Share

05. DUA WANITA

Author: Ryanty_tian
last update Last Updated: 2025-11-06 23:55:17

Nada tahu rasa sakitnya seperti apa dan tahu rasanya ditahan juga seperti apa, maka dari itu Nada tidak ingin melarang ataupun menyetujuinya. Biarlah Melody berusaha dan juga memperjuangkan sesuatu dalam hidupnya, entah apa alasan Melody sampai menyimpan perasaan itu terlalu lama.

Padahal Melody tipe wanita yang langsung menyampaikan perasaannya seperti apa, dan itu membuat Nada penasaran tapi dia tidak ingin terlalu ikut campur lebih jauh. Cukup Nada selalu memantau dan tetap melindungi Melody, memastikan semuanya berjalan pada mestinya.

Nada tidak ingin memanjakan Melody, tidak ingin sang anak hanya bergantung pada orang tua dalam mengambil keputusan. Orang tua boleh ikut campur hanya sekedar memberi nasehat yang baik dan mengarahkan jika hal tersebut memang salah.

Sementara itu, Alfred merasa resah sendiri dengan pernyataan Melody. Dia sangat hapal bagaimana sikap sang sahabat jika keras kepalanya sudah muncul, dan itu membuat Alfred cemas bukan main.

"Sialan memang," umpat Alfred pada dirinya.

Alfred sendiri bingung bagaimana perasaannya pada Melody seperti apa, karena batas itu terasa tipis sekali. Hanya saja Alfred juga mencintai Nesya, apa mungkin dia bisa mencintai wanita dalam satu waktu?

Alfred hanya takut rasa yang dia rasakan pada Melody hanya sebatas rasa sayang sebagai sahabat, dan tidak lebih. Hal itu pasti akan membuat persahabatannya dengan Melody otomatis rusak, tapi di sisi lain Alfred juga egois tidak ingin kehilangan dan tidak ingin jauh dari Melody meski dia memiliki Nesya

"Kenapa berurusan dengan wanita selalu merepotkan?" keluh Alfred menutup tubuhnya dengan selimut tebal.

Alfred sudah melamar Nesya, dan wanita itu menerima lamarannya dengan senang hati. Keduanya tampak bahagia dan memutuskan untuk jalan-jalan sebentar, tapi ternyata Alfred malah pergi untuk membeli gaun.

"Pilihlah gaun yang kamu suka," ucap Alfred membawa Nesya di salah satu Butik terbesar di kota ini.

"Ada acara apa, sih, Sayang? Kenapa harus beli gaun segala?" tanya Nesya memeluk mesra lengan Alfred.

"Nggak ada acara apa pun, hanya ingin membelikanmu gaun aja," jawab Alfred ingin merahasiakan hal ini lebih dulu.

"Bohong," goda Nesya dengan manja.

Alfred memberantakkan rambut Nesya, membuat wanita berambut pendek itu mengerucutkan bibirnya. "Aku cium nanti kalau kamu banyak protes," ancam Alfred membuat Nesya tersenyum malu.

"Baiklah," jawab Nesya mulai berkeliling dan Alfred lebih memilih menunggu di sofa sambil melihat beberapa pekerjaan di tablet yang dia bawa.

Nesya berkeliling, melihat dan memilih beberapa gaun. Terdapat banyak gaun yang begitu bagus, membuatnya bingung untuk memilih yang mana. Sampai saat dia menyentuh satu gaun yang menurutnya begitu cantik dan elegan, tapi disaat itu juga ada tangan seseorang yang juga menginginkan gaun itu.

"Aku yang lebih dulu menyentuhnya," kata Melody menatap tajam pada Nesya.

"Nggak, aku yang lebih dulu menginginkan gaun ini," balas Nesya tidak ingin kalah.

Nesya sejak dulu memang tidak menyukai Melody, wanita itu selalu saja menempel pada Alfred padahal dia tahu kalau sudah memiliki pacar. Nesya juga kesal karena Alfred diam saja dan tidak menegur Melody sama sekali, padahal dirinya sudah protes dan cemburu. Tapi Alfred menjelaskan kalau dia dan Melody hanya berteman saja.

Selama ini Nesya hanya diam dan cukup bersabar, tapi tidak kali ini. Alfred dan dirinya sudah bertunangan, tentu Nesya memiliki hak untuk melarang Melody dekat dengan sang kekasih.

