LOGINNada lebih tenang dan ingin menyampaikan langsung pada Langit tentang hal ini. Rasa yang sudah lama dia pendam, dan akhirnya bisa dia keluarkan.“Aku tidak bisa merangkai kata, dan aku hanya bisa mengucapkan beribu terima kasih pada Ibu kamu,” ucap Nada kembali berkaca-kaca.“Dan maaf karena hal itu, kamu harus kehilangan seorang ibu dan kasih sayangnya, maaf,” lanjut Nada kembali menangis.Nada dulu ingin tahu siapa pendonornya, dan dia terkejut karena Melani sudah meninggal setelah mendonorkan ginjalnya. Nada merasa sedih dan bersalah, bukan karena Melani yang meninggal.Tapi karena Melani meninggal pasti membuat keluarganya sedih, bisa dibayangkan bagaimana kehilangan itu terasa begitu pilu. Ditinggal seseorang yang kita cintai, meski dengan alasan apa pun akan tetap terasa menyakitkan.Nada tak dapat membayangkan bagaimana kehidupan Langit setelah kehilangan Melani, apalagi umurnya masih terlalu kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Dan Langit sudah kehilangan itu.
“Aku harap kita bisa berteman lagi seperti dulu,” pinta Alfred tak ingin kehilangan Melody meski hanya sebagai teman. “Tentu, kita akan tetap bersahabat,” jawab Melody begitu lega ketika hubungan dirinya dan Alfred bisa kembali seperti dulu. Alfred adalah sahabat yang baik, separuh hidupnya bersama lelaki itu. Meski saling menyakiti dan egois, tapi sahabat tetaplah sahabat. “Semoga kamu berbahagia dengan Langit,” pinta Alfred dengan sekuat tenaga. “Tentu, dan aku harap kamu juga bisa bahagia,” balas Melody tersenyum. “Aku juga menginginkan kata bahagia itu,” ujar Alfred memaksakan senyumnya. Melody sedikit penasaran mengenai Nesya, apa yang terjadi dengan hubungan mereka? “Emm, Nesya gimana?” tanya Melody hanya ingin tahu saja. “Dia hamil, dan aku ragu kalau itu adalah anakku,” jawab Alfred bimbang. Melody terkejut ternyata Nesya sudah hamil. “Ragu kenapa? Bukankah kalian sering melakukan hal itu?” “Kamu tahu?” Melody tertawa melihat keterkejutan yang d
Langit membuka laci yang di sampingnya, terlihat sebuah surat yang memang ditulis oleh sang Ibu. Ya, Langit sudah mengetahui surat wasiat yang dituliskan oleh Melani. Saat pulang bersama Melody, Langit sempat menanyakan hal itu pada Darel. Mereka bertemu dan sedikit berbicara perihal itu, dan lelaki itu juga ingin memastikan kalau itu memang keinginan sang Ibu.“Saya sudah tahu alasan dibalik meninggalnya, Ibu,” ucap Langit tak menunjukkan ekspresi apa pun pada Darel.Darel tentu terkejut karena Langit mengetahui hal ini, lelaki itu hanya tidak ingin Langit sedih karena kepergian Melani yang begitu tiba-tiba saat itu.“Apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Darel yang mungkin sudah saatnya Langit tahu semua tentang hal ini, dan bisa memperbaiki hubungan mereka.“Kenapa Anda menyembunyikan ini semua? Saya putra kalian, saya juga berhak untuk tahu hal itu!” tegas Langit menatap Darel dingin.“Maaf, aku hanya berpikir kamu terlalu kecil untuk tahu hal itu,” jawab Darel tersenyum masa
“Papa jangan bercanda,” jawab Alfred tertawa.“Papa serius, dulu Papa sangat mencintai Nada di saat wanita itu sudah menikah dengan Ivander. Papa juga berusaha keras meyakinkan tante Nada supaya kembali bersamaku,” cerita Alby.Alfred tidak menyangka kalau Alby juga merasakan hal yang sama dengannya saat ini, dan sungguh fakta yang membuat dirinya berakhir seperti Alby.“Tapi semua tetaplah tidak mudah, Nada mencintai Ivander lebih dari segalanya. Dan Nada terlihat begitu bahagia ketika bersama dia,” lanjutnya, “dan Papa lebih memilih merelakan hal itu, ikhlas melihat Nada bahagia dengan pilihannya. Memang berat, tapi pasti bisa terlewati.”“Apa aku harus merelakan Melo?” tanyanya.“Jika Melo sudah mencintai yang lain, maka relakan dia. Papa yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi,” jawab Alby menepuk pundak Alfred berkali-kali.Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh Alby, mungkin Alfred harus berusaha merelakan Melody untuk Langit. Melihat wanita itu bahagi
Telinga Langit merasa gatal mendengar desahan nikmat film yang ditonton oleh Melody, tampak wanita itu begitu serius menatap laptop tanpa berpaling sedikit pun. Apa Melody tidak merasakan apa pun ketika menonton film itu? “Dasar penakut, nonton film beginian aja takut,” ejek Melody bergumam sendiri. Mendengar Melody mengatakan hal itu tentu membuat Langit tidak terima, dia tidak takut dan hanya tak ingin terbawa suasana yang membuatnya melayang. “Padahal filmnya nggak melulu tentang begituan aja,” ujar Melody berbicara sendiri karena dia tahu kalau Langit sudah tertidur. “Sudah nontonnya, tidurlah,” kata Langit membuat Melody menoleh. “Berisik, ya,” jawab Melody melebarkan senyumnya. “Tidak berisik, tapi geli mendengarnya,” kata Langit menatap Melody yang tampak berbeda ketika seperti ini. “Ya, udah nggak usah dengar,” balas Melody kembali melihat film tersebut. “Saya punya telinga dan masih 100% mendengar dengan jelas,” sahut Langit langsung. “Tidur aja.”
“Iya, aku ingin melepas lelahku,” jawab Melody rasanya begitu lega meninggalkan Alfred dan mengungkapkan isi hatinya.“Kamu bilang apa nanti kalau ditanya sama ayah kamu?” tanya Langit memastikan.“Gampang, tinggal bilang pergi sama kamu,” jawab Melody dengan santai, “Ayah pasti udah mengerti, Honey. Kayak kita masih anak kecil aja.”“Baiklah kalau begitu.”Langit dan Melody saling bercerita dan mungkin saatnya dia ingin menanyakan perihal Darel pada Langit.“Memang hubunganmu dan papa kamu begitu buruk?” tanya Melody hanya menebak.“Bisa dikatakan begitu, sejak kecil saya selalu sendiri dan tidak mendapatkan kasih sayang darinya. Bahkan ketika Ibu pergi, dia malah semakin sibuk lalu menikah lagi. Saya selalu sendiri, entah itu sedih maupun senang. Dan satu-satunya yang menguatkan saya adalah gelang yang kamu berikan,” cerita Langit mengingat masa lalu yang sedikit menyedihkan.“Tante Roseline apa nggak memperlakukanmu dengan baik?” tanya Melody lagi, karena penasaran tentang h







