LOGIN—Al menos podrías decirme tu nombre —dijo ella. Él permaneció en silencio durante un largo instante y luego dijo: —Aleron Dravenhart. ¿Aleron Dravenhart? Qué nombre tan antiguo, pensó ella. —Soy Seraphine. Seraphine Clarke. —Le tendió la mano y esperó con paciencia a que él la tomara. Cuando finalmente lo hizo y su piel tocó la de ella, Seraphine sintió una descarga de algo que no pudo identificar pasando entre los dos. Él también lo sintió. Vio el destello de sorpresa en sus ojos antes de que tuviera la oportunidad de disimularlo. Y, de alguna manera, le hizo sentirse mejor saber que a él no le hacía más gracia esa chispa que a ella. Su cuerpo estaba despertando a sensaciones que había bloqueado durante cinco años. Y el dolor profundo en su interior amenazaba con hacerla caer de rodillas. Se levantó y dio un paso atrás, como si tomar distancia de este misterioso hombre pudiera hacer que todo lo que había sentido se desvaneciera. No sirvió de nada. Cuando Seraphine Clarke encontró a un hombre desmayado en el jardín delantero de su casa una mañana, no tenía idea de cómo ofrecerse a ayudarlo cambiaría su vida. Lo ayudó. Lo invitó a pasar a su hogar. Pero lo que no sabía era que también le había abierto la puerta al peligro, y que la vida tal como la conocía y entendía estaba a punto de cambiar. Se había introducido en un mundo de magia, brujas, peligro, sangre y, lo que es más importante, vampiros. ... ¿Qué pasará cuando se enamore de uno de ellos?
View MoreSalsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut yang menimpanya tadi pagi. Bahkan hingga malam hari sang ayah belum juga sadarkan diri.
Pintu kaca di ruang ICU akhirnya terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar dan Salsa langsung menghampirinya. “Bagaimana keadaan Ayah saya, dok?” tanya Salsa, berharap ada kabar baik yang ia dapatkan dari dokter. Salsa sangat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya meskipun sejak sang Ayah menikah lagi, Salsa nyaris kehilangan sosok Ayah yang dulu begitu menyayanginya. “Kondisi pasien semakin memburuk dan harus dilakukan operasi besar secepatnya. Kami hanya punya waktu tiga jam menunggu sampai deposit untuk operasinya dilunasi, jika tidak kami tidak berani menjamin apapun tentang keadaan pasien,” ucap dokter, yang terpaksa memberi kabar buruk itu pada keluarga pasien. Mendengar itu, kaki Salsa langsung lemas. Wajahnya semakin pucat dan jantungnya berdebar sangat kencang karena takut kehilangan sang Ayah. Air mata kembali mengalir membasahi wajahnya. “Be–berapa biayanya, dok?” tanyanya terbata. “Satu miliar. Minimal ada uang deposit lima puluh persen dulu baru operasi bisa dilakukan. Saya permisi dulu,” pamit dokter itu meninggalkan Salsa dalam kebingungan. Ia masih mematung di tempatnya saat dokter berjalan menjauh. Otaknya mendadak tak bisa diajak berpikir jernih. Satu miliar? Uang dari mana? Jangankan uang sebanyak itu, tabungannya saat ini bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya kamar ICU semalam. Mereka benar-benar tidak punya harta apapun, apalagi selama ini mereka tinggal di rumah kontrakan. Salsa mulai frustrasi, ia bingung harus mencari pinjaman ke mana dalam waktu se-singkat ini untuk menyelamatkan sang Ayah. Di tengah kepanikannya, Salsa melihat Aditya, tunangannya, berjalan mendekat menuju ke arahnya. Namun, Aditya tidak datang sendirian. Dia datang bersama Zara, kakak tiri Salsa. Melihat mereka, Salsa langsung berlari menghampiri dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat. “Mas Adit, untung saja kamu datang. Tolong bantu Salsa, mas. Ayah harus segera dioperasi dan biayanya harus dilunasi minimal lima puluh persen. Dokter bilang hanya punya waktu tiga jam saja, kalau tidak…” Ucapan Salsa terpotong oleh pertanyaan sang tunangan. “Berapa biaya operasinya?” tanya Adit datar, sama sekali tidak ada rasa iba melihat ayah tunangannya sedang terbaring lemah dan berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang ICU. Salsa menarik napas berat sebelum akhirnya menyebutkan angka tak masuk akal itu, “Sa–satu miliar, Mas.” “Apa?” Aditya tersentak kaget mendengar nominal yang disebutkan Salsa. “Apa kamu sudah gila mau pinjam uang dariku sebanyak itu?” Bentak Aditya. Salsa buru-buru memegang tangan tunangannya berharap agar pintu hati sang tunangan terketuk untuk menolongnya. “Kumohon bantu selamatkan Ayahku, Mas. Aku janji akan bekerja