MasukPak Budi mengambil keris itu dengan kedua tangan, sangat hati-hati, seperti memegang bayi yang baru lahir. Dia membolak-balikkannya perlahan, mengamati setiap detail. Mata telanjangnya yang dibantu kacamata baca, melihat dengan seksama."Bilahnya... 89% utuh. Pamor Beras Wutah... ini sangat langka, Mas. Saya hanya pernah lihat di buku, belum pernah lihat langsung." Pak Budi mengusap bilah keris dengan ujung jari. "Ujungnya sedikit korosi, tapi tidak mempengaruhi struktur. Masih sangat bagus untuk benda berusia 700 tahun."Dia memeriksa gagang kayu hitam. "Ukiran emas masih utuh, Mas. 95%. Ini emas 22 karat, asli. Tidak palsu. Lihat detail naganya, mata dari batu merah. Ini pekerjaan tangan pengrajin istana, bukan sembarang pandai besi."Kemudian dia memeriksa sarung kayu cendana. "Sarung 75% utuh. Ada retak di bagian bawah, tapi masih bisa diperbaiki. Saya kenal ahli warangka di Solo, dia bisa merestorasi ini tanpa menghilangkan nilai sejarahnya."Pak Budi menghela napas panjang. Mata
Tapi Wandi tidak peduli. Dia sudah punya cukup uang. Yang dia butuhkan bukan harta, tetapi kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu sudah dia dapatkan bersama Arini, bersama teman-teman, bersama orang-orang yang dia selamatkan.Arini keluar dari rumah, duduk di samping Wandi. "Wan, tadi siapa yang telepon?""Pak Budi. Lamborghini Miura-nya laku. Dia mau beli keris kita besok pagi."Arini tersenyum. "Bagus. Besok kita sambut dia.""Iya."Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, membawa bau tanah dan dedaunan."Rin, terima kasih.""Terima kasih buat apa?""Untuk semuanya. Untuk hari-hari yang indah. Untuk kebersamaan kita."Arini menyandarkan kepalanya di pundak Wandi. "Aku juga berterima kasih, Wan. Kamu mengajariku arti kebahagiaan sederhana.""Kebahagiaan sederhana itu apa?""Ini. Duduk di teras, malam-malam, melihat bintang, ditemani orang yang kita cintai."Wandi memeluk Arini. "Kamu benar. Ini kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang."Mereka berdua terdiam. Bintang
"Baik, saya akan singkat saja," ucap Arini membuka meeting. "Kemarin saya meeting dengan Bank Mandiri. Kerja sama sudah deal. Mulai bulan depan, program pembiayaan UMKM akan berjalan."Para manajer bertepuk tangan."Kita harus siap dengan peningkatan volume transaksi. Tim IT, pastikan server stabil. Tim pemasaran, persiapkan kampanye. Tim keuangan, siapkan laporan untuk audit.""Siap, Bu," jawab mereka serempak."Target ekspansi ke Malaysia juga sudah mulai dibahas. Saya akan ke Kuala Lumpur bulan depan untuk bertemu investor. Sementara itu, tolong siapkan proposal dan presentasi."Arini melanjutkan meeting dengan membahas detail operasional. Wandi yang duduk di ruang tunggu, sambil minum kopi dan membaca koran digital di ponselnya. Dia tidak ikut meeting, tugasnya hanya mengantar dan menjemput Arini. Tapi dia tidak bosan. Dia sudah terbiasa menunggu.Setelah meeting selesai, sekitar pukul setengah dua belas, Arini keluar dari ruang meeting. Wajahnya sedikit lelah, tetapi tetap berser
Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi dan Arini bersiap berangkat ke Jakarta. Langit masih berwarna jingga keemasan, dengan sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan di halaman rumah. Udara pagi itu sejuk, tidak terlalu dingin, tidak terlalu panas, sempurna untuk perjalanan. Wandi sudah bangun sejak pukul setengah enam, mandi, berpakaian rapi, dan menyiapkan kopi untuk Arini yang masih merapikan diri di kamar.BMW hitam terparkir di car port dengan bagasi yang masih penuh oleh kardus-kardus talas, bakpia, keripik, dan brownies. Kemarin mereka sudah membagikan sebagian ke tetangga, tetapi masih banyak yang tersisa untuk karyawan di kantor pusat Jakarta dan kantor cabang Bogor. Wandi memeriksa bagasi sekali lagi, memastikan tidak ada kardus yang terjatuh atau kemasan yang rusak. Semua rapi, tertata, siap diantar.Arini keluar dari rumah dengan langkah ringan. Dia memakai blazer abu-abu muda di atas kemeja putih, rok pensil hitam yang sedikit membatasi gerak kakinya,
Wandi tersenyum. Dia mengambil ponsel, memotret momen itu. Bukan untuk diposting di media sosial, tapi untuk kenang-kenangan."Mak, nanti talasnya dimakan bareng keluarga. Bakpianya buat camilan. Browniesnya buat cucu-cucu Mak. Keripiknya buat teman ngopi.""Iya, Mas. Makasih banyak. Semoga Mas Wandi dan Mbak Arini panjang umur, sehat selalu, rezeki lancar.""Aamiin," jawab Wandi dan Arini bersamaan.Mereka berpamitan, meninggalkan Mak Yem yang masih berdiri di depan warungnya sambil memegang kardus talas, air mata masih mengalir, tapi senyumnya lebar.Pak RT, nama lengkapnya Pak Slamet Riyadi, adalah pria paruh baya dengan tubuh kurus, kumis tebal, dan rambut putih di pelipis. Dia pensiunan pegawai negeri sipil yang memilih kembali ke kampung halaman setelah pensiun. Rumahnya sederhana, tapi paling besar di antara rumah-rumah lain di gang itu, mungkin karena dulu dia punya posisi yang cukup baik.Wandi mengetuk pintu pagar besi yang sedikit berkarat. Tidak lama kemudian, Pak RT kelua
Matahari mulai bergeser ke barat ketika BMW hitam memasuki gang sempit menuju rumah Wandi. Langit yang tadinya cerah, kini berubah menjadi jingga keemasan, menandakan sore telah tiba. Awan-awan tipis berwarna oranye dan merah muda bergerak lambat, seperti kapas yang diwarnai oleh tangan seniman yang tidak terburu-buru. Suasana perumahan subsidi itu mulai berubah, dari kesibukan siang menjadi ketenangan sore. Anak-anak kecil yang tadinya bermain kejar-kejaran di jalan, kini mulai berhamburan masuk ke rumah masing-masing, dipanggil oleh ibu-ibu yang sudah menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, meskipun belum bulan puasa, kebiasaan itu tetap berlangsung setiap sore.Wandi memperlambat laju mobil. Jalanan di gang itu tidak selebar jalan raya, hanya cukup untuk satu mobil dan sedikit ruang untuk motor yang parkir di pinggir. Aspalnya tidak mulus, banyak tambalan yang tidak rapi, dan beberapa lubang kecil yang membuat mobil bergoyang pelan saat melewatinya. Tapi Wandi sudah hafal setiap lu







