หน้าหลัก / Romansa / Lagi, Pak Dosen / Bab 3 Ruangan Panas Dingin

แชร์

Bab 3 Ruangan Panas Dingin

ผู้เขียน: Manila Z
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-17 17:01:20

Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan.

Tok tok tok...

"Masuk."

Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan itu.

Setelah dia masuk ke dalam, akhirnya dia melihat pria berbadan tinggi dengan tubuh yang kekar. Laki-laki itu melepaskan kacamatanya.

"Maaf Pak Stefano, saya hanya ingin memberikan buku ini."

Ingin rasanya Gea pergi dengan begitu saja dari tempat ini. Apalagi atmosfer disekitarnya sudah merasa tidak nyaman.

"Kamu masuk langsung pergi begitu saja?"

"Maksud Pak Stefano?" tanya Gea menaikan sebelah alisnya heran.

Stefano mengangkat pandangannya perlahan, menatap Gea yang kini berdiri canggung di depan pintu. Tatapan mata laki-laki itu tajam namun tenang, seolah bisa menembus kegelisahan yang Gea rasakan.

“Kenapa berdiri di situ? Duduklah.” Suaranya dalam, tenang, tapi memberi tekanan yang membuat Gea refleks melangkah mendekat.

Dengan langkah hati-hati, Gea duduk di kursi di seberang meja kerjanya. Tangannya ia genggam di pangkuan, mencoba menenangkan diri. Ruangan itu wangi, dengan aroma kayu dan sedikit wangi kopi yang masih mengepul dari cangkir di sisi kanan Stefano.

"Apa ada yang ingin Pak Stefano tanyakan?"

Stefano menatap kearah Gea dengan sekilas. Dia tidak buta, dia tahu kalau wanita yang ada dihadapannya adalah wanita yang semalam tidur dengannya.

“Nama kamu siapa?”

Gea melotot tajam, pria itu menyuruh datang ke ruangannya hanya ingin menanyakan namanya saja? Yang benar saja begitu.

“Apa itu penting Pak?”

“Kamu tidak sopan sama sekali, jangan lupakan kalau sekarang saya adalah dosen kamu.”

Gea menghela napas panjang, dia ingat kalau orang itu sekarang adalah dosennya.

"Iya maksud saya, ngapain Pak Stefano ingin tahu nama saya? Memangnya kita akrab apa," dengus Gea.

Stefano memiringkan wajahnya kearah Gea sekarang. Senyuman liciknya terlihat dari bibirnya. "Untuk ukuran orang yang pernah merasakan tubuh saya seperti apa rasanya, itu bisa dikatakan lebih dari akrab yah.”

Gea langsung menutup mulut dosennya itu dengan kesal. Apalagi ketika mendengar perkataan vulgarnya barusan. Dia khawatir kalau sampai ada mahasiswa atau dosen lain yang mendengar percakapan mereka.

“Pak Stefano gila yah?, kenapa malah membahas itu sih!" dengus Gea tidak terima.

"Memangnya kenapa? Bukannya itu kenyataan."

"Pak Stefano ingat yah, kita sudah berjanji akan melupakan kejadian satu malam itu. Kita harus layaknya orang asing jangan saling kenal!" ujar Gea mengingatkan kembali.

Stefano menyesap kopinya dengan perlahan. Wanita muda itu ingin melupakan kejadian yang terjadi padanya.

"Baiklah jika itu yang kamu mau, terus bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Stefano.

"Tidak akan, saya akan memastikan sendiri!"

Stefano hanya mengangguk saja, seolah dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang ada dihadapannya barusan.

"Okeh, jadi kamu mau kita seperti orang asing begitu."

"Iya, sebaiknya Pak Stafano tidak usah tahu nama saya juga," jelas Gea.

"Loh, kalau itu tidak bisa. Kamu sekarang adalah mahasiswa saya. Jelas saya harus tahu siapa kamu, apalagi kamu pernah mengajak tidur saya!"

Memalukan sekali, Gea memang yang awalnya mengajak pria asing itu untuk tidur dengannya. Tetapi dia tidak pernah menyangka kalau orang yang dia ajak tidur adalah dosennya sendiri. Ini memang sedikit agak memalukan untuk dirinya.

"Lupakan tentang ajakan tidur itu, benar-benar sangat memalukan!" dengus Gea.

"Baiklah, jadi sepakat yah kita akan melupakan kejadian semalam itu?" ujar Stefano.

Gea hanya mengangguk membenarkan semuanya. "Iya tentu saja. Saya harap Pak Stefano menghindari saya. Karena saya tidak mau nanti kalau ada orang yang curiga, anggap saja kita sebagai orang asing yang tidak mengenal sama sekali karena aslinya kita memang asing."

Stefano tersenyum ketika melihat kegigihan dari wanita itu. Kali ini dia akan mengikuti permainan dari wanita itu.

"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan."

Gea menghela napas panjang, artinya dosennya itu sudah setuju dengan dirinya. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.

"Saya permisi."

Stefano hanya memperhatikan kepergian wanita itu dalam diam.

****

Gea merasa lega setelah keluar dari ruangan mencekam itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena sore nanti dia akan bekerja di sebuah kafe.

