LOGIN"Semuanya keluar!" perintah Lucas akhirnya. "Jika tidak, dia akan mulai berteriak dan menuduh siapa pun yang dia inginkan." Suaranya dingin menusuk.
"Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum bergegas meninggalkan ruangan. Rocella masih berdiri di sisi pria itu. Ia melirik, berharap mendapatkan pembelaan, namun Lucas bicara bahkan tanpa menoleh ke arahnya. "Kau juga keluar. Tinggalkan aku bersama istriku!" Rocella tersentak, rasa kesal kilat melintas di wajahnya. "Baik, Yang Mulia," sahutnya sambil mengangguk sopan. Namun, sebelum berbalik pergi, Emma sempat menangkap sorot kebencian yang tajam dari matanya. Setelah sang adik pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Lucas melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. "Apa yang sedang kau mainkan, Maddie?" Maddie. Nama itu terdengar akrab sekaligus merendahkan di telinga Emma. Ia mengerutkan kening, merasakan debaran tidak nyaman di dadanya. "Lady Madeleine! Kau mendengarku?" Suara itu semakin keras, menuntut perhatian. Ada rasa hampa yang sesaat menghantam Emma—nama Madeleine terasa berat dan asing, sama sekali bukan miliknya. Ia mencoba membuka mulut untuk menyebut namanya sendiri, namun lidahnya mendadak kaku. Saat itulah kenyataan pahit menghantamnya. Di dunia ini, nama Emma tidak pernah ada. Ia adalah Madeleine sekarang. Emma melirik tajam ke arah pria di depannya. Lucas tampak kehilangan kesabaran, wajahnya mengeras dengan dahi yang berkerut dalam. "Aku tidak sedang memainkan apa pun," sahut Emma dingin. “Lalu ini apa? Mengusir suamimu di depan pelayan?” “Aku hanya memintamu keluar. Apa sulit bagimu melangkah keluar?” Lucas terdiam. Hanya sesaat, namun sebelum ia kembali bersuara, Emma memotong dengan datar sambil memalingkan wajah. “Aku baru saja tenggelam dan butuh istirahat. Tolong mengertilah." Pria itu terpaku. Kalimat barusan bukan hanya pengusiran, tapi sebuah penolakan mentah-mentah yang tak pernah ia duga. Tidak ada rengekan, tidak ada tangan yang mencoba meraih jubahnya, dan tidak ada tatapan memuja yang biasanya membuatnya muak. "Tidak biasanya kau begini," gumamnya pelan. Sikap Madeleine terlalu dingin. Jarak yang tercipta di antara mereka saat ini terlalu lebar untuk menggambarkan sosok istri yang selama ini terobsesi padanya. "Baik!" ketus Lucas akhirnya. Ia berbalik dan melangkah pergi dengan sisa kebingungan yang tertinggal di wajahnya. Begitu pintu tertutup rapat, Emma bergerak menuju cermin besar di sudut ruangan. Ia terpaku menatap pantulan wajah yang tampak begitu lembut sekaligus rapuh. Kulitnya seputih susu, namun bibirnya masih pucat akibat sisa kedinginan dari danau. Ia menyentuh pipinya dengan ragu. "Jadi, ini wajah asli wanita bernama Madeleine Moore itu?" gumamnya pelan. Kehidupan lamanya sebagai Emma—seorang buronan rentenir yang tewas mengenaskan—kini terasa seperti mimpi buruk yang jauh. Di hadapan cermin ini, ia lahir kembali sebagai istri Putra Mahkota yang dibenci. Ingatan tentang masa depan kembali menghantamnya dengan lebih jelas. Suara-suara yang dulu ia anggap sebagai dukungan, kini terdengar seperti bisikan iblis. “Kakak sangat cocok dijadikan tumbal," suara Rocella terngiang, licik dan tajam. "Begitu dukungan Kaisar hilang, dia tidak akan punya siapa-siapa lagi.” “Bahkan Putra Mahkota pun tidak akan melirik padanya,” sahut ayahnya—Wilder Moore dengan nada yang sama dinginnya. Suara-suara samar itu kini berputar di kepala Emma, seolah menarik paksa tabir kebohongan yang selama ini menutup matanya. “Ayah, kau tidak boleh membiarkan Kakak menjadi Ratu. Posisi itu harus milikku," tuntut Rocellla. "Aku sudah meracuni wanita kesayangan Putra Mahkota dan kondisinya kritis. Dia tidak mungkin menunggu wanita itu bangun dari koma. Saat kursi calon Ratu kosong, akulah satu-satunya kandidat yang tersisa. Jika Kakak mati, jalan itu akan terbuka lebar.” “Sedikit lagi, tuduhan menjual rahasia kerajaan akan sampai ke telinga Kaisar. Dengan begitu, eksekusinya hanya tinggal menunggu waktu.” Emma menarik napas tajam saat menyadari betapa pemilik tubuh ini telah dikhianati secara halus. Si pemilik tubuh selalu mengira kalau ayah dan adiknya adalah satu-satunya pelindung di tengah hujatan dunia, namun kenyataannya justru sebaliknya. Sanjungan mereka selama ini hanyalah racun yang sengaja diberikan untuk memupuk sifat kasarnya. Mereka sedang menciptakan sosok monster. Dengan begitu, saat eksekusi tiba, tidak akan ada orang yang membelanya. Dunia justru akan bersorak merayakan kematiannya. Kini Emma paham bahwa dunia ini membutuhkan kambing hitam, dan peran itu telah dipakukan erat pada dirinya. Ia meredam sisa gemetar di tangannya, menyadari bahwa mengejar cinta sang Putra Mahkota hanyalah jalan buntu menuju ujung pedang. Mengikuti naskah lama sama saja dengan mengantar nyawa. Keputusannya pun bulat: ia harus mengubah alur takdir yang telah tercatat, sebelum skenario mereka merenggut nyawanya untuk kedua kali. Emma menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh bibirnya yang pucat, kali ini dengan tatapan yang tak lagi rapuh. Kemarahan perlahan menggantikan rasa takutnya. "Aku tidak akan mati untuk kedua kalinya.” **“Apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” tanya