Hanya dengan satu panggilan, Nayla tiba di rumah Nadine dan Ferrick tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat mata kakaknya yang bengkak dan guci yang kosong, Nayla langsung memahami semuanya."Kakak Ipar ... nggak, Ferrick ... benar-benar nggak manusiawi!"Nayla dengan lembut mengelus rambut Nadine dan bertanya sambil menggertakkan gigi, "Kak, kamu masih mau bersamanya? Hatinya sudah nggak lagi bersamamu.""Nggak mau." Mata Nadine terlihat lelah, seperti kolam yang tenang dan stagnan. "Nayla, kita pergi bersama, ya? Ke tempat yang nggak ada Ferrick."Mendengar kata-kata kakaknya, hidung Nayla tiba-tiba terasa perih. "Kak ... aku akan ikut bersamamu. Aku nggak peduli dengan masa depan atau sumber daya. Aku cuma mau kamu."Nayla memeluk tubuh Nadine yang dingin dan berkata sambil menangis, "Di mana pun kamu berada, di situlah rumahku."Mendengar kata-kata adiknya, hati Nadine yang layu akhirnya sedikit tergerak. "Oke, kita pergi bareng.""Kak, aku akan segera kembali untuk mengemasi b
Read More