ログインKetegangan di ruang tamu kediaman Fortman mencapai titik didih yang menyesakkan. Dave Alen Parker, sang Serigala Perak yang asli, melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Gabriel dengan sentakan yang begitu kuat hingga pria arogan itu terhuyung mundur, menabrak meja hias hingga vas kristal di atasnya bergetar hebat."Beraninya kau menggunakan nama besar Wilson untuk melakukan penipuan murahan di rumah ini," suara Dave berdesis, dingin seperti angin kutub yang menusuk tulang.Keluarga Fortman terpaku dalam kebingungan yang pekat. Theresia menatap bolak-balik antara pria bertopeng perak dan tamu tak diundangnya. Melihat situasi yang mulai carut-marut, Luca Cassano melangkah maju dengan wibawa yang tenang, mengambil alih panggung untuk memberikan penjelasan yang diperlukan."Nyonya Fortman, Tuan-tuan," ucap Luca dengan nada formal. "Keluarga Wilson di Ostia adalah kerabat dekat Keluarga Parker melalui jalur darah. Mendiang ibu kandung Tuan Muda Alen Parker adalah Nona Muda Elsa
Langit Westalis perlahan berubah menjadi kelabu pekat, menandakan senja telah usai dan malam mulai mengambil alih. Di dalam kediaman Fortman, suasana awalnya tenang. Silvester, dengan sarung tangan putihnya, sedang menata peralatan makan perak di atas meja mahoni panjang. Denting porselen halus beradu dengan keheningan, sebelum akhirnya suara bel pintu yang berat memecah suasana.Nyonya Theresia Fortman, yang sedang sibuk tertawa kecil di telepon bersama teman-teman sosialitanya, memberikan isyarat tangan pada Silvester. "Buka pintunya, Silvester. Mungkin Celina atau Edward sudah pulang," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel pintarnya.Namun, saat pintu ganda jati itu terbuka, Silvester tidak mendapati wajah anggota keluarga Fortman. Di ambang pintu berdiri seorang pria muda yang tampak seumuran dengan Edward. Pakaiannya adalah setelan custom-made yang sangat mahal, namun aura yang terpancar darinya jauh dari kata ramah. Wajahnya tidak bisa dikatakan tampan secara klasik
Pagi di Westalis menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus jendela kaca patri kediaman Fortman. Di meja sarapan yang biasanya riuh dengan perdebatan bisnis, kini hanya terdengar denting sendok perak yang beradu dengan porselen mahal. Silvester berdiri tegak di sudut ruangan, menuangkan kopi dengan presisi seorang pelayan profesional saat Celina bergabung dengan Edward, Jolie, dan Nyonya Theresia.Suasana seketika berubah tegang saat Jesica muncul sambil memapah Arthur. Menantu favorit Theresia itu tampak seperti bayangan dari dirinya yang dulu; wajahnya pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam, dan ia duduk tanpa sepatah kata pun. Ia menunduk, menatap piringnya seolah-olah makanan di depannya adalah tumpukan duri.Edward, yang tidak tahan dengan ketidakpastian, meletakkan garpunya dengan dentuman kecil. "Arthur, sejujurnya, apa yang terjadi semalam? Kenapa kau berbohong pada Letnan David? Kami semua melihat moncong senjata itu di pelataran rumah kita!"Jolie menyambar,
Malam telah jatuh sepenuhnya di Westalis, menyelimuti kota dengan kabut tipis yang merayap di antara lampu-lampu jalan. Namun, di dalam kediaman Fortman, suasana justru mendidih oleh ketegangan. Isak tangis Jesica yang memilukan bergema di ruang tengah yang luas, memantul pada dinding-dinding marmer yang dingin. Seluruh keluarga berkumpul, duduk terpaku dengan wajah-wajah yang didera kecemasan luar biasa.Raungan sirine tiba-tiba membelah keheningan. Sebuah mobil patroli polisi berhenti tepat di depan gerbang. Letnan David Eve Dallas, seorang penyidik senior dengan tatapan mata yang setajam elang, melangkah masuk didampingi dua personel bersenjata. Edward segera menyambut mereka dengan gurat keletihan yang nyata.David melirik ke arah Jesica yang masih sesenggukan dalam pelukan ibunya, lalu menatap Edward dengan saksama. "Tuan Edward, laporkan secara rinci. Apa yang sebenarnya terjadi pada adik ipar Anda?"Edward menceritakan kronologi penculikan itu dengan suara yang sesekali berge
