Home / Romansa / LANGIT penuh MELODY / 04. CINTA HARUS MEMPERJUANGKAN

Share

04. CINTA HARUS MEMPERJUANGKAN

Author: Ryanty_tian
last update Huling Na-update: 2025-11-06 23:53:43

"Tapi aku nggak mau kamu sama Nesya, aku nggak setuju," balas Melody sudah memutuskan.

"Mel, jangan memperumit keadaan," ucap Alfred sangat hapal dengan sikap Melody.

"Selama janur kuning belum melengkung, kamu masih milik umum dan aku masih berhak atas diri kamu," tegas Melody dengan keras kepala.

"Melll," pinta Alfred dengan sangat, dia tahu saat ini Melody sedang bersikap nekat padanya.

"Kenapa? Kamu takut kalau pada akhirnya bisa jatuh cinta padaku," tantang Melody.

"Jangan seperti ini, kamu akan semakin sakit," balas Alfred mengingatkan Melody.

"Aku udah sakit sejak lama, dan hanya diam saja tanpa bisa memperjuangkan perasaanku," ujar Melody berdiri, "bersiap aja, aku nggak akan sungkan pada Nesya. Dia harus tahu kalau kamu adalah milikku!"

Melody meninggalkan Alfred tanpa mempedulikan lelaki itu yang masih ingin berbicara dengannya, Alfred sendiri meremas rambutnya dengan kasar. Bertahun-tahun dia bertahan, akhirnya sampai pada keadaan ini juga.

"Sialan," umpat Alfred.

"Anak sialan, berani mengumpat pada orang tua," kata Ivander begitu terkejut ketika datang ingin menghampiri keduanya.

"Anak om ngeselin," jawab Alfred pergi begitu saja.

"Dasar itu anak tidak berubah, kurang ajar" kata Ivander menggelengkan kepalanya, padahal dia ingin mengajak Alfred dan Melody nonton bola sambil makan popcorn yang sudah dia bawa.

Bagi Ivander, Alfred sudah seperti putranya sendiri. Alfred selalu menemani masa sulit Ivander dulu, begitu menghibur dan sedikit melupakan masalah berat dalam hidupnya.

Ivander berbalik dan menuju ke lantai atas, tentu menemui Melody untuk mengajaknya menonton bola. Keduanya memang sama-sama menggilai bola, tentu Alfred juga dan mereka bertiga sering nobar.

Ivander dan Melody menatap layar besar di depannya, acara bola sudah mulai. Tampak keduanya begitu serius menonton bola, apalagi club andalan mereka sedang bermain. Barcelona vs Real Madrid.

"Ayah," panggil Melody, tapi keduanya masih tetap serius menonton bola.

"Ada apa?" tanya Ivander sambil makan popcorn.

"Aku mencintai Alfred," cetus Melody memberanikan diri.

Perkataan Melody jauh lebih menggemparkan hati Ivander dibandingkan dengan gol dari club andalannya, bahkan Ivander langsung menoleh seketika. Rasanya tidak percaya kalau Melody bisa mencintai Alfred.

"Jangan bercanda, Honey," kata Ivander kini lebih serius menatap Melody.

"Aku serius, Ayah. Memang aku terlihat sedang bercanda, nggak, kan," jawab Melody memilih nekat menempuh jalan ini.

Melody hanya ingin memperjuangkan perasaannya, entah itu berhasil atau tidak. Yang jelas setidaknya Melody pernah berusaha, dan tidak ingin menyesali kebodohannya di masa lalu yang memilih memendam semuanya.

Kalau hancur, ya, hancur sekalian. Nanti tinggal bangkit dan jalani hidup kedepannya seperti apa, setidaknya Melody tahu bagaimana memperjuangkan seseorang yang dia cintai. Terdengar bodoh memang, dia sadar akan hal itu.

Hanya saja hati memang mengalahkan logika, dan Melody memilih untuk mengikuti hatinya yang mungkin berisiko untuk sakit hati.

"Kamu tahu kalau Alfred sudah memiliki kekasih dan dia akan melamarnya," kata Ivander memperjelas hal itu.

"Aku tahu, tapi aku tidak peduli," jawab Melody tetap pada pendiriannya.

"Ayah tidak menyetujui hal itu, tidak akan pernah," tolak Ivander dengan serius.

"Aku nggak peduli Ayah setuju atau tidak, yang jelas aku ingin memperjuangkan cintaku pada Alfred. Titik," balas Melody dengan tegas.

