공유

Lagu Duka di Musim Dingin
Lagu Duka di Musim Dingin
작가: Anonima

Bab 1

작가: Anonima
Setelah lima tahun menjalani program bayi tabung, Nadine yang sedang hamil tujuh bulan tiba-tiba mengalami persalinan prematur. Pendarahan hebat tak kunjung berhenti dan nyawanya berada di ujung tanduk.

Namun, Ferrick Jurika, suami Nadine yang sangat mencintainya selama ini, malah menghilang tanpa jejak bersama mahasiswi yang merupakan donor darah penggantinya.

Nadine ingin menuntut jawaban, tetapi kontraksinya makin intensif. Rasa sakit yang luar biasa terasa seperti hendak merobek tubuhnya.

"Ferrick ... di mana Ferrick?"

Melihat kakaknya yang kesakitan hingga wajahnya pucat, Nayla menangis sambil menelepon kakak iparnya. Dia sudah menelepon sebanyak 32 kali, tetapi yang didengarnya selalu adalah nada sibuk yang membuat orang putus asa.

"Ibu hamil ini punya golongan darah langka. Darah yang tersedia di rumah sakit nggak cukup!"

"Tekanan darahnya terus menurun!"

"Bukankah Pak Ferrick punya donor darah pengganti? Di mana dia?"

Dalam menghadapi seruan marah dokter, Nayla yang menangis hanya menjawab dengan gemetar, "Nomor kakak iparku ... nggak bisa dihubungi ...."

Sebelum sempat mengatakan apa pun, kontraksi kuat lain menyerang perut bagian bawah Nadine. Tepat ketika akan kehilangan kesadaran, pandangan Nadine tertuju pada pintu ruang operasi. Ferrick masih belum datang.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Nadine akhirnya tersadar di ranjang rumah sakit. Dia menyentuh perutnya yang terasa kosong. Kegelisahan dan duka yang mendalam seketika menyelimutinya.

"Bayiku ...."

Nadine berusaha duduk dan mencoba mencari anaknya, tetapi yang dilihatnya hanyalah tampang menangis adiknya.

"Kak ... kukira kamu nggak akan sadar lagi ...."

"Bayiku ... di mana bayiku!" Nadine dengan lemah mencengkeram pakaian Nayla. Air mata menggenang di matanya.

"Dokter bilang, bayinya nggak dapat diselamatkan .... Situasi saat itu sangat berbahaya. Kalau nggak langsung jalani operasi caesar, kamu akan meninggal ...."

"Di mana Ferrick?"

Ekspresi Nayla terlihat kurang bagus. "Aku sudah jaga kamu selama tiga hari penuh, tapi Kakak Ipar nggak pernah datang."

Mendengar kata-kata adiknya, Nadine merasa pusing. Hatinya terasa sangat sakit hingga dia hampir pingsan. Itu adalah anak yang telah dia rawat dengan penuh kasih sayang selama tujuh bulan, yang dipenuhi harapan dan impian indah meskipun belum lahir. Namun, bahkan sebelum sempat membuka matanya untuk melihat dunia, dia sudah kembali ke surga.

Ini adalah anak yang didambakan Ferrick selama ini. Sekarang, sebagai seorang ayah, pria itu bahkan belum sekali pun datang menemui mereka.

Nadine yang terengah-engah kembali menghubungi nomor Ferrick. Kali ini, asistennya yang menjawab.

"Di mana Ferrick?"

Menanggapi pertanyaan Nadine, asisten itu menjawab dengan ragu, "Pak Ferrick lagi sibuk ...."

Nada bicara asisten yang terbata-bata itu membuat hati Nadine mendingin. "Suruh Ferrick datang ke rumah sakit sekarang juga!"

Nadine menyeka air matanya dan menutup telepon dengan kasar. Dengan ditemani oleh adiknya, dia akhirnya melihat jasad kecil yang dingin di kamar mayat. Itu adalah seorang anak perempuan yang tidak mampu dipertahankannya. Dia mengembuskan napas hangat ke tangan kecil nan dingin anaknya.

"Sayang, Mama akan bawa kamu pergi."

