Share

Bab 4

Author: Purnawirawan S.
Wajah Veyra terlihat masam, tetapi entah kenapa dia akhirnya merasa sedikit lega.

"Jangan bicara sekejam itu. Aku tumbuh bersama Axton sejak kecil. Dia menderita penyakit parah, mana mungkin aku nggak peduli padanya."

"Kalau kamu keberatan aku mengajaknya ke pantai, aku bisa ...."

Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Daven sudah menyela dengan tenang, "Aku nggak keberatan."

Veyra mengira dirinya salah dengar. Dia kembali bertanya, "Apa katamu?"

"Aku bilang, aku nggak keberatan." Daven mengambil sebotol minuman buah beralkohol dari atas meja dan menyesapnya sedikit.

Itu adalah minuman buah racikannya sendiri di rumah. Kadar alkoholnya sangat rendah, bahkan sebenarnya tidak bisa disebut minuman beralkohol. Minuman itu hanya dibuat dari buah-buahan dan beberapa tanaman obat yang direndam lalu difermentasi.

AC di rumah sakit selalu menyala. Sesekali dia menyesap sedikit untuk menghangatkan tubuh. Hanya saja, mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik, setelah menyesapnya, isi botol itu langsung berkurang cukup banyak.

Daven menutup botolnya, lalu membawanya dan langsung pergi. "Aku masih ada operasi, jadi aku nggak bisa mengobrol terlalu lama dengan Bu Veyra."

Veyra berbalik dan menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Entah kenapa, hatinya menjadi makin kesal.

Sudah selama ini. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia berinisiatif menurunkan harga diri dan berbicara kepada Daven.

Namun, setiap perkataan Daven justru terdengar begitu dingin.

Veyra menunduk melihat surat kepulangan Axton yang masih di tangannya. Suara dinginnya perlahan terdengar.

"Dave, jangan sampai kamu menyesal."

....

Daven memang memiliki satu jadwal operasi. Hanya saja, operasinya baru akan dilakukan besok.

"Dokter Daven, ruang operasi Rayze sudah berhasil diajukan."

Daven mengangguk. "Terima kasih."

"Oh ya, pasien ini sudah beberapa kali ribut ingin bertemu denganmu. Gimana kalau kamu temui dulu?"

Ekspresi Daven seketika terlihat sedikit aneh. Rayze adalah seorang anak laki-laki yang baru berusia belasan tahun. Setiap hari terus merengek meminta video dari ruang pengambilan sperma.

Beberapa hari lalu, setelah menjalani operasi, dia kesakitan setengah mati. Dia bahkan menyerahkan barang-barang peninggalannya yang sudah dikemas kepada Daven dan berkata bahwa jika kali ini dia tidak berhasil keluar dari ruang operasi, Daven harus membakar semua barang itu untuknya.

Namun, Daven tidak menerimanya. Dia hanya berjanji akan menyalin video untuk ditonton Rayze. Akhirnya, dengan tekadnya yang kuat, Rayze berhasil bertahan.

"Sepertinya kali ini aku nggak bisa mengelak lagi." Daven memijat keningnya, lalu pergi dengan wajah tak berdaya.

Melihatnya berjalan semakin jauh, beberapa perawat di meja perawat mulai berbisik-bisik.

"Aku kasih tahu ya, jangan cuma lihat Dokter Daven dari wajahnya yang tampan dan sikapnya yang serius. Kemarin siang aku lihat dia diam-diam pergi ke ruang sebelah waktu nggak ada orang, lalu menyalin banyak sekali video!" Seorang perawat menunjuk ke sebuah ruangan kecil di kejauhan.

Para perawat lainnya langsung terkejut dan menutup mulut.

"Hah, serius?!"

"Apa yang aneh? Dokter Daven sehebat apa pun tetap saja laki-laki. Siapa tahu sebenarnya dia juga punya fantasi tentangku!"

"Hahaha, sudah deh. Dokter Daven memang tampan, tapi mana mungkin dia mau sama kamu! Kalau menurutku, di antara kita semua, orang yang mungkin menjadi fantasi Dokter Daven adalah Valeria."

"Ssst! Rumah sakit ini milik keluarga Valeria. Kamu nggak mau kerja lagi ya? Sampai bicara begitu di belakangnya."

"Tenang saja. Tadi dia bilang bosan dan ingin melakukan sesuatu, jadi aku menyuruhnya mengambil obat untukku. Sekarang dia nggak ada."

"Tapi menurutku wajahnya seperti baru dimarahi seseorang. Mukanya masam sekali ...."