Dia memang bekerja paruh waktu di kafe tersebut, demi untuk melunasi semua uang kuliahnya. Dia bekerja apapun asal halal.

Dia terburu-buru hendak akan pulang, tetapi ketika hendak akan pulang, dia malah bertemu dengan mantannya.

"Gea tunggu."

Gea menoleh kearah orang yang memangilnya yang rupanya adalah Marvel.

"Kenapa lagi sih?"

"Aku minta maaf soal yang terjadi kemarin. Aku masih cinta padamu."

Gea menatap sinis pria yang ada di hadapannya barusan. "Kamu bilang kamu masih cinta? Kalau masih cinta tidak mungkin selingkuh."

"Aku minta maaf, bagaimana sebagai gantinya aku antar kamu pulang saja," tawar Marvel.

Gea jelas menolak tawaran tersebut. Tetapi dia harus pura-pura dihadapannya Marvel.

"Tidak usah, lagian aku sudah ada yang jemput kok," kata Gea berbohong.

"Siapa?" tanya Marvel menaikan sebelah heran.

Gea kebingungan ketika akan menjawab, sampai dia melihat sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan begitu tenang. Dia langsung menghentikan mobil tersebut.

"Berhenti!"

Ketika mobil itu berhenti, Gea langsung masuk dengan begitu saja ke dalam mobil itu tanpa melihat siapa pengemudinya.

"Aku duluan!" Gea mengatakan itu dengan berani pada Marvel sebagai bentuk balas dendamnya.

Marvel sendiri bingung ketika Gea seperti sudah mendapatkan orang yang baru. Dia mengepalkan tangannya lalu memutuskan untuk pergi.

"Kamu mau menumpang mobil saya?"

Deg

Gea menoleh kearah samping dan baru menyadari kalau orang yang dalam mobil tersebut adalah dosennya sendiri.

"Pak Stefano?"

Gea langsung melotot tajam, padahal dia sudah berjanji akan melupakan pria itu, kenapa dia sekarang malah masuk ke dalam mobilnya.

"Kamu tidak melupakan apa yang tadi kamu ucapan bukan? Bukannya kamu mau kita seperti orang asing?"

"Eh iya, maaf Pak Stefano."

Gea yang merasa malu pun akhirnya langsung buru-buru keluar dari mobil milik Stefano. Benar-benar sangat memalukan. Beruntung Marvel sudah tidak ada, jadi dia bisa keluar dari mobil Stefano.

Sedangkan Stefano hanya mengulas senyumnya setelah melihat Gea keluar dari mobil tersebut.

BERSAMBUNG

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 54 Sentuhan Stefano

    Gea menyusuri tempat ini, tujuan utamanya adalah untuk mencari Stafano. Dia harus mengatakan sesuatu sebelum semuanya berakhir. "Gea," panggil seseorang. Gea menoleh kearah Nadia yang kini menghampiri dirinya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan wanita itu. "Loh, Nadia. Kamu tidak bersama dengan Raya?""Harusnya aku yang menanyakan itu, kamu kan yang satu jurusan dengan dia," jawab Nadia dengan tenang. Gea seketika langsung tertawa, dia lupa dengan satu fakta yang ini. Memang dia yang satu jurusan dengan Raya. "Sorry, aku juga belum melihat dia.""Kamu sendiri, ada jadwal hari ini?" tanya Gea penasaran. Nadia tersenyum tipis, "kebetulan ada, tetapi dosennya tidak masuk. Katanya sih izin karena ada urusan yang lebih penting.""Oh, begitu rupanya."Nadia kemudian menatap kembali kearah Gea yang tidak jauh dari tempatnya berada. "Oh iya, aku belum sempat mengatakan sesuatu padamu. Ini tentang Marvel."Gea menaikan sebelah alisnya heran, kenapa juga tiba-tiba membahas tentang

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 53 Sebuah Foto Lama

    Gea tengah ada di kamarnya, dia membereskan semua barang-barang milik Stefano yang memang sangat berantakan. Laki-laki itu sudah pergi ke kampus sejak tadi pagi, kebetulan Gea jadwal siang, jadi dia masih ada waktu di rumah. "Berantakan sekali."Akhirnya dia membereskan semua barang-barang itu dan menyusun dengan ramah. Sampai matanya melihat sesuatu dari sebuah laci kecil. "Ini apa?" tanya dia dalam hatinya. Ketika baru membukanya karena rasa penasaran yang menerpa dirinya. Dia perlahan membukanya dan sedikit terkejut. "Tunggu, ini sebuah foto."Gea menaikan sebelah alisnya heran, di sana dia melihat foto Andin dan Stefano, mereka terlihat sangat akrab sekali. Lalu dia melihat ada dua orang lagi yang sepertinya memang lebih tua. "Dua orang tua ini, siapa?" ujar Gea penasaran, dia harus bertanya pada Stefano nanti. Akhirnya Gea memutuskan untuk memasukan foto tersebut ke dalam tasnya. Dia akan menanyakan ini pada Andin. Dia yakin kalau ini ada hubungannya. Tetapi dia penasaran j

