Beranda / Romansa / Lagi, Pak Dosen / Bab 5 Ciuman Tidak Sengaja

Share

Bab 5 Ciuman Tidak Sengaja

Penulis: Manila Z
last update Tanggal publikasi: 2025-11-17 17:12:22

Perpustakaan

Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku.

"Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal.

Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut malam, dia tidak tahu buku itu berada di mana.

Akhirnya dia mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi Raya.

"Hallo Raya."

"Kenapa Gea, malam-malam malah menghubungi aku?"

"Buku yang waktu itu, tentang sistem digital tidak ditemukan. Bahkan modulnya juga tidak ada. Aku sudah mencarinya di perpustakaan kampus."

"Tunggu dulu, kamu jam telah malah begini ada di kampus? Astaga Gea kamu gila yah!" ujar Raya dengan nada yang sedikit panik.

Apalagi ini sudah malam, membuat Raya jadi khawatir dengan Gea.

"Biasa aja kali, lagian aku juga ke perpustakaan kampus untuk mencari buku. Bukan buat hal yang aneh-aneh," balas Gea dengan santai.

"Iya tetapi saja Gea. Ini sudah malam, besok saja kamu cari bukunya. Aku janji akan membantu kamu."

"Kamu serius?"

"Iya, aku serius."

Gea tersenyum senang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Raya barusan. Mungkin dia besok akan mencari buku tentang sistema digital itu.

"Kalau begitu aku tutup dulu."

Gea memutuskan untuk menutup sambungan teleponnya. Baru juga dia menutup sambungan teleponnya, tiba-tiba dia merasa kalau ada seseorang yang tengah melangkah kearah dirinya.

Saat ia melangkah hendak mencari rak buku berikutnya, bulu kuduknya mendadak berdiri. Ada langkah kaki mendekat.

Gea spontan menahan napas. Jantungnya berdegup tak karuan. Entah kenapa, instingnya mengatakan ia harus bersembunyi. Dengan cepat ia merunduk ke balik salah satu rak besar. Namun karena terburu-buru, tubuhnya malah bergerak terlalu cepat—

Duk!

Kepalanya menghantam sesuatu yang keras, tepat di atasnya. Rasa sakit langsung menyengat, membuatnya meringis sambil memegangi kepalanya. Tapi beberapa detik kemudian, saat kesadarannya terkumpul.

"Tunggu, ini bukan rak buku, ini seperti-"

Gea dengan  perasaan campur aduk antara malu dan waspada, Gea perlahan mendongak. Nafasnya serasa berhenti.

Deg.

Lagi-lagi dia malah bertemu dengan pria itu.

"Pak Stefano, ngapain di sini?" tanya Gea ketika melihat Stefano ada di sini.

Stefano berdiri tegak, tubuhnya membuat bayangan panjang di lantai perpustakaan. Muka datarnya semakin terlihat dramatis di bawah lampu kuning redup. Tatapannya langsung mengunci Gea dengan tajam, seolah sedang menganalisis setiap gerak-geriknya.

"Harusnya saya yang menanyakan hal ini ke kamu, ngapain kamu malam-malam di perpustakaan?"

Nada suaranya tenang, tapi menghantam telinga Gea seperti palu. Gea menelan ludah, gugup bukan main. Entahlah, keberadaan Stefano selalu berhasil membuat dirinya seperti murid tahun pertama yang baru kepergok mencoret meja kelas.

"Iya saya di sini lagi cari buku tentang sistem digital. Pelajaran Bu Dewi," jawab Gea cepat.

Stefano tak langsung bergerak. Tatapannya hanya berpindah sedikit, lalu jarinya terangkat dan menunjuk ke arah atas, tepat di rak paling tinggi.

Gea mengikutinya dengan pandangan. Wajahnya langsung merekah dengan senyum lega.

"Terimakasih."

Tanpa menunggu, Gea mendongak ke atas dan berusaha meraih buku tersebut. Namun kakinya harus menapak ujung lantai, tubuhnya sedikit terangkat, kedua tangan terjulur. Rak itu terlalu tinggi dan jarak buku itu masih terlalu jauh untuk dijangkau.

Sementara itu, Stefano hanya berdiri diam di belakangnya, menyaksikan seluruh usaha Gea dari jarak yang entah sejak kapan terasa terlalu dekat.

Gea terus berusaha meraih bukunya yang terselip di rak paling atas. Dia berjinjit, lalu mencoba sedikit melompat, tapi ujung jarinya tetap tak pernah menyentuh punggung buku tersebut.

Stefano, yang memperhatikan usahanya sedari tadi, mendadak tersenyum kecil. “Kalau nggak sampai, tinggal bilang. Saya nggak akan gigit."

Nada suaranya rendah dan hangat, terlalu hangat untuk seorang dosen. Pipi Gea spontan memanas, apalagi ketika Stefano mendekat dan tubuh mereka hanya terpisah sejengkal.

