Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Senyum di Pagi Buta (part 2)

Share

Senyum di Pagi Buta (part 2)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-08-05 11:21:12

Wandi mengangkat bahu. "Konyol atau tidak, itu hak kamu. Yang penting uangnya sudah masuk. Jangan dikembalikan."

"Tapi Wan...."

"Rin, aku nggak mau debat. Udah, sana mandi. Terus tidur, istirahat. Baju kamu kena darah semua itu. Nanti kalau dibiarkan, baunya tidak enak. Kamu kan nggak mau cardigan kesayanganmu rusak."

Arini menunduk, melihat cardigan kremnya yang kini berlumuran noda merah kehitaman. Dia menghela napas.

"Iya, kamu benar. Cardigan ini hadiah dari ibuku. Aku sayang banget sama ca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Dihadang (part 3)

    "Aku pahlawan? Aku superhero? Di mata mereka, aku bukan lagi Wandi yang gagal. Aku bukan lagi Wandi yang tidak bisa memberi makan keluarganya. Aku... aku adalah pelindung mereka.""Noval," panggil Wandi setelah beberapa saat, suaranya masih serak."Iya, Pa?""Papa janji. Papa akan selalu melindungi Noval dan Mama. Tidak ada yang bisa menyakiti kalian. Papa akan menjadi superhero untuk kalian berdua. Selamanya."Noval tersenyum. Senyum yang lebar, yang memperlihatkan deretan gigi susunya yang kecil-kecil. Senyum yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Senyum yang mengatakan bahwa dia percaya. Bahwa dia tidak ragu. Bahwa dia yakin ayahnya akan selalu ada untuknya."Noval sayang Papa. Papa superhero-nya Noval."Wandi mencium kening Noval. "Papa sayang Noval. Papa sayang Mama. Papa sayang kalian berdua. Lebih dari apa pun."Mereka bertiga berpelukan lagi. Di pinggir jalan yang mulai sepi, di bawah langit yang mulai gelap, di antara lampu-lampu jalan yang mulai menyala, mereka berpelukan. Tida

  • Kurir Pemilik Sistem   Dihadang (part 2)

    "Kraaak!" Suara besi yang bengkok terdengar nyaring."Apa? Dia kebal!" teriak pria dengan pentungan.Pria ketiga, dengan pisau, menusuk ke arah dada Wandi. Wandi menangkap tangan pria itu, lalu memelintirnya. Pisau itu jatuh ke lantai dengan suara klek yang nyaring. Wandi mendorong pria itu ke belakang, membuatnya tersungkur.Pria bertato dengan celurit menyerang lagi. Kali ini, dia mengayunkan celurit ke arah leher Wandi. Wandi tidak menghindar. Dia membiarkan celurit itu mengenai lehernya.Klekkk!Celurit itu mengenai leher Wandi, tetapi tidak melukai. Sebaliknya, bilah celurit itu tergores, meninggalkan bekas yang tumpul."Apa... apa ini? Kamu... kamu kebal?" Pria bertato itu mundur selangkah. Wajahnya pucat.Wandi tersenyum. "Benar. Aku kebal."Pria itu tidak percaya. Dia mengayunkan celurit lagi, kali ini ke arah perut Wandi. Celurit itu mengenai perut Wandi, tetapi tidak menembus kulit. Sebaliknya, bilah celurit itu patah.Krak!"Apa?!" teriak pria bertato itu. "Celuritku... pat

  • Kurir Pemilik Sistem   Dihadang (part 1)

    Matahari sore mulai condong ke barat ketika Wandi, Arini, dan Noval meninggalkan taman di kawasan pasar malam. Langit berubah menjadi jingga keemasan yang indah, dengan awan-awan tipis yang bergerak lambat seperti kapas yang diwarnai oleh tangan seniman. Udara sore terasa sejuk, angin berhembus sepoi-sepoi membawa bau tanah basah dan dedaunan dari taman. Suasana hati mereka sedang bahagia. Es krim yang baru saja dinikmati meninggalkan rasa manis di mulut dan kebahagiaan di hati.Noval masih duduk di antara Wandi dan Arini di atas NMAX hitam. Tangannya yang mungil memegang erat jaket Wandi, dan sesekali dia tertawa kecil ketika angin menerpa wajahnya. Arini memeluk Noval dari belakang, kepalanya sesekali bersandar di punggung Wandi. Wandi mengemudi dengan santai, tidak terburu-buru, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Arini dan Noval masih aman."Pa, besok Noval mau es krim lagi!" seru Noval dengan suara ceria."Besok? Tapi Noval kan sudah makan es krim hari ini," jawab Wandi

