مشاركة

Bab 6

مؤلف: Purnawirawan S.
Veyra tertegun. Yang meneleponnya adalah adiknya sendiri, Valeria?

Veyra menghela napas lega, lalu melembutkan suaranya. "Dia menindasmu? Mana mungkin."

Valeria sebentar lagi lulus kuliah dan baru mulai magang. Dia tidak tinggal di rumah keluarga, melainkan menyewa sebuah apartemen di kompleks tempat tinggal Veyra. Dia juga sering datang berkunjung.

Selama dua setengah tahun terakhir, meskipun Veyra dan Daven saling mendiamkan, Daven tetap bersikap perhatian kepada Valeria dan Meisya seperti biasa. Dia selalu menuruti apa pun yang mereka minta dan hampir tidak pernah menunjukkan amarah.

Karena itu, ketika Valeria mengatakan Daven telah menindasnya, bagi Veyra hal itu terdengar seperti sesuatu yang mustahil.

"Huu ... huu ...." Valeria tidak menjelaskan apa yang terjadi. Dia hanya terus menangis, lalu tiba-tiba menutup telepon setelah puas menangis.

Veyra menatap ponselnya dengan kening berkerut, lalu melihat Axton yang duduk di sampingnya.

Dia membuka mulut, ingin mengatakan apakah mereka bisa pergi lain kali, tetapi pada akhirnya tidak mengatakannya.

Bagaimanapun, setiap kali dia sudah berjanji kepada Axton, lalu Daven menghentikan di tengah jalan, meskipun Daven berjanji mereka pasti bisa pergi lain kali, Axton tetap akan merasa tidak senang.

Suasana hati pasien sangat penting untuk membantu memperbaiki kondisinya. Dibandingkan dengan itu, ulah adiknya yang tidak masuk akal sepertinya bukan masalah besar.

Lagi pula, Veyra percaya Daven tidak mungkin melakukan sesuatu untuk menyakiti Valeria.

Axton bisa melihat kegelisahan di wajahnya. "Gimana kalau kita pergi lain kali saja? Valeria menangis sesedih itu, pasti ada sesuatu yang terjadi. Kita kembali dan lihat keadaannya."

Mendengar itu, Veyra menatapnya dengan heran, lalu menghela napas. "Memang kamu yang paling mengerti aku. Nggak seperti Daven, yang tahunya cuma ngambek."

Sekali ngambek bisa sampai dua setengah tahun. Veyra benar-benar sudah tidak tahan dengan sifat keras kepalanya itu.

....

Di depan ruang operasi, Valeria duduk di kursi dengan mata merah dan sembap. Jelas, dia baru saja menangis.

Tadi dia tiba-tiba merasa sangat tertekan. Dia benar-benar tidak sengaja. Siapa sangka kondisi pasien itu ternyata sangat rapuh? Dia hanya memarahinya sedikit, tetapi kondisinya langsung menjadi seperti itu.

Valeria ingin mencari seseorang untuk mencurahkan semua keluh kesahnya, jadi dia langsung menelepon Veyra.

Namun, dia sendiri tidak tahu harus mulai bercerita dari mana. Akhirnya dia hanya terus menangis, seolah ingin meluapkan seluruh rasa kesalnya.

Setelah menutup telepon, Valeria baru menyadari bahwa ponsel yang ada di tangannya ternyata bukan miliknya.

Itu adalah ponsel yang tadi dia rebut dari pasien itu. Kemudian, setelah Daven masuk, sepertinya dia mengatakan ... ponsel itu miliknya?

Sebelum Valeria sempat memikirkannya lebih jauh, lampu ruang operasi padam. Daven berjalan keluar.

Valeria langsung berdiri dari kursinya. Wajah cantiknya dipenuhi kecemasan dan kegelisahan. "Pasien itu ... dia baik-baik saja?"

Daven meliriknya. Bagaimanapun juga, Valeria hanyalah seorang mahasiswi. Keluarga Salim juga melindunginya dengan sangat baik.

Ketika menghadapi kejadian tak terduga, dia langsung panik. Bisa dibilang dia masih polos dan naif. Namun, dia juga sangat bodoh.

