مشاركة

Bab 5

مؤلف: Purnawirawan S.
Tepat saat Daven menyimpan buku catatan itu dan berbalik hendak kembali ke kamar pasien, sudut matanya menangkap mobil Veyra dari jendela koridor.

Ternyata mobil itu masih belum pergi.

Sebelum dia sempat memikirkannya lebih jauh ....

Bruk! Terdengar suara benturan keras dari arah kamar pasien, disusul teriakan seorang gadis!

Ekspresi Daven seketika berubah. Itu kamar Rayze. Meskipun kamar itu merupakan kamar untuk dua orang, ranjang satunya tidak ditempati siapa pun.

Semua tindakan medis Rayze hari ini juga sudah selesai. Bagaimana bisa ada orang lain yang masuk? Apalagi seorang gadis?!

.....

Di dalam kamar pasien, setelah sempat terkejut, Valeria langsung merebut ponsel itu dan membentak dengan keras.

"Ini rumah sakit, bukan tempat seperti itu! Berani sekali kamu menonton video semacam ini di sini!"

Wajah Rayze langsung pucat pasi. Dahinya dipenuhi keringat, tetapi dia masih memaksakan diri untuk berkata, "Maaf ...."

Valeria tetap tidak mau berhenti. "Minta maaf memangnya cukup? Kamu nggak pernah berpikir kalau menonton video semacam ini bisa mengganggu orang lain?"

Sambil berkata begitu, dia menunjuk botol minuman di atas meja. "Kamu juga minum minuman keras!"

Mendengar itu, bahkan bibir Rayze pun sudah pucat pasi. Jantungnya berdebar hebat. Kepalanya terasa pusing.

Detik berikutnya, tubuh Rayze langsung ambruk di ranjang. Kedua tangannya menjuntai dengan lemas. Mesin di sampingnya pun mengeluarkan bunyi nyaring.

Valeria membeku.

Brak! Pintu kamar pasien didorong terbuka dengan kasar. Daven bergegas masuk.

Suara Valeria memang keras seperti ibunya. Bahkan sebelum masuk ke kamar, Daven sudah mendengar semuanya dengan jelas.

"Diam! Ponsel itu milikku, minuman itu juga aku yang kasih." Daven menghentikannya dengan wajah muram, lalu segera memeriksa kondisi Rayze dan melakukan pertolongan darurat.

"Gangguan irama jantung. Siapkan defibrilator. Siapkan ruang gawat darurat. Komplikasinya kambuh, dia harus segera dioperasi."

Sambil mulai melakukan resusitasi jantung paru, dia terus memberikan instruksi. Namun, tidak ada jawaban yang terdengar.

Daven terus bergerak tanpa berhenti. Dia menoleh ke samping.

Valeria hanya berdiri terpaku di tempat dengan wajah pucat karena ketakutan. Dia sama sekali tidak menyangka hanya karena dimarahi, kondisi pasien itu bisa menjadi begitu parah.

Jantung Valeria berdetak kencang.

Melihatnya masih terpaku, Daven meninggikan suara dengan nada gusar, "Kenapa masih bengong? Cepat pergi!"

Mendengar Daven membentaknya, Valeria secara refleks merasa tidak senang. Namun, ketika mengangkat kepala dan melihat tatapan Daven yang begitu dingin hingga membuatnya merinding, Valeria baru sadar bahwa sekarang bukan waktunya mempermasalahkan hal itu.

"Baik, aku ... aku pergi siapkan ...."

Tak lama kemudian, beberapa tenaga medis datang membawa defibrilator.

"Kamu, lakukan stimulasi dasar untuk menyadarkannya."

"Kalian berdua, siapkan ranjangnya dan dorong ke ruang operasi. Aku segera menyusul."

Daven memberikan instruksi dengan tenang dan teratur.

Valeria yang berdiri di ambang pintu melihat semua itu dengan wajah pucat pasi. Tangannya terus meremas-remas ujung seragamnya, jelas terlihat gugup.

"Matanya terbuka! Matanya terbuka!" Para tenaga medis berseru gembira.

Daven segera maju dan menggenggam tangan Rayze.

"Kak ... kali ini aku ... bakal mati ya?" Rayze berkata dengan suara terputus-putus.

