Se connecterBerminggu-minggu telah berlalu sejak Nerion meninggalkan pemukiman duyung. Perjalanannya membawanya kembali ke arus laut dalam. Semakin dalam ia menyelam, cahaya matahari perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah kegelapan laut dalam dan arus-arus tua yang terus mengalir tanpa henti sejak dahulu kala."..."Sebagai seorang Penjaga Arus laut dalam, Nerion telah terbiasa menempuh perjalanan seperti itu. Namun kali ini berbeda, ia tidak sedang berpatroli ataupun menjaga keseimbangan arus laut. Ia sedang mencari sesuatu.Sesuatu yang selama ini membuatnya tak tenang sekaligus familiar. Ia memutuskan untuk membaca arsip-arsip kuno. Mungkin saja dengan begitu, ia bisa menemukan jawaban atas kegelisahannya ini.Selama beberapa minggu terakhir, Nerion berpindah dari satu ruang penyimpanan tua ke ruang penyimpanan lainnya. Sebagian besar hanya berisi catatan mengenai perubahan arus, perpindahan makhluk laut, hingga pergantian para Penjaga Arus d
Beberapa hari telah berlalu sejak Maris kembali mendengar bait terakhir nyanyian laut kuno. Namun bukan hanya nyanyian itu yang terus berputar di dalam kepalanya. Setiap kali ia memejamkan mata… yang muncul justru percakapan-percakapan kecil yang selama ini tidak pernah ia pikirkan."Kenapa semuanya baru terjadi sekarang...?" Maris bergumam pelan.Ia berenang perlahan melewati jalan-jalan kecil di pemukiman. Hari itu ia tidak benar-benar memiliki tujuan. Pikirannya terlalu sibuk menyusun sesuatu yang bahkan belum ia mengerti."Gosip itu...""...berawal dari mana?" pikirnya. Pertanyaan itu terus mengganggunya. Selama ini ia memang jarang menghadiri acara bersama para duyung. Perayaan, pertemuan atau sekadar berkumpul di alun-alun pemukiman.Maris hampir selalu memilih menjauh. Namun… tidak pernah ada yang benar-benar mempermasalahkannya. Sebagian besar duyung justru tampak tidak peduli."Lalu...""Kenapa kali ini berbeda?"Maris memperlambat renangnya. Tatapannya kosong menatap arus
Maris berenang perlahan melewati jalan utama pemukiman.Sejak beberapa minggu terakhir ia memang jarang keluar rumah. Namun hari itu ia memutuskan berkeliling sebentar agar pikirannya sedikit lebih tenang."..."Saat ia melewati sekelompok duyung… percakapan mereka mendadak berhenti. Maris sedikit mengernyit. Namun ia tetap melanjutkan renangnya.Baru beberapa saat kemudian… suara pelan kembali terdengar dari belakang."Itu dia.""Iya."Maris memperlambat gerakannya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Meskipun ia kembali berenang.Namun beberapa saat kemudian… ia mendengar percakapan yang sama."...""Katanya dia sering ke permukaan.""Kalau memang tidak pernah...""...kenapa tidak menjelaskan?"Maris menundukkan kepalanya. Jari-jarinya perlahan mengepal."Apa...""...yang sebenarnya terjadi?" gumamnya hampir tak terdengar.Tak jauh dari sana, be
Beberapa minggu telah berlalu sejak Maris terakhir kali pergi ke permukaan laut.Hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas yang sama. Membantu kedua orang tuanya, berenang di sekitar pemukiman, lalu kembali pulang sebelum matahari tenggelam. Namun… tidak ada satu hari pun ia benar-benar merasa tenang."..."Tatapan para duyung masih sama. Sebagian memilih menghindarinya. Sebagian lagi sengaja berbisik ketika ia melintas.Maris mencoba mengabaikan semuanya. Ia terus mengingat satu hal."Asal ayah dan ibu tidak ikut terluka...""...itu sudah cukup."Siang itu Maris membantu ibunya merawat tanaman laut di depan rumah. Ibunya tersenyum kecil melihat putrinya yang sejak tadi bekerja tanpa banyak bicara."Maris,” panggil ibunya. "Hm?" jawab Maris. "Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya ibunya. Maris tersentak pelan."Apa terlihat begitu?"Ibunya terkekeh."Ibu mengenalmu sejak kau lahir.""Mana mungkin Ibu tidak tahu."Maris hanya tersenyum tipis."Tidak apa-apa, bu.""Aku hanya sedikit le