....

Saat Daven tiba di kamar Rayze, anak itu sedang bermain gim. Wajahnya pucat, pipinya cekung. Padahal dia masih sangat muda, seharusnya berada di usia yang penuh semangat. Namun, matanya justru dipenuhi kehampaan.

Namun, begitu melihat Daven, sorot matanya berubah sedikit dan langsung berbinar.

"Kak, kamu datang." Suaranya masih terdengar polos dengan sedikit serak karena dia baru melewati masa perubahan suara.

Melihat senyuman di wajahnya, Daven ikut tersenyum. Rasa kesal yang memenuhi hatinya pun sedikit mereda. Dia membuka tutup botol minuman buah yang dibawanya dan meletakkannya di atas meja.

Mata Rayze langsung berbinar. "Kak, aku sudah lama banget ngidam minuman ini!"

Daven juga tertawa. "Cuma boleh dicelup sedikit pakai kapas, lalu dicicipi. Tapi menurutku lebih baik cukup dicium saja."

"Oh, oke." Wajah Rayze langsung berubah murung.

Daven menarik sebuah kursi dan duduk. "Sebelum tidur, kamu harus menjalani dialisis sekali lagi. Untuk operasi komplikasi, sesuai permintaanmu, akan kita lakukan besok."

Rayze menggaruk kepalanya. "Menurutku kondisiku sekarang masih lumayan. Gimana kalau nggak usah lagi untuk hari ini? Hitung-hitung berhemat."

Daven menggeleng. "Nggak perlu berhemat. Asuransi kesehatan yang dulu kutunjukkan bisa menanggung biayanya. Kamu cuma perlu membayar sendiri sekitar 40 ribu untuk sekali tindakan."

Rayze pun mengangguk pelan. "Ya, aku akan mendengarkan kata Kakak."

Daven mengangguk, lalu menoleh dan diam-diam memandang ke luar jendela.

Langit di luar sudah gelap. Di depan rumah sakit, Veyra sedang membantu Axton yang duduk di kursi roda untuk perlahan masuk ke sebuah mobil hitam.

"Eh .... Kak, yang waktu itu kamu janjikan padaku ...."

Suara Rayze membuat Daven tersadar. Mendengar itu, dia pura-pura tidak tahu. "Aku janji apa?"

Wajah Rayze yang semula pucat seketika memerah. Bagaimanapun juga, dia masih seorang anak laki-laki belasan tahun. "Itu ... yang itu."

Daven tidak lagi menggodanya. Dia mengambil ponsel yang sudah dipersiapkannya sejak tadi dan menyerahkannya. "Sudahlah, aku nggak akan menggodamu lagi. Sudah kusiapkan."

Wajah Rayze langsung berseri-seri. Dia baru hendak menerimanya ketika Daven tiba-tiba menarik kembali tangannya.

"Tapi ingat, ini adalah video yang sudah didaftarkan secara resmi. Sesuai aturan rumah sakit, hanya boleh digunakan di rumah sakit. Nggak boleh disebarluaskan atau ditonton oleh lebih dari dua orang."

Rayze mengangguk berkali-kali. "Pasti!"

Barulah Daven menyerahkan ponsel itu dengan tenang. "Sudah kubuka kuncinya. Aku tunggu kamu di luar."

"Oke!"

Daven meninggalkan kamar dan pergi ke tangga di luar. Dia melihat rekam medis yang ada di tangannya.

[ Rayze: Uremia stadium menengah hingga lanjut ]

Secara normal, pada tahap ini fungsi ginjal pasien sudah sangat lemah. Hampir tidak ada lagi hasrat maupun fungsi seksual.

Daven menyimpan rekam medis itu, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Ini adalah salah satu barang peninggalan yang pernah diberikan Rayze kepadanya ketika dia merasa tidak akan bisa bertahan hidup.

Daven belum mengembalikannya. Dia membuka buku itu.

