Home / Romansa / Lagi, Pak Dosen / Bab 4 Dunia Sempit Sekali

Share

Bab 4 Dunia Sempit Sekali

Author: Manila Z
last update publish date: 2025-11-17 17:04:34

"Itu sangat memalukan!"

Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri.

"Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"

Gea terus merutuki kesalahannya tadi, sampai ada salah satu temannya datang menghampiri dirinya. Dia adalah Andin.

"Gea, tolong kamu kasih kopi late ini ke meka nomor 9 yah."

Gea hanya mengangguk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Andin. "Okeh."

Akhirnya Gea memutuskan untuk berjalan menuju kearah meja yang disebutkan oleh Andin barusan. Baru beberapa langkah dia langsung menaikan sebelah alisnya.

"Sepertinya aku tidak asing dengan orang itu," gumam Gea.

Dia memastikan kembali orang yang tengah duduk barusan. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.

"Pak Stefano, tidak mungkin dia bukan? Pasti itu karena aku terlalu memikirkan orang itu, makanya tamu yang datang seperti dalam bayanganku. Tidak mungkin kalau itu Pak Stefano."

Gea berusaha meyakinkan dirinya sendiri, sampai dia akhirnya menaruh minumannya itu ke atas meja tersebut.

"Silakan minumannya."

Stefano awalnya terkejut ketika melihat orang yang memberikan minum padanya, dia langsung menerimanya dan mengucapkan terimakasih.

"Terimakasih."

Gea hendak akan pergi, tetapi setelah mendengar suara bas itu mirip Stefano. Akhirnya Gea menoleh kembali kearah Stefano dan memastikan lagi.

"Tidak mungkin Pak Stefano bukan?"

"Kamu pikir saya hantu?"

Deg

Lagi-lagi Gea harus ketemu dengan dosennya itu. Dia memastikan sekitarnya dulu kalau tidak ada yang mengenal mereka. Lalu dia langsung menatap kearah Stefano.

"Pak Stefano mengikuti saya?"

Stefano menaikan sebelah alisnya ketika mendengar hal tersebut. "Untuk apa saya mengikuti kamu."

"Buktinya sekarang Pak Stefano ada di tempat saya kerja," kata Gea.

Stefano menatap kearah Gea yang memang memakai baju pelayan kafe di sini.

"Oh, jadi kamu bekerja di tempat ini," jawab Stefano dengan santai.

Berbeda dengan ekspresi wajah dari Gea terlihat kesal, dia yakin kalau dosennya itu mengikuti dirinya sampai ke sini. Bukannya sudah dia bilang kalau seharusnya mereka tidak saling kenal.

"Pak Stefano gak usah pura-pura, pasti Pak Stefano sengaja datang ke tempat kerja saja untuk menguntit saya bukan? Bukannya saya sudah bilang kalau kita tidak boleh saling kenal!" umpat Gea dengan kesal.

"Pertama, Saya tidak sedang menguntit kamu, saya datang ke sini memang akan bertemu dengan seseorang, kedua dengan kamu berbicara seperti itu kepada saya, semua orang pasti akan merasa curiga kalau kita saling kenal, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita tidak boleh bertemu dan terlihat saling kenal," balas Stefano.

Gea tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki tersebut. Dia yakin kalau Stefano pasti sengaja mengikutinya.

"Saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stefano."

Stefano menyilangkan kaki dan menatap kearah Gea dengan santai. "Terserah kalau kamu tidak percaya dengan saya," kata Stefano.

Sebelum akhirnya ada seseorang datang menghampiri Stefano dan langsung memeluk dirinya dengan akrab.

"Hallo Bro, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu," sapa laki-laki tersebut pada Stefano.

Stefano menyapa laki-laki tersebut dengan santai. "Lain kali kalau mau ketemu, cari kafe yang lebih bagus dari ini, biar aku gak di tuduh menguntit orang."

"Hahah aneh banget bro!"

Gea benar-benar merasa malu, jadi benar Stefano ke sini untuk bertemu dengan temannya bukan untuk menguntit dirinya. Mau di taruh di mana sekarang mukanya.

"Eh ini pelayan kafenya yah?" tanya orang itu pada Gea.

Stefano hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Gea sama sekali, dia kembali menyesap minuman yang dia pesan tadi.

"Saya pesan jus alpukat yah, sama kentang goreng," ujar pria tersebut.

Gea sedikit gugup dan dia mencatat pesanan tersebut. "Baik silakan tunggu."

Setelah itu Gea langsung buru-buru berlari karena dia sangat malu. Sampai menuduh Stefano menguntit dirinya tadi.

