Share

Bab 7

Author: Purnawirawan S.
Veyra juga melihat Daven.

Tadinya, setelah keluar dari lift, dia mendengar seseorang sedang mencela Keluarga Salim. Sebagai putri sulung Keluarga Salim, dia merasa punya kewajiban untuk menjaga nama baik dan kehormatan keluarganya.

Karena itu, dia langsung angkat bicara dengan nada dingin.

Namun, dia tidak menyangka ternyata orang yang sedang membicarakan keburukan Keluarga Salim di belakang adalah Daven.

Pantas saja tadi suaranya terasa begitu familier.

Valeria juga menoleh ke belakang. Begitu melihat Veyra, dia akhirnya tidak mampu menahan diri lagi. Dia berlari menghampiri, langsung memeluk Veyra, dan menangis tersedu-sedu.

"Kak ...."

Barulah Veyra menyadari keberadaan Valeria. Dia menunduk melihat adiknya. Matanya bengkak dan memerah karena menangis, sementara bekas air mata yang panjang di pipinya menunjukkan betapa tertekannya dia.

Daven benar-benar menindas Valeria?

Axton juga baru saja mendengar perkataan Daven. Dia berkata dengan nada menyindir, "Sepertinya selama ini Daven nggak puas sekali dengan Keluarga Salim. Bukan cuma menindas Valeria, dia bahkan mencaci Keluarga Salim."

Mendengar itu, tatapan Veyra kepada Daven seketika menjadi dingin. "Kamu keberatan dengan cara Keluarga Salim mendidik anak-anaknya?"

Daven menatap kedua kakak beradik itu dengan santai, lalu tertawa. "Memangnya yang kukatakan tadi salah? Perlu kujelaskan lebih rinci?"

Veyra mengernyit. Saat itu, semakin banyak orang yang berkumpul di sekitar mereka. Ada pasien yang datang berobat dan para tenaga medis rumah sakit.

Veyra memberi isyarat kepada sekretaris yang baru tiba, Vero, untuk membubarkan kerumunan.

Vero langsung mengerti dan segera pergi menghalau orang-orang.

Veyra kembali menatap Daven. "Pulang bareng aku. Akan kuselesaikan masalah ini denganmu."

Sambil berkata begitu, dia maju dan hendak menarik lengan Daven. Namun, Daven tiba-tiba menepis tangannya dengan keras.

"Kamu ...!" Veyra tidak percaya. Selama ini, mereka tidak pernah bertengkar sampai separah ini di depan orang lain. Namun sekarang ....

Daven melirik ke sekeliling. Vero sedang mengajak beberapa petugas keamanan rumah sakit untuk membubarkan kerumunan, tetapi masih banyak orang yang sedang menonton. Bahkan beberapa di antaranya sudah mengeluarkan ponsel.

Melihat itu, sudut bibir Daven terangkat membentuk senyuman tipis. Daven yakin Keluarga Salim pasti akan menyetujui perceraian mereka. Namun, belum tentu mereka mau mengakui perjanjian cerai yang sudah dia siapkan. Bisa saja mereka justru memaksanya menandatangani perjanjian lain yang merugikannya.

Karena itu, dia memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai peringatan sekaligus unjuk kekuatan, agar dirinya memiliki sedikit pegangan.

"Didikan Keluarga Salim memang luar biasa." Wajah Daven dipenuhi sindiran.

"Putri sulung Keluarga Salim, seorang wanita yang sudah menikah, masih berhubungan dengan pria lain tanpa batas yang jelas, bahkan membuat janji untuk menghabiskan malam bersamanya."

Saat kata-kata itu terlontar, kerumunan langsung gempar.

"Putri sulung Keluarga Salim ternyata sudah menikah? Bukannya masih pacaran?"

"Ya. Terakhir kali aku tanya pria yang di sebelahnya itu, katanya mereka masih pacaran."

"Lho ... sudah menikah? Tapi masih pacaran?"

"Kalau begitu, bukankah itu namanya selingkuh dalam pernikahan?"

"Aku nggak nyangka Veyra yang biasanya terlihat begitu dingin ternyata diam-diam seperti itu ...."

Berbagai perkataan sinis dari orang-orang di sekitar langsung terdengar jelas di telinga Veyra. Wajahnya berubah muram.

Namun, yang dia khawatirkan bukan dirinya sendiri. Dia khawatir gosip ini akan memengaruhi perkembangan perusahaan.