[ Suasana Imlek di luar sangat meriah. Tahun ini aku masih berada di rumah sakit. Aku mencium aroma minuman yang dibuat Dokter Daven, wanginya enak sekali. Aku ingin minum, tapi katanya anak di bawah umur nggak boleh minum minuman keras. ]

[ Tanganku semakin nggak bertenaga. Aku sudah nggak sanggup terus jadi joki gim untuk cari uang. Untung saja Kak Daven mengajariku membeli asuransi kesehatan, jadi banyak biaya yang bisa ditanggung. ]

[ Aku mengalami banyak komplikasi. Entah masih bisa hidup berapa lama. ]

[ Aku masih belum dewasa. Aku ingin setelah dewasa nanti bisa pacaran, menggandeng tangan seorang gadis, dan diam-diam minum minuman buatan Kak Daven. ]

[ Sepertinya aku semakin nggak peduli terhadap segala hal. Di internet katanya aku harus kembali memiliki harapan untuk hidup, supaya alam bawah sadar bisa membantu tubuhku memulihkan diri. ]

[ Aku dapat informasi kalau penyakit ini menyerang ginjal. Kalau aku masih punya respons seksual, apa itu berarti kondisi tubuhku sebenarnya belum terlalu buruk? ]

[ Kak Daven bilang nggak boleh melakukan hal ilegal, tapi rumah sakit punya video yang legal. Aku terus merengek kepadanya supaya dikasih, tapi katanya aku harus nunggu sampai usia 18 tahun baru boleh lihat. ]

[ Kak Daven bohong. Ternyata asuransinya nggak menanggung banyak biaya. Dia yang bayar sisanya untukku. Aku ingin tetap hidup, lalu menghasilkan uang untuk mengembalikannya. ]

[ Sebentar lagi aku 18 tahun, tapi hari ini sakit sekali .... Aku ingin sekali minum sedikit minuman buatan Kak Daven. ]

Daven menutup buku catatan itu. Saat bekerja di rumah sakit, hal yang paling harus dihindari adalah membiarkan rasa iba menguasai diri.

Di sini, setiap hari ada orang yang datang dan pergi. Ada yang menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan, ada juga yang ... tidak punya uang. Mereka tidak mungkin menolong semua orang.

Namun, jika kelembutan hati sesaat bisa menyelamatkan satu nyawa, tentu itu layak dilakukan. Terlebih lagi, tanggal lahir yang tercantum di kartu identitas anak itu ternyata sama dengannya.

Daven memejamkan mata, lalu mengetukkan buku catatan itu pelan ke dahinya. Kemudian, dia bergumam, "Rayze, selamat ulang tahun yang ke-18. Selamat juga untukku yang sebentar lagi akan memperoleh kehidupan baru."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 50

    Vero buru-buru menutupi ponselnya dengan tangan.Namun, sudah terlambat.Daven sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."Bu ... Bu Veyra, obatnya su ... sudah aku dapatkan. Sekarang aku sedang di lobi perusahaan."Saat Vero hendak menutup telepon, Daven mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga.Suara Veyra masih terdengar dari seberang, "Oke. Gimana suasana hati Axton sekarang? Ginjal donor yang sebelumnya cocok dengannya tiba-tiba nggak bisa digunakan. Dia pasti sangat kecewa.""Besok dia keluar dari rumah sakit. Aku harus meluangkan waktu untuk menemani dia. Coba periksa jadwalku besok. Kalau ada yang nggak terlalu penting, batalkan semuanya ...."Dengan wajah tanpa ekspresi, Daven membuka mulut dan memotong perkataannya, "Veyra."Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat orang di seberang telepon terdiam sesaat."Daven?"Veyra mengenali suaranya."Kamu sudah selesai masak dan mengantarkannya secepat ini? Aku nggak punya waktu untuk turun. La

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 49

    Daven hanya melihat sekilas, lalu menarik kembali pandangannya. Dia langsung meletakkan kotak makanan di atas meja resepsionis.Resepsionis itu sedikit tidak sabar, tetapi tetap mampu mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih tersenyum ketika berkata, "Pak, kalau ini pesanan makanan, silakan letakkan di kotak sesuai departemennya ya. Dengan begitu, karyawan akan lebih mudah mengambilnya dan Anda juga bisa menghemat waktu."Daven menggeleng. "Ini untuk Bu Veyra. Aku sudah lihat kotak-kotak di sana, tapi nggak ada kotak untuk direktur utama."Mendengar itu, sang resepsionis tertegun. Dia menatap Daven dengan sedikit curiga.Demi bisa bertemu dengan Bu Veyra, beberapa mitra bisnis sebelumnya juga pernah melakukan berbagai cara yang tidak terduga."Maaf kalau lancang, Anda ini siapa?"Mendengar pertanyaan itu, Daven sedikit tertegun.Siapa dirinya?Tukang masak?Atau pengasuh pria?Apa pun sebutannya boleh.Hanya satu yang tidak boleh, yaitu suami Veyra.Daven tiba-tiba kehilangan k