siang dan malam agar bisa mengembalikan uangmu,” ucapnya penuh permohonan. Salsa sangat berharap Aditya mau membantunya. Biar bagaimanapun, mereka sudah bersama selama lima tahun kebelakang dan Salsa yakin Adit punya tabungan lebih dari satu miliar. Ia bahkan sudah menemani pria itu dari nol sampai sekarang sukses punya usaha showroom mobil. Salsa yakin Aditya tidak akan tega membiarkan satu-satunya orang tua yang dia miliki meninggal dunia tanpa sempat ditangani di ruang operasi. Namun, Aditya justru menepis tangan Salsa dengan kasar hingga gadis cantik itu mundur selangkah. “Aku gak punya uang sebanyak itu. Kalaupun ada, lebih baik uang itu aku pakai untuk menambah unit mobil di showroomku,” jawab Aditya tanpa perasaan. Ulu hati Salsa mendadak sakit seperti diremas tangan tak kasat mata dengan sangat kuat. Dia menatap Aditya nyaris tidak percaya mendengar penolakan dari pria itu. Bagaimana bisa pria yang selama ini dia sayangi berubah menjadi orang tak berperasaan di saat ayahnya sedang kritis? Dengan sisa harapan yang ada, Salsa menatap kakak tirinya yang berdiri di sebelah Aditya. “Kak, sejak Ibumu menikah dengan ayahku, ayah begitu menyayangimu. Bahkan seluruh kasih sayangnya dia berikan untukmu. Aku mohon bantu aku untuk bujuk Mas Adit agar mau menyelamatkan nyawa Ayah,” ujar Salsa lagi sambil menangis. Dia berharap sang kakak tiri mau melakukannya. Kalau bukan karena Salsa, tidak mungkin Zara bisa menjadi asisten pribadi sang tunangan. Namun, Zara yang sejak tadi melipat tangannya di depan dada hanya menatap Salsa penuh ejekan. Tidak ada sedikit pun raut sedih di wajahnya, padahal pria di dalam ruang ICU itu adalah ayah tiri yang selalu memanjakannya. Orang yang berhasil meyakinkan Salsa kalau Zara bisa bekerja profesional di showroom milik Aditya. “Sudahlah Salsa. Pasrahkan saja nyawa ayahmu pada Tuhan, daripada kamu pusing mikirin biayanya,” jawab Zara tanpa belas kasihan sedikitpun melihat adik tirinya yang sedang menangis membayangkan betapa beratnya sang Ayah berjuang di dalam sana. Belum sempat Salsa menanggapi ucapan menyakitkan dari kakak tirinya, Aditya kembali bersuara. “Lagian aku datang ke sini mau memutuskan hubungan kita,” timpal Aditya. Deg. Mendengar itu, Salsa sampai lupa cara bernapas. Dia menatap pria yang sangat dia cintai selama lima tahun terakhir ini. Pria yang dia temani berjuang dari nol, dari zaman tidak punya apa-apa, sampai sekarang bisa sukses dan namanya tercatat sebagai pengusaha muda yang sukses. “Kamu jangan bercanda, Mas,” ucap Salsa lirih, ia berharap ada masalah dengan pendengarannya barusan. “Aku serius. Aku sudah lama ingin memutuskan hubungan kita. Dan hari ini adalah momen yang tepat. Aku jatuh cinta sama Zara. Mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” ucapnya. “Nggak, Mas. Kamu pasti bohong kan? Kita bahkan sebentar lagi akan menikah, Mas. Tolong jangan seperti ini,” lirih Salsa sambil berderai air mata. “Dia calon suamiku, Salsa. Dia lebih mencintaiku daripada kamu. Mulai sekarang, lupakan kalau kalian pernah bersama,” sambar Zara. Ada binar bahagia di matanya ketika berhasil melukai hati saudara tirinya ini, dengan merebut semua milik Salsa. Menurut Zara, dialah yang lebih pantas bahagia dari adik tirinya ini. Aditya kemudian merogoh sakunya, mengambil cincin pertunangan mereka yang dua bulan terakhir tidak pernah ia pakai lagi, lalu melempar cincin itu tepat di depan kaki Salsa. Setelah itu, tanpa memperdulikan kondisi Salsa yang hancur, Aditya berbalik dan berjalan meninggalkan ruang ICU bersama Zara. “Mas Adit, kamu gak bisa kayak gini sama aku, Mas. Mas Adit, hiks hiks,” teriak Salsa sambil menangis. Tubuh Salsa langsung melorot ke lantai. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri. Ulu hatinya sangat sakit seperti ditikam senjata tajam, membuatnya nyaris tak bisa lagi untuk bernapas. Salsa meremas ulu hatinya dengan keras bermaksud agar mengurangi sakitnya, tetapi rasa perih itu tetap tidak mau hilang bahkan kian menjadi-jadi. Salsa menangis sendirian di lantai rumah sakit. Namun, di tengah kebingungan dan rasa sakit akibat dikhianati oleh kakak tiri dan tunangannya, Salsa sadar dia tidak punya banyak waktu untuk meratapi nasib malangnya. Nyawa ayahnya sedang dipertaruhkan di dalam ruang ICU. Dia harus menyelamatkan sang ayah, bagaimanapun caranya. Rasa sakit ini harus dia singkirkan dulu. Saat otaknya berputar mencari jalan keluar, tiba-tiba terlintas satu nama di benaknya. Seseorang yang sangat kaya raya, yang mungkin bisa menjadi harapan terakhirnya. Salsa langsung menyeka air matanya. Dia memaksakan diri untuk bangkit, lalu setengah berlari meninggalkan area ruang ICU menuju rumah pria itu. “Bertahanlah, Yah. Salsa akan berusaha menyelamatkan nyawa Ayah,” bisiknya pilu.Ella extendió la mano y tocó con la palma el bao del cristal frío de la ventana, dejando las huellas de sus dedos en la humedad. —Suena tonto, pero sentí que había encontrado mi hogar.