Beranda / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Pertemuan dengan Arini (part 5)

Share

Pertemuan dengan Arini (part 5)

Penulis: BoardMarker
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 11:55:43

Matahari sudah cukup tinggi ketika Wandi terbangun. Pukul sembilan pagi. Dia tidak percaya dia bisa tidur selama hampir empat jam tanpa mimpi buruk.

Dia duduk di kasur. Kepalanya masih pusing, tapi tidak separah kemarin. Luka di pelipis sudah semakin kering. Rasa sakit di tulang iga sudah berkurang.

Wandi bangkit. Dia pergi ke kamar mandi, membersihkan diri, mengganti baju. Dia memutuskan untuk keluar. Tidak ke mana-mana, hanya mencari sarapan.

Saat dia membuka pintu kontrakan, dia melihat sese
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kurir Pemilik Sistem   Penuh Kebersamaan (part 2)

    Noval tersenyum bangga. "Noval ganteng, Pa!""Nila cantik, Om!" seru Nila.Wandi tertawa. "Ayo, kita sarapan dulu. Papa sudah siapkan bekal untuk kalian."Mereka berjalan ke meja makan. Wandi sudah menyiapkan roti bakar dengan selai coklat dan meses, susu hangat, dan buah-buahan segar."Wah, enak!" seru Noval."Nila suka roti bakar!" seru Nila.Mereka makan dengan lahap. Wandi sesekali menyuapi mereka, membuat mereka semakin bahagia.Setelah sarapan, Wandi menyiapkan bekal untuk Noval dan Nila. Dia mengambil dua kotak makan siang, satu untuk Noval, satu untuk Nila. Dia mengisi kotak itu dengan nasi, ayam goreng suwir, sayur brokoli, dan potongan buah apel."Noval, ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan, ya.""Iya, Pa. Noval makan.""Nila, ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan, ya.""Iya, Om. Nila makan."Wandi juga menyiapkan dua botol minum, satu untuk Noval, satu untuk Nila. Dia mengisi botol itu dengan air putih dan sedikit perasan lemon."Jangan lupa minum, ya. Biar tidak dehidrasi.""

  • Kurir Pemilik Sistem   Penuh Kebersamaan (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Wandi membuka matanya perlahan. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirinya, tidak ada Noval, karena Noval sudah pindah ke kamarnya sendiri, meskipun kadang dia masih merangkak ke kasur Wandi dan Arini di tengah malam. Wandi tersenyum. Dia menatap Arini yang masih terlelap."Rin..." bisik Wandi pelan.Arini menggeliat, matanya terbuka perlahan. "Wan... sudah pagi?""Sudah, Rin. Hari sudah siang."Arini duduk, mengusap matanya dengan punggung tangan. Rambutnya yang panjang terurai sedikit kusut,

  • Kurir Pemilik Sistem   Untuk Ibu di Surga (part 2)

    "Noval..." bisik Nila pelan, nyaris tidak terdengar.Nila ingin masuk. Ingin memeluk Noval. Ingin mengatakan bahwa dia ada di sini. Tapi kakinya terasa berat, terpaku di tempat.Dan di belakang Nila, seseorang berdiri.Tina.Tina yang terbangun karena Nila tidak ada di sampingnya. Tina yang mencari Nila ke mana-mana. Tina yang menemukan Nila berdiri di depan pintu kamar Noval, menangis.Tina melihat ke dalam kamar Noval. Dia melihat Noval yang memeluk kotak musik, menangis. Dia melihat Nila yang menangis di balik pintu. Dia melihat semua yang terjadi.Tina merasakan dadanya sesak. Hatinya terasa perih."Noval... anak kecil itu... dia merindukan ibunya. Dia menangis karena ibunya sudah tiada. Dia menulis surat untuk ibunya di surga. Dia memeluk kotak musik peninggalan ibunya."Tina menangis juga. Air matanya mengalir di pipinya."Dan aku... aku hampir membuat Nila merasakan hal yang sama. Aku hampir membuat Nila kehilangan ibunya. Aku hampir membuat Nila menjadi yatim piatu. Aku hampir

  • Kurir Pemilik Sistem   Untuk Ibu di Surga (part 1)

    Malam itu, langit di atas Cipinang gelap tanpa bintang. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah masih menyala, beberapa redup, beberapa berkedip-kedip tidak karuan. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara jangkrik dari halaman belakang dan suara knalpot motor dari jalan raya yang terdengar samar-samar. Suasana malam yang tenang, penuh dengan ketenangan dan kedamaian.Nila terbaring di kasurnya di kamar baru, dengan sprei pink lembut yang baru saja dipasang Arini. Di sampingnya, Tina sudah tertidur pulas, wajahnya tenang, napasnya teratur. Nila menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya keheningan.Tapi Nila tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu aktif. Dia memikirkan hari ini, tentang ibunya yang sudah pulang dari rumah sakit, tentang kamar barunya, tentang Noval yang akan menjadi tem

  • Kurir Pemilik Sistem   Awal Baru (part 2)

    Tina menunduk. "Dulu, aku sering naik motor itu. Kita sering berboncengan bertiga. Aku, Wandi, dan Nila."Wandi tersenyum. "Iya. Aku ingat. Waktu itu Nila masih kecil, suka tidur di pangkuanmu.""Dan motor itu sering mogok di jalan," lanjut Tina dengan senyum getir."Dan kita harus mendorongnya bersama-sama."Mereka berdua tersenyum, mengenang masa lalu.Arini yang melihat mereka, juga tersenyum. "Tina, masa lalu memang indah. Tapi masa depan juga indah. Dan kita akan menciptakan masa depan yang lebih indah bersama-sama."Tina mengangguk. "Iya, Arini. Kita akan menciptakan masa depan yang lebih indah."Wandi dan Arini memimpin Tina dan Nila menyusuri lorong menuju kamar di bagian depan rumah. Lorong itu sempit, tetapi bersih dan rapi. Di dinding, terpampang beberapa foto kecil, foto Noval saat masih di panti asuhan, foto Wandi dan Arini di pantai, dan foto keluarga lainnya. Di ujung lorong, ada sebuah pintu kayu putih yang sedikit terbuka."Ini kamar kamu, Tina," ucap Arini sambil mem

  • Kurir Pemilik Sistem   Awal Baru (part 1)

    Wandi menyalakan mesin, dan BMW hitam melaju meninggalkan warung soto, melewati jalan-jalan yang mulai padat, menuju rumah yang akan menjadi tempat tinggal baru bagi Tina dan Nila.Sesampainya di rumah, Wandi dan Arini mulai membersihkan kamar kosong yang akan digunakan oleh Tina dan Nila. Kamar itu tidak besar, tetapi cukup untuk mereka berdua. Ada kasur ukuran sedang, lemari pakaian, dan meja kecil untuk belajar. Wandi memasang sprei baru berwarna pink untuk Nila, dan Arini menyiapkan handuk dan perlengkapan mandi.Tina berdiri di ambang pintu, menatap kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya. Air matanya mengalir lagi."Arini, ini... ini terlalu baik. Aku tidak pantas.""Tina, kamu pantas. Kamu dan Nila pantas mendapatkan yang terbaik."Tina memeluk Arini. "Terima kasih. Terima kasih banyak."Nila dan Noval berlarian di ruang tamu, tertawa bersama. Mereka sudah tidak sabar untuk bermain bersama setiap hari.Wandi yang melihat semua itu, tersenyum. Hatinya terasa hangat."Ini... in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status