Chapter: Bab 5 - Si penakut Dan Si CuekPagi di Desa Arunika lagi-lagi dimulai dengan kabut.Tapi kali ini, kabutnya terasa… jinak.Mungkin karena semalam Rani tidak sendirian menghadapi ketakutannya.Ia keluar dari kamar dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Di meja dapur, sudah ada Raka duduk tenang sambil menyeruput kopi.“Selamat pagi, si pewaris kutukan,” sapanya santai tanpa menoleh.Rani mendengus. “Pagi juga, si penjaga cermin gagal.”Raka menahan tawa. “Kamu cepat belajar cara nyolot juga, ya.”“Efek stres,” balas Rani, duduk di kursi seberang. “Aku udah dua malam nggak tidur nyenyak. Sekarang tiap bayangan kayak ngajak ngobrol.”Raka mengangkat alis. “Termasuk bayangan aku?”“Yang itu malah ngeselin.”Raka tersenyum kecil — senyum yang jarang muncul, tapi cukup bikin Rani salah fokus.“Kalau kamu sempat ngelawak, berarti kamu masih baik-baik aja,” ujarnya ringan.“Baik-baik aja gimana? Aku udah hampir digondol arwah lokal, lho!”“Justru itu. Kalau kamu udah bisa ngeluh, berarti kamu belum mati.”“Ma
Last Updated: 2025-10-13
Chapter: Bab 4 - Arwah Tanpa NamaPagi di Desa Arunika tidak pernah benar-benar terang.Kabut tipis selalu menggantung di antara pepohonan, menutupi langit yang mestinya biru.Burung-burung bersuara pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur.Rani membuka mata dengan kepala berat. Tubuhnya masih terasa dingin, seperti habis direndam air semalaman.Ia memandangi cermin di pojok ruangan yang kini tertutup kain lusuh. Tidak ada suara, tidak ada getaran. Tapi hawa dingin masih tinggal di udara, seolah cermin itu bernapas diam-diam.Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan pikirannya.“Rani? Sudah bangun?”Itu suara Bu Lastri, pemilik kos yang sejak awal kelihatan terlalu santai menghadapi hal-hal aneh di desa ini.Rani cepat berdiri dan membuka pintu.Bu Lastri tersenyum hangat, membawa nampan berisi teh panas dan sepiring pisang goreng.“Pagi, Nak. Kamu pucat sekali. Semalaman nggak tidur, ya?”Rani berusaha tersenyum. “Sedikit... susah tidur, Bu.”“Ya ampun, kalau mau nyalain lampu malam-malam, nyalain
Last Updated: 2025-10-13
Chapter: Bab 3 - Jangan Lihat Ke CerminMalam itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Langit belum sepenuhnya gelap, tapi udara sudah seperti diselimuti kapas basah. Angin membawa aroma tanah lembap dan daun kering, membuat bulu kuduk Rani meremang begitu saja. Di kamarnya, Rani duduk bersandar di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri setelah kejadian tadi siang. Kalung batu hitam yang digantung di depan pintu kini sudah ia simpan di meja. Tapi entah kenapa, setiap kali matanya terarah ke benda itu, hawa di ruangan terasa berubah. “Untuk yang menatap cermin, pintu sudah terbuka,” gumamnya pelan, mengulang kalimat di kertas misterius itu. Ia mengusap wajah. “Kayak yang bikin pesan ini tuh sengaja pengen aku stres.” Rani mencoba mengalihkan perhatian dengan mengetik laporan di laptop. Tapi setiap beberapa detik, matanya tetap melirik ke arah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Permukaannya terlihat biasa—sampai tiba-tiba muncul embun tipis di permukaannya. Padahal jendela tertutup rapat. “Jangan halu, Ran. Fokus
Last Updated: 2025-10-13
Chapter: Bab 2 - Cermin Batu Dan Larangan LeluhurPagi di Desa Arunika tak kalah aneh dari malamnya. Kabut tipis masih menggantung di antara pohon, dan udara pagi terasa seperti embun yang belum selesai menetes.Rani berdiri di depan cermin kamar kosnya sambil menyisir rambut. Tapi setiap kali matanya tak sengaja menatap pantulan itu terlalu lama, ada rasa tak nyaman yang menjalar. Bayangannya tampak sedikit… terlambat mengikuti gerakannya.Ia mendengus. “Kayaknya kurang tidur deh, makanya halu.”Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di jendela.Tok. Tok. Tok.Rani menoleh spontan — dan mendapati seekor ayam berdiri di luar.“ASTAGA, AYAM?!” jeritnya. Ayam itu langsung kabur sambil berkotek.“Hebat, Ran. Bahkan unggas aja kabur dari kamu,” gumamnya kesal pada diri sendiri.Belum sempat ia menenangkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar.“Masuk aja kalau mau ngagetin sekalian!” katanya refleks. Tapi pintu benar-benar terbuka, menampakkan sosok Raka berdiri dengan ekspresi datar dan sepasang sandal lumpur.“Seriusan, kamu undang a
Last Updated: 2025-10-13
Chapter: Bab 1 - Kabut Pertama Di ArunikaKabut sore itu turun seperti selimut dingin yang menelan matahari. Langit berwarna kelabu pucat, dan udara lembap menusuk hingga ke tulang. Di ujung jalan berbatu, sebuah angkot berhenti dengan decit rem pelan.“Desa Arunika, ya?” tanya sopir sambil menoleh.Rani menatap ke luar jendela. Hanya hamparan sawah yang separuh tertutup kabut. Ia menelan ludah. “Iya, Pak. Di sini aja turunnya.”Begitu kakinya menapak tanah, udara terasa asing. Sunyi—sejenis sunyi yang bukan sekadar tak ada suara, tapi seolah sesuatu sedang mendengarkan dari balik kabut.Rani memeluk tas ranselnya erat. “Ya ampun, kok ngeri banget sih. Baru nyampe udah kayak film hantu lokal,” gumamnya pelan.Sopir itu tertawa kecil, tapi nadanya tak sepenuhnya santai. “Desa Arunika memang suka berkabut kalau sore, Neng. Jangan keluar malam, ya. Orang sini bilang, kalau kabutnya tebal, jangan nengok ke belakang.”Rani tertegun. “Hah? Kenapa?”Sopir itu hanya mengangkat bahu. “Katanya, nanti ada yang nengok balik.”Sebelum Ran
Last Updated: 2025-10-13