Daven menyelipkan buku catatan itu ke tangan Rayze. "Jangan ngomong yang aneh-aneh. Hari ini ulang tahunmu, aku bahkan belum merayakannya untukmu. Tenang saja, selama ada aku, kamu nggak bakal mati."

Namun, kelopak mata Rayze seolah terasa sangat berat. Dia sudah tak mampu mengeluarkan suara lagi.

Hanya saja, saat akhirnya menutup mata, pandangannya tertuju pada Valeria yang berdiri di ambang pintu, seolah ingin meminta maaf.

"Bawa dia ke ruang operasi!" teriak Daven.

Tak lama kemudian, para tenaga medis mendorong ranjang pasien ke luar. Daven juga segera menyusul.

Saat hampir keluar dari pintu kamar, Valeria menariknya. Tangan kecilnya yang putih menggenggam erat jas putih Daven. Entah karena takut, entah karena ingin mencari sedikit rasa aman.

"Aku ...." Dia agak sulit mengatakannya, tetapi akhirnya tetap berkata, "Aku nggak sengaja. Aku nggak tahu kondisinya separah itu. Dia ... akan baik-baik saja, 'kan?"

Valeria benar-benar takut nyawa Rayze sampai melayang karena dirinya.

Daven tidak menjawab. Dia langsung melepaskan tangan Valeria, hanya meninggalkan satu kalimat dengan tenang, "Serahkan saja padaku."

Valeria menatap punggung Daven yang semakin jauh, lalu menggigit bibirnya.

....

Di dalam mobil, ponsel sesekali berbunyi. Setiap kali Veyra langsung memeriksanya. Namun, setiap kali isinya hanya pesan pekerjaan. Entah kenapa, dia merasa sedikit kecewa.

Veyra teringat bagaimana setiap kali dia sedang berduaan dengan Axton sebelumnya, Daven selalu cemburu setengah mati.

Awalnya Veyra masih bersedia menjelaskan dengan sabar. Namun, karena terlalu sering, itu justru membuatnya kesal.

Namun, sejak mereka mendiamkan satu sama lain, Daven tidak pernah lagi memedulikan apa pun yang dia lakukan.

Bahkan hari ini, meskipun Veyra sengaja menggunakan nomor Daven saat memesan kamar hotel, dia tetap bisa bersikap tenang dan sama sekali tidak peduli. Hal itu membuat Veyra merasa tidak nyaman. Mungkin ... dia hanya belum terbiasa.

"Vey, kenapa asistenmu belum kembali?" Suara Axton terdengar.

Veyra tersadar dari lamunannya. Setelah mematikan layar ponselnya, dia menjawab, "Aku suruh dia beli beberapa barang. Tunggu sebentar lagi."

Dia berhenti sejenak, seolah baru teringat sesuatu. "Oh ya, sekarang sudah lumayan malam. Kamu yakin mau berangkat malam ini?"

Axton mengangguk. "Tentu. Katanya, besok matahari terbit di pantai pinggir kota bakal jadi yang paling indah dalam beberapa tahun terakhir."

Tentu saja itu hanya omong kosong. Dia tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Daven. Karena itu, dia sengaja menyuruh orang mengubah jadwal piket, membuat Daven mendapat giliran jaga malam ini.

Axton pura-pura bertanya dengan bingung, "Kenapa? Apa hari ini ada hal penting lainnya?"

Veyra menggeleng. "Nggak. Kamu sakit, jadi urusanmu yang paling penting. Aku akan suruh Vero cepat kembali."

Sambil berkata begitu, dia kembali membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Vero.

[ Sudahlah, nggak perlu menunggu lagi. Kalau perlu nanti kita bisa menyuruh mobil menjemputnya. Kamu kembali saja. Kamu yang nyetir. ]

Veyra sengaja menyuruh asistennya pergi selama itu hanya untuk menunggu Daven mencarinya.

Jika Daven bersedia menggunakan kesempatan itu untuk berdamai dan menganggap masalah sebelumnya selesai, dia juga bersedia mengajak Daven ke pantai.

Sayangnya, dia sudah memberi kesempatan, tetapi Daven tidak menginginkannya.

Asistennya segera membalas.

[ Baik. ]

Veyra memijat pelipisnya. Tekanan dari ayahnya dan penyakit Axton, semuanya membebani dirinya.

