LOGINMengeker senapannya ke arah seekor kijang yang tengah berjalan mencari makanan di hutan. Berdiri pria itu pada atap mansion megahnya di tengah hutan.Suara senapan yang kuat membuat semua burung gagak yang bertengger di atas pohon pergi bertebar berterbangan. Terbang berputar-putar di atas pohon mengeluarkan suara mereka yang menyeramkan.Bayang-bayang Valerie tiga minggu yang lalu masih menghantuinya. Bagaimana wanita itu menceritakan kisah duka yang ia alami semenjak Demiral mengkhianatinya.Bekas lukanya yang dalam bahkan ia perlihatkan. Sengaja tidak dihilangkan agar dirinya selalu mengingat akan rasa sakit kecelakaan serta kehilangan pada waktu yang bersamaan.Dia menarik kembali menembakan satu pelurunya pada seekor gagak di dahan pohon. Kontan seluruh gagak yang berada di sana kembali ricuh sebab teman mereka mati akibat ulah manusia."Menembak gagak akan membuat kesialan bagi hidupmu." Alesandro berdiri di belakangnya, bersama tongkat yang menjadi penyangga tubuh pria tua ter
Dear Valerie Yoxavos, kesayanganku, duniaku, putriku yang amat aku cintai dan kasihi. Tanpa aku mengatakannya, kuharap kau tahu betapa aku sangat mencintaimu, menyayangimu, dan begitu peduli padamu.Dalam beberapa Minggu terakhir maaf, karena kau pasti berpikir jika aku seorang ayah yang kejam. Marah diriku atas keinginanmu yang tak bisa kukabulkan. Seandainya kau mengerti nak, betapa menyesalnya aku mengekangmu seperti itu karena kupikir itulah yang terbaik.Tekad kerasku memisahkanmu dengan cintamu adalah sebuah bentuk rasa sayang diriku yang tulus padamu. Aku yakin kau wanita kuat yang akan bangkit dari segala keterpurukan.Namun, dengan itu aku menyesal. Tidak kulihat betapa besar rasa cintamu padanya hingga kau bersikeras menentang perintahku.Marah, sedih, pun kesal bercampur menjadi satu. Putri yang amat kucintai telah kukecewakan begitu besar.Aku melihatmu menjatuhkan diri dari lantai kamarmu yang begitu tinggi. Sengaja kubiarkan dirimu pergi pada saat hari di mana seharusny
Menunduk pria itu di hadapannya. Menatap dengan raut wajah penuh penyesalan. Dua tanganya terkepal erat di bawah bergetar kecil.Tidak pernah Valerie bayangkan jika pria seperti Demiral rela bersimpuh di hadapanya meminta ampun. Tidak pernah Valerie menyangka jika cara pria ini meminta maaf ialah menurunkan harga dirinya di hadapan sang wanita.Sosoknya yang begitu dingin tidak bisa ditebak sama sekali. Kejam pun tidak berperasaan. Pembunuh mematikan tanpa pandang buluh.Dia pikir jika sang pria akan menanggapi pertanyaannya dengan nada suara yang dingin tanpa penyesalan. Maka Valerie akan meluapkan segala bentuk emosi yang di masalalu tidak bisa dirinya ungkapkan dengan benar.Tapi apa guna meminta maaf sekarang. Hatinya yang telah dia hancurkan tidak akan utuh kembali seperti sedia kala. Kehidupanya yang menyedihkan kini tidak akan kembali pada kebahagiaan layaknya di masalalu.Lingkar matanya memanas menyimpan sebulir cairan bening yang sebisa mungkin ia tahan kehadiranya. Dada yan
"Bisakah aku membawamu ke Milan?"Louis bertanya, nada suaranya terdengar penuh pengharapan. Seraya mengenggam tangan Valerie erat ia seolah mengajak wanita itu untuk turut pergi bersamanya. Ia ingin mengatakan jika dirinya akan menjaganya dengan sepenuh hati.Valerie tersenyum. Turut mengenggam tangan Louis begitu erat. "Kabari aku jika kau telah sampai di Milan," tuturnya jelas mengalihkan topik pembicaraan.Louis tidak bisa berata apa-apa lagi selain menyenggut samar. "Aku akan menghubungimu."Genggaman tangan mereka terlepas seiring Louis yang mulai melangkah menjauh dari hadapan Valerie. Langkahnya masuk pada pembatas bandara yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang memegang tiket keberangkatan.Velerie turunkan tangannya yang melambai. Senyuman mulai pudar dari wajah cantiknya bersamaan hilangnya Louis dari pandangan.Dia berbalik pun melangkah pergi dari sana. Menundukan wajahnya sembari berjalan lau ia temukan sepasang kaki tepat di depan menghalangi jalannya. Tanpa menga