"Di luar sana masih banyak laki-laki lain, jangan Alfred," tegas Ivander dengan lantang.

"Kenapa? Karena Alfred udah memiliki tunangan, begitu maksud Ayah?" balas Melody tertawa, "mereka belum menikah, dan aku masih memiliki waktu untuk merebut Alfred dari Nesya!"

Ivander memiliki sikap keras, begitu pun dengan Melody. Lelaki itu hapal ketika sang putri sudah menginginkan suatu hal, terlihat dari cara pandang Melody saat ini.

"Kalau kamu mencintai Alfred, kenapa tidak sejak dulu kamu mengejar dia? Kenapa harus sekarang disaat Alfred sudah memiliki hubungan serius?" tanya Ivander mempertanyakan hal itu.

"Itu karena kebodohan yang aku lakukan, dan aku terlambat menyadarinya. Harusnya sejak dulu aku melakukan hal ini, dengan bodohnya aku malah memendam perasaan ini karena takut Alfred akan menjauh dan membenciku," cerita Melody pada Ivander untuk pertama kalinya.

"Dan kamu semakin bodoh mengambil risiko untuk sakit hati," cetus Ivander mengingatkan Melody.

Melody tahu, sangat tahu. "Bukankah cinta harus memperjuangkan? ...,"

"Itu kalau kalian sama-sama berjuang, berbeda kalau hanya satu saja. Pihak yang berjuang hanya akan sakit hati karena yang diperjuangkan tidak ikut memperjuangkan cintanya," potong Ivander lebih dulu.

"Tapi aku nggak ingin menyesal, Yah. Cukup satu kali kebodohanku terjadi dulu, sekarang aku nggak akan menyerah. Entah bagaimana hasilnya, aku nggak peduli," balas Melody tidak ingin kalah.

Ivander menghembuskan napasnya dengan kasar, selama ini lelaki itu selalu memantau setiap laki-laki yang dekat dengan putrinya. Mengambil jalan pintas jika dirasa lelaki itu hanya mengambil kesempatan dalam kesempitan saja, atau kalau tidak mereka menginginkan harta yang dimiliki oleh Melody.

Ivander mengenal Alfred, tapi masih belum bisa memberikan kepercayaan jika hal itu menyangkut dengan Melody. Rasanya masih begitu berat mempercayakan Melody pada lelaki lain, kecuali dirinya.

"Sekali aja, Yah. Biarkan aku melakukan apa yang menjadi keinginanku saat ini, biarkan aku mengejar apa yang menjadi impianku," pinta Melody memohon pada Ivander.

"Ayah hanya tidak ingin kamu menderita, Honey," jawab Ivander menatap Melody dengan sendu.

Hal itu mengingatkan Ivander pada perjuangan Nada dulu demi dirinya, meski ini kasus yang berbeda tapi tetap saja itu akan menyakitkan. Kecuali kalau Alfred juga memiliki perasaan yang sama, Ivander masih bisa mempertimbangkan hal itu.

"Melo akan berhenti jika memang udah berada pada batasnya," ucap Melody dengan yakin.

"Kenapa putri Ayah sudah sebesar ini? Dan tambah keras kepala," kata Ivander antara terharu dan kesal dengan keputusan Melody saat ini.

"Melo mohon," pinta Melody menatap Ivander meminta persetujuan.

Ivander terkadang melupakan kalau Melody sudah dewasa saat ini, baginya Melody masih putri kecilnya yang menggemaskan. Sikap overprotektife Ivander memang bentuk kekhawatiran yang berlebih, tapi setiap Ayah pasti juga pernah merasakan di posisi Ivander saat ini.

Khawatir kalau sang putri tidak bahagia bersama lelaki lain, tidak mendapatkan cukup kasih sayang, tidak dihargai dan dicintai layaknya seorang ayah. Takut akan hidup menderita dan masih banyak lagi tertanam dalam benak Ivander, dia hanya terlalu sayang pada Melody melebihi apa pun.

Ivander ingin memastikan Melody mendapatkan lelaki yang sungguh mencintai dia dengan tulus tanpa pamrih, lelaki yang mampu membuat Melody bahagia memilikinya. Dan tentu saja mampu memperjuangkan cintanya pada Melody.

"Ayah memberikan kamu satu kali kesempatan, dan tidak ada tawar menawar lagi," putus Ivander memilih untuk mengalah sesaat, tapi dia tetap akan memantau segalanya.

