Share

Bab 3

Author: Anonima
"Ferrick, ini hadiah yang mau kamu berikan padaku?" tanya Nadine sambil menunjukkan hasil USG di ponselnya kepada pria itu.

Ferrick jelas terkejut bahwa Yessy akan mengungkapkan hal itu pada Nadine. Ekspresinya menjadi agak tidak wajar saat berujar, "Nadine, tenang dikit. Jangan sakiti dia. Malam itu, kami mabuk, makanya baru ...."

Melihat wajah Nadine yang makin pucat, Ferrick berkata dengan tak berdaya, "Aku awalnya mau suruh dia gugurkan kandungannya, tapi gadis itu menolak nggak peduli apa pun yang kukatakan."

"Aku juga patah hati karena kehilangan bayi itu, tapi coba kamu pikir yang positif. Begitu anak ini lahir, kamu akan jadi ibunya. Keluarga Jurika juga butuh anak ini. Nadine, kamu harus lebih murah hati. Anggap saja demi aku. Oke?"

"Ferrick, anak kita sudah meninggal! Dia masih sangat kecil, baru tujuh bulan! Bisa-bisanya kamu ...."

Air mata mengaburkan pandangan Nadine. Bahkan udara di dalam mobil terasa pengap dan menyesakkan. Dia merasa terlalu jijik untuk melanjutkan ucapannya.

"Anak itu sudah dimakamkan, apa gunanya ngomong semua itu sekarang?" Ferrick menyahut dengan tidak sabar, "Memangnya kamu mau hidup dalam penderitaan seumur hidup?"

Mendengar kata-kata pria itu, Nadine merasa hatinya bagaikan lilin yang perlahan-lahan padam. Benar juga, apa gunanya mengatakan semua ini?

Mobil mereka dengan cepat tiba di rumah. Ferrick dan Nadine berjalan masuk dengan hati yang terasa berat. Ketika mendapati Yessy tidak ada di rumah, Ferrick pun merasa agak aneh.

Sejak hamil, Nadine dan Ferrick sudah mulai tidur di kamar terpisah. Nadine kembali ke kamarnya dan membuka pintu, hanya untuk menemukan Yessy sedang mengepel lantai. Gadis itu terlihat seperti telah bekerja sangat lama. Wajahnya dipenuhi keringat dan terlihat merah.

Melihat kepulangan Nadine, Yessy segera berpura-pura ingin menyanjungnya. Dia berkata dengan rendah hati, "Nyonya, kamar Nyonya sudah dibersihkan."

Hati Ferrick langsung terenyuh begitu melihat pemandangan di hadapannya. Dia segera mendorong Nadine dan melangkah maju untuk memapah Yessy.

"Bukankah sudah kubilang jangan melakukan pekerjaan berat saat hamil? Kenapa kamu begitu nggak patuh! Nadine, ada apa ini?"

Nadine menggeleng dengan panik. "Aku nggak suruh dia melakukan pekerjaan apa pun .... Aku bahkan jarang ketemu sama dia!"

Yessy terhuyung dan jatuh ke dalam pelukan pria itu. Dia berkata dengan lemah, "Kak Ferrick, jangan tanya lagi .... Aku baik-baik saja ...."

"Gadis bodoh, kamu lagi hamil. Aku akan hukum siapa pun yang menindasmu!"

Gadis itu tidak berbicara, hanya terus menangis di pelukan Ferrick. Wajahnya yang dibasahi air mata terlihat sangat menyedihkan.

"Nadine, bukannya sudah kubilang jangan menindasnya!" Ferrick berseru marah, "Dia juga lagi hamil, kenapa kamu bisa sekejam itu?"

Nadine pun terdiam. Meskipun sudah sepenuhnya kecewa pada Ferrick, dia masih merasa diperlakukan tidak adil dan menangis. "Apa maksudmu? Kamu nggak percaya sama aku?"

"Yessy lagi hamil. Mana mungkin dia bercanda tentang hal seperti ini?" Selanjutnya, Ferrick berbisik lembut kepada Yessy dalam pelukannya, "Jangan nangis, Sayang. Kamu mau apa?"

"Kak Nadine punya ... jimat yang sangat cantik. Aku juga mau dapatkan satu untuk bayi kita ...."

"Nadine, anggap saja ini sebagai permintaan maaf kepada Yessy. Pergi dan mohonlah jimat itu secara pribadi."

Nadine berdiri terpaku di tempat dan merasa seolah-olah suara Ferrick datang dari tempat yang sangat jauh.

Melihat keheningannya, wajah pria itu menjadi muram. "Kalau kamu nggak minta maaf, aku akan boikot semua sumber daya Nayla mulai sekarang."

Mengingat senyum adiknya, Nadine akhirnya mengalah. "Aku akan pergi."

Nadine sebenarnya melihat senyum puas Yessy. Hanya saja, hatinya sudah lelah.

Nadine mendaki lebih dari 2.000 anak tangga selangkah demi selangkah di tengah hujan deras. Bagi tubuhnya yang belum pulih setelah melahirkan, itu benar-benar menambah luka di atas luka.

Setelah akhirnya mendapatkan jimat tersebut, Nadine yang basah kuyup menyerahkannya kepada Yessy. Namun, Yessy hanya meliriknya sebelum membuangnya. "Kak Ferrick, benda itu sangat kotor. Aku nggak menginginkannya lagi."

Sebelum kehilangan kesadaran, kata-kata terakhir yang didengar Nadine berasal dari Ferrick. "Ya sudah kalau kamu nggak menginginkannya. Yang penting kamu jangan nangis lagi."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status