Kesepakatannya dengan ayahnya sebentar lagi selesai. Dia benar-benar tidak ingin masalah lain muncul pada saat seperti ini.

Melihat Daven masih hendak berbicara, Veyra mendengus. "Cukup!"

Suaranya begitu keras hingga seluruh area IGD seketika hening. Dia menyapu pandangan ke sekeliling. Tatapannya setajam pisau, sementara suaranya yang sedingin es membuat orang-orang merinding.

"Aku harap nggak ada yang mengunggah video malam ini. Asistenku akan memeriksa ponsel kalian nanti. Tenang saja, aku akan memberikan kompensasi yang pantas kepada semuanya."

Vero mengerti maksudnya. Dia segera meminta beberapa petugas keamanan membuat pembatas di pintu IGD, sementara dia sendiri membawa beberapa orang dan mulai memeriksa satu per satu.

Veyra pun kembali maju dan dengan wajah penuh amarah, menarik lengan Daven menuju ruangannya.

Daven melihat tujuannya sudah tercapai, jadi dia membiarkan Veyra menariknya.

Tak lama kemudian, mereka tiba di ruang kerja. Veyra melepaskan tangannya setelah masuk, lalu menatap Daven dengan penuh amarah. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?"

Daven melihat kemarahan di wajahnya dan merasa sedikit heran. "Memangnya aku salah?"

Mendengar itu, Veyra menekan emosinya. "Aku sudah janji ke Axton, aku akan merahasiakan pernikahanku kepada publik. Setelah kamu mengumumkannya seperti itu, gimana Axton harus menghadapi semua ini?"

"Axton masih sakit. Gimana dia akan menghadapi semua gosip setelah ini?"

Daven tertegun. Ternyata yang pertama kali dia pikirkan tetap Axton.

Mereka saling menatap cukup lama. Amarah di mata Veyra seolah hampir berubah menjadi api yang nyata.

Daven tertawa. "Terus, gimana denganku?"

Ekspresi Veyra membeku. "Apa?"

Daven tetap tenang. "Kamu takut dia nggak sanggup menghadapi semua gosip. Lalu selama bertahun-tahun ini, kamu pikir aku sanggup mendengar orang-orang membicarakan gimana istriku begitu mesra dengan pria lain?"

Veyra refleks membantah, "Mana bisa disamakan. Dia ...."

Daven mengangkat tangan, menghentikannya. Dia bahkan mengucapkan sendiri kalimat yang sudah didengarnya ribuan kali. "Ya, dia sakit. Kenapa harus mempermasalahkan seorang pasien?"

"Tenang saja. Mulai sekarang aku nggak akan mempermasalahkannya lagi." Daven memasukkan tangannya ke saku jas putihnya yang lebar, menggenggam surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani.

Toh sebentar lagi mereka bukan suami istri lagi.

Mendengar perkataannya, Veyra secara naluriah merasa lega, tetapi entah kenapa tetap merasa ada yang tidak beres.

Mengingat kejadian hari ini, amarahnya kembali muncul. "Hari ini kamu benar-benar membuatku kecewa."

"Pertama, kamu mendorong Axton. Kamu juga melakukan korupsi pada obat-obatan dan membuatku menandatangani dokumen."

"Hari ini aku sudah berkali-kali menahan diri terhadapmu. Tapi tadi kamu malah menindas Valeria dan menghina keluargaku. Ini benar-benar nggak bisa dimaafkan."

Daven mencibir. "Menuduh orang seenaknya tanpa melakukan pemeriksaan atau mencari bukti. Benar-benar didikan Keluarga Salim yang luar biasa."

Veyra mengernyit. "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Memangnya bukan begitu?"

Daven menatapnya dalam-dalam. "Kamu melihat sendiri aku mendorongnya? Waktu tanda tangan dokumen tadi, aku sudah menyuruhmu periksa. Kamu periksa nggak?"

Sambil berkata begitu, dia melangkah maju. "Dan tadi, kamu tahu kenapa aku memarahi Valeria? Kenapa aku sampai mencela keluargamu?"

Veyra terdiam sesaat. Dia menatap Daven yang kini berdiri begitu dekat. Aroma tubuhnya terasa begitu familier sekaligus asing. Jangan-jangan ... dia benar-benar salah paham?

