LOGINVivian menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan sebulir air mata kelegaan lolos dari pelupuk matanya. Akhirnya, suaminya yang sangat ia puja, pria yang selama ini selalu menjadi tameng pelindungnya dari badai apa pun, telah kembali ke tanah air. Namun, kebahagiaan itu dalam sekejap langsung berganti menjadi rasa sedih yang teramat pekat saat ingatan Vivian berputar pada nasib buruk ibunya sendiri. "Noah sudah pulang ...," gumam Vivian lirih, suaranya mendadak melemah, terdengar sangat pilu. "Tapi ... tapi Mama sekarang malah harus mendekam di dalam sel tahanan sementara karena kasus racun sialan di Maldives itu. Bagaimana bisa aku menyambut suamiku dengan tenang kalau mamaku sendiri terancam hukuman berat, Yun?" "Nyonya, Anda harus kuat," hibur Yunita di seberang telepon, suaranya nampak bersimpati. "Yang paling penting sekarang adalah Anda harus bisa memegang kembali hati Tuan Noah. Hanya Tuan Noah yang punya kekuasaan dan pengacara hebat untuk bisa membantu masala
Icha menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia mendongak, menatap mata elang Noah dengan kelembutan yang sangat tenang, seolah tidak ada lagi dendam yang menyala, namun justru ketenangan itulah yang membuat jarak di antara mereka terasa semakin tak tergapai."Panggilan itu adalah batasan yang paling aman untuk kita saat ini, Tuan Noah," sahut Icha pelan, suaranya mengalun lirih. "Lebih baik kita menjaga posisi masing-masing agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Bukankah dari awal Anda sendiri yang menuntut saya untuk sadar posisi?""Itu dulu, Cha! Tolong jangan terus mengungkit masa lalu yang bodoh itu," sela Noah, ada nada keputusasaan yang tertahan dalam intonasi suaranya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja mahoni. "Aku yang berlutut semalam di depanmu adalah aku yang sekarang. Aku yang benar-benar menyesal. Mengapa setiap kali aku mencoba mendekat, kamu selalu menarik dirimu sejauh ini?"Icha tersenyum tipis, matanya beralih menatap es krim vanila yang perlahan mulai meleleh di
Sinar matahari sore Jakarta yang mulai meredup menyambut kedatangan burung besi privat keluarga Wibisono di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Bunyi decit roda pesawat yang bergesekan dengan aspal semen terdengar nyaring, menandakan akhir dari perjalanan panjang menyeberangi Samudra Hindia.Icha mengembuskan napas panjang, seolah ingin melepaskan seluruh sisa beban yang bergelayut di pundaknya selama berada di pulau karang tersebut. Tatapannya tertuju pada deretan hanggar dan gedung terminal di luar jendela. Ada perasaan asing yang mendadak menyergap dadanya; ia merasa seolah-olah sedang melangkah masuk kembali ke dalam dunia yang sepenuhnya berbeda—dunia penuh intrik yang sempat ia tinggalkan dalam balutan air mata beberapa minggu lalu.Di seberang meja mahoni, Noah diam-diam melirik ke arah istri keduanya. Sepanjang belasan jam penerbangan tadi, Icha benar-benar konsisten dengan batas jarak yang ia buat. Wanita itu lebih memilih memejamkan mata pura-pura tidur, membaca buku dalam
Mendengar janji manis yang meluncur dari bibir suaminya, Icha perlahan menolehkan kepalanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata elang Noah yang kini memancarkan binar ketulusan yang teramat murni. Sebuah senyuman manis kembali terukir di bibir Icha—sebuah senyuman yang teramat teduh, namun sarat akan kegetiran yang mendalam."Kembali ke sini lagi?" tanya Icha, nadanya terdengar begitu tenang, tanpa ada sedikit pun emosi atau nada ketus di dalamnya."Iya, kita berdua saja. Aku ingin mengukir kenangan baru yang jauh lebih indah bersamamu di tempat ini, Cha. Tolong beri aku kesempatan itu," jawab Noah cepat, seolah ingin meyakinkan Icha bahwa ia tidak sedang membual atau sekadar merayu.Icha hanya mengangguk tipis dengan penuh kesopanan, lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah pintu dalam kabin. "Terima kasih atas niat baik Anda, Tuan Noah. Lebih baik kita masuk sekarang, sepertinya kapten pilot sudah bersiap untuk lepas landas."Ia melangkah masuk ke dalam kabin terlebih dahulu deng
