INICIAR SESIÓNPagi itu, pemukiman duyung kembali dipenuhi kesibukan seperti biasanya. Cahaya matahari menembus permukaan laut, memantulkan kilauan lembut di antara rumah-rumah karang yang berjajar rapi. Dari kejauhan, suara nyanyian laut kuno terdengar samar mengiringi aktivitas para duyung.
Maris berenang keluar dari rumahnya setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia berusaha tersenyum seperti biasa, meski pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Seraphine sehari sebelumnya.Pemukiman duyung kembali dipenuhi aktivitas seperti biasanya. Kawanan ikan berenang di antara terumbu karang. Anak-anak duyung tertawa sambil saling mengejar. Tak ada satu pun yang menyadari bahwa di sudut lain, dua duyung tengah terdiam dalam percakapan yang tak menemukan ujungnya.Seraphine masih memandang Nerion dengan kebingungan. Pertanyaan yang sejak tadi ia lontarkan belum mendapatkan jawaban sedikit pun."Nerion… apa maksudmu?” ulangnya. "...apa sebenarnya yang terjadi?" lanjutnya. Nerion tetap diam. Tatapannya perlahan menyapu wajah Seraphine. Duyung yang berada di hadapannya itu tampak benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya berubah begitu drastis."Aku tahu kau kecewa padaku," ucap Seraphine lirih."Aku tahu kau marah.""Tapi... setidaknya katakan apa kesalahanku."Nerion menutup matanya sejenak. Kalimat itu terdengar begitu aneh di telinganya.Seraphine masih mengingat bahwa dirinya merasa bersalah. Ia masih mengingat tatapan kecewa yang pernah Nerion berikan. Namun…
Beberapa waktu sebelumnya saat Maris mengucapkan salam perpisahan dengan Nerion. Nerion terus berenang menjauh dari pesisir tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Semakin jauh ia mengayunkan ekornya, semakin samar garis pantai yang tadi masih terlihat di permukaan laut.Namun ada sesuatu yang masih tertinggal di pikirannya. Suara Maris terus memenuhi benaknya."Terima kasih... sudah datang menemuiku."Kalimat sederhana itu terus terngiang di dalam kepalanya. Nerion memejamkan mata sejenak.Ia telah mengucapkan selamat tinggal. Bahkan ia telah mengatakan semua yang perlu dikatakan. Tidak ada lagi alasan untuk kembali.Seharusnya begitu.Namun entah mengapa, dadanya justru terasa semakin berat setiap kali ia mengingat wajah Maris yang tersenyum tenang setelah mengetahui dirinya telah kehilangan seluruh dunia yang pernah dimilikinya."..."Tidak ada kebencian dan kemarahan yang dilupakan oleh Maris. Bahkan tidak ada pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi padanya. Justru itulah yang pa
Kabut perlahan menutup jalan masuk Teluk Mati hingga laut di belakang Maris menghilang seluruhnya. Tidak ada lagi garis cakrawala yang membatasi langit dan laut. Yang tersisa hanyalah hamparan kabut kelabu yang menggantung rendah di atas permukaan air.Maris berhenti berenang sejenak. Ia menoleh ke belakang, tetapi tak lagi dapat melihat pantai tempat Lycander berdiri tadi. Bahkan suara ombak dari luar pun perlahan menghilang, seolah kabut itu menelan seluruh dunia di baliknya."..."Ia kembali mengayunkan ekornya perlahan. Riak kecil menyebar di permukaan air yang nyaris tak bergerak. Berbeda dengan laut yang pernah ia kenal, air di tempat itu terasa begitu tenang hingga hampir menyerupai danau.Semakin jauh ia berenang, suasana di sekelilingnya semakin sunyi. Tidak terdengar suara burung laut, tidak ada kawanan ikan kecil yang biasanya berenang menghindari ekornya. Bahkan rumput laut yang bergoyang mengikuti arus pun tampak jauh lebih sedikit.“Tak ada apapun di sini,” pikirnya. Ma
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Robert.Lycander menghentikan langkahnya. Ia memandang Robert beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang.Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan. Kabut Teluk Mati masih tampak samar di kejauhan."..."Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka berbicara. Robert memperhatikan wajah Lycander dengan saksama. Mata emas itu masih memerah. Bekas air mata belum sepenuhnya mengering."Aku belum pernah melihatmu seperti ini," ucap Robert pelan.Lycander tersenyum hambar."Aku juga berharap tidak pernah mengalaminya."Robert mengerutkan dahinya."Lalu?"Lycander menoleh ke arah Teluk Mati."Maris...""...telah menjadi makhluk buangan."Kalimat itu membuat Robert membeku. Tatapannya perlahan beralih menuju teluk yang diselimuti kabut."...jadi itu sebabnya tadi kau keluar dari sana."Lycander mengangkat alis, "apa kau tahu tentang makhluk buangan?"Robert mengangguk pelan."Hanya sedikit. Mereka adalah anak laut yang telah dilepaskan ole
Langit mulai berubah jingga ketika Lycander dan Maris meninggalkan pantai tempat mereka biasa bertemu. Lycander berjalan mengikuti garis pantai, sementara Maris berenang perlahan tidak jauh dari tepian. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, mereka berjalan menuju tempat yang belum pernah mereka datangi bersama.Deburan ombak menjadi irama yang menemani langkah mereka. Tidak ada lagi tangisan ataupun permintaan maaf. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih nyaman daripada sebelumnya."Capek juga ya menjadi manusia," celetuk Maris tiba-tiba.Lycander menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya."Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"Maris tersenyum kecil, “kau sudah berjalan sejauh ini. Sedangkan aku cukup berenang saja.”Lycander terkekeh pelan, “kalau aku punya ekor sepertimu, mungkin aku juga memilih berenang."Maris ikut tertawa kecil, “tapi kalau begitu... kau tidak akan bisa berubah menjadi serigala.""Itu juga benar,” ucap Lycander setuju.Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali
"Kalau suatu hari nanti dunia ini berhenti menjadi rumahmu… biarlah aku yang menjadi tempatmu pulang,” ucap Lycander. Maris terdiam cukup lama. Bukan karena terharu berlebihan, tetapi karena benar-benar mencerna ucapan itu.Lalu ia berkata pelan, “aku tidak begitu mengerti semua yang kau katakan… tapi aku senang kau masih mau berada di sampingku."Kalimat sederhana itu sudah cukup membuat Lycander kembali hampir mengeluarkan air mata.Maris memandang Lycander cukup lama. Tatapan pria itu masih dipenuhi kesedihan yang belum sepenuhnya hilang."Aku masih membuatmu khawatir ya?" tanyanya pelan.Lycander menggeleng."Bukan. Lebih tepatnya... aku terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."Maris tersenyum tipis."Semua sudah berlalu. Dan aku masih di sini."Lycander menundukkan kepala sebentar."Ya. Syukurlah..."Untuk sesaat, tak ada lagi yang berbicara. Deburan ombak bergantian menyapu pasir di antara mereka. Maris memandang laut yang membentang luas.Angin sore meniup rambut hit
“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti
“Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan teruku
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang
“Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabn







