Home / Romansa / LANGIT penuh MELODY / 03. RELAKAN AKU

Share

03. RELAKAN AKU

Author: Ryanty_tian
last update Last Updated: 2025-11-06 23:49:17

Melody baru saja memasuki rumah dan ingin naik menuju kamarnya, tetapi Ivander lebih dulu memanggilnya. Dengan malas Melody memutar kembali tubuhnya dan menghampiri Ivander, pasti sang ayah ingin mengomel padanya.

"Kenapa kamu basah begitu, Honey?" tanya Ivander menutup buku yang dia baca.

"Tadi hujan pas acara pernikahan, berhubung acaranya pesta kebun dan hujannya tiba-tiba. Alhasil beginilah," jawab Melody yang tahu Ivander begitu posesif padanya.

"Lalu itu jas siapa? Tentu itu bukan milik Alfred, kan," kata Ivander menyelidik, pasalnya dia hapal jenis jas yang sering dipakai oleh Alfred.

"Ohh, ini punya teman, Yah. Besok Melo kembalikan," jawab Melody dengan santai.

"Teman yang mana?" tanya Ivander yang selalu memastikan pergaulan Melody, maklum saja anak gadis satu-satunya keluarga Mahaprana.

"Ayah," panggil Brandon yang duduk bersama dengannya.

"Ya," jawab Ivander menoleh.

"Biarlah Kakak ganti baju dulu, lihatlah! Pakaian dia masih basah," kata Brandon mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Benar, kamu ganti baju sana," jawab Ivander meminta Melody pergi.

Melody mengedipkan satu mata untuk Brandon, meski sang adik terkadang menyebalkan tapi tetap berguna disaat seperti ini. Melody meninggalkan keduanya yang kembali membahas tentang bisnis perusahaan, akhirnya bisa terlepas dari aksi wawancara Ivander tadi.

Melody terlihat segar dan memakai piyama berwarna kuning, kesukaan yang menurun dari sang Ibunda. Tapi hanya berbeda saja, Nada menyukai merah dan Melody lebih cenderung berkaitan dengan warna kuning.

Melody melihat ponsel miliknya dengan malas, terlihat beberapa panggilan dan pesan dari Alfred. Melody melihat pesan tersebut, Alfred menanyakan di mana keberadaan Melody saat ini. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang Alfred tanya karena Melody menghilang di tengah hujan tadi.

Melody membanting ponselnya di atas ranjang, memilih untuk merentangkan tangannya menatap langit-langit yang bertuliskan Melody dan Alfred. Seisi kamar Melody masih terdapat beberapa foto kebersamaan dirinya dan Alfred sejak kecil, memikirkan Alfred yang akan melamar Nesya membuatnya kesal sekaligus sakit.

"Alfred emang brengsek, tapi aku cinta," ucap Melody berbaring miring dan meraih ponselnya.

Menyalakan layar, dan terlihat wallpaper dirinya dan Alfred ketika berlibur ke Paris beberapa tahun silam. Melody tersenyum kecut, mengusap wajah Alfred dalam layar ponselnya.

Pintu diketuk dan memperlihatkan Nada masuk menghampiri sang putri, seketika Melody memeluk sang Ibunda. Memejamkan mata, mencari rasa nyaman untuk menetralisir hatinya yang sedikit sakit.

"Kamu ada masalah?" tanya Nada duduk di samping Melody, mengusap rambut dan pipi sang Putri.

Melody mencoba tersenyum. "Hatiku hanya terasa sakit, Bunda," jawab Melody menunduk.

"Alfred kembali menolakmu?" tanya Nada yang tahu kalau Melody menyukai Alfred sejak dulu, tapi Nada memilih untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan perasaan Melody.

Itu karena Melody sudah besar, dan bisa menentukan sendiri arah hatinya seperti apa. Nada tidak pernah melarang Melody untuk berhubungan dengan lelaki mana pun, tapi Melody tidak melakukan hal itu. Hatinya sudah terpaut pada Alfred, Nada jadi teringat pada dirinya yang begitu mencintai Ivander dulu.

"Kenapa kamu tidak mencari lelaki lain?" tanya Nada tersenyum.

Melody menekuk bibirnya. "Selama ini belum ada yang bisa mengalihkan hatiku dari Alfred, Bunda. Aku juga ingin bisa menyukai lelaki lain dan move on, tapi susah banget," keluh Melody harus berbuat apa pada hatinya.