Bahkan sampai tidak tahu pasien seperti apa yang dirawat di kamar yang menjadi tanggung jawabnya sendiri.

"Sudah melewati masa kritis. Sekarang sudah aman." Daven melepas maskernya.

Mendengar itu, Valeria akhirnya bisa bernapas lega. Dia mulai menarik napas dalam-dalam.

Daven tiba-tiba melangkah maju. Cahaya lampu koridor jatuh di belakang tubuhnya, membuat bayangannya yang besar menutupi tubuh Valeria.

Valeria menatapnya dengan terpaku. Tubuh Daven basah kuyup oleh keringat. Aroma keringat yang pekat memenuhi tubuhnya. Kalau biasanya, Valeria pasti sudah menunjukkan wajah jijik dan menyuruhnya menjauh, mengatakan bau keringatnya membuatnya mual.

Namun kali ini, entah kenapa itu justru membuatnya merasa aman. Dia melihat keringat mengalir dari wajah Daven, melewati jakunnya, lalu jatuh ke kerah bajunya hingga meninggalkan noda yang basah.

Kakak iparnya ini ternyata ... cukup tampan juga. Entah kenapa, Valeria kembali teringat ucapan Daven di kamar pasien tadi.

"Serahkan saja padaku." Nada bicaranya sangat dingin, tetapi entah bagaimana terdengar menenangkan.

Daven melihat Valeria kembali melamun. Rasa kesal di matanya semakin bertambah dan nada bicaranya pun menjadi semakin dingin.

"Kamu tahu siapa nama pasien ini dan penyakit apa yang dideritanya?"

Valeria tertegun mendengar pertanyaannya. Dia tersadar dan langsung bertatapan dengan Daven. Hawa dingin di mata pria itu membuatnya tanpa sadar bergidik.

"Aku nggak tahu." Valeria hanya bisa menjawab dengan jujur.

Daven mencibir. "Aku sudah melihat daftar pasien yang menjadi tanggung jawabmu. Kamar pasien ini termasuk di dalamnya, tapi kamu bahkan nggak tahu data pasienmu sendiri."

"Namanya Rayze, menderita uremia stadium menengah hingga lanjut. Kalau kamu pernah mempelajari sedikit saja pengetahuan dasar, kamu seharusnya tahu pasien dengan kondisi separah ini sangat rentan secara mental dan emosional. Mereka sangat mudah berpikiran buruk."

Tatapan Valeria mulai menghindar. Dia tidak berani menatap Daven. "Aku ... belum belajar."

Daven tertawa kecil dengan nada mengejek. "Belum belajar? Selama bertahun-tahun ini, kapan aku nggak menjelaskan materi kuliah ke kamu secara rinci? Kamu sendiri yang nggak pernah benar-benar mendengarkannya!"

Dia menunjuk para tenaga medis yang masih sibuk membereskan ruang operasi di dalam.

"Di rumah sakit nggak seperti di perusahaan. Membuat kesalahan lalu bilang nggak tahu bukan berarti masalahnya selesai."

"Setiap kelalaian bisa berujung pada kematian. Kalau kamu datang ke sini hanya untuk sekadar menjalani formalitas, lebih baik diam dan jangan melakukan apa-apa."

Sambil berkata demikian, emosi yang selama bertahun-tahun terpendam dalam diri Daven seolah akhirnya meledak pada saat ini.

"Keluarga Salim adalah keluarga yang bergerak di bidang medis. Kalau anak-anak yang dibesarkan Keluarga Salim justru begitu lalai sampai menganggap nyawa manusia nggak ada artinya, sebenarnya seberapa pantas keluarga Salim menyandang gelar keluarga medis?!"

Kata-katanya begitu tajam, bahkan sampai menyerang seluruh Keluarga Salim. Valeria juga terkejut oleh amarah dalam suara Daven.

Dia tidak percaya bahwa Daven yang selama tiga tahun terakhir selalu mengalah dan menuruti semua orang, kini berani menegurnya tepat di hadapannya, bahkan mencela Keluarga Salim.

Memang dia yang melakukan kesalahan terlebih dahulu. Namun, kalau Daven tidak memberikan benda-benda itu kepada pasien tadi, bagaimana mungkin dia akan bereaksi sebesar itu?