Nadine menggendong anak itu dan berjalan menuju suatu tempat. Itu adalah apartemen tempat Ferrick menghidupi seorang mahasiswi bernama Yessy. Dia ingin Ferrick melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.

Namun, ketika sampai di luar pintu, Nadine melihat Ferrick menenangkan seorang gadis yang menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Suaranya lembut dan penuh kasih sayang.

"Nggak apa-apa, jangan nangis lagi. Kalau kamu takut sakit, kita nggak akan pergi. Oke?"

Wajah Yessy dibasahi air mata. Dia menjawab dengan mata merah, "Aku ingin pergi, tapi aku takut banget ...."

"Yessy, jangan takut, kita nggak akan pergi."

Berdiri di luar pintu, Nadine merasa seolah-olah ada banyak pisau tajam yang menusuk hatinya. Rasa sakit itu hampir mencekiknya. Sementara dia berada di ambang hidup dan mati, pria yang sangat dicintainya sedang menghibur gadis lain yang lebih muda darinya. Pada akhirnya, Ferrick yang pernah mempertaruhkan nyawa untuknya itu telah berpaling.

Benar, Ferrick memang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk Nadine sebanyak tiga kali.

Pada usia 18 tahun, Ferrick melindungi Nadine selama tiga hari penuh dalam reruntuhan gempa, memberinya kesempatan untuk diselamatkan terlebih dahulu. Namun, nyawanya sendiri hampir melayang dalam proses tersebut.

Pada usia 21 tahun, Ferrick menerobos masuk ke wilayah penculik seorang diri demi menyelamatkan Nadine. Dia menderita tiga luka tembak yang peluru terakhirnya nyaris mengenai jantungnya. Dia dirawat di rumah sakit selama seminggu penuh sebelum berhasil diselamatkan.

Pada usia 25 tahun, semua orang menentang pernikahan Ferrick dengan Nadine. Demi mendapatkan restu, dia menanggung disiplin Keluarga Jurika hingga lima tulang rusuknya patah.

Setelah menikah, Nadine tenggelam dalam kebahagiaan yang berharga. Jadi, ketika Ferrick mengungkapkan keinginannya untuk memiliki anak, dia yang sangat sulit hamil pun mencoba segala cara. Dia telah mencoba program bayi tabung yang tak terhitung jumlahnya sebelum akhirnya mengandung anak Ferrick.

Setelah hamil, pria itu makin memanjakannya. Selain itu, Ferrick juga menemukan seorang mahasiswi dengan golongan darah langka yang sama dengan Nadine. Dia menampung gadis itu di apartemen agar Nadine bisa mendapatkan transfusi darah darurat ketika melahirkan.

Nadine pernah mempertanyakan hal ini sebelumnya, tetapi senyum pria itu segera menghilangkan keraguannya.

"Kamu sudah hamil. Kenapa kamu masih begitu cemburuan? Jangan berpikir kejauhan, ini cuma untuk keadaan darurat. Aku mau kamu lahirkan bayi kita dengan selamat."

Nadine percaya. Jadi, anaknya meninggal.

Nadine tidak berbicara, hanya memeluk erat bayinya yang terbungkus kain dingin dan berbalik untuk pergi ke rumah duka. Setelah menyaksikan anaknya dimakamkan, Nadine baru menghubungi nomor yang sudah lama tidak dihubunginya.

"Jade, lama nggak jumpa. Apa aku bisa kembali ke rombongan opera?"

Wanita di ujung telepon terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak dan menjawab, "Tentu saja! Rombongan Opera White Swan akan selalu menyambutmu, pemeran utama wanitaku tersayang."

Nadine menyahut dengan suara agak tercekat, "Terima kasih, Jade."

Setelah membahas masalah kembali ke rombongan opera, Nadine menghubungi seorang pengacara untuk menyusun surat kesepakatan cerai dan menangani pengalihan asetnya.

"Asetmu akan dialihkan paling lambat satu minggu setelah kesepakatan itu berlaku."

Nadine menatap batu nisan kecil itu. Tempat ini bukan hanya mengubur anaknya, tetapi juga hatinya yang pernah mencintai pria itu.

Setelah lima tahun menikah, Nadine akhirnya terbangun dari mimpinya. Mungkin sudah waktunya untuk pergi.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status