LOGIN“Who is he?” The cold voice asked as his broad shoulder backed the nervous fragile little being while facing the down-to-ceiling window of the luxury penthouse. Hazel doesn’t know how to explain that the man who hugged her and dragged her to a corner while leaving the restaurant was her ex. “ I said who is he?” The tall figure turned towards Hazel who swallowed hard as the cold eyes stared at her blue ones making her breathe cold air while finding it difficult to swallow her saliva and also breathe. Alex stares at his little contract wife as he brings out his phone from his pocket. “Bring him in,” he said hanging up for Hazel to frown….
View MoreDesa Luang Nyawa begitu aman dalam beberapa tahun terakhir, tapi hari ini desa itu menjadi lautan darah. Terjadi pertarungan besar di desa itu yang melibatkan beberapa pendekar hebat.
Entah sudah berapa banyak rumah terbakar karena pertarungan mereka? atau berapa banyak warga yang terkena imbas dari pertarungan tersebut.
Kehancuran desa itu, merupakan buah dari keterlibatan mereka menyembunyikan seorang pendekar yang memegang pedang Lintang Kuning, yaitu pendekar Aji Bakas.
Galuh Tapa, seorang pemuda yang merupakan sahabat karib Aji Bakas, lahir dan besar di Desa tersebut, melakukan perlawan terhadap Pendekar Aliran Sesat dari perguruan Naga Hitam yang dimpimpin oleh Gambir Rimba. Walaupun saat ini, ilmu kanuragan yang dimilikinya tidak sehebat Aji Bakas.
"Serahkan Pedang Lintang Kuning itu!" salah satu dari aliran hitam mengancam, "Atau kau akan mati!"
Aji Bakas kini berwajah pucat, sesekali dia menatap wajah Galuh Tapa yang berdiri tepat di depannya. Tampaknya Galuh Tapa memberi isyarat kepada lawan agar melewati nyawanya terlebih dahulu sebelum mengambil pedang Lintang Kuning dari tangan sahabatnya."Masalah ini tidak ada urusannya denganmu, Galuh Tapa," ucap Gambir Rimba, "kenapa kau dan penduduk desa Luang Nyawa melindungi Aji Bakas?"
Gambir Rimba berniat merebut pedang Lintang Kuning dari tangan Aji Bakas, tapi dihalangi oleh Galuh Tapa dan penduduk desa yang mengtahui rahasia dari pedang tersebut.
Ya, seorang empu hebat pernah hidup di desa Luang Nyawa, dan menciptakan dua pedang sakti mandraguna, yang salah satunya kini berada di tangan Aji Bakas.
Menilik sejarah panjang pedang tersebut, yang pernah digunakan untuk melindungi desa, kini malah menjadi petaka bagi Desa Luang nyawa.
Pertarungan antara Gambir Rimba dan anak buahnya melawan Galuh Tapa dan Aji Bakas telah berlangsung setengah hari lamanya, dan kini dua pemuda itu mulai kehabisan tenaga dalam.
Mereka terpojok ke arah jurang
dalam yang menglilingi Desa Luang Nyawa.Meskipun jelas Galuh Tapa tidak memiliki hubungan apapun dengan pedang Lintang Kuning, tapi dia tidak bisa membiarkan para aliran hitam menguasai pedang tersebut.
Lebih lagi ketika pedang itu berada di tangan sahabatnya, Aji Bakas.
"Galuh tapa," ucap Aji Bakas suaranya terdengar serak dan dalam, sesakali dari mulutnya keluar darah merah karena luka dalam, "Pergilah dari sini, seperti yang mereka bilang, kau tidak ada hubungannya dengan diriku, atau pula dengan Pedang Lintang Kuning."Mendengar peringatan temannya, Galuh Tapa malah tertawa kecil, "Bodoh, apa kau pikir aku akan pergi begitu saja, melihat temannku dibunuh di depan mata?"