Dengan mudah, Stefano meraih buku itu. Tapi sebelum dia sempat menurunkannya, sebuah kotak kecil yang berada di ujung rak justru goyah.

Gea melihat itu duluan. “Pak Stefano, awas!”

Kotak itu jatuh, dan Stefano refleks bergerak menghindar, tapi rak yang dia pegang justru membuatnya kehilangan keseimbangan. Sedangkan Gea berada tepat di bawahnya.

Brug!

Dalam sekejap, dunia seperti berhenti.

Stefano menindih tubuh Gea di lantai, satu tangannya menahan agar dia tidak menekan Gea terlalu keras. Namun momen itu terlalu singkat untuk dihindari, bibir Stefano sempat menyentuh bibir Gea. Hanya sekejap, tapi cukup untuk membuat tubuh keduanya membeku.

Deg.

Suara degupan jantung entah milik siapa, terasa menghentak di antara jarak yang terlalu dekat. Ruangan redup ini seketika terasa sedikit panas dengan posisi mereka yang sekarang.

Mata Stefano melebar, napasnya tercekat. “Gea… aku—”

Gea sendiri tak bisa bicara. Wajahnya panas, tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Bibirnya masih terasa kesemutan, entah karena benturan atau karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.

Sampai tiba-tiba ada satpam yang masuk ke dalam dan menyaksikan adegan tersebut. Ketika Stafano menindih tubuh Gea.

Dia langsung menyoroti kedua orang tersebut. "Apa yang kalian lakukan?"

Gea dan Stefano seketika melihat kearah pintu di mana ada seorang penjaga keamanan yang memergoki mereka. Lebih parah lagi dengan posisi mereka yang seperti ini.

"Kalian tengah berbuat mesum?"

"Bagaimana ini?" panik Gea kebingungan harus bagaimana sekarang.

BERSAMBUNG

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 82 Sonia Berusaha Kabur

    Stefano memeluk Gea lebih erat untuk menenangkan wanita itu. Melihat istrinya masih menyimpan rasa takut membuat hatinya terasa tidak tega."Lebih baik kamu istirahat sekarang, sudah malam.""Temani aku," kata Gea dengan sedikit manja.Stefano hanya mengangguk."Iya, aku temani."Mendengar jawaban itu, Gea langsung tersenyum kecil. Tangannya masih menggenggam tangan Stefano, seolah tidak ingin pria itu pergi lagi.Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kamar.Sesampainya di dalam, Gea langsung duduk di atas ranjang. Stefano kemudian mengambil selimut dan merapikannya."Kamu mau tidur sekarang?" tanyanya.Gea mengangguk pelan."Iya. Tapi kamu jangan pergi."Stefano menatapnya beberapa saat."Aku tidak akan pergi."Dia kemudian duduk di sisi ranjang.Gea berbaring perlahan, tetapi tangannya masih menggenggam tangan Stefano.Stefano tersenyum tipis melihat tingkah istrinya."Kamu benar-benar takut, ya?"Gea mengangguk."Aku tidak tahu kenapa, tapi kejadian tadi terus terbayang di pikiran

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 81 Gea Menyuruh Pulang

    Stefano sudah berusaha mencari orang tersebut bersama dengan para anak buahnya. Tetapi mereka tidak menemukan jejak orang itu sama sekali. Hal itu membuat dirinya sedikit geram sekarang. "Kita kehilangan jejaknya.""Cari orang itu sampe ketemu!" paksa Stefano karena dia yakin kalau orang itu mengincar Gea. "Kami sudah berusaha mencarinya.""Kalian periksa CCTV dan semuanya dengan baik, temukan hal yang janggal!" kata Stefano dengan nada yang sedikit tinggi. Dia harus menemukan semuanya dengan baik. Stefano tidak mau kehilangan jajak orang yang sudah berusaha untuk mencelakai Gea sekarang. Sampai ponselnya berdering tanda ada yang menghubunginya, dia melihat kearah layar yang rupanya itu adalah Gea. Stefano menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mau kehilangan jejak orang yang sudah berusaha mencelakai Gea.Namun, belum sempat dia kembali ke dalam gedung, ponselnya tiba-tiba berdering.Raut wajah Stefano berubah ketika melihat nama yang muncul di layar.Gea.Dia segera meng

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 80 Selesai Acara Pertunangan

