LOGIN"Noval..." bisik Nila pelan, nyaris tidak terdengar.Nila ingin masuk. Ingin memeluk Noval. Ingin mengatakan bahwa dia ada di sini. Tapi kakinya terasa berat, terpaku di tempat.Dan di belakang Nila, seseorang berdiri.Tina.Tina yang terbangun karena Nila tidak ada di sampingnya. Tina yang mencari Nila ke mana-mana. Tina yang menemukan Nila berdiri di depan pintu kamar Noval, menangis.Tina melihat ke dalam kamar Noval. Dia melihat Noval yang memeluk kotak musik, menangis. Dia melihat Nila yang menangis di balik pintu. Dia melihat semua yang terjadi.Tina merasakan dadanya sesak. Hatinya terasa perih."Noval... anak kecil itu... dia merindukan ibunya. Dia menangis karena ibunya sudah tiada. Dia menulis surat untuk ibunya di surga. Dia memeluk kotak musik peninggalan ibunya."Tina menangis juga. Air matanya mengalir di pipinya."Dan aku... aku hampir membuat Nila merasakan hal yang sama. Aku hampir membuat Nila kehilangan ibunya. Aku hampir membuat Nila menjadi yatim piatu. Aku hampir
Malam itu, langit di atas Cipinang gelap tanpa bintang. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah masih menyala, beberapa redup, beberapa berkedip-kedip tidak karuan. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara jangkrik dari halaman belakang dan suara knalpot motor dari jalan raya yang terdengar samar-samar. Suasana malam yang tenang, penuh dengan ketenangan dan kedamaian.Nila terbaring di kasurnya di kamar baru, dengan sprei pink lembut yang baru saja dipasang Arini. Di sampingnya, Tina sudah tertidur pulas, wajahnya tenang, napasnya teratur. Nila menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya keheningan.Tapi Nila tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu aktif. Dia memikirkan hari ini, tentang ibunya yang sudah pulang dari rumah sakit, tentang kamar barunya, tentang Noval yang akan menjadi tem
Tina menunduk. "Dulu, aku sering naik motor itu. Kita sering berboncengan bertiga. Aku, Wandi, dan Nila."Wandi tersenyum. "Iya. Aku ingat. Waktu itu Nila masih kecil, suka tidur di pangkuanmu.""Dan motor itu sering mogok di jalan," lanjut Tina dengan senyum getir."Dan kita harus mendorongnya bersama-sama."Mereka berdua tersenyum, mengenang masa lalu.Arini yang melihat mereka, juga tersenyum. "Tina, masa lalu memang indah. Tapi masa depan juga indah. Dan kita akan menciptakan masa depan yang lebih indah bersama-sama."Tina mengangguk. "Iya, Arini. Kita akan menciptakan masa depan yang lebih indah."Wandi dan Arini memimpin Tina dan Nila menyusuri lorong menuju kamar di bagian depan rumah. Lorong itu sempit, tetapi bersih dan rapi. Di dinding, terpampang beberapa foto kecil, foto Noval saat masih di panti asuhan, foto Wandi dan Arini di pantai, dan foto keluarga lainnya. Di ujung lorong, ada sebuah pintu kayu putih yang sedikit terbuka."Ini kamar kamu, Tina," ucap Arini sambil mem
Wandi menyalakan mesin, dan BMW hitam melaju meninggalkan warung soto, melewati jalan-jalan yang mulai padat, menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal baru bagi Tina dan Nila.Sesampainya di rumah, Wandi dan Arini mulai membersihkan kamar kosong yang akan digunakan oleh Tina dan Nila. Kamar itu tidak besar, tetapi cukup untuk mereka berdua. Ada kasur ukuran sedang, lemari pakaian, dan meja kecil untuk belajar. Wandi memasang sprei baru berwarna pink untuk Nila, dan Arini menyiapkan handuk dan perlengkapan mandi.Tina berdiri di ambang pintu, menatap kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya. Air matanya mengalir lagi."Arini, ini... ini terlalu baik. Aku tidak pantas.""Tina, kamu pantas. Kamu dan Nila pantas mendapatkan yang terbaik."Tina memeluk Arini. "Terima kasih. Terima kasih banyak."Nila dan Noval berlarian di ruang tamu, tertawa bersama. Mereka sudah tidak sabar untuk bermain bersama setiap hari.Wandi yang melihat semua itu, tersenyum. Hatinya terasa hangat."Ini... in
Setelah selesai menikmati soto yang hangat dan lezat, mereka kembali ke mobil BMW yang terparkir di pinggir jalan. Matahari siang mulai meninggi, sinarnya semakin terik, tetapi di dalam mobil, AC yang dingin membuat suasana terasa nyaman dan sejuk. Wandi duduk di kursi sopir, tangannya memegang setir, menatap ke depan dengan tenang.Arini duduk di kursi penumpang depan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Noval dan Nila baik-baik saja. Noval dan Nila duduk di kursi belakang, masih asyik berbicara tentang soto yang mereka makan, tentang sekolah, tentang mainan, tentang apa saja yang bisa mereka bicarakan.Tina duduk di kursi belakang, di samping Nila. Wajahnya yang tadinya cerah dan berseri-seri, kini mulai berubah menjadi sedikit tegang. Ada pergulatan di dalam hatinya. Dia tahu bahwa Wandi dan Arini sangat baik kepadanya. Mereka telah menyelamatkannya. Mereka telah merawat Nila. Mereka telah memberinya pekerjaan. Mereka telah memberinya harapan. Tapi dia juga tahu bahwa dia
"Noval, Nila, Papa pergi sebentar. Papa akan segera kembali.""Pa, Papa mau ke mana?" tanya Noval."Papa ada urusan, Nak. Nanti Papa cerita.""Baik, Pa."Wandi berjalan keluar dari warung, menuju jembatan penyeberangan. Langkahnya cepat, tidak terburu-buru.Tina yang melihat Wandi pergi dengan tergesa-gesa, menatap Arini dengan bingung."Arini, Wandi pergi ke mana? Kenapa dia tiba-tiba pergi?"Arini menghela napas. Dia menatap Tina dengan mata yang lembut, penuh pengertian."Tina, Wandi pergi menyelamatkan seseorang."Tina mengerjap. "Menyelamatkan seseorang? Maksudnya?""Tina, aku akan ceritakan sesuatu. Tapi tolong dengarkan dengan sabar."Tina mengangguk. "Aku mendengarkan."Arini menarik napas panjang. Dia teringat pada pertemuan pertamanya dengan Wandi. Malam itu, di taman yang gelap, ketika dia sedang galau karena mengetahui pacarnya selingkuh dan check in dengan perempuan lain di sebuah hotel. Ketika dia hampir berakhir di dalam mobilnya yang hancur karena truk yang kehilangan