"Kau tidak berubah, keras kepala seperti biasanya," timbal Aji Bakas.
"Apapaun yang terjadi, jangan menyarah!" ucap Galuh Tapa. "Pedang Lintang Kuning akan jadi mala petaka jika jatuh di tangan aliran sesat, jika harus berkorban nyawa, maka aku siap melakukannya."
Mendengar tekad kuat Galuh Tapa, Aji Bakas hanya tersenyum pahit. Entah kenapa kali ini dia teringat masa silam ketika mereka masih berumur belasan tahun.
Dahulu, Galuh Tapa hanyalah anak malang tanpa orang tua. Acap kali pemuda itu dihina dan dicaci maki oleh teman-temannya.
Meskipun Aji Bakas acap kali menghajar Galuh Tapa hingga terluka, pada akhrinya Galuh Tapa tetap memaafkan Aji Bakas.
Tanpa orang tua, rupanya membuat hati Galuh Tapa terasa hampa. Dia merindukan pertemanan seperti anak-anak yang lain. Untuk mendapatkan hal itu, Galuh Tapa bahkan relah mendapat caci maki dari teman-temannya, ataupun perlaukan buruk Aji Bakas.
Namun, pada akhirnya mereka berdua menjadi teman baik.
Jika hari ini Aliran Hitam akan merenggut Aji Bakas dari dunia ini, maka jelas Galuh Tapa adalah orang pertama yang akan menentangnya. Dia tidak ingin kehilangan teman dekat. Tidak ingin!"Ini peringatan terkahir," ucap Gambir Rimba, "Menyingkirlah dari hadapanku, Galuh Tapa!"
"Bahkan dalam mimipimu sekalipun, aku tidak akan pergi!" jawab Galuh Tapa.Gambir Rimba mungkin dapat menghadapi Aji Bakas meskipun pemuda itu memiliki pedang pusaka Lintang Kuning, tapi Galuh Tapa dengan Ajian Rentak Bumi benar-benar merepotkan dirinya.
Setiap kali Gambir Rimba hampir membunuh Aji Bakas, Galuh Tapa menghalanginya dengan Ajian Rentak Bumi. Ini benar-benar membuat pria itu kesal.
"Kalau itu maumu, aku akan membunuh kalian berdua!" gambir Rimba berteriak keras, kemudian mengerahkan beberapa muridnya untuk menyerang Galuh Tapa dan Aji Bakas.
Pertempuran sengit terjadi lagi.Beberapa kali serangan lawan hampir dapat membunuh Aji Bakas tapi lagi-lagi dihalau oleh Galuh Tapa.
Sesekali pedang Lintang Kuning diayunkan, mengirim serangan yang begitu kuat ke arah lawan-lawannya.
Beberapa orang mati dalam seketika oleh pedang tersebut, tapi musuh berjumlah cukup banyak.
Menggunakan pedang Lintang Kuning dalam waktu yang cukup lama ternyata menguras tenaga dalam Aji Bakas. Sekarang, tebasan pedang itu tidak sekuat tebasan sebelumnya.
Ketika dua sahabat dekat itu masih bekemelut dengan lawan-lawannya, Gambir Rimba menemukan celah untuk menyerang.
Seberkas cahaya hitam kemerahan menderu menerobos udara kering, dan mendarat tepat di tengah tubuh Aji Bakas.
Pemuda itu tepental beberapa jauhnya, hampir saja jatuh ke dalam jurang.
Darah segar sekali lagi keluar dari mulut Aji Bakas, dan dadanya terlihat melepuh seperti terbakar.
Galuh Tapa bergegas menolong temannya, tapi tidak berhasil.Beberapa murid Gambir Rimba menyerang Galuh Tapa tanpa hanti.
Setelah melihat tubuh Aji bakas yang sudah terbujur kaku dan tak bernyawa, Galuh Tapa mengabil pedang Lintang Kuning.Amarah Galuh Tapa memuncak. Serangan Galuh Tapa tak henti-henti menyerang anak murid Gambir Rimba.
