Luna beranjak dari ruang tamu, menyiapkan makan malam, setelahnya Amina, Imran, Mora dan Luna menikmati makan malam.
“Luna, bagaimana kabar ibumu?” tanya Amina.
“Ibuku kesehatannya menurun Bu, harus kontrol rutin ke Dokter,” jawab Luna.
“Terus siapa yang menanggung semua itu, apa Imran lagi?”
Luna terdiam, begitu dalam batinnya menjerit, begitu sulitkah saat ini menjadi seorang istri dan menantu yang tidak bekerja.
“Luna masih punya tabungan, Luna tidak akan merepotkan Mas Imran dengan biaya pengobatan ibu Saida,” jawab Luna.
“Bagus, jadi istri jangan seperti parasit, hanya numpang hidup bekerjalah,” tuntut Amina.
“Sudahlah Bu, kita bahas yang lain saja, bagaimana keadaan rumah dan kebun di kampung, apa yang akan ibu taman di kebun?” tanya Imran.
“Tahun kemarin ibu tanam cebe tapi gagal, banyak cabe yang terkena hama, kali ini ibu mau tanam singkong saja,” jawab Amina.
“Mudah-mudah berhasil, besok aku akan berikan uangnya,” jawab Imran.
Setelah makan malam usai, Luna dan Imran masuk ke kamar. Imran sedikit ragu berkata pada Luna.
“Jadi kamu tahu tentang gelang itu?” tanya Imran.
“Iya Mas, sebenarnya aku sudah tahu,Mbok Sumi keceplosan, katanya kamu akan memberikan hadiah gelang pada hari ulang tahunku,”dalih Luna.
“Maaf, aku sudah bilang padamu ‘kan , gelang itu rusak.”
“Ya sudah besok ambil dan berikan pada ibu,” pinta Luna.
“Baiklah,” jawab Imran.
Imran membaringkan tubuhnya di samping Luna, dengan memunggungi Luna, akhir- akhir ini Imran tidak menyentuh Luna, dan wanita itu semakin gelisah, prasangkanya semakin menjadi-jadi, serta feelingnya sebagai wanita mengatakan jika Imran sedang tidak beres.
Pagi dengan sinar sang surya bersinar cerah, Amina sudah menikmati sarapan bersama Imran, sedangkan Luna masih sibuk di dapur karena mbok Sumi izin tidak masuk.
“Itu ‘kan kamu bisa mengerjakannya tanpa Sumi, jika kamu belum dapat pekerjaan lebih baik Sumi diberhentikan saja,” coleteh Amina.
Luna memilih diam, dan tetap fokus pada cucian perabotan di tangannya.
“Nanti siang , Luna akan pergi wawancara, ibu sudah aku siapkan untuk makan siang,” ucap Luna.
“Kamu mau mencari pekerjaan di mana?” tanya Imran.
“Diam saja Mas,..yang penting bekerja, bukankah suami dan mertua jaman sekarang menginginkan seorang wanita yang bekerja,” jawab Luna kesal.
Amina terdiam, mukanya semakin terlihat jutek sedangkan Imran bersikap datar terkesan tidak peduli.
***
Imran sudah tiba di WR Campany, ia langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, tak lama Agnes datang.
“Ada apa Mas, kenapa sepagi ini ingin bicara padaku?”
“Agnes, aku sebelumnya minta maaf, bisakan gelang itu aku ambil lagi, Luna tahu jika aku memiliki gelang itu, dan sekarang gelang itu diminta untuk diberikan pada ibuku yang butuh uang,” pinta Imran.
“Haduh...gimana sih Mas, aku juga sudah pamer di media sosialku tentang gelang ini, kenapa malah kamu minta,” timpal Agnes kesal.
“Aku belikan yang baru bulan depan, aku janji,” jawab Imran.
Agnes memasang wajah cemberut dan dengan berat hati melepaskan gelang dari tangannya, dan menaruhnya kasar diatas meja, setelah itu ia beranjak pergi.
Imran menghela napas lega, lalu menyimpan gelang dalam tas kerjanya.
Agnes duduk di kursi kerja, tangannya mengepal.