Madeleine telak. Lucas tersentak. Untuk sesaat, ekspresi dingin di wajahnya retak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Madeleine dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berhenti berharap padamu, Yang Mulia,” lanjut Madeleine datar. “Aku berhenti mencintaimu karena aku sadar kehadiranku selama ini hanya mengganggumu. Kau sangat muak padaku, bukan? Jadi aku memilih berhenti. Seharusnya kau senang.” Lucas masih bungkam. Namun, Madeleine bisa melihat rahang pria itu mengeras dan jemarinya yang menggantung di sisi tubuh mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Madeleine tidak menunggu balasan. Ia hanya menatap Lucas sekilas, lalu berbalik menjauh tanpa beban. Meninggalkan Lucas yang terpaku menatap punggung istrinya. – Seminggu berlalu sejak insiden di taman belakang Istsna. Madeleine memutuskan untuk menjaga jarak, namun sikap Lucas justru me
Rocella membeku. Perubahan drastis kakaknya terasa seperti tamparan yang sulit ia cerna. Semuanya terjadi terlalu mendadak—sikap tenang itu, tatapan tajam itu, seolah-olah Madeleine yang selama ini bisa ia kendalikan telah lenyap. Dari sudut matanya, Rocella melihat para pelayan yang biasanya bersikap santai kini berdehem gugup. Mereka segera membetulkan posisi berdiri, lalu membungkuk sangat dalam saat Madeleine melintas di depan mereka. Sebuah rasa hormat yang murni karena wibawa, bukan karena takut akan amarah. Rocella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kegelisahan bercampur di dadanya melihat pengakuan yang baru saja didapatkan kakaknya dari para pelayan. Tanpa sepatah kata pun, Rocella berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ia perlu menyusun ulang rencananya. Madeleine yang tenang ternyata jauh lebih berbahaya daripada Madeleine yang gila. – Sejak kejadian di taman, Lucas gelisah. Sosok Madeleine terus menghantui pikirann
Sore itu, Madeleine menyusuri taman belakang Istana. Pepohonan yang dahan-dahannya melengkung karena berat buah yang ranum menciptakan ketenangan tersendiri. Di tempat ini, hiruk-pikuk istana yang menyesakkan terasa begitu jauh. Madeleine menghirup udara dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. "Taman ini dibangun sendiri oleh mendiang Ratu terdahulu," jelas Erin, dayang istana yang melangkah tenang di belakang Madeleine. Madeleine menyentuh permukaan halus sebutir buah yang menggantung rendah. "Pasti beliau sangat mencintai tempat ini," gumamnya. Ia mengamati barisan pohon yang tertata rapi namun tetap terlihat alami. Di dunia aslinya, taman seperti ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel atau buku sejarah. Merasakan tekstur daun dan mencium aroma manis buah yang matang secara langsung memberikan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. "Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sini saat merindukan kampung halamannya," tambah E
Pagi di Istana Auvrellis dimulai dengan keheningan yang kaku. Di paviliun timur, Emma berdiri mematung di depan jendela tinggi. Nama Madeleine masih muncul tanpa diundang—sebuah identitas dari kehidupan yang telah berakhir. Ia menarik napas pelan, mencoba menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya. Sekarang ia bukan lagi Emma, melainkan Madeleine, sang Putri Mahkota yang ditakdirkan mati. Dan ia tidak akan membiarkan nasib itu terulang. Saat para pelayan masuk dengan langkah nyaris tak bersuara, Madeleine membiarkan mereka bekerja. Jemari mereka bergerak cekatan merapikan gaun dan menyisir rambutnya dengan sangat hati-hati. Ada ketegangan yang jelas dari para pelayan itu; mereka bekerja seolah sedang menghindari kesalahan fatal. Emma merasakan kecanggungan yang nyata. Di kehidupannya yang lama, ia adalah pihak yang menunduk dan menerima perintah. Ia terbiasa bekerja kasar untuk bertahan hidup, bukan duduk diam sementara orang lain mengurusi setiap detail tubuhnya. Kini, sa
"Semuanya keluar!" perintah Lucas akhirnya. "Jika tidak, dia akan mulai berteriak dan menuduh siapa pun yang dia inginkan." Suaranya dingin menusuk. "Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum bergegas meninggalkan ruangan. Rocella masih berdiri di sisi pria itu. Ia melirik, berharap mendapatkan pembelaan, namun Lucas bicara bahkan tanpa menoleh ke arahnya. "Kau juga keluar. Tinggalkan aku bersama istriku!" Rocella tersentak, rasa kesal kilat melintas di wajahnya. "Baik, Yang Mulia," sahutnya sambil mengangguk sopan. Namun, sebelum berbalik pergi, Emma sempat menangkap sorot kebencian yang tajam dari matanya. Setelah sang adik pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Lucas melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. "Apa yang sedang kau mainkan, Maddie?" Maddie. Nama itu terdengar akrab sekaligus merendahkan di telinga Emma. Ia mengerutkan kening, merasakan debaran tidak nyaman di dadanya. "Lady Madeleine! Kau mendengarku?"
Uhuk! Uhuk! Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk. “Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.” Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma. “Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?” Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di