Dia mengeluarkan ajian rentak bumi, musuhpun berhamburan seperti dedaunan yang telah kering.
Akan tetapi jumlah Anak murid Gambir Rimba terlalu banyak hingga tenaga yang dikeluarkan Galuh tapa mulai melemah.
Pertikaian terus berlanjut serangan yang dilakukan Anak murid Gambir Rimba mulai membuat Galuh tapa kualahan, serangan musuh mengenai tubuh Galuh Tapa, pukulan yang keras mengenai perut dan wajahnya, hingga Galuh Tapa terpental.
Galuh Tapa masih tetap berusaha bangun lagi dalam kondisi yang terluka, Galuh Tapa terkepung oleh anak murid Gambir Rimba yang menunjukan ekspresi bringas.
Serangan musuh mulai menghantam lagi, Galuh Tapa mengeluarkan lagi ajian Rentak bumi,musuhpun terpental namun ajian yang dikeluarkan tidak sempurna, dan juga tidak sekuat sebelumnya.
Gambir Rimba murka melihat anak muridnya yang banyak mati, melompat dan mengeluarkan sebuah tendangan yang begitu keras tepat ke tubuh Galuh Tapa.
Galuh Tapa terpental, dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Serahkan pedang itu! "ucap Gambir Rimba dengan nada keras
"Tidak akan pernah kuserahkan pedang ini!", jawab Galuh tapa dengan teguh. "Setelah kami mengorbankan nyawa dan raga, kau pikir aku akan menyerahkan pedang ini begitu saja?"
Gambir Rimba tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan Galuh Tapa, dia menyerang dengan sebuah pukulan tepat ke arah wajah disusul dengan tendangan yang begitu keras secara bertubi -tubi, sehingga membuat Galuh Tapa terpental ke dalam sebuah jurang yang begitu dalam.
Anak murid Gambir Rimba menelisi jurang mencari Galuh Tapa,namun mereka tidak menemukannya.
Gambir Rimba sangat kesal dengan anak -anak muridnya, karena tidak menemukan keberadaan Galuh Tapa.
Keinginan Gambir Rimba memiliki pedang lintang kuning yang begitu besar untuk menguasai dunia persilatan, tampaknya akan pupus dengan lenyapnya pedang lintang kuning bersama dengan Galuh Tapa.
Galuh Tapa terseret arus sungai yang begitu deras, hingga Gambir Rimba dan anak- anak muridnya sulit menemukan.
"Cari pemuda itu, temukan dirinya!" perintah Gambir Rimba kepada anak muridnya.
Semua murid bekerja keras untuk menemukan Galuh Tapa, hingga menyusuri bagian hilir sungai, tapi apalah daya hendak dikata, Galuh Tapa bak ditelan bumi. Dia tidak ditemukan di manapun."Maaf Guru, kami sudah melakukan yang terbaik ...," salah satu murid sedang melapor kepada Gambir Rimba, dan terlihat ragu dengan ucapannya.
Hal ini dikarenakan Gambir Rimba biasanya akan menghajar murid-muridnya ketika suasana hatinya sedang buruk. Dan benar saja!
"Bodoh! cari dirinya sampai dapat, jangan kembali sebelum pedang itu ada di tanganku!"
