Share

Bab 3

Author: Purnawirawan S.
Saat Veyra tiba di meja perawat, dia melihat Valeria yang memegang buku catatan dengan wajah penuh kekesalan.

Veyra mengalihkan pandangan ke meja perawat. Kotak makanan itu masih tergeletak di sana. Dia pun berjalan mendekat. "Makanannya nggak kamu kasih ke dia?"

Saat melihat Veyra, mata Valeria langsung berbinar. Dia tidak tahan untuk mengeluh, "Kak, kamu nggak tahu gimana sikapnya tadi. Sombong banget. Menurutku, Kakak terlalu manjain dia sampai dia berani kurang ajar ke aku."

"Kalau bukan karena aku buru-buru mau mengerjakan skripsi, tadi sudah kutahan dia dan kumarahi habis-habisan. Enak saja dia. Malam ini aku akan ngadu ke Ibu!"

Veyra mengernyit. "Dia nggak mau?"

Valeria mengangguk. "Ya. Dia cuma lihat makanannya. Mungkin merasa nggak enak. Dia bahkan bicara kasar ke aku. Padahal, di rumah dia juga sering makan makanan sisa, 'kan? Aku juga nggak pernah melihatnya marah."

Veyra menarik sebuah kursi, lalu duduk. Dia membuka kotak makanan itu begitu saja. "Memangnya nggak enak?"

Sambil berkata demikian, dia mengambil garpu dan menusuk sepotong daging. Di bawah tatapan Valeria yang terkejut, dia menggigit sedikit.

Kening Veyra semakin berkerut. Dia membuka mulut, secara refleks ingin memuntahkannya, tetapi entah bagaimana dia tetap menelannya.

"Lumayan kok ...."

Otak Valeria seolah tidak bisa mencerna apa yang baru saja dilihatnya. "Kakak benar-benar memakannya?"

Veyra tidak memedulikannya. Dia hanya mengambil selembar tisu untuk menyeka mulut, lalu bertanya dengan santai, "Dia bilang apa tadi?"

Saat itu, kepala Valeria sudah kosong. Dia menjawab secara spontan, "Dia bilang, suruh aku kasih ke anjing saja ...."

Setelah sadar sudah salah bicara, dia buru-buru menutup mulutnya. Namun, semuanya sudah terlambat.

Melihat wajah Veyra yang semakin muram, dia menunduk dan melihat garpu di tangannya. Valeria buru-buru melambaikan tangan. "Bukan aku yang bilang ya."

....

Setelah kembali ke ruangannya, Daven merapikan data dua pasien rawat inap jangka panjang yang menjadi tanggung jawabnya di bagian nefrologi. Salah satunya adalah Axton.

Daven melirik jam. Berdasarkan kebiasaan sebelumnya, di saat seperti ini seharusnya Veyra sudah datang untuk mengurus prosedur kepulangan Axton.

Daven sudah terbiasa.

Axton ingin pergi ke taman hiburan, ingin mengunjungi restoran yang sedang populer di media sosial. Meskipun hanya pergi beberapa jam, dia tetap harus mengurus prosedur keluar dari rumah sakit, hanya untuk membuat Daven merasa tidak nyaman.

Saat Veyra sedang membereskan barang-barangnya, Axton akan datang ke hadapan Daven dan sengaja berkata, "Maaf, aku pinjam sedikit waktu istrimu. Kamu nggak marah, 'kan?"

Daven mengambil surat perjanjian cerai yang sudah disiapkannya sejak tadi, lalu menyelipkannya di antara buku petunjuk kepulangan pasien dan daftar biaya rawat inap.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu ruangannya.

"Masuk."

Benar saja, Veyra melangkah masuk dengan kaki jenjangnya. Seiring gerakannya, ujung rok putihnya sedikit terangkat, memperlihatkan betisnya yang putih dan mulus.

Terlepas dari semuanya, Daven memang menyukai gaya berpakaian ala cinta pertama ini. Sayangnya, Veyra bukan mengenakan pakaian ini untuknya.

Terlebih lagi, ekspresi wajahnya saat ini bahkan terlihat jauh lebih buruk dibandingkan ketika berada di kamar pasien.

Brak! Dia melemparkan setumpuk dokumen ke atas meja. Karena terlalu keras, terdengar bunyi nyaring.

"Pasien mau keluar."

Singkat dan padat, tanpa basa-basi sedikit pun.

Daven juga mengambil dokumen dan membukanya pada halaman yang harus ditandatangani dengan cekatan. "Tanda tangan di sini, setelah itu dia bisa keluar."