"Ah ini sangat memalukan sekali!" umpatnya lalu masuk ke dapur dan memberikan catatan note kepada temannya yang bernama Andin.

"Ini meja nomor 9 pesan jus alpukat dan kentang goreng," jelas Gea.

Andin hanya mengangguk sambil menatap kearah Gea. "Kamu kenapa? Habis dimarahin sama costumer yah? Kok keliatannya tadi kamu lama mengobrol dengan beliau. Apa kamu kenal dengan orang yang di meja nomor 9?"

Deg

Gea benar-benar tidak tahu harus menjawab apa sekarang, rasanya dia ingin menenggelamkan wajahnya saat ini.

"Eh tidak Kok, Andin. Kita tidak saling kenal," elak Gea karena khawatir ketahuan.

"Kamu yakin gak kenal dengan dia? Katanya dia adalah dosen baru loh di universitas kamu," jelas Andin kembali.

Skakmat, kenapa juga Andin bisa tahu sesuatu tentang Stefano yang dosen baru itu. Bagaimana sekarang dia menjelaskan pada Andin agar wanita itu tidak curiga. Apalagi kalau Andin tahu dia pernah tidur satu ranjang dengan pria itu.

"Aku gak tahu, sudah lebih baik kamu buatkan pesanan itu. Aku akan cuci piring," kata Gea mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah," ujar Andin sambil tersenyum dengan penuh arti.

Gea akhirnya memutuskan untuk mencuci piring, dia tidak mau mengantar makanan lagi ke tempat Stefano berada sekarang. Dia benar-benar sudah dibuat malu tadi.

"Sialan Stafano, kenapa dunia ini sempat sekali!"

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 56 Andin Membawa Pergi Ayahnya

    Andin akhirnya masuk ke dalam kamar tempat dimana ayahnya berada sekarang. Ada rasa khawatir melihat kondisi ayahnya yang sekarat. "Ayah," panggil Andin. Ayahnya hanya diinfus biasa saja, ini membuat dia merasa kesal, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja. Apalagi dengan kondisi ayahnya yang terlihat buruk. "Siapa yang membiarkan ayah saya terbaring seperti ini saja, memangnya kenapa tidak dibawa kerumah sakit," ujar Andin dengan marah. Dia tidak menyangka kalau ayahnya akan diperlakukan seperti ini. Lalu dia menatap kearah wanita yang baru saja muncul diarah pintu. "Ayah kamu hanya sakit biasa, sudah diinfus juga. Paling nanti juga sembuh," kata wanita itu dengan nada yang sedikit angkuh. Andin mengepalkan tangannya, jelas dia tidak terima sama sekali dengan fakta yang satu ini. "Pasti semuanya ulah Tante bukan?""Kalau memang iya, kenapa? Ayah kamu tidak memberikan aku uang lagi. Jadi rasakan saja dia sekarat seperti ini" ujarnya. "Kamu, berani sekali berbicara seperti ini

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 55 Andin Pulang

    Gea membenahi bajunya dengan benar setelah dia bermain panas dengan Stefano barusan. Pria itu memang benar-benar menyebalkan. "Semuanya karena Pak Stefano!" dengus Gea dengan kesal. Dia terlihat sangat kesal ketika melihat semuanya jadi seperti ini. Bahkan dia merasa tidak yakin dengan semuanya. "Sudahlah Gea, kamu juga menikmatinya," jawab Stefano santai. "Yaudah kalau begitu saya pergi dulu," pamit Gea setelah dia merapihkan rambutnya juga yang terlihat sedikit berantakan. Stefano hanya tersenyum dengan penuh arti dan mengangguk saja. Dia tahu apa yang terjadi selanjutnya. Terlebih ketika dia melihat semua hubungan memang akan jadi seperti itu. "Bagus deh."Dia tersenyum dengan lembut, rasanya memang manis ketika semuanya saling berhubungan satu sama lain. "Menyebalkan!"Gea langsung keluar dari ruangan Stefano, dia menghela napas panjang. Sebelum akhirnya dia berjalan mencari keberadaan temannya yaitu Raya. Dia berkeliling menyusuri tempat ini dan mencoba untuk menghubungi

