Beranda / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Pertemuan Dengan Arini (part 2)

Share

Pertemuan Dengan Arini (part 2)

Penulis: BoardMarker
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 11:46:46

Krik... krik... krik...

Suara sepatu hak tinggi yang menapak trotoar. Di jam segini? Wandi membuka matanya. Dia menoleh ke arah suara.

Seorang perempuan berjalan mendekati taman. Usianya sekitar dua puluh delapan atau dua puluh sembilan tahun. Tinggi. Tubuhnya langsing tetapi tegap, seperti seseorang yang terbiasa berolahraga. Rambutnya hitam panjang sebahu, sedikit bergelombang, dan tampak lembut meskipun diterpa angin. Wajahnya... Astaga, wajahnya sangat cantik. Hidung mancung, dagu tirus, al
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kurir Pemilik Sistem   Semakin Gelap (part 3)

    Kaca itu retak. Serpihan-serpihan kecil beterbangan, jatuh ke lantai. Darah mulai mengalir dari buku-buku jari Andre yang terluka. Tapi dia tidak peduli. Rasa sakit fisik tidak ada artinya dibandingkan rasa sakit hatinya."WANDI!" teriak Andre, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. "AKU AKAN HANCURKAN KAMU! AKU AKAN BUNUH KAMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!"Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Amarah tidak akan membantunya. Yang dia butuhkan adalah rencana. Rencana yang lebih matang, lebih kejam, dan lebih mematikan.Andre kembali ke kursinya. Dia mengambil ponsel dari laci meja, membuka aplikasi pesan terenkripsi. Jari-jarinya yang gemetar mengetik cepat."Rencana sebelumnya gagal. Macan gagal. Preman-preman yang saya kirim juga gagal. Saya butuh rencana baru. Yang lebih kejam. Yang lebih mematikan."Beberapa saat kemudian, balasan dari Dalang datang."Tuan, Macan memang gagal. Tapi dia bilang Wandi memiliki kemampuan aneh. Dia bisa menghilang. Tubuhnya juga kebal terh

  • Kurir Pemilik Sistem   Semakin Gelap (part 2)

    Andre duduk di kursinya, menyandarkan punggung dengan santai. Dia memakai kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu pantofel mengilap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan di wajahnya, tersemat senyum ramah, senyum yang sama yang dia gunakan di depan Tina dan Nila."Mas Wandi, selamat pagi. Silakan duduk," sapa Andre dengan suara ramah, seperti tidak ada yang terjadi di antara mereka.Wandi duduk di kursi di hadapan Andre. Dia tidak membawa senjata, hanya keris yang terselip di pinggangnya, tersembunyi di balik kemeja putihnya."Selamat pagi, Mas Andre.""Ada yang bisa saya bantu, Mas?"Wandi menatap Andre dalam-dalam. Dia tidak ingin membuang waktu."Mas Andre, saya tahu semuanya."Andre mengerjap. "Tahu apa?""Saya tahu kalau Mas Andre yang menyuruh orang menculik istri dan anak saya. Saya tahu kalau Mas Andre yang mengirim preman ke rumah saya. Saya tahu kalau Mas Andre yang menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh saya."Andre tidak bereaksi. Senyumnya masih ter

  • Kurir Pemilik Sistem   Semakin Gelap (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi mengantar Arini ke kantornya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat menyinari setiap sudut kota, menciptakan bayangan-bayangan tegas di aspal jalanan yang mulai ramai. Di atas NMAX hitam, Arini duduk di kursi belakang, memeluk erat pinggang Wandi. Rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin pagi. Wandi mengemudi dengan hati-hati, tidak terburu-buru, matanya tetap waspada terhadap setiap kendaraan di sekitarnya.Begitu sampai di depan gedung kantor Arini, Wandi mematikan mesin, menurunkan standar samping, lalu menoleh ke belakang."Rin, kita sudah sampai."Arini melepas helm, menggantungnya di spion. Dia turun dari motor, merapikan blazer abu-abunya yang sedikit kusut karena tertiup angin."Wan, kamu yakin mau ke bank Andre?" tanya Arini dengan suara cemas."Yakin, Rin. Aku harus mengakhiri ini. Aku harus bicara langsung dengan Andre.""Tapi Wan, dia berbahaya. Dia sudah mengirim pembunuh bayaran untuk membu