The baby kept sucking at her mother’s breast while Hazel and Alex stared at each other, as if time had stopped around them.Immediately, Alex removed his coat and covered his wife, who was dressed in palm-woven clothes.“Alex,” she whispered.“Let’s get out of here,” Alex quietly said as he carried his sleeping baby.The little girl held Hazel’s hand tightly, as if she didn’t want her to leave, making Hazel smile.“I must go,” Hazel whispered, smiling at the girl, who began to tear up.At that moment, a hunter rushed towards them, speaking Hawaiian.“What’s he saying?” Alex asked, and the girl quickly translated.“Run. Chief coming. Babies die,” she said, making Hazel look at Alex in alarm.“We must leave. The chief is coming, and twins are forbidden in their village,” Hazel explained.Alex scoffed, then suddenly noticed that Hazel was barefoot.“Both of you, come here,” he commanded his guards. “Carry the babies,” he said, then bent down and lifted Hazel into his arms.“Follow,” the
Hazel clutched her belly, gasping as another wave of pain shot through her body. The young girl’s eyes widened in panic as she watched Hazel struggle to stay upright.“Mother! Father!” the girl screamed, running out of the hut.Within seconds, the woman and the hunter rushed inside, their expressions tense.“Her water broke,” the girl said breathlessly.The woman’s face hardened with urgency. She quickly moved to Hazel’s side, supporting her as she trembled.“Lay her down,” the woman instructed, speaking in their native language.Hazel whimpered, beads of sweat forming on her forehead. Her body was exhausted from months of recovery, but she knew there was no stopping what was about to happen. Her babies were coming.The hunter rushed outside, calling for the village healer.“I will get the midwife!” he said and took off running.Inside the hut, Hazel gritted her teeth, trying to steady her breath. The woman wiped her forehead with a damp cloth.“You’re strong. Just breathe,” she said
The woman and the hunter looked at each other. He sighed, then bit his lips. “If the chief finds out, they will kill one of the children,” he said, making the woman bite her lips in worry. “I’ve been trying to reason with him about how much it will affect our population and community if we keep killing twins. They are born special,” she said, and the hunter nodded. “Let’s help her. She’s not of our clan. She and her babies should not be punished,” he said, making the woman sigh. “We don’t know where she comes from. Her injury is severe. We can’t take her back to where you found her because she’s running from something. We—” “My farmhouse,” he interrupted, and the woman nodded. “I will take my wife and daughter so they can help care for her until she heals,” he said, and the woman agreed. “Let’s do that now,” she said, and they both nodded in agreement. Inside the central city hospital, the bloodied man who had just arrived at the emergency center watched in a blur as doctors a
Hazel could hear footsteps crashing through the underbrush behind her, men shouting orders as they gave chase. Her heart pounded in her chest, her breath coming in quick gasps. The chase was fast. Despite her big stomach, Hazel ran with the desperation of a woman fighting for survival. She could hear the voices of the guards behind her. As she ran deeper into the forest, the darkness swallowed her. The thick canopy of trees blocked any rays of sunlight. “Put on your lights!” she heard one of the guards scream. They hesitated at the edge of the forest, unable to follow her blindly into the darkness. But Hazel didn’t stop. She kept running and running because she would rather die than let Harden deprive Alex of his role as a father. Branches scratched her arms and face, but she cradled her stomach protectively as she weaved through the trees. She had no idea where she was going. All she knew was that she had to escape. She stopped and turned, her legs burning, her lungs aching—but
The night was quiet. The butler and Grace looked at each other—what were they going to do with all this food and cake on the table? They knew their boss and madam were not coming downstairs anymore tonight. Grace looked at the butler, who sighed.“What a waste,” he whispered, and Grace nodded in ag
The large governor’s dining room was eerily silent. Camila cleared her throat and smiled, but the look on Mrs. Governor’s face was far from pleasant.Harden scoffed, adjusting his suit.“With all due respect, Mrs. Governor, since my family is here, please do well to explain why I should be accused
Grace was embarrassed. The look on Alex’s face made her immediately hide her phone. Alex scoffed, then sat back, watching as Grace swallowed hard.“I’m so—”“Is your salary not enough?” Alex asked, causing Grace to immediately bow her head.“I lost my previous phone, boss. I was planning to get a n
Alex frowned after seeing Simon and Grace’s red dot concentrated in one area, while Hazel’s was moving away. Immediately, he grabbed his phone and dialed his D team. “Follow my wife,” he ordered, then called Simon. The phone rang and rang, but no one picked up. He tried again and again, but still












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews