Início / Rumah Tangga / LEPASKAN AKU, TUAN NOAH! / Bab 97. Dilema dan Rasa Cemas yang Menjepit

Compartilhar

Bab 97. Dilema dan Rasa Cemas yang Menjepit

Autor: Mommy Ghina
last update Data de publicação: 2026-06-27 11:45:15

Vivian menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan sebulir air mata kelegaan lolos dari pelupuk matanya. Akhirnya, suaminya yang sangat ia puja, pria yang selama ini selalu menjadi tameng pelindungnya dari badai apa pun, telah kembali ke tanah air. Namun, kebahagiaan itu dalam sekejap langsung berganti menjadi rasa sedih yang teramat pekat saat ingatan Vivian berputar pada nasib buruk ibunya sendiri.

"Noah sudah pulang ...," gumam Vivian lirih, suaranya mendadak melemah, terdenga
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
Wiek Soen
.................. khayalan mu terlalu tinggi Vivian Yunita.....
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
kasian,halunya udah tingkat tinggi si nyonya satu itu...CK CK CK
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 99. Pengusiran di Malam yang Sunyi

    Vivian mendongak dengan wajah yang dipenuhi rasa syok yang teramat sangat nyata. "Noah ... kamu ... kamu berubah karena perempuan sampah ini? Kamu membela dia?!""Dia bukan perempuan sampah, Vivian! Dia istriku yang jauh lebih terhormat daripada kamu dan ibumu!" bentak Noah, napasnya memburu kencang. Noah menoleh ke arah Endra yang sejak tadi berdiri kaku di dekat pilar rumah. "Endra! Panggil seluruh penjaga gerbang depan sekarang!""Baik, Tuan," sahut Endra sigap, langsung menekan tombol interkom di dinding."Noah! Apa yang mau kamu lakukan?! Ini rumahku juga!" jerit Vivian histeris, bangkit berdiri dengan gaun merah marunnya yang kini nampak kusut."Ini rumah keluarga Wibisono, dan kamu sudah tidak memiliki hak satu senti pun di dalam rumah ini sejak ibumu mencoba membunuhku!" ucap Noah dengan penuh penekanan yang mematikan ego Vivian. Tiga orang penjaga berbadan tegap dengan seragam hitam langsung masuk ke dalam ruangan atas komando Endra. "Seret wanita ini keluar dari mansion seka

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 98. Panggung Sandiwara di Ruang Tengah

    Tepat pukul tujuh malam, gerbang besi megah kediaman Wibisono terbuka perlahan. Mobil sedan mewah yang membawa Noah dan Icha bergerak mulus menyusuri jalanan paving blok halaman depan, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras utama. Lampu-lampu kristal teras yang bersinar kekuningan memantulkan kilau di atas kap mesin mobil yang masih hangat.Di dalam kabin, Icha menatap fasad bangunan utama dengan perasaan campur aduk. "Akhirnya kembali ke sini," gumamnya sangat lirih, hampir tenggelam dalam desau pelan AC mobil.Noah yang duduk di sebelahnya menoleh, menatap wajah samping Icha dengan sorot mata yang sarat akan rasa bersalah. "Kamu tidak perlu khawatir, Cha. Begitu masuk, kau bisa langsung istirahat di kamar utama atas. Urusan luar biar aku yang tangani."Icha hanya mengulas senyuman tipis tanpa arti. "Terima kasih, Tuan Noah. Saya hanya ingin membersihkan diri."Sopir dengan sigap membukakan pintu mobil. Noah turun terlebih dahulu, kemudian berbalik memberikan tangannya untuk

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 97. Dilema dan Rasa Cemas yang Menjepit

    Vivian menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, membiarkan sebulir air mata kelegaan lolos dari pelupuk matanya. Akhirnya, suaminya yang sangat ia puja, pria yang selama ini selalu menjadi tameng pelindungnya dari badai apa pun, telah kembali ke tanah air. Namun, kebahagiaan itu dalam sekejap langsung berganti menjadi rasa sedih yang teramat pekat saat ingatan Vivian berputar pada nasib buruk ibunya sendiri. "Noah sudah pulang ...," gumam Vivian lirih, suaranya mendadak melemah, terdengar sangat pilu. "Tapi ... tapi Mama sekarang malah harus mendekam di dalam sel tahanan sementara karena kasus racun sialan di Maldives itu. Bagaimana bisa aku menyambut suamiku dengan tenang kalau mamaku sendiri terancam hukuman berat, Yun?" "Nyonya, Anda harus kuat," hibur Yunita di seberang telepon, suaranya nampak bersimpati. "Yang paling penting sekarang adalah Anda harus bisa memegang kembali hati Tuan Noah. Hanya Tuan Noah yang punya kekuasaan dan pengacara hebat untuk bisa membantu masala

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 96. Kabar dari Seberang Telepon