  • Kurir Pemilik Sistem   Alam Mimpi (part 2)

    Wandi tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara keluar. Tangannya gemetar. Kakinya terasa lemas.Lestari melepaskan pelukan dari Noval, lalu berdiri. Matanya yang basah menatap Wandi. Ada kehangatan di sana. Ada rasa terima kasih. Ada rasa bangga."Kamu Wandi," ucap Lestari dengan suara lembut.Wandi mengangguk. "Iya. Saya Wandi.""Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari penjaga keris. Tentang perjuanganmu. Tentang kebaikanmu. Tentang cintamu pada Noval.""Aku… aku hanya melakukan yang terbaik untuknya.""Dan itu sudah lebih dari cukup. Kamu memberinya kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan. Kamu memberinya kasih sayang, perhatian, makanan, pakaian, pendidikan, dan masa depan. Aku tidak bisa membalasmu dengan apa pun. Tapi aku berterima kasih. Dari lubuk hatiku yang paling dalam."Wandi menghela napas. "Saya tidak melakukan apa-apa, Lestari. Noval adalah anak yang baik. Dia pantas mendapatkan yang terbaik.""Dan kamu memberikannya. Itu yang membuatmu istim

  • Kurir Pemilik Sistem   Alam Mimpi (part 1)

    Malam itu, setelah memasang alarm dan memeriksa semua pintu serta jendela, Wandi berbaring di samping Arini dan Noval. Matanya masih terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap, waspada terhadap setiap suara yang mungkin muncul dari luar. Tapi kelelahan, baik fisik maupun mental, akhirnya mengalahkannya. Perlahan, kelopak matanya terasa berat. Dunia di sekitarnya mulai memudar. Suara jangkrik dari halaman semakin jauh. Lampu tidur di sudut kamar semakin redup. Wandi masuk ke alam mimpi.Dia tidak menyadari kapan tepatnya dia tertidur. Yang dia tahu, ketika dia membuka mata, dia tidak lagi berada di kamarnya. Dia berdiri di sebuah tempat yang asing, tetapi terasa begitu akrab, begitu tenang, begitu… suci.Wandi berada di dalam sebuah altar.Bukan altar biasa. Altar ini terbuat dari batu putih yang berkilauan seperti mutiara, dengan ukiran-ukiran rumit yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Bukan ukiran manusia, terlalu sempurna, terlalu detail, terlalu… ilahi. Bentuknya seperti bu

  • Kurir Pemilik Sistem   Kemampuan Baru (part 3)

    Wandi memejamkan mata. Dia mengatur napas, menarik dan menghembus perlahan. Dia mencoba mengingat perasaan semalam ketika dia menghilang, perasaan ketiadaan, perasaan lepas, perasaan tidak terikat."Aku tidak ada. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya bayangan."Dia membuka mata.Tidak ada yang berubah. Dia masih terlihat. Bayangannya masih ada di tanah."Tidak bisa, Rin," ucap Wandi."Coba lagi, Wan. Sabar."Wandi memejamkan mata lagi. Kali ini, dia mencoba memvisualisasikan dirinya sebagai udara, sebagai angin, sebagai cahaya. Dia membayangkan tubuhnya memudar, menjadi transparan, lalu menghilang.Dia membuka mata.Masih tidak ada perubahan."Pa, kok belum menghilang?" tanya Noval."Belum bisa, Nak. Papa masih belajar.""Noval bisa, Pa. Noval bisa menghilang." Noval menutup matanya dengan kedua tangan. "Noval hilang!"Wandi dan Arini tertawa."Noval pintar," ucap Arini.Noval membuka tangan. "Noval muncul lagi!"Mereka bertiga tertawa.Wandi mengambil keris dari dalam lemari. Keris itu m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status