LOGINDi tengah kepanikannya, bayangan Tina dan Nila muncul di benak Andre. Tina yang tersenyum ramah setiap pagi. Tina yang memasak makan malam untuknya. Tina yang memeluknya sebelum tidur. Nila yang memanggilnya "Ayah" dengan penuh kasih. Nila yang tertawa ketika dia menggelitik perutnya. Nila yang memeluknya erat ketika dia pulang kerja."Tina... Nila... apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tahu? Apa yang akan mereka katakan jika mereka tahu bahwa aku menusuk Wandi? Apa yang akan mereka lakukan jika aku dipenjara?"Andre mengepalkan setir. Air matanya mulai mengalir."Aku tidak bisa kehilangan mereka. Aku tidak bisa kehilangan Tina dan Nila. Mereka adalah segalanya bagiku."Tapi kemudian, bayangan lain muncul. Bayangan Wandi yang tergeletak di teras. Bayangan Noval yang menangis di sampingnya. Bayangan Arini yang berteriak histeris."Aku sudah melakukannya. Aku sudah menusuk Wandi. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah... melarikan diri."Andre menge
Andre berdiri di atas mereka. Pisau di tangannya masih berlumuran darah. Wajahnya yang tadinya penuh amarah, kini berubah menjadi dingin. Matanya menatap Wandi yang tergeletak."Wandi... akhirnya... kamu mati."Andre berlari ke arah mobilnya. Dia masuk ke dalam Innova, menyalakan mesin, dan melaju kencang meninggalkan kompleks perumahan. Suara knalpot Innova menghilang di tikungan.Noval masih berlutut di samping Wandi. Air matanya mengalir deras. Tangannya yang kecil mencoba menutup luka di punggung Wandi, tetapi darah terus mengucur."PA! PA! BANGUN, PA! PAPA JANGAN TIDUR!" teriak Noval, suaranya pecah, nyaris seperti jeritan.Arini berlari keluar rumah. Dia melihat Wandi yang tergeletak di teras, berlumuran darah. Dia melihat Noval yang menangis di sampingnya."WAN! WAN!" teriak Arini.Dia berlutut di samping Wandi, memegang kepalanya. "Wan, buka mata! WAN!"Wandi membuka mata. Matanya sayu, tetapi masih ada cahaya di sana."Rin... Noval... maafkan aku..." bisik Wandi. "Aku... gaga
Matahari pagi yang tadinya cerah, kini terasa menyengat seperti api. Langit biru yang tadinya indah, kini terlihat kelabu di mata Andre. Rumah Wandi yang tadinya tenang, kini menjadi medan perang. Wandi dan Andre saling berhadapan di halaman depan rumah yang sempit. Debu-debu beterbangan di udara, terkena hembusan angin pagi yang tiba-tiba terasa dingin.Perkelahian itu sudah berlangsung beberapa menit. Andre mengayunkan pisau tentaranya ke arah Wandi dengan gerakan liar, tidak teratur, penuh amarah. Wandi menghindar dengan gerakan yang lincah, tetapi tidak menyerang balik. Dia hanya bertahan, memblok, dan menghindar. Dia tidak ingin melukai Andre. Dia hanya ingin menghentikannya."Andre, sudah cukup! Berhenti!" teriak Wandi sambil menangkis pukulan Andre."TIDAK! AKU TIDAK AKAN BERHENTI!" Andre mengayunkan pisau ke arah leher Wandi. Wandi menunduk, pisau itu hanya mengenai rambutnya.Di dalam rumah, di balik jendela ruang tamu, Arini berdiri dengan tubuh gemetar. Tangannya menutup mu
Malam itu, rumah Andre terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit di luar jendela gelap tanpa bintang, awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat. Lampu-lampu taman di halaman depan masih menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang nyaris tidak cukup untuk menembus kegelapan malam. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan dan suara jangkrik yang bersahutan di halaman belakang.Andre duduk di tepi kasur, tidak bergerak. Matanya yang tajam menatap Tina yang sedang terlelap di sampingnya. Wajah Tina tenang, dadanya naik turun perlahan, rambutnya terurai di atas bantal. Dia tidak tahu bahwa di sampingnya, seorang pria sedang merencanakan pembunuhan. Dia tidak tahu bahwa suaminya yang setiap hari tersenyum dan berkata "Aku sayang kamu" adalah monster yang siap menerkam.Andre menghela napas panjang. Tangannya yang gemetar meraih rambut Tina, mengelusnya perlahan."Maafkan aku, Tin.
Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi mengantar Arini ke kantornya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat menyinari setiap sudut kota, menciptakan bayangan-bayangan tegas di aspal jalanan yang mulai ramai. Di dalam NMAX hitam, Arini duduk di kursi belakang, memeluk erat pinggang Wandi. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin pagi. Wandi mengemudi dengan hati-hati, tidak terburu-buru, matanya tetap waspada terhadap setiap kendaraan di sekitarnya."Rin, nanti sore aku jemput Noval dari sekolah," ucap Wandi."Baik, Wan. Kamu mau ke mana setelah ini?"Wandi menghela napas panjang. "Ada urusan yang harus aku selesaikan.""Urusan apa?""Urusan dengan Andre."Arini terdiam. Tangannya yang memeluk Wandi, semakin erat. "Wan, hati-hati. Aku tidak mau kehilanganmu.""Kamu tidak akan kehilangan aku, Rin. Aku janji."Mereka tiba di gedung kantor Arini. Arini turun, mencium pipi Wandi. "Aku sayang kamu, Wan.""Aku juga sayang kamu, Rin."Arini berjalan k
"Aku pahlawan? Aku superhero? Di mata mereka, aku bukan lagi Wandi yang gagal. Aku bukan lagi Wandi yang tidak bisa memberi makan keluarganya. Aku... aku adalah pelindung mereka.""Noval," panggil Wandi setelah beberapa saat, suaranya masih serak."Iya, Pa?""Papa janji. Papa akan selalu melindungi Noval dan Mama. Tidak ada yang bisa menyakiti kalian. Papa akan menjadi superhero untuk kalian berdua. Selamanya."Noval tersenyum. Senyum yang lebar, yang memperlihatkan deretan gigi susunya yang kecil-kecil. Senyum yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Senyum yang mengatakan bahwa dia percaya. Bahwa dia tidak ragu. Bahwa dia yakin ayahnya akan selalu ada untuknya."Noval sayang Papa. Papa superhero-nya Noval."Wandi mencium kening Noval. "Papa sayang Noval. Papa sayang Mama. Papa sayang kalian berdua. Lebih dari apa pun."Mereka bertiga berpelukan lagi. Di pinggir jalan yang mulai sepi, di bawah langit yang mulai gelap, di antara lampu-lampu jalan yang mulai menyala, mereka berpelukan. Tida







