Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Batu Giok dan CEO (part 2)

Share

Batu Giok dan CEO (part 2)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-18 20:14:10

Wandi tertawa. "Cozy? Ini burjo, Rin. Biasanya anak kampung nongkrong di sini. Kalau kamu tidak nyaman, kita bisa pindah ke tempat lain."

"Enggak. Aku suka. Serius." Arini menekuk siku di atas meja kayu, lalu menyandarkan dagunya di punggung tangan. "Ini otentik. Beda dengan restoran-restoran mewah yang selalu aku datangi. Di sini, orang tidak pura-pura."

Wandi mengangguk. Dia memang suka sisi Arini yang ini. Tidak sombong. Tidak gengsi. CEO dengan harta berlimpah, tapi tidak malu-malu duduk di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Sepuluh Menit (part 3)

    "Tidak usah bayar. Papa yang bayar.""Om baik."Wandi tersenyum. "Sama-sama."00:04:15Empat menit lima belas detik.Makanan datang. Sepiring nasi putih dengan tempe goreng dan telur dadar di sampingnya. Dua gelas teh hangat mengepul.Wandi meletakkan piring di hadapan Noval. "Ini, Noval. Makan."Noval menatap piring itu. Tangannya yang kecil gemetar. Dia mengambil sendok, lalu menyendok nasi perlahan. Ketika nasi itu masuk ke mulutnya, matanya membeliak. Dia mengunyah perlahan, lalu menelan."Enak, Om," bisik Noval."Makan yang banyak, Noval. Jangan sisa."Noval mulai makan dengan lahap. Sendoknya bergerak cepat dari piring ke mulut, piring ke mulut. Sesekali dia mengambil tempe goreng, menggigitnya, lalu mencampurnya dengan nasi. Sesekali dia mengambil telur dadar, memotongnya dengan sendok, lalu memakannya.Wandi melihat air mata menggenang di pelupuk matanya. Anak ini benar-benar kelaparan. Lapar yang tidak dia rasakan sejak dulu, ketika dia dan Tina masih berjuang memberi makan N

  • Kurir Pemilik Sistem   Sepuluh Menit (part 2)

    Arini tersenyum. Dia mengambil posisi di depan, mulai bercerita tentang Kancil dan Buaya, dengan suara ekspresif dan gerakan tangan yang lucu. Anak-anak terpesona. Sesekali mereka tertawa, sesekali mereka bertanya, sesekali mereka berbisik satu sama lain.Wandi berdiri di samping, mengamati anak-anak. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain.Tiba-tiba, Wandi melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.Merah.Angka merah di atas kepala seorang anak laki-laki di barisan depan. Wandi mendekat sedikit. Anak itu duduk di kursi plastik, memeluk perutnya dengan tangan kirinya. Wajahnya pucat, matanya sayu, bibirnya pecah-pecah. Dia terlihat sangat kurus, bahkan di balik baju panti yang sedikit kebesaran.Angka itu berkedip-kedip.00:09:47Sembilan menit empat puluh tujuh detik.Wandi menarik napas panjang. Dia berusaha tenang. Tidak boleh panik. Tidak boleh membuat anak-anak ketakutan.Dia berbisik ke Arini, "Rin, aku ke luar sebentar. Ada yang harus aku urus."Ari

  • Kurir Pemilik Sistem   Sepuluh Menit (part 1)

    Matahari pagi itu bersinar cerah di atas Jakarta. Langit biru dengan awan putih tipis yang bergerak lambat, seperti kapas yang ditiup angin. Tidak ada tanda-tanda hujan, meskipun BMKG sudah memperingatkan potensi hujan sore nanti. Tapi pagi ini, semuanya tampak sempurna. Wandi sudah bangun sejak pukul setengah enam, mandi, berpakaian rapi dengan kemeja lengan pendek berwarna biru muda dan celana jins hitam. Arini masih bersiap-siap di kamar, memilih baju yang nyaman namun tetap sopan untuk acara berbagi di panti asuhan.Wandi duduk di teras, menikmati secangkir kopi hitam buatan sendiri. Dia menatap langit, memikirkan rencana hari ini. Setelah menjual keris pusaka senilai 9,5 miliar kemarin, dia dan Arini sepakat untuk menyisihkan sebagian untuk sedekah. Bukan karena ingin pamer, tetapi karena mereka percaya bahwa harta yang tidak dibagikan hanya akan menjadi beban. Panti asuhan "Bina Mulia" di kawasan Ciputat menjadi pilihan pertama. Panti itu sudah berdiri sejak tahun 1995, menampun