‘Luna...aku harus segera membuat Imran menceraikanmu, dia harus bercerai, tanpa mendapatkan sesuatu,’ batin Agnes.
Sementara itu, Luna kini duduk di sebuah kursi, dihadapannya duduk seorang pria yang menjabat sebagai HRD di sebuah perusahaan .
“Kamu memiliki CV yang bagus, juga pengalamanmu di WR Company sangat bagus, tapi kami akan mempertimbangkan lagi, kami akan menghubungi Anda dalam waktu dua hari jika diterima,” ucap pria itu.
“Baik, terima kasih.” Luna pun pergi, hatinya ragu jika akan diterima, jaman sekarang ijazah dan pengalaman tidak terlalu diperhatikan jika tidak ada koneksi orang dalam. Di tengah kegalaun hatinya, sebuah panggilan ponsel membuyarkan lamunannya.
“Hallo Alif ada apa?”
“Mbak, aku mentrasnfer uang, hasil penjualan perhiasan, tolong cek,” ucap Alif di sebarang ponsel.
Luna pun segera mengecek, dan ia terkejut karena jumlah yang diterimanya terlampau banyak, kembali Luna menelepon sang adik.
“Hallo Alif, kenapa jumlahnya banyak, lalu apa kamu sudah membayar uang kuliahmu?”
“Sudah Kak, jadi uangnya aku berikan ada kakak, mulai sekarang siapkan mental dan finansial Mbak Luna,” ucap Alif lalu sambungan terputus.
Luna terbengong mendengarkan ucapan sang adik.
”Aneh, sekarang dia bisa menasehati tentang mental dan mandiri secara finansial,” gumam Luna.
Waktu terus berlalu,malampun tiba, saat ini Luna dan Imran duduk di depan Amina, wanita tengah baya itu tersenyum bahagia karena di depannya ada sebuah gelang dan segepok uang .
“Nah begitu dong Imran, kamu memang anakku yang berbakti, besok ibu akan pulang,“ ucap Amina sambil meraih gelang dan uang di atas meja dan menyimpannya dalam tas.
Luna hanya mendesah pelan, menatap sekilas suaminya yang terkesan gelisah, diam-diam Luna membuka sosial media dengan sibuk menscrol ponsel, dan seketika nama Agnes dan gambar Agnes terpampang, ia memperhatikan, saat ini Agnes baru memposting makan malamya bersama rekan sekantor, langsung Luna mengamati pergelangan tangan Agnes, dan tak mendapati gelang itu melingkar di tangan Agnes.
‘Ini bukan lagi kebetulan, gelang itu memang diberikan pada Agnes, Ada hubungan apa kamu mas Imran dengan Agnes,’ batin Luna lalu menatap sang suami.
Luna mulai curiga, apalagi akhir-akhir ini suaminya jarang meminta nafkah batin darinya. Malam itu menjelang tidur, Luna sengaja memakai daster minim bahan, daster bahan katun lembut dengan lengan kecil yang mengatung di bahunya, hingga membuat leher dan bahu terekspos begitu indah, aroma parfum rose, juga sengaja dioleskan ke tubuhnya, rambut sebahu dibiarkan tergerai, lalu ia keluar dari kamar mandi, dan mendapati Imran sedang duduk di sofa pojok ruangan dan asyik dengan ponsel, sekilas Imran menoleh, tapi lelaki itu tidak merespon, justru masih asyik dengan ponselnya dan tidak menghiraukan Luna yang sudah tampil seksi.
Luna sedikit kesal, ia semakin curiga jika Imran sudah mendapatkan jatah dari wanita lain, pasalnya akhir-akhirnya juga beralasan lembur dan nongkrong. Luna pun akhirnya tertidur, hingga tengah malam ia terbangun, dan merasa kehausan, dengan pelan ia keluar kamar, langkahnya terhenti seketika ia mendengar dari dalam kamar tamu, ibu mertuanya sedang serius menelpon seseorang, rasa penasaran Luna pun menyuruhnya menguping dengan pelan ditempelkannya telinga di daun pintu, walau pelan, Luna masih bisa mendengarkan suara Amina.
