LOGINVivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.
Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu. Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek. "Gimana, udah enakan?" tanya Mang Uu. "Udah, Mang. Tubuh saya sudah agak ringan. Terima kasih ya, Mang." Vivan memberikan uang kepada Mang Uu setelah selesai dipijat. "Besok kalau mau kerja yang berat-berat lagi nggak bakal pegel. Dijamin aman, lah." Vivan pamit tidur sementara Mang Uu ikut bergabung bersama bapak-bapak yang lain yang sedang berkumpul di teras depan. Seminggu kemudian kedua orang tua Vivan sudah pulang lagi ke kota. Vivan kembali melanjutkan kegiatannya yaitu ikut kakek dan nenek ke sawah. Sebenarnya Vivan tidak kuat pergi ke sawah saat musim panen tiba, soalnya ia tidak kuat gatal kalau terkena jerami, apalagi saat terkena debu, beuh kulit Vivan rasanya gatal dan panas seperti terbakar. "Kakek, aku mau pulang. Aku nggak kuat gatel mana banyak belalang lagi. Aku nggak suka. Panas." Baru juga dua jam di sawah Vivan sudah mengeluh. "Jangan dulu pulang. Kamu istirahat saja di saung. Nanti kita pulangnya kan mau ambil duwegan." "Duwegan?" "Iya, kelapa muda." "Oh." Vivan mengangguk mengerti. Ia memilih untuk berteduh di saung sambil bermain ponsel. Tidak berapa lama, ada lima orang anak dan seorang gadis sekitar umur remaja melewati saung yang sedang Vivan tempati. Mereka memanggil Sabila, sepupu Vivan itu kemudian ikut ke dalam rombongan. Mereka berjalan ke bawah, sepertinya akan pergi ke sungai karena tadi Vivan sempat melihat gadis remaja itu membawa pancingan dan stoples bekas biskuit. "Kok nggak ikut ke sungai?" tanya Uwa Eti, kakak perempuan dari ibunya Vivan. "Nggak ah males, panas, Wa." Vivan menjawab sambil bermain ponsel, ia main game supaya levelnya naik satu. Sekalian juga sekarang ia punya waktu luang, waktu dirinya masih di kota boro-boro punya waktu nyantai begini. "Ikut kakek gih, bantuin bawa kelapa muda." "Sebentar, Wa, sepuluh menit lagi." "Heuh, pemalas." Vivan tidak mengindahkan ucapan uwanya itu. Neneknya juga sama ikut berkomentar tapi Vivan tetap tidak ambil pusing. Main game harga mati pokoknya. Sekitar pukul setengah dua belas, anak-anak yang pergi memancing itu sudah datang. Mereka berteduh di saung Aki Ajat. Sabila dan teman-temannya pamer hasil tangkapan mereka yang ternyata lumayan banyak. "Ih ikannya kecil-kecil, kirain besar kayak ikan kakap," ucap Vivan setelah melihat ikan wader, udang dan ikan penghuni sungai lainnya. "Namanya juga mancing di sungai bukan di laut, jelas hasilnya beda." Vivan menatap seorang gadis remaja yang tengah berdiri bersandar pada tiang saung. "Tapi ikan di sungai Kalimantan gede-gede, tuh." "Habitatnya aja beda, ukuran sungainya juga beda. Ya jelas spesies ikannya juga nggak sama. Kalau mau dapet ikan yang gede noh mancing aja di kolam." Ini bocah ngeselin banget, sih. Vivan bergumam dalam hati. Gadis remaja itu pergi entah kemana. Vivan tidak peduli. Ia malah ikut memanggang ikan-ikan kecil hasil tangkapan para bocah itu. Tidak berapa lama gadis remaja itu datang membawa delapan kelapa muda sementara Aki Ajat membawa enam. Wah, kuat juga gadis itu padahal tubuhnya cukup kurus. "Disuruh ambil duwegan dari tadi malah diem terus di saung. Malu dong diambilin sama gadis." Nini Uju menyindir Vivan. Cucunya itu hanya mengerlingkan matanya karena sebal. Kenapa orang-orang tidak berpihak pada Vivan, sih? "Kalau kata uwa mah anak mamih," ucap Sabila sambil tertawa kecil. Vivan menjitak kepala adik sepupunya itu dengan gemas. Sabila mengaduh tapi ia tetap tidak berhenti tertawa. Gadis remaja yang tidak Vivan ketahui namanya itu mulai mengupas kelapa muda dengan mudah. Wah, jago juga dia. Puji Vivan dalam hati. Orang-orang yang berada di saung mulai meminum air kelapa tersebut. Sedangkan daging duwegannya dicampur dengan sirup rasa jeruk tak lupa dikasih es batu supaya makin segar dicuaca yang sangat terik ini. Nini Uju dan Uwa Eti banyak mengobrol dengan gadis remaja itu. Vivan hanya mengerti sedikit karena ada beberapa kata dalam bahasa Sunda yang mirip dengan bahasa Indonesia. Lima belas menit kemudian gadis itu pergi ke arah sawah lain yang berada di atas, entah akan pergi ke mana soalnya arah pulang bukan ke jalan sana. "A Pipan nanti ajarin PR matematika aku ya," ucap Sabila sambil memakan singkong bakar yang dipasak oleh kakeknya. "Vivan." "Pipan. Hehehehe." Vivan menggelengkan kepalanya. Semenjak tinggal di kampung, orang-orang di sini memang selalu salah menyebut namanya. Vivan sebenarnya kesal, sih, tapi ya mau bagaimana lagi jadi ia membiarkan saja, toh sekarang Vivan rasanya sudah terbiasa mendengar huruf v dibaca p. "Aku juga ya, A." "Aku juga." "Aku! Aku! Sekalian ajarin gambar." Mengembuskan napas, Vivan jemu menghadapi para bocil ini. Rasanya pertemanan dengan jarak usia yang jauh ini sangat tidak cocok dengan Vivan. Ia heran kenapa sampai sekarang ia belum juga punya teman yang sebaya. Ah Vivan lupa, orang-orang seusia Vivan di sini rata-rata sudah pada menikah. Meskipun ada yang bujang ya mereka sedang merantau ke kota. "Nanti kalau nggak sibuk," jawab Vivan. "Janji, ya? Soalnya Teh Arumi lagi sibuk, jadi nggak bisa ngajarin kita." "Arumi?" Ah kayaknya Vivan sering mendengar nama itu. Neneknya juga beberapa kali pernah menyebut nama itu bersama dengan ibunya. "Kenapa kalian nggak diajarin sama kakak-kakak kalian?" "Nggak mau. Teteh aku kalau ngajarin galak. Kalau aku nggak bisa suka dimarahin," ucap Nura. "Aa aku juga sama," ucap Jajang. "Aku punyanya adik," ucap Rina. "Aku anak tunggal," ucap Iman. "Heem." Sabila mengangguk, mengiyakan ucapan Iman karena Sabila juga adalah anak tunggal. Vivan sebenarnya tidak mau terus bersama para bocah ini. Tapi ia tidak tega juga menolak permintaan mereka. Vivan ini tidak suka anak kecil, apalagi yang rewel dan selalu mengacak barang-barang yang ada di rumah. Tapi saat Vivan mengamati wajah mereka, ternyata si trouble maker yang waktu itu memecahkan mangkuk di rumah kakeknya itu tidak ikut. Sepertinya dia sudah tidak diajak oleh Sabila.Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak
Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?
Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva
"Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare
Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja
"Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da







