LOGINJalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg
Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya
"Kak..." panggilku pelan pada Kak Ravin, kemudian langsung menghambur ke pelukannya. Seketika air mataku tumpah.Kak Ravin tidak bertanya. Ia memelukku erat, mengusap lembut kepalaku, mencoba menguatkan sekaligus memintaku untuk sabar sebentar."Kita pasti akan menyelamatkannya," ucapnya pelan, tapi penuh janji dan tekad.Ponselku kembali bergetar di genggaman tangan. Aku dan Kak Ravindra sama-sama menatap layar itu, sementara Kak Rafael berdiri diam di belakangku, rahangnya mengeras.Satu pesan masuk.Nomor tak dikenal:[Rencana malam ini dibatalkan.][Jangan bertindak bodoh.][Kami yang akan menghubungimu.]Aku membaca ulang kalimat itu tiga kali. Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada lokasi. Tidak ada Revan. Hanya keputusan sepihak yang terasa seperti jerat ditarik perlahan.“Mereka mundur?” gumam Kak Ravindra.“Bukan mundur,” jawab Kak Rafael pelan. “Mereka memilih menunda. Entah untuk memastikan kita kelelahan lebih dulu, atau mungkin mereka sedang menyusun rencana baru.”Aku men
Beberapa detik lamanya aku terdiam sebelum akhirnya membuka mata. Aku menoleh, menatap wajah Kak Rafael dengan perasaan hancur. Mendengar suara Revan yang sedang menangis ketakutan, membuat hatiku rasanya bagai disayat."Aku harap mereka benar-benar membuat Revan tetap aman," ucapku lirih.Mobil Kak Rafael melaju kembali, kali ini lebih pelan. Tidak ada musik. Tidak ada obrolan, kosong. Hanya suara napas kami dan denyut waktu yang terasa kejam. Kemudian Kak Rafael memecah keheningan lebih dulu.“Kita tidak akan menuruti permintaan mereka secara mentah,” katanya tenang, tapi nada suaranya tegas. “Kalau mereka berani menelepon, berarti mereka ingin sesuatu. Dan orang yang ingin sesuatu… tidak akan langsung menyakiti sandera.”Aku menatap lurus ke depan. “Mereka menyebut datang sendiri.”“Dan itu tidak akan kamu lakukan sendirian,” balasnya cepat. “Kita mainkan strategi. Bukan emosi.”Aku menarik napas panjang, memaksa otakku bekerja meski kepalaku masih berdenyut.“Mereka tahu siapa aku
Aku masih terkesiap, masih tak percaya, separuh jiwaku menghilang sungguh sangat menyiksa. Aku berharap semua ini hanya mimpi. Tapi nyatanya tidak. Kesakitan ini nyata, bahkan bisa membunuhku saat ini juga. Tapi aku segera sadar, Revan dalam bahaya. Revan membutuhkan aku di sisinya. Aku harus bangkit. Aku harus segera menemukannya sebelum sesuatu lebih buruk menimpanya.Kupaksa kakiku berdiri meski lutut masih gemetar. Tak peduli sakit mulai menjalar, pandangan sedikit buram. Dengan langkah tertatih dan berat, kuputuskan melangkah kembali menuju mobil.Sepanjang jalan terasa sunyi. Hanya satu dua kendaraan yang berlalu pergi tanpa peduli. Rintihan kecilku pun tenggelam bersama deru mesin berkecepatan tinggi. Namun, kehilangan Revan jauh lebih buruk dari kesunyian ini. Ketakutan dan keputusasaan hampir membuatku mati. Entah apa yang akan terjadi pada Revan, aku tak sanggup membayangkan."Revaannn," panggilku lirih. Air mata tak henti membanjiri pipi.Kupercepat langkah. Dalam hati tak
Genggaman kasar di lenganku membuat tubuhku nyaris tak berdaya. Napasku sudah tidak beraturan, tapi mataku terus mencari celah. Hingga sebuah suara lain membuat darahku seakan berhenti mengalir.Klik.Pintu belakang mobilku terbuka. Aku menoleh cepat, jantungku mencelos. Dua pria lain—si perokok dan yang berperawakan ramping—bergerak ke arah kursi belakang mobilku.“Jangan!” suaraku pecah, panik.Terlambat. Tangan besar mereka meraih tubuh kecil Revan yang sedang tertidur pulas di kursi belakang. Satu orang mengangkatnya dengan gerakan cepat, seolah anak itu hanyalah boneka ringan.Revan sempat tergerak, kelopak matanya bergetar. Lalu, begitu tubuhnya berpindah dari kursi nyaman ke gendongan kasar orang asing, ia terbangun. Matanya melebar, bingung, sebelum akhirnya tangisan keras meledak dari mulut mungilnya.“Mamaaaa!” jeritnya, suara yang menghantam jantungku lebih keras daripada apa pun.Aku berteriak, histeris. “Lepaskan dia! Jangan sentuh anakku!”Tubuhku meronta liar, berusaha