“Iya, aku sudah mendapatkan uang itu, pokoknya sepulang dari Jakarta, kita main lagi. Mudah-mudahan kali ini berhasil aku bisa menebus kembali rumahku yang sudah aku gadaikan, pokoknya kali ini harus berhasil,” suara Amina tedengar jelas
Deg!..Luna terbelalak, ia tak percaya jika rumah ibu mertuanya sudah digadaikan dan imran tidak tahu menau tentang ini.
‘Untuk apa uang 20 juta, mungkin kah ibu terlibat judi online’ batin Luna.
Luna berjalan ke arah dapur lalu membuka almari pendingin dan meraih botol minum dan meneguknya hingga tandas, pikirannya masih melayang pada perkataan sang mertua, jika benar rumah dan sudah digadaikan, kenapa ibu mertuanya begitu sombong membanggakan kekayaannya yang akan diwariskan pada Imran dan memperolok dirinya yang tidak bekerja.
“Jadi uang 20 juta bukan untuk modal menggarap kebun, apa aku harus memberitahukan Mas Imran ya soal percakapan ibu,“ gumam Luna masih merasa bingung.
“Luna …jangan biarkan pernikahanmu hancur, bagaimana kamu akan menjalani hidup ini tanpa suami, bagaimana perasaan Mora jika mengetahui kalian bercerai,” ucap Saida.“Mora sudah tahu, kecelakaan ini gara-gara ia menemukan berkas perceraian kami, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya,” jawab Luna sedih.Kedua wanita ibu dan anak itu duduk di kursi tunggu, menunggu proses operasi Mora. Tak lama seorang seorang dokter keluar dari kamar operasi.“Dokter bagaimana keadaan Mora?” tanya Luna cemas.“Operasinya berjalan lancar, untuk selanjutnya kita tunggu sampai pasien sadar,” jawab dokter membuat Luna sedikit lega.Sementara itu Imran, sudah berada di dalam mobil, begitu mengetahui keadaan Mora, ia memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit.“Bagaimana keadaan Mora?” tanya Agnes yang duduk disamping Imran.“Belum tahu, tapi aku sudah membayar biaya administrasinya,” jawab Imran.“Tapi tidak semua biaya Mas Imran yang tanggung ‘kan, ingat Mas, aku sedang hamil anakmu, juga butuh biaya lebi
Luna membuka mata ketika sang surya menyapa wajahnya, ia menatap langit kamar, semalam ia tidur di kamar Mora, kamar barunya belum selesai dibenahi, sementara kamar lamanya sudah menjadi gudang. Disampingnya Mora masih tertidur lelap, hari minggu membuatnya malas bangun pagi.“Mora, sudah siang bangunlah,” bisik Luna.Gadis kecil itu menggeliat dan menguap.”Mora kemarin belum ketemu Papah, apa Papah keluar kota?” tanya Mora menatap sang mamah“Iya, mungkin untuk hari-hari kedepan, Papah akan jarang pulang,” jawab Luna sedih.“Papah sibuk ya Mah.”“Iya sayang.” Telapak tangan Luna mengusap pucuk rambut Mora.Mora lalu bangkit dan beranjak ke kamar mandi, sementara Luna menyiapkan sarapan di dapur, sambil sibuk mencari lowongan pekerjaan.Hingga sebuah panggilan dari nomer tak dikenal cukup membuatnya penasaran, lalu diangkatnya panggilan ponsel.“Hallo selamat pagi,”“Selamat pagi Bu Luna, saya dari Arsana Hotel, ingin menawarkan pekerjaan pada Bu Luna sebagai staf administrasi,” uca
Agnes tersenyum sinis. ”Karena...aku mencintainya setelah ia menjadi suamimu.”Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Agnes, Luna menjadi sangat geram.“Luna, hentikan dan pergi dari ruanganku sekarang, atau satpam akan menyeretmu keluar,” ancam Imran dengan menarik tangan Luna.“Ternyata aku salah menilaimu, aku pikir kamu bahagia bersamaku tapi ternyata aku hanya pelarianmu, setelah kamu mendapat cintamu, kamu dengan mudah menyia-yiakan cintaku,” gertak Luna menahan tangis.“Aku ingin mengakhiri hubungan kita,” jawab Imran.“Aku juga sudah tak mau dengan pria yang mengkhianatiku,” sahut Luna.Lalu berbalik melangkah ke arah pintu, baru saja ia akan membuka pintu masuklah Pak Iwan.“Ada apa ini , aku dengar ada keributan disini?” tanya Iwan .“Kebetulan sekali Pak Iwan datang, konspirasi kalian untuk menyingkirkan aku di WR Company sungguh menjijikan,” bentak Luna, lalu melangkah pergi meninggalkan kantor Imran.Kericuhan yang dibuat Luna di kantor Imran, terdengar oleh Ina, dengan s