Icha berdiri mematung di bawah siraman lampu temaram kamar, mendengarkan setiap bait pengakuan yang teramat jujur dan penuh keputusasaan dari mulut Noah. Untuk pertama kalinya sejak malam pernikahan paksa mereka, Icha melihat seorang Noah menangis hebat. Pria yang biasanya menggunakan kekuatan fisik dan uangnya untuk menginjak-injak harga diri orang lain, kini justru menyerahkan seluruh sisa harga diri prianya seutuhnya di bawah jemari kaki Icha.Dada Icha terasa bagai dihantam batu besar yang luar biasa dahsyat. Pertahanan hatinya yang selama berhari-hari ini ia bangun dengan semen benci dan dinginnya kata ketus, mendadak retak besar. Trauma masa lalu yang menganga, ingatan tentang bagaimana ia disiksa secara mental di mansion, beradu hebat dengan jiwa kemanusiaannya yang suci dan kenyataan bahwa pria ini baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menjadi tameng jatuh bebas di atas lantai kayu tadi pagi demi melindunginya.Isak tangis yang sejak subuh tadi Icha tahan di tenggoro
Sore itu, perjalanan kembali dari Kota Male menuju kompleks water villa privat terasa jauh lebih mencekam daripada keberangkatan mereka. Di dalam kabin kapal cepat yang membelah ombak Samudra Hindia, keheningan yang tercipta bukan lagi sekadar kecanggungan biasa, melainkan hawa dingin permusuhan yang begitu pekat. Icha duduk di kursi paling pojok dekat jendela kabin, memeluk kantong belanjaan berisi oleh-oleh untuk Bik Ira dan Jihan erat-erat, sementara pandangan matanya dibuang habis ke luar menatap buih air laut yang tergulung pasrah.Di seberangnya, Noah duduk bersandar dengan rahang yang mengeras sempurna. Sisa-sisa amarah akibat ledakan cemburu di restoran tebing tadi siang masih membakar rongga dadanya, berbaur dengan rasa perih yang teramat dalam setiap kali kalimat tajam Icha kembali terngiang di kepalanya. “Saya bukan milik Anda, Noah! Tubuh saya, jiwa saya, dan hidup saya adalah milik saya sendiri!” Kalimat itu seolah menjadi palu hakim yang memvonis mati seluruh harapan yan
Sore itu, langit Jakarta berubah warna menjadi jingga yang pekat, seolah ikut terbakar oleh ketegangan yang merayap di setiap sudut Mansion Wibisono. Di dalam ruang kerjanya, Noah berdiri menatap jendela dengan kepalan tangan yang memutih. Ancaman Tuan Aksa masih terngiang jelas di telinganya—sebu
Langkah kaki Icha yang terayun masuk melewati gerbang tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kekalahan. Meski tubuhnya masih dilingkupi hawa panas matahari Jakarta dan keringat membasahi dahi hingga ke lehernya, ia melangkah dengan martabat yang utuh. Noah berdiri di ambang pintu masuk utama, ta
Matahari pukul sepuluh pagi di Jakarta tidak pernah mengenal kata ampun. Cahayanya menyengat kulit, menciptakan uap panas yang menari-nari di atas aspal hitam depan gerbang megah Mansion Wibisono. Di sana, Icha masih bergeming. Gadis itu duduk bersila di atas trotoar yang kasar, tepat di hadapan je
Sisa-sisa amarah Noah semalam masih tertinggal di ruang tengah Mansion Wibisono. Pecahan vas kristal yang hancur karena tendangannya telah dibersihkan oleh pelayan yang bekerja dalam diam di bawah bayang-bayang ketakutan, namun hawa dingin yang dipancarkan sang tuan rumah belum juga surut.Noah sem