"Beneran, Yah?" tanya Melody langsung merasa bahagia, dan memeluk Ivander.

"Hanya satu kali saja," jawab Ivander membuat Melody langsung cium pipi sang Ayah karena begitu bahagia.

"Tapi kamu harus ingat satu hal," tegas Ivander membuat Melody menelan salivanya, "jika kamu gagal dan putus asa, kamu harus bangkit dan berusaha sendiri untuk menyembuhkan hatimu. Jangan menjadi wanita lemah, tunjukkan pada Alfred kalau kamu wanita yang berharga untuk diperjuangkan!"

"Baik, Ayah," peluk Melody dengan erat.

Ivander mengusap rambut Melody, mendekap hangat sang putri. "Tapi Ayah tidak akan sungkan jika Alfred menyakiti kamu lebih jauh, tidak peduli meski aku mengenal baik keluarga mereka!"

"Jangan apa-apain dia, Yah," keluh Melody yang masih berada dalam pelukan Ivander.

"Tergantung cara Ayah melihatnya seperti apa, dan itu bukan urusan kamu. Fokus saja apa yang menjadi tujuanmu," balas Ivander dengan tegas.

"Baiklah, tapi awas aja kalau Ayah macam-macam sama Alfred," ancam Melody.

"Paling meremukkan tulangnya," cetus Ivander asal.

"Ayah," teriak Melody dan Ivander hanya tertawa.

Dibalik celah pintu, Nada hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Tampak masalah keduanya sudah terselesaikan, Nada sendiri sebenarnya khawatir pada Melody. Hal itu sama dengan perasaan tak terbalas dirinya dulu pada Ivander, tapi beruntung berakhir bahagia.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • LANGIT penuh MELODY   125. DUNIA PENUH CINTA TANPA BATAS (ENDING)

    Dalam perjalanan, air ketuban Melody sudah pecah dan Langit menghubungi dokter Miranda untuk segera memberikan penanganan ketika Melody sampai di rumah sakit.Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini juga Melody harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi mereka. Langit sudah menghubungi orangtua Melody dan orangtuanya sendiri, tentu Langit sudah sangat cemas karena melihat Melody begitu kesakitan tadi.“Tenanglah, ada aku di sini,” kata Langit mencium tangan Melody cukup lama, dan menemaninya selama proses persalinan.“Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita,” jawab Melody sedih.“Tidak, mereka dan kamu akan baik-baik saja. Yakinlah, bayi kita pasti kuat,” kata Langit begitu menenangkan.“I love you,” bisik Langit yang terus menguatkan Melody.“love you too,” balas Melody.Selama proses persalinan berlangsung, tiada henti Langit dan Melody berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.Tangis bayi pertama terdengar, dan itu memb

  • LANGIT penuh MELODY   124. ISTRI CEMBURU

    Nada mencium pipi Melody dan meninggalkan Langit yang sudah menghampiri istrinya, lelaki itu membawa sebuket bunga mawar.“Untukmu,” kata Langit tersenyum.“Siapa yang memintamu kemari?” tanya Melody menerima bunga tersebut.“Aku sendiri,” jawabnya, “aku saaaaaangat merindukan istriku.”Rayuan Langit mulai keluar, dan sepertinya lelaki itu sudah kembali lagi. Tidak marah dan melarangnya, dan itu sedikit membuat Melody tersenyum.“Maaf,” kata Langit menggenggam tangan Melody, dia tahu kalau terlalu berlebihan dan membuat kesal.“Aku juga minta maaf,” jawab Melody yang tidak memahami jika berada di posisi Langit.Melody memeluk Langit, berbaikan memang membuat bahagia. Dan mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.“Aku pengen itu,” tunjuk Melody mainan motor bergambar boneka.“Kamu mau naik?” tanya Langit.“Nggak,” geleng Melody.“Lalu?”“Aku mau kamu yang naikin dan keliling di sekitar sini,” minta Melody menatap Langit.Langit tersenyum. “Kita naik berdua, ya,” bujuk

  • LANGIT penuh MELODY   123. TIDUR DI LUAR

    Melody tentu tidak ingin mengalah dalam hal ini, dia juga ingin bebas melakukan apa pun dan dia juga tahu batasan seperti apa yang harus dia lakukan. Baik Melody dan Langit saling tatap, menunjukkan betapa kerasnya keinginan mereka. Sampai akhirnya Langit memilih untuk mengalah lebih dulu.“Cepat selesaikan dan aku tunggu di sini,” ujar Langit berdiri layaknya satpam penjaga.“Terserah, dan jangan ganggu aku,” balas Melody dengan sengit.Melody kembali melakukan rutinitasnya untuk mencoba resep baru yang dia buat secara dadakan, karena yang dadakan biasanya jauh lebih enak rasanya.Langit tampak mengeraskan wajahnya, tak ada raut wajah keramahan maupun senyuman. Hal itu karena Melody masih sibuk saja sejak tadi, mondar mandir ke sana kemari tanpa lelah.“Satu jam kita pulang,” tegas Langit tak terbantahkan.“Sudah aku bilang jangan menganggukku,” balas Melody kembali kesal.“Aku sudah mengizinkanku, dan saat ini pulanglah. Sudah dua jam kamu tidak duduk dan istirahat, ingatla

  • LANGIT penuh MELODY   122. PERTENGKARAN PERTAMA

    Melody cemberut, dia terlalu bosan karena tidak melakukan apa pun. Ingin ini tidak boleh, ingin itu juga sama. Semuanya tidak boleh. Melody duduk di sofa, melipat kedua tangan di depan dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Membosankan sekali jika setiap hari harus seperti ini, belum lagi dia tidak boleh menyetir sendiri. “Sayang,” panggil Nada yang mengunjungi Melody. Nada dan Ivander datang, itu karena mereka mendapatkan kabar kalau Melody sudah mengandung. Nada memeluk Melody karena bahagia sebentar lagi dia akan menimang cucu. “Bunda bawain beberapa buah dan makanan kesukaan kamu,” kata Nada menunjuk paperbag besar. “Kamu kenapa cemberut? Tidak dapat jatah semalam?” cetus Ivander asal, dan mendapatkan tatapan tajam dari Melody. “Dasar ayah menyebalkan,” keluh Melody membuang muka, tak ingin menatap Ivander. “Ayah kamu hanya bercanda, makan sini,” bujuk Nada dan menatap Ivander dengan mengerutu pelan, sedangkan sang suami hanya menaikan kedua bahunya. Mel

  • LANGIT penuh MELODY   121. KEJUTAN DI PAGI HARI

    Melody tidak menyangka akan diberikan kepercayaan untuk memiliki bayi, padahal baru sebulanan dia menikah dan sudah positif hamil. Dia sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan. Dua garis merah.Hasil test pack tersebut terlihat jelas, dan ini akan menjadi berita bahagia sekaligus kejutan untuk Langit pagi ini. Melody mengusap air mata, tanda kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.Tampak Langit masih terlelap tidur, Melody sengaja tidak membangunkan suaminya karena hari ini libur. Biarlah Langit istirahat setelah pekerjaan padat yang selalu dia kerjakan selama ini.Melody turun lebih dulu, membuatkan sarapan sandwich dan susu hangat. Dia sudah mulai biasa melayani segala kebutuhan Langit, mulai dari berangkat kerja, sarapan dan masih banyak lagi yang ingin Melody berikan pada Langit sebagai wujud rasa cintanya.“Biar aku aja,” kata Melody menyiapkan sendiri.“Baik, Nona,” jawab pelayan bernama Nela.Nela hanya membantu Melody menyiapkan bahan-bahan

  • LANGIT penuh MELODY   120. DURIAN

    Selama perjalanan, Melody menggenggam tangan Langit supaya lelaki itu lebih tenang lagi. Tadi Awan memberitahu kalau Darel mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah sakit, dan belum diketahui kondisi selanjutnya bagaimana. Langit sendiri tak tenang, cemas dan tentu tak ingin terlambat datang. Dia tidak ingin seperti wanita yang baru saja dia temui, dia tidak ingin menyesal.“Kita berdoa supaya Papa baik-baik saja,” ujar Melody memeluk Langit untuk membuat lelaki itu sedikit tenang.“Aku hanya takut,” bisik Langit.“Yakinlah kalau Papa nggak apa-apa,” kata Melody juga khawatir pada Langit.Begitu sampai, Langit dan Melody langsung menuju rumah sakit di mana Darel dirawat. Terlihat Galaxy berada di depan ruangan dan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dan Langit buru-buru menghampirinya.“Papa di mana?” tanya Langit.“Dia ada di ...,”Langit langsung masuk ketika Galaxy menunjukkan kamarnya, tidak peduli perkataan lelaki itu yang belum selesai. Diikuti Galaxy dan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status