Veyra mengambil pena dan membubuhkan namanya tanpa berkata apa-apa. Saat hendak meletakkan pena, Daven tiba-tiba membalikkan halaman.

"Yang ini juga harus ditandatangani."

Veyra langsung mengernyit. "Kenapa tanda tangan dua kali? Apa kamu meresepkan obat terlalu banyak?"

Tatapannya dingin.

"Dokter memang akan mendapat komisi kalau memberikan terlalu banyak pemeriksaan dan obat, tapi kamu bisa masuk rumah sakit ini karena bantuan Keluarga Salim. Seharusnya kamu nggak serakah seperti ini."

Daven menatapnya dengan tenang. Jika Veyra sedikit lebih peduli kepadanya, dia pasti akan menyadari bahwa karena Keluarga Salim, gaji yang diterimanya hampir setara dengan perawat. Dia sama sekali tidak mendapatkan komisi apa pun.

Daven melepaskan tangannya dan menggeser seluruh dokumen itu ke hadapan Veyra. "Kalau begitu, mau kamu periksa?"

Veyra menatapnya dalam-dalam. Namun, dia tidak memeriksanya. Sebaliknya, kerutan di keningnya justru sedikit mengendur. Dia langsung membubuhkan tanda tangan.

Daven menunduk, mengambil salah satu salinan dokumen, lalu menyerahkan buku kepulangan kepada Veyra.

Dengan adanya surat perjanjian cerai, dengan kemampuan keluarga Salim, mereka tentu bisa melewati masa tunggu dan langsung mendapatkan akta cerai secepatnya.

Syaratnya hanya satu, Keluarga Salim bersedia membantunya.

Namun, Daven sama sekali tidak meragukan bahwa ayah dan ibu mertuanya, serta adik iparnya yang angkuh pasti berharap mereka bisa segera menggantikannya dengan pria lain.

Misalnya saja Axton, dia adalah calon yang sangat cocok. Meskipun latar belakang keluarganya tidak sebanding dengan Keluarga Salim, dia tumbuh bersama Veyra sejak kecil dan memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya.

Lantas, bagaimana dengan penyakitnya?

Keluarga Salim sudah mengeluarkan pengumuman untuk mencari donor ginjal dengan segala cara. Dengan pengaruh Keluarga Salim, menemukan donor ginjal hanya masalah waktu.

Selain itu, kondisi Axton juga terkendali dengan baik, jadi dia masih sanggup menunggu. Karena itu, 99 keinginan terakhirnya hanyalah sebuah lelucon.

Namun, ada seseorang yang bersedia membayar harga atas segala keinginan Axton.

"Uang jaminan yang kamu bayarkan waktu pasien masuk rumah sakit masih cukup untuk melunasi biaya. Kamu bisa ke loket untuk mengambil kembali sisa uangnya." Daven berkata demikian.

Veyra mengerti bahwa itu adalah cara Daven mengusirnya. Sekarang, Daven bahkan tidak ingin bersamanya sedetik pun, seolah Veyra sendiri yang ingin berada di sini.

Veyra mendengus dan berbalik hendak pergi. Namun, ponsel Daven yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering.

Veyra meliriknya. Melihat nama "Meisya" di layar ponsel membuat langkahnya terhenti. Meisya adalah ibunya.

Veyra sedikit tidak senang. "Pantas saja Ibu selalu bilang kamu nggak menghormatinya. Nomor teleponnya saja kamu simpan dengan namanya."

Daven tidak memedulikannya. Dia tetap sibuk merapikan data pasien yang lain.

Veyra mulai tidak sabar. "Kamu nggak angkat? Siapa tahu Ibu menunggu kita pulang untuk makan."

Tangan Daven terhenti. Pulang untuk makan? Hotel sudah dipesan. Mau pulang untuk makan lagi? Lagi pula, mana mungkin Meisya sudah memasak dan menunggu mereka pulang?

Daven akhirnya mengangkat kepala. Melihat sindiran yang tersirat di wajahnya, Veyra mengernyit.

Daven tidak menanggapinya dan langsung mengangkat telepon. Meskipun tidak menyalakan pengeras suara, suara keras dari seberang telepon tetap menggema di ruangannya yang sunyi.

"Hei, kamu nggak lihat sekarang sudah jam berapa? Kenapa belum pulang untuk masak? Nanti Veyra dan Valeria mau makan apa? Tubuh mereka lemah. Gimana kalau mereka kelaparan dan jatuh sakit?"

Daven menjawab tanpa ekspresi, "Tadi pagi aku sudah bilang, hari ini aku piket."