Namun, siapa dirinya? Dia adalah Veyra, putri sulung Keluarga Salim, sekaligus martabat Grup Salim. Dalam setiap negosiasi bisnis, dia tidak pernah kalah. Selama ini, hanya dia yang berhak menilai orang lain.

"Seberat apa pun kesalahan Valeria, kamu tetap nggak seharusnya menindasnya. Apalagi sampai membawa-bawa masalah itu ke cara Keluarga Salim mendidik anak."

"Orang tuaku memang sejak awal nggak menyukaimu. Kalau mereka tahu soal ini, gimana mereka bisa menerimamu?"

Daven mencibir. "Menerimaku? Pernah kamu berpikir apa aku masih mau menerima mereka?"

Veyra mengernyit. "Kita memang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Wajar kalau orang tuaku memandang rendah kamu. Yang harus kamu lakukan adalah mencari cara untuk mengambil hati mereka, bukan mengeluh di sini."

"Dalam hal ini, kamu kalah jauh dari Axton. Setidaknya dia tahu gimana mengambil hati orang tuaku."

Daven sampai tertawa saking kesalnya. Axton lagi, Axton lagi. Benar-benar tidak pernah bisa tanpa menyebutnya.

Daven menatap Veyra. "Sebenarnya masih ada satu cara untuk menyelesaikan masalah ini."

Veyra sedikit menyipitkan mata. Entah kenapa, dia memiliki firasat buruk.

Daven berkata dengan tenang, "Hubungan yang dipaksakan nggak akan bahagia. Kita pisah saja."

Veyra membeku. Dia bahkan curiga dirinya salah dengar. "Apa?"

Daven menunduk menatap matanya dan mengucapkannya perlahan, kata demi kata, "Maksudku, kita cerai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 50

    Vero buru-buru menutupi ponselnya dengan tangan.Namun, sudah terlambat.Daven sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."Bu ... Bu Veyra, obatnya su ... sudah aku dapatkan. Sekarang aku sedang di lobi perusahaan."Saat Vero hendak menutup telepon, Daven mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga.Suara Veyra masih terdengar dari seberang, "Oke. Gimana suasana hati Axton sekarang? Ginjal donor yang sebelumnya cocok dengannya tiba-tiba nggak bisa digunakan. Dia pasti sangat kecewa.""Besok dia keluar dari rumah sakit. Aku harus meluangkan waktu untuk menemani dia. Coba periksa jadwalku besok. Kalau ada yang nggak terlalu penting, batalkan semuanya ...."Dengan wajah tanpa ekspresi, Daven membuka mulut dan memotong perkataannya, "Veyra."Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat orang di seberang telepon terdiam sesaat."Daven?"Veyra mengenali suaranya."Kamu sudah selesai masak dan mengantarkannya secepat ini? Aku nggak punya waktu untuk turun. La

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 49

    Daven hanya melihat sekilas, lalu menarik kembali pandangannya. Dia langsung meletakkan kotak makanan di atas meja resepsionis.Resepsionis itu sedikit tidak sabar, tetapi tetap mampu mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih tersenyum ketika berkata, "Pak, kalau ini pesanan makanan, silakan letakkan di kotak sesuai departemennya ya. Dengan begitu, karyawan akan lebih mudah mengambilnya dan Anda juga bisa menghemat waktu."Daven menggeleng. "Ini untuk Bu Veyra. Aku sudah lihat kotak-kotak di sana, tapi nggak ada kotak untuk direktur utama."Mendengar itu, sang resepsionis tertegun. Dia menatap Daven dengan sedikit curiga.Demi bisa bertemu dengan Bu Veyra, beberapa mitra bisnis sebelumnya juga pernah melakukan berbagai cara yang tidak terduga."Maaf kalau lancang, Anda ini siapa?"Mendengar pertanyaan itu, Daven sedikit tertegun.Siapa dirinya?Tukang masak?Atau pengasuh pria?Apa pun sebutannya boleh.Hanya satu yang tidak boleh, yaitu suami Veyra.Daven tiba-tiba kehilangan k