Tegap berdiri pria itu pada rooftop perusahaan dengan sebatang nikotin tersulut diapit oleh bibirnya. Menghisap dalam menghembuskan asapnya keluar.Lalu ia matikan sulutan rokok itu menginjaknya kasar ketika sebuah helikopter mendarat tepat di hadapannya. Melangkah lebar Demiral naik ke dalam helikopter tersebut, yang selanjutnya membawa ia pergi menjauh dari sana.Benda besi yang terbang melewati kota Roma, kemudian menyebrangi lautan luas dan tepat mendarat kembali pada sebuah pulau terpencil.Sebuah mansion megah di tengah-tengah hutan menyambutnya. Disertai dinding tebal nan tinggi membentang melindungi bangunan megah bak kastil tersebut.Burung-burung gagak yang bertengger di atas rimbunnya pohon sontak berterbangan ketika sang empu menginjakan kakinya di atas tanah pulau. Seolah-olah tahu jika sesuatu yang kejam telah kembali burung-burung itu berkicau amat seram mengirigi setiap langkah tuan tanah mereka.Pintu utama mansion terbuka berderit menggema pada setiap sudut ruangan.
Dinginnya malam semakin menelusup menembus kulit. Ditambah hujan gemerincik disertai kabut tipis yang membuat suasananya semakin sendu.Valerie berdiri di belakang jendela kaca besar mansion pada lantai dua, menyuguhkan pemandangan bawah yang langsung mengarah pada gerbang besi besar pengaman di depan sana.Sepi nan gelap, tidak ada apapun atau siapapun sebab kini hampir tengah malam, semua orang telah terlelap menuju mimpi alam bawah sadar mereka.Sementara Valerie masih berdiri di sana tegak, tidak terbuai akan rasa kantuk yang sama sekali tidak datang.Pandangannya bergerak pada sisi mansion. Di mana ia lihat seseorang mencoba menerobos masuk kedimannya. Ia tidak berbuat apa-apa atau memanggil keamanan, sebab ia tahu siapa yang datang dengan diam-diam di tengah malam.Langkah Valerie melebar namun gontai pergi menuju kamarnya. Membuka pintu ruangan yang kontan ia temui pria berpakaian basah kuyup di dalam sana. Pada air yang menetes dari tubuhnya, mengalir juga sebuah cairan merah
Hujan badai serta angin kencang masih melanda kota Roma, membuat kemacetan di mana-mana. Sembari menunggu supir menjemput, wanita cantik itu memutuskan untuk ikut Demiral naik pada penthouse pria tersebut. Keduanya kini berada dalam private lift menuju lantai tujuan. Hening di antara mereka, tidak
Valerie melenggang cepat seraya melihat ke sekitar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang terparkir dengan mesin menyala di basement. Sedetik kemudian wanita cantik itu kontan tersentak saat mendapati seorang pria dengan kaca mata beningnya di dalam sana, duduk tepat di sampin
Ximena Valerie Yoxavos. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik satu ini. Wanita cantik berdarah asli Eropa. Tinggal dan dibesarkan di ibukota Italia, Roma. Putri satu-satunya dari pasangan Alba dan Latina dari keluarga Yoxavos, keluarga terpandang pun terkaya di Italia.Semua orang mengenalnya, me
"Apa yang dia lakukan? Berani-beraninya dia berkata hal seperti itu tentangku?" Valerie tengah melakukan pemotretan pertamanya pagi ini. Saat tiba-tiba saja dia mendengar beberapa staf yang sedang menggunjingkannya. Model cantik ini bertanya-tanya apa yang telah terjadi sampai mereka bergosip sepe