Untuk sesaat, rasa tertekan yang sulit diungkapkan kembali memenuhi dadanya. Matanya memerah saat menatap Daven dengan tatapan penuh keluhan. Air matanya yang sempat berhenti kembali mengalir deras.

Daven melirik Valeria dan langsung merasa tidak ada gunanya melanjutkan. Dia hanya seorang mahasiswa kedokteran yang baru lulus dan belum pernah merasakan betapa beratnya kehidupan.

Suatu hari nanti saat dia sendiri mengalami bagaimana setelah berusaha mati-matian dan mengorbankan segalanya, dia tetap tidak mampu menyelamatkan nyawa seseorang, barulah dia akan memahami perasaan itu.

Daven tidak berkata apa-apa lagi dan berbalik pergi.

Namun, saat itu juga terdengar suara dingin dari kejauhan. "Siapa yang nyalinya begitu besar sampai berani menghakimi Keluarga Salim?"

Suara yang begitu familier itu membuat langkah Daven seketika terhenti. Dia menoleh ke ujung koridor.

Veyra dan Axton berdiri di sana.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 50

    Vero buru-buru menutupi ponselnya dengan tangan.Namun, sudah terlambat.Daven sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."Bu ... Bu Veyra, obatnya su ... sudah aku dapatkan. Sekarang aku sedang di lobi perusahaan."Saat Vero hendak menutup telepon, Daven mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga.Suara Veyra masih terdengar dari seberang, "Oke. Gimana suasana hati Axton sekarang? Ginjal donor yang sebelumnya cocok dengannya tiba-tiba nggak bisa digunakan. Dia pasti sangat kecewa.""Besok dia keluar dari rumah sakit. Aku harus meluangkan waktu untuk menemani dia. Coba periksa jadwalku besok. Kalau ada yang nggak terlalu penting, batalkan semuanya ...."Dengan wajah tanpa ekspresi, Daven membuka mulut dan memotong perkataannya, "Veyra."Suara yang tiba-tiba terdengar itu membuat orang di seberang telepon terdiam sesaat."Daven?"Veyra mengenali suaranya."Kamu sudah selesai masak dan mengantarkannya secepat ini? Aku nggak punya waktu untuk turun. La

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 49

    Daven hanya melihat sekilas, lalu menarik kembali pandangannya. Dia langsung meletakkan kotak makanan di atas meja resepsionis.Resepsionis itu sedikit tidak sabar, tetapi tetap mampu mengendalikan ekspresinya dengan baik. Dia masih tersenyum ketika berkata, "Pak, kalau ini pesanan makanan, silakan letakkan di kotak sesuai departemennya ya. Dengan begitu, karyawan akan lebih mudah mengambilnya dan Anda juga bisa menghemat waktu."Daven menggeleng. "Ini untuk Bu Veyra. Aku sudah lihat kotak-kotak di sana, tapi nggak ada kotak untuk direktur utama."Mendengar itu, sang resepsionis tertegun. Dia menatap Daven dengan sedikit curiga.Demi bisa bertemu dengan Bu Veyra, beberapa mitra bisnis sebelumnya juga pernah melakukan berbagai cara yang tidak terduga."Maaf kalau lancang, Anda ini siapa?"Mendengar pertanyaan itu, Daven sedikit tertegun.Siapa dirinya?Tukang masak?Atau pengasuh pria?Apa pun sebutannya boleh.Hanya satu yang tidak boleh, yaitu suami Veyra.Daven tiba-tiba kehilangan k

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 48

    "Antarin makanan untuk anjing?"Valeria tertegun.Saat mengobati luka Daven hari ini, dia juga mendengar Daven mengatakan bahwa lukanya akibat digigit anjing. Akan tetapi, sejak kapan dia memelihara anjing?Tiba-tiba, Valeria teringat pesan yang baru saja dikirim kakaknya. Matanya langsung membelalak. Dia menatap punggung Daven yang semakin jauh.Valeria buru-buru mengirim pesan kepada Veyra untuk mengadukannya.[ Kak, Daven bilang kamu anjing! ]....Beberapa saat kemudian, Daven sudah membawa sekantong kotak makanan plastik yang telah dibungkus.Sebenarnya, Veyra tidak terbiasa dengan makanan dari luar. Dalam keadaan normal, dia hanya mau makan masakan Daven. Namun, kalau benar-benar tidak sempat atau sedang terburu-buru, dia juga akan makan seadanya di luar.Biasanya, makanan luar yang tidak terlalu ditolak Veyra adalah telur orak-arik tomat dan tahu dingin dengan daun bawang. Kedua hidangan itu memang tidak terlalu bergantung pada kualitas bahan dan juga jarang ada yang bisa mengac