Pagi itu, pemukiman duyung kembali dipenuhi kesibukan seperti biasanya. Cahaya matahari menembus permukaan laut, memantulkan kilauan lembut di antara rumah-rumah karang yang berjajar rapi. Dari kejauhan, suara nyanyian laut kuno terdengar samar mengiringi aktivitas para duyung.Maris berenang keluar dari rumahnya setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia berusaha tersenyum seperti biasa, meski pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Seraphine sehari sebelumnya."Dari mana mereka mengetahui bahwa aku pergi ke permukaan?" gumamnya pelan.Ia mulai berenang menyusuri jalan utama pemukiman. Beberapa duyung yang berpapasan hanya melirik sekilas, tetapi ada pula yang tampak saling berbisik sebelum buru-buru menghentikan percakapan mereka ketika Maris lewat. Maris berusaha mengabaikannya dan terus berenang tanpa menoleh sedikit pun.Menjelang siang, Maris membantu ibunya merapikan beberapa tanaman laut di sekitar rumah. Ayahnya sesekali berc
Meski suasana pemukiman kembali seperti biasa, obrolan tentang perayaan itu masih terdengar di berbagai sudut. Segerombolan duyung berkumpul di dekat taman karang. Mereka saling bertukar cerita sambil menikmati arus laut yang tenang."Perayaan kali ini benar-benar meriah.""Iya.""Aku bahkan masih merasakan kemeriahan itu sampai sekarang."Salah seorang duyung tertawa kecil."Untung saja Maris tidak datang."Beberapa duyung lain ikut tertawa pelan."Benar.""Kalau dia datang, suasananya pasti jadi suram.""Perayaan jadi tidak senyaman kemarin.""Tapi memang aneh juga."Semua menoleh ke arah duyung yang baru berbicara."Apa?""Aku tadi tidak sengaja melihat Maris.""Lalu?""...Kulitnya sedikit lebih gelap."Suasana mendadak hening."Lebih gelap?"Duyung itu mengangguk."Mungkin hanya perasaanku. Tapi seingatku kulitnya tidak seperti itu."Duyung lain mulai ikut mengingat."Kalau kau bilang begitu...""Aku juga merasa begitu.""Jangan-jangan..." ia tidak melanjutkan kalimatnya.Namun be
Kesadaran kembali perlahan, Maris membuka matanya sedikit demi sedikit. Air laut bergerak di sekeliling tubuhnya, membawa rasa sejuk yang menenangkan. Untuk beberapa saat, ia hanya diam.Tubuhnya terasa berat. Seakan seluruh tenaganya terkuras habis."..."Ia mencoba menggerakkan tangannya perlahan
Langit malam terlihat tenang di atas wilayah hutan yang mengelilingi pemukiman manusia serigala. Angin bergerak pelan di antara pepohonan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang lembab setelah hujan beberapa hari lalu.Robert berdiri diam di salah satu cabang pohon yang tinggi. Tatapannya mengarah k
Malam itu laut sedang tenang. Permukaan air memantulkan cahaya bulan samar hingga ombak kecil di pesisir terlihat seperti kilauan perak yang bergerak pelan. Angin malam berhembus lembut di sekitar batu besar tempat Maris dan Lycander biasa bertemu.Dan seperti biasanya, Maris kembali berada di sana
Kepulangan para penjaga arus laut dalam masih menjadi pembicaraan banyak duyung bahkan beberapa hari setelah mereka kembali. Tidak banyak dari mereka yang benar-benar memahami seperti apa kehidupan para penjaga itu. Mereka hanya tahu satu halㅡpara penjaga laut dalam adalah duyung yang dipilih lau