Daven adalah suaminya. Tidak membantu juga sudah cukup membuatnya kesal, tetapi Daven malah terus mendiamkannya. Hal itu membuat amarah yang sulit disembunyikan kembali muncul dalam hati Veyra.

Ting, ting .... Saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering.

[ Daven ]

Nama yang muncul di layar membuat Veyra secara refleks sedikit menegakkan tubuhnya.

Axton yang duduk di sampingnya melihat hal itu. Wajahnya seketika menjadi muram, tetapi sudut bibirnya tetap membentuk senyuman tipis.

"Kita cuma pergi sebentar ke pantai. Jangan-jangan Daven sampai mau mengecek keberadaan pasien yang tangan dan kakinya saja nggak berdaya sepertiku?"

Veyra menggenggam ponselnya erat-erat, tetapi wajahnya tetap tenang. "Dia memang suka mempermasalahkan hal-hal kecil. Aku penasaran, apa yang mau dia katakan kali ini."

Namun, ketika panggilan tersambung, yang terdengar dari seberang justru suara seorang wanita yang terdengar seperti sedang menangis.

Bukan suara Daven, melainkan suara seorang wanita!

Wajah Veyra seketika membeku seperti es. Tatapannya menjadi begitu dingin dan tajam hingga terasa menakutkan.

"Kamu siapa?"

Axton belum pernah melihat Veyra dengan ekspresi seperti itu. Dia pun ikut terkejut.

Detik berikutnya, suara yang sangat familier terdengar dari dalam ponsel. "Kak, aku dimarahi Kak Daven!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 50

    Vero buru-buru menutupi ponselnya dengan tangan.Namun, sudah terlambat.Daven sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."Bu ... Bu Veyra, obatnya su ... sudah aku dapatkan. Sekarang aku sedang di lobi perusahaan."Saat Vero hendak menutup telepon, Daven mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga.Suara Veyra masih terdengar dari seberang, "Oke. Gimana suasana hati Axton sekarang? Ginjal donor yang sebelumnya cocok dengannya tiba-tiba nggak bisa digunakan. Dia pasti sangat kecewa.""Besok dia keluar dari rumah sakit. Aku harus meluangkan waktu untuk menemani dia. Coba periksa jadwalku besok. Kalau ada yang nggak terlalu penting, batalkan semuanya ...."Dengan wajah tanpa ekspresi, Daven membuka mulut dan memotong perkataannya, "Veyra."Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat orang di seberang telepon terdiam sesaat."Daven?"Veyra mengenali suaranya."Kamu sudah selesai masak dan mengantarkannya secepat ini? Aku nggak punya waktu untuk turun. La

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 49

    Daven hanya melihat sekilas, lalu menarik kembali pandangannya. Dia langsung meletakkan kotak makanan di atas meja resepsionis.Resepsionis itu sedikit tidak sabar, tetapi tetap mampu mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih tersenyum ketika berkata, "Pak, kalau ini pesanan makanan, silakan letakkan di kotak sesuai departemennya ya. Dengan begitu, karyawan akan lebih mudah mengambilnya dan Anda juga bisa menghemat waktu."Daven menggeleng. "Ini untuk Bu Veyra. Aku sudah lihat kotak-kotak di sana, tapi nggak ada kotak untuk direktur utama."Mendengar itu, sang resepsionis tertegun. Dia menatap Daven dengan sedikit curiga.Demi bisa bertemu dengan Bu Veyra, beberapa mitra bisnis sebelumnya juga pernah melakukan berbagai cara yang tidak terduga."Maaf kalau lancang, Anda ini siapa?"Mendengar pertanyaan itu, Daven sedikit tertegun.Siapa dirinya?Tukang masak?Atau pengasuh pria?Apa pun sebutannya boleh.Hanya satu yang tidak boleh, yaitu suami Veyra.Daven tiba-tiba kehilangan k