    Icha menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ia mendongak, menatap mata elang Noah dengan kelembutan yang sangat tenang, seolah tidak ada lagi dendam yang menyala, namun justru ketenangan itulah yang membuat jarak di antara mereka terasa semakin tak tergapai."Panggilan itu adalah batasan yang paling aman untuk kita saat ini, Tuan Noah," sahut Icha pelan, suaranya mengalun lirih. "Lebih baik kita menjaga posisi masing-masing agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Bukankah dari awal Anda sendiri yang menuntut saya untuk sadar posisi?""Itu dulu, Cha! Tolong jangan terus mengungkit masa lalu yang bodoh itu," sela Noah, ada nada keputusasaan yang tertahan dalam intonasi suaranya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja mahoni. "Aku yang berlutut semalam di depanmu adalah aku yang sekarang. Aku yang benar-benar menyesal. Mengapa setiap kali aku mencoba mendekat, kamu selalu menarik dirimu sejauh ini?"Icha tersenyum tipis, matanya beralih menatap es krim vanila yang perlahan mulai meleleh di

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 95. Rasa yang Terlambat

    Sinar matahari sore Jakarta yang mulai meredup menyambut kedatangan burung besi privat keluarga Wibisono di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Bunyi decit roda pesawat yang bergesekan dengan aspal semen terdengar nyaring, menandakan akhir dari perjalanan panjang menyeberangi Samudra Hindia.Icha mengembuskan napas panjang, seolah ingin melepaskan seluruh sisa beban yang bergelayut di pundaknya selama berada di pulau karang tersebut. Tatapannya tertuju pada deretan hanggar dan gedung terminal di luar jendela. Ada perasaan asing yang mendadak menyergap dadanya; ia merasa seolah-olah sedang melangkah masuk kembali ke dalam dunia yang sepenuhnya berbeda—dunia penuh intrik yang sempat ia tinggalkan dalam balutan air mata beberapa minggu lalu.Di seberang meja mahoni, Noah diam-diam melirik ke arah istri keduanya. Sepanjang belasan jam penerbangan tadi, Icha benar-benar konsisten dengan batas jarak yang ia buat. Wanita itu lebih memilih memejamkan mata pura-pura tidur, membaca buku dalam

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 94. Hening di Atas Tirai Awan

    Mendengar janji manis yang meluncur dari bibir suaminya, Icha perlahan menolehkan kepalanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata elang Noah yang kini memancarkan binar ketulusan yang teramat murni. Sebuah senyuman manis kembali terukir di bibir Icha—sebuah senyuman yang teramat teduh, namun sarat akan kegetiran yang mendalam."Kembali ke sini lagi?" tanya Icha, nadanya terdengar begitu tenang, tanpa ada sedikit pun emosi atau nada ketus di dalamnya."Iya, kita berdua saja. Aku ingin mengukir kenangan baru yang jauh lebih indah bersamamu di tempat ini, Cha. Tolong beri aku kesempatan itu," jawab Noah cepat, seolah ingin meyakinkan Icha bahwa ia tidak sedang membual atau sekadar merayu.Icha hanya mengangguk tipis dengan penuh kesopanan, lalu memalingkan wajahnya kembali ke arah pintu dalam kabin. "Terima kasih atas niat baik Anda, Tuan Noah. Lebih baik kita masuk sekarang, sepertinya kapten pilot sudah bersiap untuk lepas landas."Ia melangkah masuk ke dalam kabin terlebih dahulu deng

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 19. Jejak Luka di Lantai Marmer

    Langkah kaki Icha yang terayun masuk melewati gerbang tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda kekalahan. Meski tubuhnya masih dilingkupi hawa panas matahari Jakarta dan keringat membasahi dahi hingga ke lehernya, ia melangkah dengan martabat yang utuh. Noah berdiri di ambang pintu masuk utama, ta

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 18. Bara di Bawah Terik Matahari

    Matahari pukul sepuluh pagi di Jakarta tidak pernah mengenal kata ampun. Cahayanya menyengat kulit, menciptakan uap panas yang menari-nari di atas aspal hitam depan gerbang megah Mansion Wibisono. Di sana, Icha masih bergeming. Gadis itu duduk bersila di atas trotoar yang kasar, tepat di hadapan je

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 17. Pintu yang Tertutup

    Sisa-sisa amarah Noah semalam masih tertinggal di ruang tengah Mansion Wibisono. Pecahan vas kristal yang hancur karena tendangannya telah dibersihkan oleh pelayan yang bekerja dalam diam di bawah bayang-bayang ketakutan, namun hawa dingin yang dipancarkan sang tuan rumah belum juga surut.Noah sem

  • LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!   Bab 16. Perang Urat Syaraf di Ujung Telepon

    Keheningan apartemen Jihan sempat pecah oleh gertakan Noah yang menggema dari speaker ponsel Icha. Namun, begitu bunyi pip tanda panggilan berakhir terdengar, suasana tidak lantas berubah menjadi mencekam bagi Icha. Alih-alih gemetar ketakutan atau terburu-buru menyambar tasnya, Icha justru terdiam

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status