orak-arik tomat dan tahu dingin dengan daun bawang. Kedua hidangan itu memang tidak terlalu bergantung pada kualitas bahan dan juga jarang ada yang bisa mengac

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 47

    Ujung bibir Daven berkedut.Biasanya dia memang tidak akan kelelahan. Namun, tadi malam dia sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Sebenarnya, dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Itu benar-benar pertama kalinya dia melihat Veyra seperti itu.Daven mengakui, setelah hidup tanpa memenuhi kebutuhan biologisnya selama lebih dari dua tahun, dia akhirnya tidak mampu menahan diri.Tentu saja, alasan terpentingnya tetaplah penjelasan Vero kepadanya kemarin.Daven tiba-tiba teringat Veyra yang mabuk semalam, juga matanya yang memerah setelah sadar tadi pagi. Dia juga teringat bagaimana Veyra berusaha keras mempertahankan sikap dinginnya, tetapi nada bicaranya jelas terdengar sedih ketika meminta Daven mengantarkan makanan untuknya ....Daven terdiam cukup lama.Sejak ibunya meninggal, Daven selalu hidup sendirian. Sampai akhirnya, dia bertemu Veyra.Demi dirinya, Veyra pernah melawan keluarganya, mengenakan pakaian murah bersamanya, dan makan makanan sederhana bersamanya.Veyra memang

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 46

    Setelah menghabiskan airnya, Daven meletakkan gelas kertas di lantai di sampingnya."Sebentar lagi waktunya pulang kerja. Kamu nggak pulang untuk siap-siap masak? Kali ini aku bisa dengan terpaksa membiarkanmu menumpang mobilku!"Valeria mengerucutkan bibir, memasang ekspresi seolah dia benar-benar melakukannya dengan terpaksa.Daven sudah terbiasa dengan sifat gengsinya itu.Sebenarnya, ketika Veyra masih berpacaran dengannya dulu, sifatnya juga seperti ini. Hanya saja, setelah melewati masa merintis bisnis dan sekarang menjadi direktur utama Grup Salim, karakternya sudah banyak ditempa dan menjadi jauh lebih tenang."Mobil sportmu terlalu sempit. Aku tidak terbiasa duduk di dalamnya."Daven mengatakan yang sebenarnya.Setelah Valeria mulai magang, keluarganya langsung mentransfer uang saku dalam jumlah besar kepadanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebuah mobil sport Porsche berwarna merah muda.Daven tidak tahu persis modelnya. Dia hanya pernah "beruntung" mengendarain

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 45

    Tenaga medis yang berjaga di depan alat pemantau buru-buru menjawab, "Pasien mengalami reaksi penolakan, detak jantungnya terus menurun!"Kepanikan langsung terlihat jelas di wajah Valeria.Daven meliriknya sekilas, lalu dengan cepat memberi instruksi, "Ganti perawat instrumen. Valeria keluar dari area steril dan bertugas sebagai perawat sirkuler.""Hah ...?"Valeria langsung kelabakan. Namun, perawat lain sudah bersiap sejak awal dan buru-buru maju untuk menggantikan posisinya.Dia digantikan?Sebelum operasi, Daven memang sudah memberitahunya bahwa dia akan menyiapkan perawat berpengalaman untuk berjaga-jaga. Jika Valeria kehilangan fokus atau melakukan kesalahan, posisinya akan langsung digantikan.Namun, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini.Untungnya, Daven tidak langsung menyuruhnya keluar. Dia hanya memintanya bertugas sebagai perawat sirkuler di luar area steril.Cahaya putih dari lampu operasi berpadu dengan hawa sejuk pendingin ruangan. Dinding keramik di sekelili

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status