Pagi hari, Imran dan Mora tampak sudah rapi keduanya sedang menyuap sarapan pagi yang disiapkan Luna.“Mora, semalam Mamah meminta tanda tangan papah untuk sekolahan, memangnya berkas apa?” tanya Imran.“Berkas…apa..” Mora tampak kebingungan.“Mora mana tahu Mas, itu kan berkas untuk sumbangan pembangunan gedung sekolah, hanya diberikan pada wali murid,” sela Luna.“Ohh..” sahut Imran.Luna bernapas lega, karena Imran percaya, setelah Imran dan Mora meninggalkan rumah, Luna langsung bergegas menemui Dewi sang pengacara.“Aku Sudah mendapatkan tanda tangan Mas Imran, kita harus segera mengubah sertifikat itu,” pinta Luna.“Oke, kita pergi sekarang,” ajak Dewi.Hampir setengah hari Luna dan Dewi mengurus perubahan nama sertifikat yang telah dilunasi, Luna tersenyum puas, karena ia tidak akan kehilangan rumah yang sekarang di tempati.“Nah, sekarang urusan sertifikat rumah sudah selesai, sekarang kita mempersiapkan sesuatu untuk hak asuh Mora,” suruh Dewi.“Apa yang harus aku lakukan, un
Luna, Imran dan Mora Kembali ke Jakarta ketika waktu menjelang malam, sepanjang perjalanan Luna lebih banyak diam, hatinya terkoyak, tapi berusaha ditutupi, perkataan Alif membuatnya berpikir apa yang direncanakan sang suami dengan Agnes. Sementara Mora sudah terlelap di jok belakang mobil.“Mas...tampaknya kamu dan Agnes kembali akrab setelah sepuluh tahun berlalu,” ucap Luna.“Yah begitulah, kita ‘kan memang sudah kenal, lalu bertemu kembali wajar ‘kan jika akrab, kamu sendiri, apa masih menganggap Agnes sainganmu?”“Saingan apa, dulu kami bersaing dalam hal menuntut ilmu, agar lebih termotivasi untuk belajar, tapi sekarang bersaing apa, kita menjalankan kehidupan sesuai versi kita sendiri ‘kan, jadi aku tak berpikir bersaing dengan Agnes,” jawab Luna.Imran hanya terdiam, wajahnya tampak biasa tanpa merasa bersalah sedikitpun, dan itu membuat Luna geram.***Luna melamun dari balik jendela kamar, pagi itu rumah sudah sepi, Mora sekolah dan Imran pergi ke kantor. Wanita dengan ramb
Luna berpikir keras, tapi tiba-tiab perutnya mulas lagi, dengan segera ia kembali ke toilet.“Padahal aku tidak makan makanan yang asam atau pedas, kenapa perutku serasa dikuras ya,” gumam Luna sambil berjalan keluar kamar mandi, badannya semakin lemas.Luna berjalan keluar rumah berusaha menaiki motor maticnya, jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, jalanan komplek pemukimam sudah sepi, Luna melajukan motornya menuju klinik yang buka dua puluh empat jam, yang berada tak jauh dari pemukiman tempatnya tinggal. Akhirnya motor berhenti di sebuh klinik dan Luna pun segera diperiksa dokter.“Apa Bu Luna minum obat pencahar?” tanya Dokter.“Tidak Dokter, saya dari kemarin tidak makan asam dan pedas,” jawab Luna.Menurut diagnosa saya, Anda minum obat pencahar, tapi jika anda merasa tidak meminumnya mungkin ada penyebab lain, untuk sementara saya akan memberikan obat , tapi jika besok masih diare, lebih baik dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ucap Dokter.“Baik dokter,” jawab Luna.