"Kamu lihat ini," ucap Nesya menunjukkan cincin yang melingkar di jari kirinya pada Melody, "aku dan Alfred sudah tunangan, dan jangan mendekati dia," tegas Nesya begitu posesif pada Alfred.

"Baru tunangan, belum menikah, kan? Jadi, aku masih memiliki peluang untuk merebut Alfred darimu," balas Melody membuat Nesya membuka mulutnya karena terkejut.

"Kamu gila, kamu ingin merusak hubungan orang. Dasar wanita nggak tahu diri, Alfred pasti malu memiliki teman sepertimu," ejek Nesya sungguh tidak menyangka kalau Melody akan nekat seperti ini, padahal dia sudah memberikan peringatan sebelumnya.

"Alfred tahu hal ini, dan dia nggak melarangku," balas Melody dengan santai, bahkan mengangkat kedua bahunya.

Nesya semakin terkejut, sungguh dia ingin marah dan kesal berada dalam situasi ini. Alfred yang tidak bisa tegas memilih Nesya ataupun Melody, dan selalu saja berujung pertengkaran di antara mereka jika membahas Melody.

"Berhentilah bersikap murahan, Alfred nggak akan pernah meninggalkanku," seru Nesya menatap Melody dengan tajam.

"Dan Alfred juga nggak akan pernah meninggalkanku. Ingatlah! Kedudukan kita sama di sini, jangan berlagak kamu bisa memiliki Alfred sepenuhnya," balas Melody menaikkan sudut bibirnya, terlihat sinis menatap sengit Nesya.

"Apa kamu nggak punya harga diri sebagai wanita?" hina Nesya yang kini berubah berani pada Melody.

Melody hanya menaikkan sudut bibirnya, maju beberapa langkah mendekati Nesya. "Gimana kalau Alfred pernah tidur denganku?" kata Melody dengan puas melihat ekspresi wajah Nesya.

Tampak Nesya menahan amarah dalam jiwanya, mengepalkan kedua tangan karena Melody selalu saja mengganggu hubungannya dengan Alfred. Tapi Nesya tidak boleh lemah, dirinya yang lebih berkuasa di sini.

"Kamu tahu kenapa Alfred nggak bisa meninggalkanku? Meski kamu memohon padanya," kata Nesya membalik keadaan, "Alfred adalah lelaki baik yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Nesya mendekat dan berbisik pada Melody. "Kami pernah menghabiskan malam bersama, dan Alfred berjanji akan menikahiku," tegas Nesya.

"Jadi, berhentilah membual tentang kamu yang pernah tidur dengan Alfred. Dasar pembohong," tuduh Nesya merasa menang.

Kini Melody ganti yang terbakar emosi, Nesya kini berubah menjadi kucing liar yang dulunya begitu jinak. Hal itu membuat Melody semakin susah merebut Alfred, padahal dia yakin dengan mudah karena Nesya adalah wanita lemah.

"Melo," panggil Alfred yang mencari Nesya, tapi ternyata malah bertemu keduanya.

"Hai," sapa Melody seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam dengan mereka.

"Kamu kenapa kesini?" tanya Alfred sedikit takut Melody berbicara kasar pada Nesya.

"Tentu ingin menemui kamu, bukankah semalam aku mengatakan kalau aku mencintaimu. Aku hanya mempertegas pada Nesya," jawab Melody dengan santai, membuat Alfred terkejut bukan main.

Nesya sudah lebih dulu menatap Alfred dengan tajam. "Melody semakin nggak tahu diri, kesabaranku udah habis, Al!" tegas Nesya, "kamu pilih dia atau aku?"

Alfred tidak langsung menjawab, tampak berpikir. Dan itu membuat Nesya tidak sabar dan meninggalkan keduanya, sungguh kesal hati Nesya selalu diperlakukan seperti ini.

"Nes ... Nesya, tunggu. Nesya," teriak Alfred memanggil Nesya, tapi ditahan oleh Melody.

"Biarkan aja," kata Melody membuat Alfred berbalik.

"Mel, kamu jangan keterlaluan. Hubunganku dan Nesya bukanlah mainan," balas Alfred kesal karena Melody pasti mengatakan sesuatu pada Nesya.

"Emang kamu kira perasaanku mainan, enggak, Al. Aku sayang dan cinta sama kamu," cetus Melody tanpa ada rasa malu.

Alfred semakin frustrasi dalam hal ini, rasa kesal, marah dan juga bingung. Ingin mempertahankan, tapi tak ingin kehilangan.

"Sekarang kamu tinggal pilih sesuai perkataan Nesya tadi, kamu pilih siapa?" tanya Melody mendekat pada Alfred.

"Aku nggak bisa memilih, kamu dan Nesya sama-sama berarti dalam hatiku," jawab Alfred jujur.

Melody menghembuskan napasnya dengan kasar. "Kamu ingin aku berjuang atau menyerah?"

"Meelllll," mohon Alfred tak siap memilih siapa pun.

"Kalau kamu ingin aku berjuang dan memberiku kesempatan, aku akan tetap stay. Tapi jika kamu memilih untuk menyerah, aku akan pergi dan goodbye untuk persahabatan kita," jawab Melody sungguh pilihan yang teramat sulit.

"Kamu nggak boleh pergi dariku, Mel. Sampai kapan pun," kata Alfred yang tidak ingin kehilangan Melody.

"Kalau begitu tinggalkan Nesya, dan belajar mencintaiku," tegas Melody yang tak ingin kalah.

Alfred meremas rambutnya dengan kasar. "Aku nggak bisa, aku mencintai Nesya," jawab Alfred sama tegasnya ketika meminta Melody untuk tidak meninggalkan dirinya.

"Kalau begitu jangan halangi aku untuk merebutmu dari Nesya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • LANGIT penuh MELODY   125. DUNIA PENUH CINTA TANPA BATAS (ENDING)

    Dalam perjalanan, air ketuban Melody sudah pecah dan Langit menghubungi dokter Miranda untuk segera memberikan penanganan ketika Melody sampai di rumah sakit.Setelah menjalani pemeriksaan, hari ini juga Melody harus melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan bayi mereka. Langit sudah menghubungi orangtua Melody dan orangtuanya sendiri, tentu Langit sudah sangat cemas karena melihat Melody begitu kesakitan tadi.“Tenanglah, ada aku di sini,” kata Langit mencium tangan Melody cukup lama, dan menemaninya selama proses persalinan.“Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita,” jawab Melody sedih.“Tidak, mereka dan kamu akan baik-baik saja. Yakinlah, bayi kita pasti kuat,” kata Langit begitu menenangkan.“I love you,” bisik Langit yang terus menguatkan Melody.“love you too,” balas Melody.Selama proses persalinan berlangsung, tiada henti Langit dan Melody berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.Tangis bayi pertama terdengar, dan itu memb

  • LANGIT penuh MELODY   124. ISTRI CEMBURU

    Nada mencium pipi Melody dan meninggalkan Langit yang sudah menghampiri istrinya, lelaki itu membawa sebuket bunga mawar.“Untukmu,” kata Langit tersenyum.“Siapa yang memintamu kemari?” tanya Melody menerima bunga tersebut.“Aku sendiri,” jawabnya, “aku saaaaaangat merindukan istriku.”Rayuan Langit mulai keluar, dan sepertinya lelaki itu sudah kembali lagi. Tidak marah dan melarangnya, dan itu sedikit membuat Melody tersenyum.“Maaf,” kata Langit menggenggam tangan Melody, dia tahu kalau terlalu berlebihan dan membuat kesal.“Aku juga minta maaf,” jawab Melody yang tidak memahami jika berada di posisi Langit.Melody memeluk Langit, berbaikan memang membuat bahagia. Dan mereka memutuskan untuk jalan-jalan sebentar.“Aku pengen itu,” tunjuk Melody mainan motor bergambar boneka.“Kamu mau naik?” tanya Langit.“Nggak,” geleng Melody.“Lalu?”“Aku mau kamu yang naikin dan keliling di sekitar sini,” minta Melody menatap Langit.Langit tersenyum. “Kita naik berdua, ya,” bujuk

  • LANGIT penuh MELODY   123. TIDUR DI LUAR

    Melody tentu tidak ingin mengalah dalam hal ini, dia juga ingin bebas melakukan apa pun dan dia juga tahu batasan seperti apa yang harus dia lakukan. Baik Melody dan Langit saling tatap, menunjukkan betapa kerasnya keinginan mereka. Sampai akhirnya Langit memilih untuk mengalah lebih dulu.“Cepat selesaikan dan aku tunggu di sini,” ujar Langit berdiri layaknya satpam penjaga.“Terserah, dan jangan ganggu aku,” balas Melody dengan sengit.Melody kembali melakukan rutinitasnya untuk mencoba resep baru yang dia buat secara dadakan, karena yang dadakan biasanya jauh lebih enak rasanya.Langit tampak mengeraskan wajahnya, tak ada raut wajah keramahan maupun senyuman. Hal itu karena Melody masih sibuk saja sejak tadi, mondar mandir ke sana kemari tanpa lelah.“Satu jam kita pulang,” tegas Langit tak terbantahkan.“Sudah aku bilang jangan menganggukku,” balas Melody kembali kesal.“Aku sudah mengizinkanku, dan saat ini pulanglah. Sudah dua jam kamu tidak duduk dan istirahat, ingatla

  • LANGIT penuh MELODY   122. PERTENGKARAN PERTAMA

    Melody cemberut, dia terlalu bosan karena tidak melakukan apa pun. Ingin ini tidak boleh, ingin itu juga sama. Semuanya tidak boleh. Melody duduk di sofa, melipat kedua tangan di depan dan mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Membosankan sekali jika setiap hari harus seperti ini, belum lagi dia tidak boleh menyetir sendiri. “Sayang,” panggil Nada yang mengunjungi Melody. Nada dan Ivander datang, itu karena mereka mendapatkan kabar kalau Melody sudah mengandung. Nada memeluk Melody karena bahagia sebentar lagi dia akan menimang cucu. “Bunda bawain beberapa buah dan makanan kesukaan kamu,” kata Nada menunjuk paperbag besar. “Kamu kenapa cemberut? Tidak dapat jatah semalam?” cetus Ivander asal, dan mendapatkan tatapan tajam dari Melody. “Dasar ayah menyebalkan,” keluh Melody membuang muka, tak ingin menatap Ivander. “Ayah kamu hanya bercanda, makan sini,” bujuk Nada dan menatap Ivander dengan mengerutu pelan, sedangkan sang suami hanya menaikan kedua bahunya. Mel

  • LANGIT penuh MELODY   121. KEJUTAN DI PAGI HARI

    Melody tidak menyangka akan diberikan kepercayaan untuk memiliki bayi, padahal baru sebulanan dia menikah dan sudah positif hamil. Dia sampai menutup mulutnya, tidak percaya dengan hasil yang dia dapatkan. Dua garis merah.Hasil test pack tersebut terlihat jelas, dan ini akan menjadi berita bahagia sekaligus kejutan untuk Langit pagi ini. Melody mengusap air mata, tanda kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.Tampak Langit masih terlelap tidur, Melody sengaja tidak membangunkan suaminya karena hari ini libur. Biarlah Langit istirahat setelah pekerjaan padat yang selalu dia kerjakan selama ini.Melody turun lebih dulu, membuatkan sarapan sandwich dan susu hangat. Dia sudah mulai biasa melayani segala kebutuhan Langit, mulai dari berangkat kerja, sarapan dan masih banyak lagi yang ingin Melody berikan pada Langit sebagai wujud rasa cintanya.“Biar aku aja,” kata Melody menyiapkan sendiri.“Baik, Nona,” jawab pelayan bernama Nela.Nela hanya membantu Melody menyiapkan bahan-bahan

  • LANGIT penuh MELODY   120. DURIAN

    Selama perjalanan, Melody menggenggam tangan Langit supaya lelaki itu lebih tenang lagi. Tadi Awan memberitahu kalau Darel mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah sakit, dan belum diketahui kondisi selanjutnya bagaimana. Langit sendiri tak tenang, cemas dan tentu tak ingin terlambat datang. Dia tidak ingin seperti wanita yang baru saja dia temui, dia tidak ingin menyesal.“Kita berdoa supaya Papa baik-baik saja,” ujar Melody memeluk Langit untuk membuat lelaki itu sedikit tenang.“Aku hanya takut,” bisik Langit.“Yakinlah kalau Papa nggak apa-apa,” kata Melody juga khawatir pada Langit.Begitu sampai, Langit dan Melody langsung menuju rumah sakit di mana Darel dirawat. Terlihat Galaxy berada di depan ruangan dan sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel, dan Langit buru-buru menghampirinya.“Papa di mana?” tanya Langit.“Dia ada di ...,”Langit langsung masuk ketika Galaxy menunjukkan kamarnya, tidak peduli perkataan lelaki itu yang belum selesai. Diikuti Galaxy dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status