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 48

    "Antarin makanan untuk anjing?"Valeria tertegun.Saat mengobati luka Daven hari ini, dia juga mendengar Daven mengatakan bahwa lukanya akibat digigit anjing. Akan tetapi, sejak kapan dia memelihara anjing?Tiba-tiba, Valeria teringat pesan yang baru saja dikirim kakaknya. Matanya langsung membelalak. Dia menatap punggung Daven yang semakin jauh.Valeria buru-buru mengirim pesan kepada Veyra untuk mengadukannya.[ Kak, Daven bilang kamu anjing! ]....Beberapa saat kemudian, Daven sudah membawa sekantong kotak makanan plastik yang telah dibungkus.Sebenarnya, Veyra tidak terbiasa dengan makanan dari luar. Dalam keadaan normal, dia hanya mau makan masakan Daven. Namun, kalau benar-benar tidak sempat atau sedang terburu-buru, dia juga akan makan seadanya di luar.Biasanya, makanan luar yang tidak terlalu ditolak Veyra adalah telur orak-arik tomat dan tahu dingin dengan daun bawang. Kedua hidangan itu memang tidak terlalu bergantung pada kualitas bahan dan juga jarang ada yang bisa mengac

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 47

    Ujung bibir Daven berkedut.Biasanya dia memang tidak akan kelelahan. Namun, tadi malam dia sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Sebenarnya, dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Itu benar-benar pertama kalinya dia melihat Veyra seperti itu.Daven mengakui, setelah hidup tanpa memenuhi kebutuhan biologisnya selama lebih dari dua tahun, dia akhirnya tidak mampu menahan diri.Tentu saja, alasan terpentingnya tetaplah penjelasan Vero kepadanya kemarin.Daven tiba-tiba teringat Veyra yang mabuk semalam, juga matanya yang memerah setelah sadar tadi pagi. Dia juga teringat bagaimana Veyra berusaha keras mempertahankan sikap dinginnya, tetapi nada bicaranya jelas terdengar sedih ketika meminta Daven mengantarkan makanan untuknya ....Daven terdiam cukup lama.Sejak ibunya meninggal, Daven selalu hidup sendirian. Sampai akhirnya, dia bertemu Veyra.Demi dirinya, Veyra pernah melawan keluarganya, mengenakan pakaian murah bersamanya, dan makan makanan sederhana bersamanya.Veyra memang

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 46

    Setelah menghabiskan airnya, Daven meletakkan gelas kertas di lantai di sampingnya."Sebentar lagi waktunya pulang kerja. Kamu nggak pulang untuk siap-siap masak? Kali ini aku bisa dengan terpaksa membiarkanmu menumpang mobilku!"Valeria mengerucutkan bibir, memasang ekspresi seolah dia benar-benar melakukannya dengan terpaksa.Daven sudah terbiasa dengan sifat gengsinya itu.Sebenarnya, ketika Veyra masih berpacaran dengannya dulu, sifatnya juga seperti ini. Hanya saja, setelah melewati masa merintis bisnis dan sekarang menjadi direktur utama Grup Salim, karakternya sudah banyak ditempa dan menjadi jauh lebih tenang."Mobil sportmu terlalu sempit. Aku tidak terbiasa duduk di dalamnya."Daven mengatakan yang sebenarnya.Setelah Valeria mulai magang, keluarganya langsung mentransfer uang saku dalam jumlah besar kepadanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebuah mobil sport Porsche berwarna merah muda.Daven tidak tahu persis modelnya. Dia hanya pernah "beruntung" mengendarain

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 45

    Tenaga medis yang berjaga di depan alat pemantau buru-buru menjawab, "Pasien mengalami reaksi penolakan, detak jantungnya terus menurun!"Kepanikan langsung terlihat jelas di wajah Valeria.Daven meliriknya sekilas, lalu dengan cepat memberi instruksi, "Ganti perawat instrumen. Valeria keluar dari area steril dan bertugas sebagai perawat sirkuler.""Hah ...?"Valeria langsung kelabakan. Namun, perawat lain sudah bersiap sejak awal dan buru-buru maju untuk menggantikan posisinya.Dia digantikan?Sebelum operasi, Daven memang sudah memberitahunya bahwa dia akan menyiapkan perawat berpengalaman untuk berjaga-jaga. Jika Valeria kehilangan fokus atau melakukan kesalahan, posisinya akan langsung digantikan.Namun, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini.Untungnya, Daven tidak langsung menyuruhnya keluar. Dia hanya memintanya bertugas sebagai perawat sirkuler di luar area steril.Cahaya putih dari lampu operasi berpadu dengan hawa sejuk pendingin ruangan. Dinding keramik di sekelili

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status