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 54 Sentuhan Stefano

    Gea menyusuri tempat ini, tujuan utamanya adalah untuk mencari Stafano. Dia harus mengatakan sesuatu sebelum semuanya berakhir. "Gea," panggil seseorang. Gea menoleh kearah Nadia yang kini menghampiri dirinya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan wanita itu. "Loh, Nadia. Kamu tidak bersama dengan Raya?""Harusnya aku yang menanyakan itu, kamu kan yang satu jurusan dengan dia," jawab Nadia dengan tenang. Gea seketika langsung tertawa, dia lupa dengan satu fakta yang ini. Memang dia yang satu jurusan dengan Raya. "Sorry, aku juga belum melihat dia.""Kamu sendiri, ada jadwal hari ini?" tanya Gea penasaran. Nadia tersenyum tipis, "kebetulan ada, tetapi dosennya tidak masuk. Katanya sih izin karena ada urusan yang lebih penting.""Oh, begitu rupanya."Nadia kemudian menatap kembali kearah Gea yang tidak jauh dari tempatnya berada. "Oh iya, aku belum sempat mengatakan sesuatu padamu. Ini tentang Marvel."Gea menaikan sebelah alisnya heran, kenapa juga tiba-tiba membahas tentang

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 53 Sebuah Foto Lama

    Gea tengah ada di kamarnya, dia membereskan semua barang-barang milik Stefano yang memang sangat berantakan. Laki-laki itu sudah pergi ke kampus sejak tadi pagi, kebetulan Gea jadwal siang, jadi dia masih ada waktu di rumah. "Berantakan sekali."Akhirnya dia membereskan semua barang-barang itu dan menyusun dengan ramah. Sampai matanya melihat sesuatu dari sebuah laci kecil. "Ini apa?" tanya dia dalam hatinya. Ketika baru membukanya karena rasa penasaran yang menerpa dirinya. Dia perlahan membukanya dan sedikit terkejut. "Tunggu, ini sebuah foto."Gea menaikan sebelah alisnya heran, di sana dia melihat foto Andin dan Stefano, mereka terlihat sangat akrab sekali. Lalu dia melihat ada dua orang lagi yang sepertinya memang lebih tua. "Dua orang tua ini, siapa?" ujar Gea penasaran, dia harus bertanya pada Stefano nanti. Akhirnya Gea memutuskan untuk memasukan foto tersebut ke dalam tasnya. Dia akan menanyakan ini pada Andin. Dia yakin kalau ini ada hubungannya. Tetapi dia penasaran j

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 52 Fadlan Menemui Andin

    Andin terdiam sejenak, banyak sekali hal yang memang harus dia lakukan, bahkan dia tidak yakin sama sekali dengan semuanya. "Andin," panggil seseorang. Andin menoleh kearah orang yang memanggilnya, rupanya itu adalah Fadlan. "Iya Pak Fadlan," jawab Andin dengan nada yang sopan. Fadlan tersenyum sekilas ketika mendengar suara dari Andin yang lembut, biasanya wanita itu memang sedikit agak cuek, dia sama sekali tidak menyangka akan bersikap sedikit sopan begini. "Boleh bicara sebentar?" pinta Fadlan. Andin menimbang apa yang dikatakan oleh Fadlan barusan, padahal sebelumnya dia selalu menghindar ketika dekat dengan wanita itu, tetapi kenapa sekarang seperti ini?Dia bahkan tidak yakin sama sekali, sampai pada akhirnya dia teringat akan sesuatu. Mungkin memang dia harus melakukan hal ini lebih awal. "Maaf bicara tentang apa?"Fadlan tanpa mengatakan apapun, dia langsung menarik tangan Andin untuk ikut bersama dengan dirinya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya Andin ikut. Dia melih

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 51 Ambil Sikap

    Seorang wanita tengah duduk dengan angkuh di sebuah kursi kebesaran miliknya. Meminum sebuah wine yang memang sangat mahal. "Sialan.""Kenapa?" tanya orang itu yang kini merasa sedikit heran. "Orang itu kini sudah ditangkap oleh pihak kepolisian. Bagaimana kalau rencana kita ketahuan oleh Stefano?" ujarnya dengan panik. "Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengirim seseorang untuk masuk ke dalam saja, mencoba menghabisinya agar kita tetap aman."Wanita itu langsung tersenyum dengan puas. "Terimakasih banyak.""Tentu saja, aku memang sangat pintar," katanya dengan nada yang sombong. Ada sedikit rasa senang dalam hatinya setelah dia mengetahui semuanya. Lalu dia melihat sebuah foto tiga orang yang memang sengaja dia simpan. Sebelum akhirnya foto itu diambil. "Kamu ingat dengan misi kita.""Hanya mendekati dua orang itu kan?" gumamnya. "Iya, pastikan semuanya berjalan lancar tanpa celah. Karena sekarang Stefano sudah mulai mencurigai kita.""Aku paham, kalau begitu aku pamit dulu."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status