Setelah dia selesai berbicara, suara Meisya semakin keras. "Kamu ini bahkan nggak tahu tugasmu sendiri! Tinggal di rumah dan layani kami saja! Toh gajimu itu juga dibayar Keluarga Salim!"

Kata-kata Meisya memang kasar, tetapi ada benarnya. Hanya saja, komunikasi di Keluarga Salim memang benar-benar buruk.

Apa Veyra tidak pernah memberitahunya bahwa justru dia sendiri yang bersikeras agar Daven bekerja di rumah sakit ini?

Namun, Daven juga tidak ingin menjelaskan. Dia hanya berkata dengan santai, "Bukannya dulu Ibu yang bilang kalau aku cuma bisa duduk-duduk di rumah dan nggak cari kerjaan? Sekarang setelah aku kerja, Ibu malah protes."

Mendengar itu, suara Meisya terhenti sesaat. Suaranya dari telepon kemudian terdengar semakin melengking. "Berani sekali kamu! Apa maksudmu bicara seperti itu?!"

Daven menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu berkata dengan tenang, "Nanti aku bawa pulang hadiah untuk Ibu. Ibu pasti suka."

Surat perjanjian cerai .... Seharusnya Meisya akan menyukai hadiah ini.

Sebelum Meisya sempat menjawab, Daven langsung menutup telepon.

Veyra mendengar semuanya dari awal sampai akhir. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Bagaimanapun juga, Ibu lebih tua darimu. Kamu seharusnya mengalah. Kamu nggak seharusnya menutup telepon lebih dulu. Itu bisa bikin orang menganggapmu nggak punya sopan santun."

Daven menatapnya dan mencibir. "Keluarga Salim benar-benar satu cetakan. Kalian benar-benar senang memainkan standar ganda."

Veyra mengernyit. "Apa?"

Daven perlahan berdiri. "Seorang wanita yang sudah menikah, dengan alasan memenuhi keinginan seseorang, malah terus berhubungan dengan pria lain tanpa batas yang jelas. Didikan Keluarga Salim memang luar biasa."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 50

    Vero buru-buru menutupi ponselnya dengan tangan.Namun, sudah terlambat.Daven sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."Bu ... Bu Veyra, obatnya su ... sudah aku dapatkan. Sekarang aku sedang di lobi perusahaan."Saat Vero hendak menutup telepon, Daven mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga.Suara Veyra masih terdengar dari seberang, "Oke. Gimana suasana hati Axton sekarang? Ginjal donor yang sebelumnya cocok dengannya tiba-tiba nggak bisa digunakan. Dia pasti sangat kecewa.""Besok dia keluar dari rumah sakit. Aku harus meluangkan waktu untuk menemani dia. Coba periksa jadwalku besok. Kalau ada yang nggak terlalu penting, batalkan semuanya ...."Dengan wajah tanpa ekspresi, Daven membuka mulut dan memotong perkataannya, "Veyra."Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat orang di seberang telepon terdiam sesaat."Daven?"Veyra mengenali suaranya."Kamu sudah selesai masak dan mengantarkannya secepat ini? Aku nggak punya waktu untuk turun. La

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 49

    Daven hanya melihat sekilas, lalu menarik kembali pandangannya. Dia langsung meletakkan kotak makanan di atas meja resepsionis.Resepsionis itu sedikit tidak sabar, tetapi tetap mampu mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih tersenyum ketika berkata, "Pak, kalau ini pesanan makanan, silakan letakkan di kotak sesuai departemennya ya. Dengan begitu, karyawan akan lebih mudah mengambilnya dan Anda juga bisa menghemat waktu."Daven menggeleng. "Ini untuk Bu Veyra. Aku sudah lihat kotak-kotak di sana, tapi nggak ada kotak untuk direktur utama."Mendengar itu, sang resepsionis tertegun. Dia menatap Daven dengan sedikit curiga.Demi bisa bertemu dengan Bu Veyra, beberapa mitra bisnis sebelumnya juga pernah melakukan berbagai cara yang tidak terduga."Maaf kalau lancang, Anda ini siapa?"Mendengar pertanyaan itu, Daven sedikit tertegun.Siapa dirinya?Tukang masak?Atau pengasuh pria?Apa pun sebutannya boleh.Hanya satu yang tidak boleh, yaitu suami Veyra.Daven tiba-tiba kehilangan k

