共有

Bab 2 

作者: Anonima
Nadine tinggal di pemakaman sepanjang malam. Ferrick baru tiba dengan tergesa-gesa keesokan harinya. Melihat wajah pucat Nadine dan batu nisan kecil itu, dia terlihat tak percaya. "Nadine ... kamu ...."

Ferrick bergegas menghampiri Nadine dan memeluk wanita itu erat-erat. Suaranya dipenuhi kesedihan saat berujar, "Kita bisa punya anak lagi, tapi gimana kalau kesehatanmu terganggu?"

Mendengar ini, Nadine tertawa marah. "Bisa punya anak lagi? Ferrick, kamu tahu betapa besar usahaku untuk mengandung anak ini? Dokter bilang, aku nggak akan pernah bisa punya anak lagi!"

Ekspresi Ferrick menjadi agak muram. Dia menunduk dan menyahut, "Maafkan, Nadine ...."

"Kenapa kamu nggak jawab telepon?" Nadine menunjuk ke batu nisan dan berseru dengan suara serak, "Aku nggak berhenti tunggu kamu datang membantuku, tapi di mana kamu?"

"Maaf, Nadine. Aku ada urusan di perusahaan. Jadi ...."

Nadine mencibir, "Memang urusan pekerjaan atau mahasiswimu itu nggak bersedia?"

Dengan bunyi gedebuk, Ferrick berlutut di depan batu nisan anak itu. Dia berkata dengan tulus, "Nadine, ini semua salahku. Aku yang bersalah padamu dan anak kita. Maaf ...."

Melihat Ferrick yang memasang tampang begitu sedih di hadapannya, Nadine tiba-tiba tertawa di tengah air matanya. Dia seharusnya tahu dari awal.

Tiket-tiket film yang dipesan Ferrick, informasi hotel yang tiba-tiba muncul tanpa alasan, buket-buket mawar yang bukan miliknya, dan sebagainya. Semua itu menunjukkan dengan jelas bahwa hati Ferrick sudah berpaling. Namun, Nadine masih percaya pada kebohongan Ferrick.

"Kamu nggak perlu merasa bersalah. Usir saja dia. Aku akan berpura-pura semua ini nggak pernah terjadi."

"Nggak bisa." Ferrick langsung menolak, "Yessy cuma seorang mahasiswi yang kasihan. Mana mungkin seorang gadis sepertinya bisa bertahan hidup tanpa sandaran?"

Nadine tertawa. "Bagus."

Dia tidak bisa menahan diri lagi dan menghubungi nomor pengurus rumah tangga, lalu memerintahkannya untuk mengemasi semua barang di apartemen Yessy. "Usir dia dari sana!"

"Kamu sudah gila?"

Ferrick pun merasa panik dan buru-buru merebut ponsel Nadine. Setelah membisikkan beberapa instruksi, dia baru menutup telepon.

"Dia cuma nggak donorkan darah kepadamu, kenapa kamu begitu agresif? Dia berhak memilih mau menyumbangkan darahnya atau nggak!"

Hati Nadine terasa sakit. Jelas-jelas, bukan itu yang dikatakan Ferrick dulu.

"Kalau kamu benar-benar mau bertindak sekejam itu, jangan salahkan aku menyentuh adikmu," ucap Ferrick dengan suara berat. "Kamu nggak mau lihat masa depan adikmu hancur, 'kan?"

Demi Yessy, Ferrick bahkan mengancamnya dengan masa depan Nayla? Pada saat ini, Nadine merasa bahwa pria di hadapannya sangat asing.

"Sudah cukup, Nadine. Kamu perlu istirahat."

Baru saja Ferrick hendak mengantar Nadine kembali ke mobil, Nadine membuka sebuah dokumen dan menyuruhnya menandatanganinya. "Apa ini?"

Nadine menarik napas dalam-dalam dan menjawab, "Ini ...."

"Nggak apa-apa. Selama itu bisa redakan amarahmu, aku akan tandatangani apa pun."

Pria itu bahkan tidak melirik dokumen itu sebelum membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir surat kesepakatan cerai itu.

Melihat tanda tangannya yang indah, Nadine samar-samar mengingat 99 pucuk surat cinta yang Ferrick tulis untuknya sepuluh tahun yang lalu. Surat terakhir berisi dua patah kata yang terkesan polos dan malu-malu.

[ Aku menyukaimu. ]

Mata Nadine terasa agak perih.

"Ngomong-ngomong, aku belikan beberapa hadiah untukmu. Coba lihat ada yang kamu suka nggak."

Sambil berbicara, pria itu mengirimkan daftar panjang barang-barang mewah. Semuanya ada dalam daftar itu, tetapi Nadine sama sekali tidak tertarik. Di bagian bawah daftar, dia melihat ada beberapa buku dan CD pendidikan prenatal. Setelah memeriksa tanggal pemesanan, sangat jelas bahwa itu bukan untuknya.

Tepat ketika Nadine hendak berbicara, beberapa pesan dari nomor asing masuk ke ponselnya. Di antaranya, ada foto hasil USG yang usia kehamilannya delapan minggu.

[ Ups, aku salah kirim pesan. Kukira ini nomor Kak Ferrick. ]

Hati Nadine terasa seperti sudah hancur berkeping-keping, lalu ditaburi garam. Menahan rasa sakit yang hampir membuatnya mual, dia menatap kosong layar ponselnya untuk beberapa saat sebelum tiba-tiba tertawa. Ini benar-benar adalah hadiah istimewa.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status