Share

Gebukan Sayur

last update publish date: 2026-09-24 10:40:26

Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.

Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek.

"Permisi! Aki! Nini!"

Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak berwarna campuran merah dan abu-abu, ia juga memakai topi berwarna hitam yang diputar ke belakang kepalanya. Wajahnya penuh dengan keringat dan tangan kotornya membawa keranjang berisi penuh dengan sayuran. Dari tadi aslinya Vivan dengar orang ini memanggil kakek dan neneknya, tetapi Vivan hiraukan karena ia tidak sedang ingin berinteraksi dengan orang lain. Vivan malas berurusan dengan orang sini soalnya para ibu-ibu suka sekali mengenalkan anak gadis mereka pada Vivan. Vivan jelas tidak mau karena tidak tertarik.

"Aki dan nininya ada?" tanya gadis itu.

"Nggak ada. Ngapain ke sini?"

"Mau ngasih sayuran."

Vivan berdiri. Kali ini ia benar-benar berburuk sangka. Vivan pikir strategi menyuruh anak gadis ibu-ibu desa ini akan mempan pada Vivan? Oh jelas, tentu saja tidak. Tapi Vivan mengagumi keberanian gadis polos ini untuk mendekati Vivan. Sebenarnya suka ada yang datang ke sini sendiri, kadang bersama ibunya, tapi Vivan selalu sembunyi kadang pura-pura tidur supaya tidak dipaksa untuk bertemu.

"Cuma ngasih ini doang?"

Gadis itu mengangguk.

Vivan mengamati keranjang sayur yang terdiri dari caisim, pakcoy, kangkung, bawang daun, terong ungu, buncis, mentimun, tomat dan labu siam.

"Eh, denger ya nggak usah pura-pura baik ngasih orang makanan kambing kayak gini. Dan kau gak usah kegeeran karena kemarin main di sawah bareng sama nenek. Aku tuh nggak tertarik sama gadis kampung kotor dan lusuh kayak kau."

Gadis itu mengernyitkan keningnya bingung. "Maksud kamu apa?"

Vivan melemparkan keranjang sayuran itu. "Mending kau pergi dari sini karena aku gak suka sama kau! Jangan harap aku bakal naksir dan jadi mantu atas permintaan ibumu ya! Dan lagi, aku nggak akan luluh karena dikasih makanan kambing kayak gini."

Setelah mengatakan itu, Vivan berbalik hendak masuk ke rumah.

"Kurang ajar!" Tanpa Vivan sangka gadis itu melemparkan mentimun ke belakang kepala Vivan sambil bergerutu.

"Maksudmu apa makanan kambing, hah? Kau menghina petani yang susah payah nanam sayuran menyehatkan ini, hah?!Sialan!" Gadis itu melemparkan lagi mentimun dan tomat.

Vivan melindungi dirinya dari serangan lemparan itu. Tanpa diduga, gadis itu juga memukul Vivan dengan sayuran berbatang lainnya.

Gadis itu menjejalkan pakcoy ke dalam mulut Vivan. "Nih, makan makanan kambing biar tahu rasanya!" Tidak lupa juga gadis itu menampar bolak-balik wajah tampan Vivan dengan seikat kangkung.

Untuk serangan yang terakhir, gadis itu memukul kepala Vivan dengan terong ungu dan membuat pemuda tampan itu mengaduh kesakitan.

"Heeeuh!!!" Sebelum pulang, gadis itu kembali melemparkan labu siam ke kaki Vivan dan pemuda itu kembali menjerit.

"Rasain!!!" Gadis itu berbalik pergi sambil terus menggerutu.

Vivan terduduk lemas. Ternyata digebukin pakai sayuran berasa sakit juga. Sekarang badan dan pakaian Vivan kotor penuh warna hijau dan kuning kemerahan dari sayuran segar yang baru dipetik itu.

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut? Ya ampun! Kenapa ini berantakan sekali?" Nini Uju yang baru datang sehabis sembahyang itu kaget karena halaman belakang rumahnya berantakan sekali. "Vivan, kamu kenapa? Kenapa kotor begini?"