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 48

    "Antarin makanan untuk anjing?"Valeria tertegun.Saat mengobati luka Daven hari ini, dia juga mendengar Daven mengatakan bahwa lukanya akibat digigit anjing. Akan tetapi, sejak kapan dia memelihara anjing?Tiba-tiba, Valeria teringat pesan yang baru saja dikirim kakaknya. Matanya langsung membelalak. Dia menatap punggung Daven yang semakin jauh.Valeria buru-buru mengirim pesan kepada Veyra untuk mengadukannya.[ Kak, Daven bilang kamu anjing! ]....Beberapa saat kemudian, Daven sudah membawa sekantong kotak makanan plastik yang telah dibungkus.Sebenarnya, Veyra tidak terbiasa dengan makanan dari luar. Dalam keadaan normal, dia hanya mau makan masakan Daven. Namun, kalau benar-benar tidak sempat atau sedang terburu-buru, dia juga akan makan seadanya di luar.Biasanya, makanan luar yang tidak terlalu ditolak Veyra adalah telur orak-arik tomat dan tahu dingin dengan daun bawang. Kedua hidangan itu memang tidak terlalu bergantung pada kualitas bahan dan juga jarang ada yang bisa mengac

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 47

    Ujung bibir Daven berkedut.Biasanya dia memang tidak akan kelelahan. Namun, tadi malam dia sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Sebenarnya, dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Itu benar-benar pertama kalinya dia melihat Veyra seperti itu.Daven mengakui, setelah hidup tanpa memenuhi kebutuhan biologisnya selama lebih dari dua tahun, dia akhirnya tidak mampu menahan diri.Tentu saja, alasan terpentingnya tetaplah penjelasan Vero kepadanya kemarin.Daven tiba-tiba teringat Veyra yang mabuk semalam, juga matanya yang memerah setelah sadar tadi pagi. Dia juga teringat bagaimana Veyra berusaha keras mempertahankan sikap dinginnya, tetapi nada bicaranya jelas terdengar sedih ketika meminta Daven mengantarkan makanan untuknya ....Daven terdiam cukup lama.Sejak ibunya meninggal, Daven selalu hidup sendirian. Sampai akhirnya, dia bertemu Veyra.Demi dirinya, Veyra pernah melawan keluarganya, mengenakan pakaian murah bersamanya, dan makan makanan sederhana bersamanya.Veyra memang

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 46

    Setelah menghabiskan airnya, Daven meletakkan gelas kertas di lantai di sampingnya."Sebentar lagi waktunya pulang kerja. Kamu nggak pulang untuk siap-siap masak? Kali ini aku bisa dengan terpaksa membiarkanmu menumpang mobilku!"Valeria mengerucutkan bibir, memasang ekspresi seolah dia benar-benar melakukannya dengan terpaksa.Daven sudah terbiasa dengan sifat gengsinya itu.Sebenarnya, ketika Veyra masih berpacaran dengannya dulu, sifatnya juga seperti ini. Hanya saja, setelah melewati masa merintis bisnis dan sekarang menjadi direktur utama Grup Salim, karakternya sudah banyak ditempa dan menjadi jauh lebih tenang."Mobil sportmu terlalu sempit. Aku tidak terbiasa duduk di dalamnya."Daven mengatakan yang sebenarnya.Setelah Valeria mulai magang, keluarganya langsung mentransfer uang saku dalam jumlah besar kepadanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebuah mobil sport Porsche berwarna merah muda.Daven tidak tahu persis modelnya. Dia hanya pernah "beruntung" mengendarain

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 45

    Tenaga medis yang berjaga di depan alat pemantau buru-buru menjawab, "Pasien mengalami reaksi penolakan, detak jantungnya terus menurun!"Kepanikan langsung terlihat jelas di wajah Valeria.Daven meliriknya sekilas, lalu dengan cepat memberi instruksi, "Ganti perawat instrumen. Valeria keluar dari area steril dan bertugas sebagai perawat sirkuler.""Hah ...?"Valeria langsung kelabakan. Namun, perawat lain sudah bersiap sejak awal dan buru-buru maju untuk menggantikan posisinya.Dia digantikan?Sebelum operasi, Daven memang sudah memberitahunya bahwa dia akan menyiapkan perawat berpengalaman untuk berjaga-jaga. Jika Valeria kehilangan fokus atau melakukan kesalahan, posisinya akan langsung digantikan.Namun, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini.Untungnya, Daven tidak langsung menyuruhnya keluar. Dia hanya memintanya bertugas sebagai perawat sirkuler di luar area steril.Cahaya putih dari lampu operasi berpadu dengan hawa sejuk pendingin ruangan. Dinding keramik di sekelili

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status