  • Kurir Pemilik Sistem   Mengubah Segalanya (part 3)

    Mereka bertiga berjalan ke arah tempat parkir motor NMAX hitam. Wandi menurunkan Noval, membukakan helm untuknya, lalu membantunya naik ke jok belakang. Arini naik di belakang Noval, memeluknya dari belakang."Siap, Noval?" tanya Wandi."Siap, Pa!""Siap, Rin?""Siap, Wan."Wandi menyalakan mesin. NMAX hitam melaju perlahan meninggalkan sekolah, melewati gang-gang sempit, lalu bergabung dengan arus lalu lintas sore yang mulai padat. Noval duduk di antara Wandi dan Arini, tangannya yang kecil memegang erat jaket Wandi. Angin sore menerpa wajahnya, membuat rambutnya yang tipis berkibar-kibar."Pa, Noval suka naik motor," ucap Noval."Noval suka?""Suka. Anginnya sejuk. Papa hangat. Mama juga hangat."Wandi dan Arini tersenyum.Setelah sekitar lima belas menit berkendara, Wandi memarkir motornya di pinggir jalan di kawasan pasar malam yang ramai. Di sana, ada sebuah toko es krim kecil yang terkenal dengan rasa-rasa tradisionalnya, es krim kelapa muda, es krim durian, es krim coklat, es k

  • Kurir Pemilik Sistem   Mengubah Segalanya (part 2)

    "Apa yang terjadi padaku? Aku merasa... kebal."Dia mengangkat tangannya, mengepalkan tinjunya, lalu memukul meja kayu di depannya.DUG!Meja itu berguncang, tetapi tidak rusak. Tangan Wandi juga tidak sakit. Tidak ada luka. Tidak ada memar. Tidak ada apa pun."Aneh..." bisik Wandi.Dia mencoba lagi, kali ini dengan tinju yang lebih keras.DUG!Meja itu retak di bagian sudut, tetapi tangan Wandi tetap utuh."Aku tidak merasakan sakit. Aku tidak merasakan apa pun."Wandi berdiri, berjalan ke halaman belakang. Di sana, ada tumpukan batu bata sisa renovasi rumah tetangga. Wandi mengangkat satu batu bata, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri.BRAK!Batu bata itu pecah. Tapi kepala Wandi tetap utuh. Tidak ada luka. Tidak ada rasa sakit."Aku... aku kebal," bisik Wandi. "Aku tidak bisa terluka."Dia tidak tahu bagaimana bisa. Tapi dia yakin, ini adalah hadiah. Hadiah dari keris. Hadiah dari alien. Hadiah dari takdir."Andre, sekarang kamu tidak akan bisa menyentuhku."Wandi menghabiskan

  • Kurir Pemilik Sistem   Mengubah Segalanya (part 1)

    Empat ratus kilometer di atas permukaan Bumi, di balik bayangan Bulan yang sunyi, pesawat alien berbentuk kristal hitam itu masih mengorbit. Pesawat itu tidak terlihat oleh radar mana pun, tidak terdeteksi oleh satelit mana pun, dan tidak diketahui oleh manusia mana pun kecuali mungkin oleh Wandi, meskipun dia tidak tahu bahwa dirinya sedang diamati setiap saat. Pesawat itu bergerak perlahan mengikuti rotasi Bumi, menjaga posisinya tetap di atas wilayah Indonesia, tepat di atas Jakarta. Di dalam pesawat, suasana berbeda dari biasanya. Tidak ada ketenangan. Tidak ada keteraturan. Yang ada adalah kegelisahan. Kegelisahan yang merambat dari ruang kendali utama ke setiap sudut pesawat, membuat makhluk-makhluk Vox'Thar yang biasanya tenang dan terkendali, kini gelisah.Letnan Vex'Ra duduk di kursi di samping panel kontrol utama. Tubuhnya yang kecil berwarna biru kehijauan berdenyut dengan ritme yang tidak teratur, tanda kegelisahan dan kekhawatiran. Tentakel-tentakel tipisnya bergerak cepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status