  • Kurir Pemilik Sistem   Kabar Gembira dari Pak Budi (part 4)

    Pak Budi mengambil keris itu dengan kedua tangan, sangat hati-hati, seperti memegang bayi yang baru lahir. Dia membolak-balikkannya perlahan, mengamati setiap detail. Mata telanjangnya yang dibantu kacamata baca, melihat dengan seksama."Bilahnya... 89% utuh. Pamor Beras Wutah... ini sangat langka, Mas. Saya hanya pernah lihat di buku, belum pernah lihat langsung." Pak Budi mengusap bilah keris dengan ujung jari. "Ujungnya sedikit korosi, tapi tidak mempengaruhi struktur. Masih sangat bagus untuk benda berusia 700 tahun."Dia memeriksa gagang kayu hitam. "Ukiran emas masih utuh, Mas. 95%. Ini emas 22 karat, asli. Tidak palsu. Lihat detail naganya, mata dari batu merah. Ini pekerjaan tangan pengrajin istana, bukan sembarang pandai besi."Kemudian dia memeriksa sarung kayu cendana. "Sarung 75% utuh. Ada retak di bagian bawah, tapi masih bisa diperbaiki. Saya kenal ahli warangka di Solo, dia bisa merestorasi ini tanpa menghilangkan nilai sejarahnya."Pak Budi menghela napas panjang. Mata

  • Kurir Pemilik Sistem   Kabar Gembira dari Pak Budi (part 3)

    Tapi Wandi tidak peduli. Dia sudah punya cukup uang. Yang dia butuhkan bukan harta, tetapi kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu sudah dia dapatkan bersama Arini, bersama teman-teman, bersama orang-orang yang dia selamatkan.Arini keluar dari rumah, duduk di samping Wandi. "Wan, tadi siapa yang telepon?""Pak Budi. Lamborghini Miura-nya laku. Dia mau beli keris kita besok pagi."Arini tersenyum. "Bagus. Besok kita sambut dia.""Iya."Mereka berdua terdiam. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, membawa bau tanah dan dedaunan."Rin, terima kasih.""Terima kasih buat apa?""Untuk semuanya. Untuk hari-hari yang indah. Untuk kebersamaan kita."Arini menyandarkan kepalanya di pundak Wandi. "Aku juga berterima kasih, Wan. Kamu mengajariku arti kebahagiaan sederhana.""Kebahagiaan sederhana itu apa?""Ini. Duduk di teras, malam-malam, melihat bintang, ditemani orang yang kita cintai."Wandi memeluk Arini. "Kamu benar. Ini kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang."Mereka berdua terdiam. Bintang

  • Kurir Pemilik Sistem   Kabar Gembira dari Pak Budi (part 2)

    "Baik, saya akan singkat saja," ucap Arini membuka meeting. "Kemarin saya meeting dengan Bank Mandiri. Kerja sama sudah deal. Mulai bulan depan, program pembiayaan UMKM akan berjalan."Para manajer bertepuk tangan."Kita harus siap dengan peningkatan volume transaksi. Tim IT, pastikan server stabil. Tim pemasaran, persiapkan kampanye. Tim keuangan, siapkan laporan untuk audit.""Siap, Bu," jawab mereka serempak."Target ekspansi ke Malaysia juga sudah mulai dibahas. Saya akan ke Kuala Lumpur bulan depan untuk bertemu investor. Sementara itu, tolong siapkan proposal dan presentasi."Arini melanjutkan meeting dengan membahas detail operasional. Wandi yang duduk di ruang tunggu, sambil minum kopi dan membaca koran digital di ponselnya. Dia tidak ikut meeting, tugasnya hanya mengantar dan menjemput Arini. Tapi dia tidak bosan. Dia sudah terbiasa menunggu.Setelah meeting selesai, sekitar pukul setengah dua belas, Arini keluar dari ruang meeting. Wajahnya sedikit lelah, tetapi tetap berser

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status