"Aku digebukin sama orang gila, Ni," jawab Vivan sambil menyeka bercak kotor di tubuhnya.

"Orang gila? Siapa orang gila? Perasaan di kampung sini nggak ada orang gila."

"Ada, Ni. Itu cewek yang kemarin main di sawah yang bawa pancingan."

"Oh maksudnya Neng Arumi? Dia mah bukan orang gila atuh. Gak baik bilang kayak gitu." Nini Uju memukul Vivan karena berkata tidak sopan. Mana pukulannya cukup kencang membuat Vivan kembali mengaduh.

"Tahu deh, tuh. Dialah pokoknya. Nyebelin banget."

"Kamu ada buat salah sama Neng Arumi?"

"Mana ada!"

"Kalau nggak berbuat salah, mana mungkin Neng Arumi nyerang kamu tanpa alasan."

Vivan berdecak sebal. "Tadi aku tolak sayuran pemberian dia. Aku tahu, kok, dia naksir aku dan mau nyari perhatian. Karena aku nggak suka ya aku tolak mentah-mentah."

Nini Uju memukul-mukul pahanya. "Aduh, Vivan..., Neng Arumi itu bukan mau nyari perhatian sama kamu. Neng Arumi itu nganter pesenan Nini. Kemarin Nini pesen sayuran. Kamu ini gimana, sih? Ini sayuran yang berserakan ini punya Nini. Nini udah beli tapi uangnya belum dikasih. Iiih ai kamu!"

"Oh gitu, ya? Vivan kan nggak tahu, Ni."

"Ini caisim punyanya Sabila, lho. Katanya dia mau masak pakai mi. Kalau tahu caisimnya rusak kayak gini pasti dia ngamuk."

Dan benar saja, saat Sabila baru pulang dari Madrasah Diniyah, ia langsung ngamuk dan menangis karena sayuran kesukaannya itu rusak tak berbentuk lagi. Sabila merajuk sampai malam, anak kecil itu mengurung diri di kamar dan melewatkan makan malam. Bahkan ketika kedua orang tuanya menelepon, Sabila tidak mengangkatnya karena hatinya sedang kacau.

Sepulang dari mesjid, Aki Ajat pergi ke rumah Arumi untuk meminta maaf dan kembali memesan sayuran. Untung saja stok sayuran di rumah Arumi masih ada jadi Aki Ajat bisa langsung membawa pulang soalnya sayuran ini akan dimasak untuk bekal ke sawah besok.

Arumi juga meminta maaf atas kelakuannya yang bar-bar karena emosi telah memukul cucu Aki Ajat yang bisa dibilang tamu di kampung ini.

Sebagai permintaan maaf Arumi, gadis itu memberikan bonus sayuran yang lain pada Aki Ajat. Dan Aki Ajat menerimanya dengan senang hati.

"Besok kalau Sabila masih pundung tolong bujuk dia, ya. Dia kalau pundung lama sembuhnya."

Arumi mengangguk. Sebenarnya Arumi juga sering kesusahan membujuk bocah itu tapi kalau diiming-imingi sesuatu hal yang lucu, biasanya Sabila suka langsung ceria lagi. Sabila sudah menganggap Arumi seperti kakaknya sendiri karena dulu saat Sabila pertama kali datang ke kampung ini ia sering diajak main oleh uwanya main ke rumah Arumi karena anak-anak seumuran Sabila sudah masuk sekolah sementara dirinya baru proses pendaftaran.

"Nanti Arumi coba bujuk Sabila buat ikut ke kolam renang kalau hari libur."

"Terima kasih, Neng Arumi. Maaf selalu merepotkan."

"Iya, Ki. Tidak apa-apa."

"Aki permisi dulu takut Nini nyariin."