"Sudah pernah pacaran dengan lelaki lain?" tanya Nada.

"Udah, dan kandas karena campur tangan Ayah," balas Melody semakin menekuk wajahnya, "Ayah kenapa, sih, selalu aja overprotektife banget, Bun?" keluh Melody terkadang merasa sikap Ivander berlebihan.

"Ayah terlalu menyayangi kamu, Sayang. Kasih sayang seorang ayah tak akan pernah terkalahkan oleh siapa pun, apalagi untuk putrinya. Ayahmu ingin menjagamu dengan baik, apa pun yang dia lakukan itu karena dia sayang dan peduli denganmu," ucap Nada mengusap rambut Melody.

"Tapi ini berlebihan, Bunda," jawab Melody.

"Kamu akan tahu ketika menjadi orang tua, Sayang. Jadi, bersabarlah," kata Nada dan Melody masih saja menekuk bibirnya.

Pintu terbuka, terlihat Brandon berdiri dengan santai. Memasukkan kedua tangannya di saku, sang adik ini memang terlihat menawan.

"Di cari kak Alfred di bawah," kata Brandon pergi begitu saja.

Melody dan Nada saling pandang, wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Baru saja dia mengabaikan pesan dari Alfred, lelaki itu malah datang menemuinya.

"Kalau kamu ingin berjuang, ya, berjuanglah. Jangan setengah-setengah! Tapi kalau kamu ingin move on, maka relakan Alfred," tutur Nada dan mengajak Melody untuk turun, "sekarang temui saja Alfred di bawah."

Melody turun sendiri, terlihat Alfred sedang bersama dengan Ivander. Terkadang mereka berdua sangat menyebalkan, begitu posesif padanya.

"Aku bawain martabak kesukaan kamu," kata Alfred menunjuk martabak di atas meja.

"Rajin amat ke sini," jawab Melody duduk dan memakan martabak tersebut.

"Iya, emang mau ke mana lagi?" kata Alfred mengangkat kedua bahunya.

"Kali aja pergi ke Rumah Nesya," balas Melody asal, dan Alfred malah tertawa mengacak-acak rambutnya.

"Kata om Ivan, kamu pulang diantar laki-laki, ya. Siapa dia? Kok, aku nggak tahu," cecar Alfred dan hanya ditatap datar oleh Melody yang terlalu menikmati martabak dalam mulutnya.

Alfred tampak menunggu jawaban darinya, pasti ini ulah Ivander yang bertanya pada sahabatnya itu. Beginilah yang Melody tidak suka, menyebalkan semuanya.

"Bukan siapa-siapa," jawab Melody memilih lebih menikmati martabak saja daripada meladeni Alfred.

"Wah, sekarang main rahasia denganku," kata Alfred melipat kedua tangannya menatap Melody dengan menyipitkan mata, "siapa lelaki itu? Apa aku kenal dengannya? Berani sekali dia mendekatimu."

"Bukan urusanmu lelaki itu siapa, jangan ikut campur," balas Melody sewot.

"Dih, galak sekarang," goda Alfred duduk lebih dekat dengan Melody, bahkan menyenggol lengannya.

Melody menatap Alfred dan berbicara dengan mulut penuh makanan. "Aku emang galak, baru sadar," jawab Melody mendorong wajah Alfred menjauh darinya.

"Jangan begitu, Melo-ku itu cantik dan menggemaskan," goda Alfred.

Melody menirukan perkataan dan gaya bicara Alfred, membuat lelaki itu gemas bukan main. "Cantik dan menggemaskan, tapi kamu juga nggak pernah melihatku sebagai wanita. Percuma," sindir Melody menghabiskan martabaknya.

"Kamu serius mencintaiku?" tanya Alfred kini terlihat berbeda.

"Iya, dari dulu," jawab Melody balas menatap Alfred.

Detik demi detik mereka saling pandang, sampai saat Alfred mengusap kepala Melody dengan lembut. "Aku nggak ingin kehilangan kamu, Mel. Dan lagi aku udah sama Nesya, aku nggak mungkin ninggalin dia," jawab Alfred membuat Melody terdiam.

"Apa aku nggak bisa memperjuangkan perasaanku padamu? Kita bisa mencobanya," minta Melody tidak peduli pada harga dirinya.