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 47

    Ujung bibir Daven berkedut.Biasanya dia memang tidak akan kelelahan. Namun, tadi malam dia sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga. Sebenarnya, dia juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Itu benar-benar pertama kalinya dia melihat Veyra seperti itu.Daven mengakui, setelah hidup tanpa memenuhi kebutuhan biologisnya selama lebih dari dua tahun, dia akhirnya tidak mampu menahan diri.Tentu saja, alasan terpentingnya tetaplah penjelasan Vero kepadanya kemarin.Daven tiba-tiba teringat Veyra yang mabuk semalam, juga matanya yang memerah setelah sadar tadi pagi. Dia juga teringat bagaimana Veyra berusaha keras mempertahankan sikap dinginnya, tetapi nada bicaranya jelas terdengar sedih ketika meminta Daven mengantarkan makanan untuknya ....Daven terdiam cukup lama.Sejak ibunya meninggal, Daven selalu hidup sendirian. Sampai akhirnya, dia bertemu Veyra.Demi dirinya, Veyra pernah melawan keluarganya, mengenakan pakaian murah bersamanya, dan makan makanan sederhana bersamanya.Veyra memang

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 46

    Setelah menghabiskan airnya, Daven meletakkan gelas kertas di lantai di sampingnya."Sebentar lagi waktunya pulang kerja. Kamu nggak pulang untuk siap-siap masak? Kali ini aku bisa dengan terpaksa membiarkanmu menumpang mobilku!"Valeria mengerucutkan bibir, memasang ekspresi seolah dia benar-benar melakukannya dengan terpaksa.Daven sudah terbiasa dengan sifat gengsinya itu.Sebenarnya, ketika Veyra masih berpacaran dengannya dulu, sifatnya juga seperti ini. Hanya saja, setelah melewati masa merintis bisnis dan sekarang menjadi direktur utama Grup Salim, karakternya sudah banyak ditempa dan menjadi jauh lebih tenang."Mobil sportmu terlalu sempit. Aku tidak terbiasa duduk di dalamnya."Daven mengatakan yang sebenarnya.Setelah Valeria mulai magang, keluarganya langsung mentransfer uang saku dalam jumlah besar kepadanya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membeli sebuah mobil sport Porsche berwarna merah muda.Daven tidak tahu persis modelnya. Dia hanya pernah "beruntung" mengendarain

  • Kurestui Pilihanmu, Relakan Kepergianku   Bab 45

    Tenaga medis yang berjaga di depan alat pemantau buru-buru menjawab, "Pasien mengalami reaksi penolakan, detak jantungnya terus menurun!"Kepanikan langsung terlihat jelas di wajah Valeria.Daven meliriknya sekilas, lalu dengan cepat memberi instruksi, "Ganti perawat instrumen. Valeria keluar dari area steril dan bertugas sebagai perawat sirkuler.""Hah ...?"Valeria langsung kelabakan. Namun, perawat lain sudah bersiap sejak awal dan buru-buru maju untuk menggantikan posisinya.Dia digantikan?Sebelum operasi, Daven memang sudah memberitahunya bahwa dia akan menyiapkan perawat berpengalaman untuk berjaga-jaga. Jika Valeria kehilangan fokus atau melakukan kesalahan, posisinya akan langsung digantikan.Namun, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini.Untungnya, Daven tidak langsung menyuruhnya keluar. Dia hanya memintanya bertugas sebagai perawat sirkuler di luar area steril.Cahaya putih dari lampu operasi berpadu dengan hawa sejuk pendingin ruangan. Dinding keramik di sekelili

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status