Langit Westalis mulai meredup, menyisakan semburat jingga kemerahan yang memudar di cakrawala. Edward, Arthur, Jolie, dan Jesica baru saja turun dari mobil mewah mereka dengan tawa yang membahana. Rapat dengan investor Belgia sukses besar; Arthur baru saja menunjukkan taji yang selama ini tersembunyi, membawa pulang kesepakatan yang membuat martabat keluarga Fortman melambung di mata kolega mereka."Kau luar biasa, Arthur! Tuan Robert bahkan tidak berhenti memujimu," seru Jolie sembari menepuk bahu adik iparnya.Namun, tawa itu terputus oleh deru mesin yang kasar. Dua mobil SUV hitam legam menerobos masuk ke pelataran rumah, ban mereka mencicit di atas kerikil, menciptakan kepulan debu. Belum sempat mereka bereaksi, pintu mobil terbuka dan sekelompok pria berpakaian serba hitam dengan penutup wajah meloncat keluar. Moncong senjata otomatis berkilat dingin di bawah lampu teras yang mulai menyala."Angkat tangan! Jangan bergerak!" teriak salah satu pria dengan suara parau.Jolie dan J
Pagi itu terasa dingin dan sunyi. Matahari baru saja mengintip dari balik garis cakrawala, menyebarkan rona jingga pucat yang memantul di atas permukaan air laut yang tenang. Di dermaga, kapal pesiar The Eternal Miracle telah bersandar dengan gagah, mengakhiri perjalanan mewah semalam. Namun, di dalam Grand Suite yang kedap suara, waktu seolah berhenti berputar.Celina terjaga perlahan. Indra penciumannya langsung disambut oleh wangi parfum maskulin—campuran sandalwood dan black pepper—yang kini terasa begitu akrab dan menenangkan baginya. Ia membuka mata, mendapati Dave Alen Parker duduk di kursi berlapis beludru di sudut ruangan, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dilipat ke siku, dilapisi rompi cokelat tua licin, dasi dan celana kain hitam panjang menyentuh pantofel hitam yang mengkilap. Ia menatapnya dengan binar mata yang penuh pemujaan.Ranjang besar itu tampak kacau; sprei sutra putih yang acak-acakan menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya badai gairah yang melanda mer
Sinar jingga terakhir telah tenggelam, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh lampu-lampu navigasi kapal. Di bagian paling bawah The Eternal Miracle, jauh dari denting gelas sampanye dan tawa para bangsawan, aroma solar dan karat memenuhi udara. Dave Alen Parker melangkah menyusuri l
Sinar jingga terakhir telah tenggelam, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh lampu-lampu navigasi kapal. Di bagian paling bawah The Eternal Miracle, jauh dari denting gelas sampanye dan tawa para bangsawan, aroma solar dan karat memenuhi udara. Dave Alen Parker melangkah menyusuri l
Langkah kaki Celina berderap cepat menyusuri lorong berlapis karpet tebal, mengabaikan tatapan heran beberapa pelayan yang berpapasan dengannya. Begitu sampai di depan pintu kamar, ia menerobos masuk dan membantingnya—meski dalam guncangan emosi, ia lupa memastikan grendelnya terkunci. Celina men
Matahari siang menyengat permukaan laut Mediterania, mengubah air biru yang sebening kaca menjadi hamparan permata yang berkilauan. Kapal pesiar The Eternal Miracle: Star of Ostia membelah ombak dengan anggun, meninggalkan daratan Eropa menuju cakrawala yang luas. Di kejauhan, tebing-tebing putih