    Acara pertunangan antara Fadlan dan Andin sudah hampir selesai, mereka berdua sudah bersalaman dengan para tamu undangan. Begitu pun dengan para tamu undangan yang sudah mulai berpamitan. Hendra menghampiri anaknya. "Bagaimana dengan orang itu?" "Stefano sudah mencarinya, semoga akan segara ketemu," kata Fadlan. "Iya ayah. Lebih baik sekarang ayah beristirahat saja, kasian sampe kelelahan juga menyambut para tamu tadi," jelas Andin pada ayahnya. "Kamu benar Andin. Yaudah kalau begitu kalian urus semuanya. Aku akan istirahat.""Sepertinya para tamu undangan juga sudah pergi, ayo kita juga pergi juga," goda Fadlan pada Andin. Andin tidak langsung mengiyakan perkataan dari Fadlan, dia masih penasaran dengan pelakunya. "Aku masih penasaran, siapa pelakunya.""Sudah, nanti juga Stefano menemukan orangnya, apalagi dia juga punya banyak bodyguard yang pasti akan mudah menemukan orang itu, paling lambat juga seminggu.""Bagaimana dengan Gea, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Andin ya

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 79 Mencari Pelakunya

    Stefano mendatangi tempat dapur para pelayan yang ada di belakang, dia ingin memastikan sendiri orang yang sudah mencoba untuk memberikan sesuatu pada Gea tadi. "Mana pelayan yang memberikan minum tadi?" tanya Stefano kepada kepala koki yang ada di sana. "Tadi ke arah sana.""Panggilkan dia sekarang!""Baik."Stefano yakin kalau orang itu pasti berniat jahat dan ingin mencelakai istrinya. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan begitu saja. Fadlan yang penasaran dengan orang tersebut pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Stefano. "Bagaimana?""Aku sudah menyuruh koki memanggil orang itu."Fadlan hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis, sebelum akhirnya seorang koki kembali datang menghampiri mereka. "Di mana dia?" tanya Stefano dengan nada yang tidak sabar. Koki itu menunduk ketakutan ketika hendak akan menjawab semuanya. Dia akhirnya memutuskan untuk mengatakan semuanya. "Mohon maaf Tuan. Dia tidak ada, sepertinya dia sudah pergi."Stefano mengepalkan tangann

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 78 Pelayan Memberikan Obat

    Pesta pertunangan Fadlan dan Andin masih berlangsung meriah. Musik kembali terdengar, para tamu mulai berbincang satu sama lain, sementara Stefano masih berdiri di dekat Gea dengan tangannya yang sesekali menggenggam tangan istrinya.Namun, tidak jauh dari sana, wanita yang menyamar sebagai pelayan itu masih memperhatikan mereka.Senyum licik menghiasi wajahnya.Ia membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas minuman, lalu berjalan perlahan mendekati meja tempat Gea dan Stefano berada."Permisi, Tuan. Minumannya," ucapnya sopan.Stefano yang sedang berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya hanya mengangguk."Letakkan saja."Wanita itu menaruh beberapa gelas di atas meja.Namun, sebelum pergi, matanya sempat melirik ke arah Gea.Gea yang sejak tadi merasa ada seseorang memperhatikannya tiba-tiba menoleh.Tatapan mereka bertemu.Wanita itu langsung menundukkan wajahnya dan berpura-pura sibuk merapikan gelas.Gea mengernyitkan dahi."Kenapa?" tanya Stefano yang menyadari perubahan ekspr

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 77 Pesta Pertunangan Andin

    Pesta pertunangan antara Fadlan dengan Andin dilangsungkan secara meriah, banyak sekali tamu undangan yang hadir di sana. Andin ditemani oleh Gea kini tengah berjalan menuju kearah para tamu undangan yang datang, banyak sekali sorot mata yang tertuju pada mereka. Gea membisikan sesuatu pada telinga Andin. "Kamu benar-benar jadi pusat perhatian sekarang."Dia sudah membisikan dengan lembut, tidak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. Sampai dia teringat akan sesuatu, bahkan dia tidak yakin semuanya. "Bukannya malah kamu yah yang menjadi pusat perhatian, lihat banyak sekali yang berbisik menanyakan siapa kamu," ujar Andin. Gea hanya tersenyum sekilas saja, sampai tak lama kemudian Stefano datang menghampiri Gea dan Andin. Banyak yang terkagum ketika melihat kedatangan dari Stefano. Sampai mata mereka semuanya tertuju kearah langkah pria itu. "Selamat yah, senang melihat kamu," kata Stefano. "Biasanya juga jarang muji," ledek Andin karena sudah tahu karakter dari kakakny

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 7 Sebuah Rumor

    Rumor tentang Gea berada di perpustakaan bersama dengan Stafano kini kian menyebar. Semuanya karena Satpam itu yang membicarakan ini pada penjaga lainnya. Bahkan mahasiswa lain juga ada yang ikut mendengar rumor tersebut. "Tidak menyangka yah, Gea orang yang seperti itu.""Demi nilai, dia merenda

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 6 Memikirkan Stefano

    Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan. "Pak Stefano, anda dengan mahasiswa itu! Astaga."Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefa

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 4 Dunia Sempit Sekali

    "Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 3 Ruangan Panas Dingin

    Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok..."Masuk."Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status