"Inilah yang aku takutkan selama ini, salah satu dari kita memiliki perasaan lebih. Hubungan kita akan menjauh karena tak ingin menyakiti satu sama lainnya, dan itu yang aku alami," jelas Alfred, "aku secara nggak langsung udah menyakiti hatimu, aku nggak ingin kamu sedih ataupun patah hati."

Alfred sendiri juga bingung harus melakukan apa, dia juga dilema. Dia sudah memiliki Nesya dalam hidupnya, dia tidak ingin menjadi lelaki yang serakah dengan menginginkan dua wanita dalam hidunya. Alfred hanya ingin hubungannya dengan Melody kembali seperti dulu, bahagia tanpa ada rasa cinta di antara mereka.

"Lalu aku harus gimana?" tanya Melody putus asa.

"Relakan aku," tegas Alfred tidak ingin Melody semakin tersiksa.

Melody menggelengkan kepala. "Kita selalu bersama, aku nggak mungkin bisa merelakanmu dengan mudah," balas Melody menolak.

"Kamu sakit, dan aku pun juga ikut sakit, Mel. Aku menyayangi kamu, nggak ingin kamu sedih dan menderita. Hal ini juga sangat berat untukku," kata Alfred menatap Melody dengan sendu.

Seperti inilah jika terjebak friendzone, di posisi Melody juga merasa patah hati melihat Alfred bersama Nesya. Tapi di sisi Alfred, lelaki itu juga merasa bersalah karena menyakiti Melody. Karena jujur, Alfred tidak ingin kehilangan Melody sebagai sahabatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LANGIT penuh MELODY   125. DUNIA PENUH CINTA TANPA BATAS (ENDING)

    Dalam perjalanan, air ketuban Melody sudah pecah dan Langit menghubungi dokter Miranda untuk segera memberikan penanganan ketika Melody sampai di rumah sakit.Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini juga Melody harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi mereka. Langit sudah menghubungi orangtua Melody dan orangtuanya sendiri, tentu Langit sudah sangat cemas karena melihat Melody begitu kesakitan tadi.“Tenanglah, ada aku di sini,” kata Langit mencium tangan Melody cukup lama, dan menemaninya selama proses persalinan.“Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita,” jawab Melody sedih.“Tidak, mereka dan kamu akan baik-baik saja. Yakinlah, bayi kita pasti kuat,” kata Langit begitu menenangkan.“I love you,” bisik Langit yang terus menguatkan Melody.“love you too,” balas Melody.Selama proses persalinan berlangsung, tiada henti Langit dan Melody berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.Tangis bayi pertama terdengar, dan itu memb

  • LANGIT penuh MELODY   124. ISTRI CEMBURU

    Nada mencium pipi Melody dan meninggalkan Langit yang sudah menghampiri istrinya, lelaki itu membawa sebuket bunga mawar.“Untukmu,” kata Langit tersenyum.“Siapa yang memintamu kemari?” tanya Melody menerima bunga tersebut.“Aku sendiri,” jawabnya, “aku saaaaaangat merindukan istriku.”Rayuan Langit mulai keluar, dan sepertinya lelaki itu sudah kembali lagi. Tidak marah dan melarangnya, dan itu sedikit membuat Melody tersenyum.“Maaf,” kata Langit menggenggam tangan Melody, dia tahu kalau terlalu berlebihan dan membuat kesal.“Aku juga minta maaf,” jawab Melody yang tidak memahami jika berada di posisi Langit.Melody memeluk Langit, berbaikan memang membuat bahagia. Dan mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.“Aku pengen itu,” tunjuk Melody mainan motor bergambar boneka.“Kamu mau naik?” tanya Langit.“Nggak,” geleng Melody.“Lalu?”“Aku mau kamu yang naikin dan keliling di sekitar sini,” minta Melody menatap Langit.Langit tersenyum. “Kita naik berdua, ya,” bujuk