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 48

    "Antarin makanan untuk anjing?"Valeria tertegun.Saat mengobati luka Daven hari ini, dia juga mendengar Daven mengatakan bahwa lukanya akibat digigit anjing. Akan tetapi, sejak kapan dia memelihara anjing?Tiba-tiba, Valeria teringat pesan yang baru saja dikirim kakaknya. Matanya langsung membelalak. Dia menatap punggung Daven yang semakin jauh.Valeria buru-buru mengirim pesan kepada Veyra untuk mengadukannya.[ Kak, Daven bilang kamu anjing! ]....Beberapa saat kemudian, Daven sudah membawa sekantong kotak makanan plastik yang telah dibungkus.Sebenarnya, Veyra tidak terbiasa dengan makanan dari luar. Dalam keadaan normal, dia hanya mau makan masakan Daven. Namun, kalau benar-benar tidak sempat atau sedang terburu-buru, dia juga akan makan seadanya di luar.Biasanya, makanan luar yang tidak terlalu ditolak Veyra adalah telur orak-arik tomat dan tahu dingin dengan daun bawang. Kedua hidangan itu memang tidak terlalu bergantung pada kualitas bahan dan juga jarang ada yang bisa mengac

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 47

    Ujung bibir Daven berkedut.Biasanya dia memang tidak akan kelelahan. Namun, tadi malam dia sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Sebenarnya, dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Itu benar-benar pertama kalinya dia melihat Veyra seperti itu.Daven mengakui, setelah hidup tanpa memenuhi kebutuhan biologisnya selama lebih dari dua tahun, dia akhirnya tidak mampu menahan diri.Tentu saja, alasan terpentingnya tetaplah penjelasan Vero kepadanya kemarin.Daven tiba-tiba teringat Veyra yang mabuk semalam, juga matanya yang memerah setelah sadar tadi pagi. Dia juga teringat bagaimana Veyra berusaha keras mempertahankan sikap dinginnya, tetapi nada bicaranya jelas terdengar sedih ketika meminta Daven mengantarkan makanan untuknya ....Daven terdiam cukup lama.Sejak ibunya meninggal, Daven selalu hidup sendirian. Sampai akhirnya, dia bertemu Veyra.Demi dirinya, Veyra pernah melawan keluarganya, mengenakan pakaian murah bersamanya, dan makan makanan sederhana bersamanya.Veyra memang

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 46

    Setelah menghabiskan airnya, Daven meletakkan gelas kertas di lantai di sampingnya."Sebentar lagi waktunya pulang kerja. Kamu nggak pulang untuk siap-siap masak? Kali ini aku bisa dengan terpaksa membiarkanmu menumpang mobilku!"Valeria mengerucutkan bibir, memasang ekspresi seolah dia benar-benar melakukannya dengan terpaksa.Daven sudah terbiasa dengan sifat gengsinya itu.Sebenarnya, ketika Veyra masih berpacaran dengannya dulu, sifatnya juga seperti ini. Hanya saja, setelah melewati masa merintis bisnis dan sekarang menjadi direktur utama Grup Salim, karakternya sudah banyak ditempa dan menjadi jauh lebih tenang."Mobil sportmu terlalu sempit. Aku tidak terbiasa duduk di dalamnya."Daven mengatakan yang sebenarnya.Setelah Valeria mulai magang, keluarganya langsung mentransfer uang saku dalam jumlah besar kepadanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebuah mobil sport Porsche berwarna merah muda.Daven tidak tahu persis modelnya. Dia hanya pernah "beruntung" mengendarain

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 45

    Tenaga medis yang berjaga di depan alat pemantau buru-buru menjawab, "Pasien mengalami reaksi penolakan, detak jantungnya terus menurun!"Kepanikan langsung terlihat jelas di wajah Valeria.Daven meliriknya sekilas, lalu dengan cepat memberi instruksi, "Ganti perawat instrumen. Valeria keluar dari area steril dan bertugas sebagai perawat sirkuler.""Hah ...?"Valeria langsung kelabakan. Namun, perawat lain sudah bersiap sejak awal dan buru-buru maju untuk menggantikan posisinya.Dia digantikan?Sebelum operasi, Daven memang sudah memberitahunya bahwa dia akan menyiapkan perawat berpengalaman untuk berjaga-jaga. Jika Valeria kehilangan fokus atau melakukan kesalahan, posisinya akan langsung digantikan.Namun, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini.Untungnya, Daven tidak langsung menyuruhnya keluar. Dia hanya memintanya bertugas sebagai perawat sirkuler di luar area steril.Cahaya putih dari lampu operasi berpadu dengan hawa sejuk pendingin ruangan. Dinding keramik di sekelili

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status