Beranda / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Niat yang Tulus (part 2)

Share

Niat yang Tulus (part 2)

Penulis: BoardMarker
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 10:23:45

Mereka berjalan ke kamar, menatap Noval dan Nila yang masih tertidur. Arini mengecup kening Noval, Wandi mengecup kening Nila.

"Selamat pagi, Nak," bisik Arini.

"Ibu Nila akan baik-baik saja," bisik Wandi.

Mereka berjalan keluar rumah, menutup pintu dengan perlahan, lalu masuk ke mobil. Wandi menyalakan mesin, dan BMW hitam melaju meninggalkan rumah.

Di dalam mobil, suasana hening. Wandi mengemudi dengan hati-hati, tidak terburu-buru. Arini duduk di kursi penumpang, sesekali menatap ke luar jen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kurir Pemilik Sistem   Niat yang Tulus (part 2)

    Mereka berjalan ke kamar, menatap Noval dan Nila yang masih tertidur. Arini mengecup kening Noval, Wandi mengecup kening Nila."Selamat pagi, Nak," bisik Arini."Ibu Nila akan baik-baik saja," bisik Wandi.Mereka berjalan keluar rumah, menutup pintu dengan perlahan, lalu masuk ke mobil. Wandi menyalakan mesin, dan BMW hitam melaju meninggalkan rumah.Di dalam mobil, suasana hening. Wandi mengemudi dengan hati-hati, tidak terburu-buru. Arini duduk di kursi penumpang, sesekali menatap ke luar jendela, sesekali menatap Wandi."Wan, aku takut," ucap Arini pelan."Takut apa, Rin?""Aku takut... Tina akan mencoba lagi. Aku takut dia akan melakukan hal yang sama. Aku takut... Nila akan kehilangan ibunya."Wandi meraih tangan Arini, menggenggamnya erat. "Tina tidak akan mencoba lagi, Rin. Aku akan memastikannya. Aku akan membantunya. Kita akan membantunya.""Bagaimana caranya, Wan?""Kita akan bicara dengannya. Kita akan meyakinkannya bahwa dia tidak sendiri. Kita akan meyakinkannya bahwa ada

  • Kurir Pemilik Sistem   Niat yang Tulus (part 1)

    Matahari pagi mulai muncul di ufuk timur ketika Wandi membuka matanya. Cahaya keemasan yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kedamaian.Wandi berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirinya, ada kasur kecil yang ditempatkan khusus untuk Noval dan Nila. Kedua anak itu masih tertidur pulas, dengan posisi yang lucu dan menggemaskan.Noval tidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya memeluk boneka kecil peninggalan ibunya, tangan kirinya terulur ke arah Nila seolah mencari kehangatan. Wajahnya yang mungil terlihat damai, sesekali bibirnya bergerak seperti sedang bicara dalam mimpi. Di sampingnya,

  • Kurir Pemilik Sistem   Ambang Kematian (part 2)

    Wandi kembali ke jendela, menatap ke dalam ruang UGD. Angka di atas kepala Tina masih merah, masih terus turun.00:04:1200:03:5800:03:4500:03:31Wandi mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa hanya diam. Dia harus melakukan sesuatu."Tuhan... aku tidak pernah meminta banyak. Aku tidak pernah meminta kekayaan. Aku tidak pernah meminta kekuasaan. Tapi kali ini... aku meminta. Selamatkan Tina. Dia ibu dari anakku. Dia masih punya masa depan. Dia masih punya Nila. Dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya."Wandi menutup matanya, berdoa dengan sepenuh hati."Aku tahu aku tidak sempurna. Aku tahu aku pernah gagal. Aku tahu aku pernah berbuat salah. Tapi aku mohon... beri Tina kesempatan kedua. Seperti Engkau memberi aku kesempatan kedua."Wandi membuka matanya. Angka di atas kepala Tina masih turun.00:02:1000:01:4500:01:1200:00:45"Ya Allah... selamatkan Tina... amin..."Arini masih memangku Nila, mengelus rambutnya, dan sesekali mencium keningnya. Nila yang tadinya menangi

  • Kurir Pemilik Sistem   Ambang Kematian (part 1)

    Ruang tunggu UGD Rumah Sakit Pertamina terasa dingin dan sunyi. Dindingnya dicat putih bersih, lantainya dari keramik putih mengkilap yang memantulkan lampu-lampu neon di langit-langit. Beberapa kursi plastik berwarna biru tua berjejer rapi di sepanjang dinding, sebagian besar kosong, hanya beberapa yang terisi oleh keluarga pasien lain yang juga menunggu dengan wajah cemas. Di sudut ruangan, ada sebuah televisi kecil yang menyala tanpa suara, menayangkan acara pagi yang tidak ada yang memperhatikan. Suara AC yang berdengung pelan dan sesekali suara langkah kaki perawat yang berlalu-lalang menjadi satu-satunya suara yang terdengar.Wandi berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke ruang UGD. Dari sini, dia bisa melihat dokter dan perawat yang sibuk menangani Tina. Tina terbaring di atas bed, dengan selang infus di lengannya, monitor detak jantung yang berkedip-kedip, dan masker oksigen di wajahnya. Beberapa perawat berlarian, membawa peralatan medis, sementara dokter memerik

  • Kurir Pemilik Sistem   Mimpi Buruk (part 2)

    Wandi merasakan dadanya sesak. Dia tidak bisa menunggu lebih lama."Rin, aku akan membuka paksa pintu ini.""Wan, hati-hati."Wandi mundur selangkah, mengumpulkan tenaga di kakinya. Dengan kekuatan yang dia miliki, kekuatan yang diberikan oleh alien, dia menendang pintu.BRAK!Pintu itu terbuka dengan keras, engselnya terlepas, dan pintu jatuh ke lantai dengan suara krak yang mengerikan.Mereka masuk ke dalam rumah.Rumah itu gelap. Lampu-lampu tidak menyala. Hanya cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela yang tertutup tirai, menciptakan cahaya temaram yang nyaris tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan.Wandi dan Arini berjalan ke ruang tamu. Dan di sana, mereka melihat Tina.Tina tergeletak di sofa. Tubuhnya yang kurus tidak bergerak. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan, matanya terpejam. Di tangannya, ada botol obat nyamuk cair yang hampir kosong. Di lantai, ada beberapa botol lain yang sudah kosong.Wandi membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak kencang. Dadanya

  • Kurir Pemilik Sistem   Mimpi Buruk (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi dan Arini bersiap untuk mengantar Nila pulang ke rumah Tina. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai keramik. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Noval sudah bangun sejak pukul enam pagi. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan Nila lagi, untuk bermain bersama, untuk tertawa bersama. Wandi dan Arini yang melihat semangat Noval, hanya bisa tersenyum. Mereka tidak ingin mengecewakan anak mereka."Nila, Nila, bangun!" seru Noval sambil menggoyang-goyangkan bahu Nila yang masih tertidur di kasurnya.Nila menggeliat, matanya terbuka perlahan. Wajahnya yang masih sayu menatap Noval dengan bingung."Noval... masih pagi..." ucap Nila dengan suara serak."Udah pagi, Nil! Hari ini Sabtu! Kita bisa ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status