  • LANGIT penuh MELODY   123. TIDUR DI LUAR

    Melody tentu tidak ingin mengalah dalam hal ini, dia juga ingin bebas melakukan apa pun dan dia juga tahu batasan seperti apa yang harus dia lakukan. Baik Melody dan Langit saling tatap, menunjukkan betapa kerasnya keinginan mereka. Sampai akhirnya Langit memilih untuk mengalah lebih dulu.“Cepat selesaikan dan aku tunggu di sini,” ujar Langit berdiri layaknya satpam penjaga.“Terserah, dan jangan ganggu aku,” balas Melody dengan sengit.Melody kembali melakukan rutinitasnya untuk mencoba resep baru yang dia buat secara dadakan, karena yang dadakan biasanya jauh lebih enak rasanya.Langit tampak mengeraskan wajahnya, tak ada raut wajah keramahan maupun senyuman. Hal itu karena Melody masih sibuk saja sejak tadi, mondar mandir ke sana kemari tanpa lelah.“Satu jam kita pulang,” tegas Langit tak terbantahkan.“Sudah aku bilang jangan menganggukku,” balas Melody kembali kesal.“Aku sudah mengizinkanku, dan saat ini pulanglah. Sudah dua jam kamu tidak duduk dan istirahat, ingatla

  • LANGIT penuh MELODY   122. PERTENGKARAN PERTAMA

    Melody cemberut, dia terlalu bosan karena tidak melakukan apa pun. Ingin ini tidak boleh, ingin itu juga sama. Semuanya tidak boleh. Melody duduk di sofa, melipat kedua tangan di depan dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Membosankan sekali jika setiap hari harus seperti ini, belum lagi dia tidak boleh menyetir sendiri. “Sayang,” panggil Nada yang mengunjungi Melody. Nada dan Ivander datang, itu karena mereka mendapatkan kabar kalau Melody sudah mengandung. Nada memeluk Melody karena bahagia sebentar lagi dia akan menimang cucu. “Bunda bawain beberapa buah dan makanan kesukaan kamu,” kata Nada menunjuk paperbag besar. “Kamu kenapa cemberut? Tidak dapat jatah semalam?” cetus Ivander asal, dan mendapatkan tatapan tajam dari Melody. “Dasar ayah menyebalkan,” keluh Melody membuang muka, tak ingin menatap Ivander. “Ayah kamu hanya bercanda, makan sini,” bujuk Nada dan menatap Ivander dengan mengerutu pelan, sedangkan sang suami hanya menaikan kedua bahunya. Mel

  • LANGIT penuh MELODY   121. KEJUTAN DI PAGI HARI

    Melody tidak menyangka akan diberikan kepercayaan untuk memiliki bayi, padahal baru sebulanan dia menikah dan sudah positif hamil. Dia sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan. Dua garis merah.Hasil test pack tersebut terlihat jelas, dan ini akan menjadi berita bahagia sekaligus kejutan untuk Langit pagi ini. Melody mengusap air mata, tanda kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.Tampak Langit masih terlelap tidur, Melody sengaja tidak membangunkan suaminya karena hari ini libur. Biarlah Langit istirahat setelah pekerjaan padat yang selalu dia kerjakan selama ini.Melody turun lebih dulu, membuatkan sarapan sandwich dan susu hangat. Dia sudah mulai biasa melayani segala kebutuhan Langit, mulai dari berangkat kerja, sarapan dan masih banyak lagi yang ingin Melody berikan pada Langit sebagai wujud rasa cintanya.“Biar aku aja,” kata Melody menyiapkan sendiri.“Baik, Nona,” jawab pelayan bernama Nela.Nela hanya membantu Melody menyiapkan bahan-bahan

  • LANGIT penuh MELODY   120. DURIAN

    Selama perjalanan, Melody menggenggam tangan Langit supaya lelaki itu lebih tenang lagi. Tadi Awan memberitahu kalau Darel mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah sakit, dan belum diketahui kondisi selanjutnya bagaimana. Langit sendiri tak tenang, cemas dan tentu tak ingin terlambat datang. Dia tidak ingin seperti wanita yang baru saja dia temui, dia tidak ingin menyesal.“Kita berdoa supaya Papa baik-baik saja,” ujar Melody memeluk Langit untuk membuat lelaki itu sedikit tenang.“Aku hanya takut,” bisik Langit.“Yakinlah kalau Papa nggak apa-apa,” kata Melody juga khawatir pada Langit.Begitu sampai, Langit dan Melody langsung menuju rumah sakit di mana Darel dirawat. Terlihat Galaxy berada di depan ruangan dan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dan Langit buru-buru menghampirinya.“Papa di mana?” tanya Langit.“Dia ada di ...,”Langit langsung masuk ketika Galaxy menunjukkan kamarnya, tidak peduli perkataan lelaki itu yang belum selesai. Diikuti Galaxy dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status