—Es un buen lugar —dijo él, sin hacer comentarios sobre su pequeña confesión. Pero sabía a qué se refería. Como si supiera que los pensamientos de él se habían vuelto hacia el pasado de nuevo, ella volvió a hablar.—¿Qué pasó? Quiero decir...—Sé a qué te refieres. —Él dio otro sorbo a la sangre caliente, saboreando el sabor denso y rico mientras se deslizaba por su garganta. «Apropiado», pensó, «que tenga sangre en la boca para contar esta historia».—Fue una noche muy fría. —Su voz era distante, desapegada, como si estuviera hablando de algo que le había sucedido a un extraño. Y, después de todo, eso era más cierto que falso. Había pasado tanto tiempo que el hombre que había sido no tenía nada que ver con la persona en la que se había convertido—. Un hombre llegó a la puerta. Congelándose. Hambriento.
—Estás intentando asustarme a propósito —señaló ella—. Y no es que esté funcionando, pero ¿por qué?—Porque deberías estarlo. —Él rodeó la mesa, le puso ambas manos sobre los hombros y la acercó hacia él—. Otros de mi especie saben que vengo aquí cuando estoy en el pueblo. Algunos podrían venir a buscarme. Eso significa que no estás a salvo.—¿Más vampiros? ¿Aquí? —Mirándolo a sus profundos ojos negros, ella se estremeció—. ¿Por qué te están buscando?Él la soltó y sacudió la cabeza. —Hay una guerra fraguándose en el mundo de los vampiros. Se espera que tomemos partido.—¿Una guerra de vampiros? —La voz de Seraphine sonó tensa incluso para ella misma, como si hubiera tenido que exprimir esas palabras a través de una garganta demasiado estrecha—. ¿Y viene hacia aquí?—Tal vez. —Él se pasó una mano por la mandíbula—. No sé quién viene... diablos, ni siquiera si viene alguien. No puedo estar seguro.—Y si vienen, ¿entonces qué? —El pequeño hilo de miedo que había sentido antes se convirt
Cuando colgaron, Aleron arrojó el teléfono sobre la vieja mesa. Diablos, tal vez Tristan tenía razón. ¿Qué sentido tenía volver aquí? Quizá su administrador de negocios había hecho lo correcto al vender la casa. Tal vez era hora de aceptar quién y qué era.Echó una mirada a la parte trasera de la librería como si pudiera ver más allá de esa puerta, hacia el interior de la casa donde estaba Seraphine. Ella lo había sorprendido. Lo había intrigado. Y la deseaba. Deseaba el sabor de ella en su boca y la sensación de su cuerpo dentro del de ella. Todo en su interior le pedía a gritos ir a buscarla, arrojarla sobre esa maldita camilla y tenerla... Morderla. Los instintos con los que había estado en guerra desde su transformación salieron a la superficie y lo sacudieron hasta la médula.Seraphine Clarke lo había descolocado. Y mucho.Entonces recordó lo que Tristan le había dicho. Sus enemigos no solo lo habían estado buscando. Lo habían encontrado. Si ya lo estaban esperando cuando llegó a
La mirada de Aleron se estrechó cuando ella aún no se marchaba, sino que se quedó con la boca casi abierta y más preguntas escritas en todo el rostro.—Deberías largarte de aquí ahora mismo —le dijo.—Sí, eso ya lo dijiste.Él siseó y, más rápido de lo que ella pudo ver, salió disparado de la habitación oculta solo para agarrarla y tirar de ella hacia el interior con él. Ignorando la quemadura del sol en su costado, la sujetó del brazo y clavó los dedos en su piel. Los movimientos fueron tan repentinos que ella se sobresaltó a pesar de sus mejores intenciones. Él lo vio y la soltó.—Tienes miedo. Puedo olerlo en ti. —Una comisura de su boca se elevó y cayó en un abrir y cerrar de ojos—. Para un vampiro, ese aroma es irresistible.Su brazo hormigueaba en el lugar donde la había tomado. Sus ojos la atraparon y la retuvieron, y mientras ella observaba, la negrura de sus pupilas se desvaneció hacia el blanco hasta que lo único que pudo ver fue su propio reflejo brillando desde las profund
Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.