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 48

    "Antarin makanan untuk anjing?"Valeria tertegun.Saat mengobati luka Daven hari ini, dia juga mendengar Daven mengatakan bahwa lukanya akibat digigit anjing. Akan tetapi, sejak kapan dia memelihara anjing?Tiba-tiba, Valeria teringat pesan yang baru saja dikirim kakaknya. Matanya langsung membelalak. Dia menatap punggung Daven yang semakin jauh.Valeria buru-buru mengirim pesan kepada Veyra untuk mengadukannya.[ Kak, Daven bilang kamu anjing! ]....Beberapa saat kemudian, Daven sudah membawa sekantong kotak makanan plastik yang telah dibungkus.Sebenarnya, Veyra tidak terbiasa dengan makanan dari luar. Dalam keadaan normal, dia hanya mau makan masakan Daven. Namun, kalau benar-benar tidak sempat atau sedang terburu-buru, dia juga akan makan seadanya di luar.Biasanya, makanan luar yang tidak terlalu ditolak Veyra adalah telur orak-arik tomat dan tahu dingin dengan daun bawang. Kedua hidangan itu memang tidak terlalu bergantung pada kualitas bahan dan juga jarang ada yang bisa mengac

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 47

    Ujung bibir Daven berkedut.Biasanya dia memang tidak akan kelelahan. Namun, tadi malam dia sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Sebenarnya, dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Itu benar-benar pertama kalinya dia melihat Veyra seperti itu.Daven mengakui, setelah hidup tanpa memenuhi kebutuhan biologisnya selama lebih dari dua tahun, dia akhirnya tidak mampu menahan diri.Tentu saja, alasan terpentingnya tetaplah penjelasan Vero kepadanya kemarin.Daven tiba-tiba teringat Veyra yang mabuk semalam, juga matanya yang memerah setelah sadar tadi pagi. Dia juga teringat bagaimana Veyra berusaha keras mempertahankan sikap dinginnya, tetapi nada bicaranya jelas terdengar sedih ketika meminta Daven mengantarkan makanan untuknya ....Daven terdiam cukup lama.Sejak ibunya meninggal, Daven selalu hidup sendirian. Sampai akhirnya, dia bertemu Veyra.Demi dirinya, Veyra pernah melawan keluarganya, mengenakan pakaian murah bersamanya, dan makan makanan sederhana bersamanya.Veyra memang

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 46

    Setelah menghabiskan airnya, Daven meletakkan gelas kertas di lantai di sampingnya."Sebentar lagi waktunya pulang kerja. Kamu nggak pulang untuk siap-siap masak? Kali ini aku bisa dengan terpaksa membiarkanmu menumpang mobilku!"Valeria mengerucutkan bibir, memasang ekspresi seolah dia benar-benar melakukannya dengan terpaksa.Daven sudah terbiasa dengan sifat gengsinya itu.Sebenarnya, ketika Veyra masih berpacaran dengannya dulu, sifatnya juga seperti ini. Hanya saja, setelah melewati masa merintis bisnis dan sekarang menjadi direktur utama Grup Salim, karakternya sudah banyak ditempa dan menjadi jauh lebih tenang."Mobil sportmu terlalu sempit. Aku tidak terbiasa duduk di dalamnya."Daven mengatakan yang sebenarnya.Setelah Valeria mulai magang, keluarganya langsung mentransfer uang saku dalam jumlah besar kepadanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebuah mobil sport Porsche berwarna merah muda.Daven tidak tahu persis modelnya. Dia hanya pernah "beruntung" mengendarain

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 45

    Tenaga medis yang berjaga di depan alat pemantau buru-buru menjawab, "Pasien mengalami reaksi penolakan, detak jantungnya terus menurun!"Kepanikan langsung terlihat jelas di wajah Valeria.Daven meliriknya sekilas, lalu dengan cepat memberi instruksi, "Ganti perawat instrumen. Valeria keluar dari area steril dan bertugas sebagai perawat sirkuler.""Hah ...?"Valeria langsung kelabakan. Namun, perawat lain sudah bersiap sejak awal dan buru-buru maju untuk menggantikan posisinya.Dia digantikan?Sebelum operasi, Daven memang sudah memberitahunya bahwa dia akan menyiapkan perawat berpengalaman untuk berjaga-jaga. Jika Valeria kehilangan fokus atau melakukan kesalahan, posisinya akan langsung digantikan.Namun, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini.Untungnya, Daven tidak langsung menyuruhnya keluar. Dia hanya memintanya bertugas sebagai perawat sirkuler di luar area steril.Cahaya putih dari lampu operasi berpadu dengan hawa sejuk pendingin ruangan. Dinding keramik di sekelili

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status