Arumi tersenyum dan mengangguk kecil. Aki Ajat juga menyapa Pak Yusman, Bayu, Yayan dan Daus yang sedang menaikkan karung-karung berisi sayuran ke atas mobil pickup. Nanti pukul sebelas, Arumi dan Daus akan pergi ke pasar subuh untuk melelang sayuran yang sudah dipanen tadi pagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ladang yang Berdendang    Gebukan Sayur

    Sore hari setelah salat asar di mesjid bersama Aki Ajat, Vivan duduk di belakang rumah tempat dapur khusus tungku dan tempat penyimpanan kayu bakar. Di belakang rumah terdapat kandang ayam dan juga kandang kambing. Vivan suka duduk di halaman belakang karena sinyal kartu providernya cukup bagus dibandingkan di depan rumah. Sabila pernah menyarankan Vivan untuk ganti kartu tetepi belum ia lakukan karena ia malas pergi ke konter dan harus registrasi ulang.Sebenarnya Vivan ingin pasang Wi-Fi tetapi dia tinggal di sini hanya enam bulan saja, lagipula ia harus mengeluarkan uang lagi untuk beli kabel karena pengguna Wi-Fi di sini jarang dan jaraknya cukup jauh. Kalau lagi genting biasanya Vivan sering meng-hotspot dari ponsel Sabila. Tentu saja Vivan ganti pulsanya, kalau nggak diganti, Sabila pasti udah manyun ngambek."Permisi! Aki! Nini!"Vivan menoleh pada seorang gadis berpakaian kotor dengan memakai celana panjang, kaos polos hitam dan kemeja kotak-kotak

  • Ladang yang Berdendang    Anak Mamih

    Vivan berbaring di atas tikar sambil tubuhnya dipijat oleh Mang Uu, tukang urut kampung yang sudah tersohor namanya. Tubuh Vivan rasanya linu dan pagal akibat dirinya dari pagi sampai siang memikul tumpukan batang padi dan menyusunnya secara rapi untuk dikeprak. Ia juga tadi sempat membantu kakeknya mengarit rumput untuk makan kambing. Ia memikul dua copo bambu wadah rumput, sementara kakeknya memikul di sebuah karung.Rumah kakeknya kini banyak didatangi oleh para tetangga. Sepertinya kebiasaan di kampung sini kalau ada tamu dari kota mereka selalu bersilaturahmi sehabis pulang dari mesjid. Bahkan anak-anak kecil juga ada yang ikut, mereka sekarang sedang bermain dengan Sabila, sepupu Vivan anak dari pamannya yang bungsu.Orang tua Sabila pergi merantau ke kota, Sabila dari masuk SD kelas satu sudah dititipkan di rumah kakek dan neneknya. Sekarang Sabila dirawat oleh mereka dan juga oleh uwanya, kakak dari ibunya Vivan yang rumahnya tepat di samping rumah kakek."Gimana, udah enakan?

  • Ladang yang Berdendang    Savage part 2

    Byuuur!!!Vivan melemparkan air jus semangka ke wajah Inditha dan melemparkan nasi goreng ke wajah Ega.Inditha ingin menyumpah-serapahi orang yang mengganggunya itu tetapi ia tidak jadi, ia malah merasa gugup saat mengetahui Vivan berada di depannya."Jadi ini kelakuan kalian berdua. Kau tega, ya, Tha, bermain belakang seperti ini.""Aku, aku bisa jelasin, Van. Ini tidak seperti yang kamu kira.""Mau jelasin apa? Aku udah tau kelakuan kamu selama ini, Tha. Kamu udah selingkuh sama dia selama lima bulan lamanya.""Aku nggak selingkuh, Van. Kamu salah paham.""Salah paham apa? Aku sudah punya bukti kelakuan busuk kamu." Vivan mengeluarkan ponselnya yang menunjukkan semua bukti-bukti perselingkuhan Inditha selama Vivan berada di Jepang."Kau tega ya sama aku, Tha."Ega tertawa kecil. Ia melemparkan tisu yang dipakai untuk membersihkan wajahnya."Iya, kita emang main api di belakang kau, Van.""Sialan!" Vivan melayangkan tinju pada wajah tampan Ega dan membuat pemuda itu tersungkur.Viva