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 52 Fadlan Menemui Andin

    Andin terdiam sejenak, banyak sekali hal yang memang harus dia lakukan, bahkan dia tidak yakin sama sekali dengan semuanya. "Andin," panggil seseorang. Andin menoleh kearah orang yang memanggilnya, rupanya itu adalah Fadlan. "Iya Pak Fadlan," jawab Andin dengan nada yang sopan. Fadlan tersenyum sekilas ketika mendengar suara dari Andin yang lembut, biasanya wanita itu memang sedikit agak cuek, dia sama sekali tidak menyangka akan bersikap sedikit sopan begini. "Boleh bicara sebentar?" pinta Fadlan. Andin menimbang apa yang dikatakan oleh Fadlan barusan, padahal sebelumnya dia selalu menghindar ketika dekat dengan wanita itu, tetapi kenapa sekarang seperti ini?Dia bahkan tidak yakin sama sekali, sampai pada akhirnya dia teringat akan sesuatu. Mungkin memang dia harus melakukan hal ini lebih awal. "Maaf bicara tentang apa?"Fadlan tanpa mengatakan apapun, dia langsung menarik tangan Andin untuk ikut bersama dengan dirinya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya Andin ikut. Dia melih

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 51 Ambil Sikap

    Seorang wanita tengah duduk dengan angkuh di sebuah kursi kebesaran miliknya. Meminum sebuah wine yang memang sangat mahal. "Sialan.""Kenapa?" tanya orang itu yang kini merasa sedikit heran. "Orang itu kini sudah ditangkap oleh pihak kepolisian. Bagaimana kalau rencana kita ketahuan oleh Stefano?" ujarnya dengan panik. "Kamu tidak usah khawatir, aku akan mengirim seseorang untuk masuk ke dalam saja, mencoba menghabisinya agar kita tetap aman."Wanita itu langsung tersenyum dengan puas. "Terimakasih banyak.""Tentu saja, aku memang sangat pintar," katanya dengan nada yang sombong. Ada sedikit rasa senang dalam hatinya setelah dia mengetahui semuanya. Lalu dia melihat sebuah foto tiga orang yang memang sengaja dia simpan. Sebelum akhirnya foto itu diambil. "Kamu ingat dengan misi kita.""Hanya mendekati dua orang itu kan?" gumamnya. "Iya, pastikan semuanya berjalan lancar tanpa celah. Karena sekarang Stefano sudah mulai mencurigai kita.""Aku paham, kalau begitu aku pamit dulu."

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 50 Penjelasan Stefano

    Gea mengikuti Stefano masuk ke dalam kamar, dia tahu kalau pria itu pasti akan mengatakan sesuatu padanya. Setelah Stefano mengunci pintunya, baru setelah itu Gea melihat kearah Stefano. "Gea.""Iya," jawab Gea sedikit gugup. "Kamu tahu, saya yang tengah sibuk ini buru-buru pulang setelah satpam menghubungi saya kalau kamu pulang bersama dengan ibu tiri saya!" kata Stefano. "Tadi tidak sengaja ketemu di jalan dan kebetulan dia hampir saja dijambret, saya hanya berusaha untuk menolongnya dan dia mengajak saya pulang ke rumah," kata Gea berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Stefano tentang apa yang terjadi."Tetapi tidak dengan membawa dia ke rumah ini, saya benci melihat dia menginjakkan kaki di rumah ini," umpat Stefano. Gea menyadari kesalahannya. "Kalau itu, saya meminta maaf. Tapi dia keliatan baik kok.""Kamu jangan liat orang dari covernya saja, coba lihat ini!"Stefano mengeluarkan sebuah tablet miliknya dan memperlihatkan sesuatu pada Gea. Di sana terlihat Ratih tengah m

  • Lagi, Pak Dosen   Bab 49 Gea Membawa Ratih Ke Rumah

    Ratih menatap kearah Gea yang tidak jauh dari tempatnya berada. Diam-diam dia tengah memikirkan cara agar bisa dekat kembali dengan Stefano. Itu adalah hal yang pertama untuk dirinya, dia sendiri pun tidak yakin dengan semuanya. "Kamu tinggal di mana?" tanya Ratih. Gea terdiam sejenak, apa tidak masalah jika dia memberitahu tempat tinggalnya bersama dengan Stefano? Bahkan dia tidak yakin dengan semuanya sekarang. "Aku tinggal bersama dengan Stafano."Ratih yang mendengar itu pun langsung tersenyum. Akhirnya dia bisa datang ke rumah itu. "Bagus kalau begitu, aku akan mengantarmu ke sana. Pak ke rumah Stefano yah," kata Ratih. "Baik Nyonya."Ratih tersenyum dengan penuh arti, akhirnya sekarang dia punya kesempatan kembali. Dia akan berusaha untuk mendekati istrinya Stefano lebih dulu. "Seberapa lama kamu mengenal Stefano?" tanya Ratih. Gea seketika jadi gugup ketika ditanya seperti itu. Dia memang hanya mengetahui sedikit tentang Stefano karena sebelumnya laki-laki itu tidak per

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status