  • Ladang yang Berdendang    Savage part 1

    "Sayang kok kamu pulang nggak ngasih tau aku, sih?" Inditha merajuk pada Vivan.Saat ini Inditha sedang berkunjung ke rumah Vivan setelah mengetahui kalau Vivan sudah pulang dari Jepang satu minggu yang lalu. Padahal waktu berkirim kabar dan melihat Instagram story Vivan kemarin pacarnya itu masih memposting pemandangan indah negara sakura tersebut."Sengaja, biar jadi kejutan.""Iiiih kamu mah kebiasaan, deh, kalau abis dari mana suka nggak ngasih tau kalau udah pulang. Bete deh aku.... Oh ya, maaf ya, Sayang, waktu kamu wisuda aku nggak bisa datang. Akhir-akhir ini orkestra lagi sibuk pake banget. Sekali lagi selamat udah diwisuda, ya. Kapan-kapan kalau kita lagi free kita rayain ya.""Iya, gak apa-apa." Vivan mengambil sebuah bingkisan dari meja kemudian memberikannya pada Inditha. "Ini oleh-oleh buat kamu.""Wah ini apa, Sayang? Aku buka sekarang boleh?""Iya, silakan."Inditha membuka kado pemberian dari Vivan. Ia terkejut melihat isinya yang ternyata adalah perlengkapan skincare

  • Ladang yang Berdendang    Main Belakang

    Mobil Maserati berwarna merah mencolok itu berhenti di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Tidak lama kemudian seorang gadis berpakaian rapi keluar dari gerbang dan kemudian masuk ke dalam mobil mentereng tersebut.Vivan perlahan memajukan mobilnya untuk membuntuti mobil merah tersebut.Rumah yang Vivan lewati barusan adalah rumah Inditha. Tadinya Vivan ingin memberikan kejutan pada Inditha karena seminggu lagi hari ulangtahunnya, makanya Vivan tidak memberitahukan pada Inditha kalau Vivan akan main ke rumahnya.Kebetulan sekali Vivan datang berbarengan dengan mobil Maserati tersebut, jadi Vivan bisa tahu kalau Inditha sedang pergi. Tapi yang Vivan bingung siapa pemilik mobil tersebut karena setahu Vivan, pacarnya itu tidak punya teman yang punya mobil sport mewah. Rata-rata ya teman-teman Inditha sama seperti dirinya menggunakan mobil biasa.Sekitar satu jam kemudian mobil tersebut berhenti di sebuah restoran Prancis bintang lima. Vivan memilih parkir di tempat yang cukup ja

  • Ladang yang Berdendang    Protes

    "Padahal ada Brian yang biasa menjadi concertmaster menggantikan saya kalau saya sedang absen. Brian lebih berpengalaman dan permainannya lebih bagus dari Ega, Pak."Vivan langsung protes pada Pak Hartawan atas rolling anggota yang menurutnya tidak sesuai."Permainan Ega menurut saya sudah bagus. Kemarin saat kamu sedang di Kalimantan, saya yang kembali menyeleksi para anggota dan semuanya tidak ada masalah. Bahkan Brian juga tidak keberatan duduk di belakang Ega.""Tapi, Pak—"Ucapan Vivan langsung dipotong. "Tidak ada tapi-tapian. Saya harap kamu bisa membimbing Ega ya, Van."Vivan mendengus pelan. Enak aja ia harus bermurah hati dan bersikap baik pada orang menyebalkan itu."Gimana?" tanya Aji setelah melihat Vivan keluar dari ruangan Pak Hartawan.Kepala Vivan menggeleng. "Sebagus apa, sih, permainannya sampai Pak Hartawan lebih milih bocah tengil itu daripada Brian.""Coba kamu tantang aja, Van," ucap Andhika. "Tadi aku liat dia lagi ada di ruangan string."Vivan, Aji, Andhika da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status