공유

Bab 4

작가: Anonima
Di tengah malam, Nadine terbangun karena demam tinggi yang tiba-tiba. Dia mencoba berbicara, tetapi tenggorokannya terlalu serak untuk mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun kamar Ferrick tepat di sebelah, Ferrick tidak pernah sekali pun datang menemuinya. Perhatiannya hanya terfokus pada Yessy.

"Nadine, ada apa?"

Pria itu membuka pintu dan melihat wajah Nadine yang merah padam. Dia pun bertanya dengan khawatir, "Kenapa demammu begitu tinggi? Aku akan bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga."

Baru saja Nadine hendak mengatakan sesuatu, terdengar teriakan kesakitan dari luar. "Kak Ferrick, perutku sakit sekali ...."

Begitu mendengar ini, gerakan Ferrick yang hendak menggendong Nadine pun terhenti. Nadine mencengkeram pakaiannya dengan sekuat tenaga. Matanya penuh permohonan. Namun, setelah ragu sejenak, pria itu melepaskan cengkeramannya.

"Maaf, Nadine, Yessy lagi hamil. Aku nggak bisa biarkan sesuatu terjadi padanya. Tunggu dulu, aku akan bawa kamu ke rumah sakit nanti."

Seusai berbicara, Ferrick berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.

Berbaring di tempat tidur, Nadine merasa seolah air matanya juga langsung menguap begitu mengalir. Dengan sisa kekuatannya, dia memanggil ambulans untuk dirinya sendiri sebelum pingsan.

...

"Sudah sadar?"

Ketika sadar, Nadine melihat wajah Ferrick yang tegas. Tatapan khawatir pria itu tidak terlihat palsu, tetapi itu membuatnya ingin tertawa. Nadine tidak ingin melihatnya lagi. Dia pun berbalik, tetapi air mata sudah menggenang di dalam hatinya.

"Maaf, Nadine. Aku cuma terlalu khawatir ...."

"Pergi. Aku nggak ingin melihatmu."

"Maaf." Ferrick menghela napas dan berujar, "Keluargaku minta aku merawat Yessy dan bayinya. Aku juga nggak punya pilihan. Bersabarlah sebentar lagi. Aku akan suruh Yessy pergi setelah dia melahirkan. Tapi sekarang, kamu harus pikirkan Keluarga Jurika. Oke?"

"Ferrick, aku cuma punya satu pertanyaan untukmu." Nadine berpaling dan bertanya dengan mata dipenuhi kesedihan, "Kamu nggak percaya sama aku?"

Ferrick terdiam, lalu memalingkan wajahnya dan menjawab, "Semuanya sudah berlalu."

Semuanya sudah berlalu. Setelah mendapatkan jawabannya, Nadine pun menertawakan dirinya sendiri.

Ketika Nadine dikeluarkan dari rumah sakit, Ferrick tidak datang menjemputnya. Saat sampai di rumah, dia mendapati pria yang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah itu sedang memasak dengan canggung untuk Yessy.

Bahkan di masa saat cinta Nadine dan Ferrick paling dalam, pria itu juga hanya pernah memasak beberapa kali untuknya. Ferrick mengatakan bahwa dirinya terobsesi dengan kebersihan dan tidak menyukai bau minyak goreng. Jadi, Nadine menuruti keinginannya dan tidak pernah membiarkannya masuk ke dapur selama bertahun-tahun.

Ternyata, alasan sebenarnya karena tidak cukup mencintai.

"Kamu sudah pulang." Ferrick menyerahkan bahan-bahan makanan di sampingnya kepada Nadine dan berkata seolah-olah itu adalah sesuatu yang wajar, "Yessy pengen minum sup jamur putih, tapi aku nggak tahu cara membuatnya. Nadine, kamu pandai masak. Masaklah untuk Yessy kali ini."

"Nggak mau." Nadine menjawab dengan dingin, "Aku baru saja keluar dari rumah sakit, tapi kamu malah mau aku bantu kamu urus wanita lain?"

Demi Yessy, Ferrick lagi-lagi bersikap dingin padanya. Setelah bertahun-tahun bersama, bagaimana mungkin Nadine tidak tahu apa arti tatapan Ferrick? Demi Nayla dan aset perusahaan, dia hanya bisa bersabar untuk saat ini.

Nadine diam-diam mengambil bahan-bahan makanan dan melayani kedua orang itu seperti seorang pembantu.

Saat memasak sup, beberapa tetes kuah mendidih tanpa sengaja terciprat ke punggung tangan Nadine dan membuatnya meringis kesakitan. Ketika menoleh untuk melihat reaksi pria itu, dia kebetulan melihat Ferrick sedang mengupas kulit anggur untuk Yessy. Dia tiba-tiba teringat bahwa Ferrick juga pernah bersikap seperti ini kepadanya dulu.

"Apa yang sudah kulakukan hingga pantas dilayani oleh Pak Ferrick?"

Begitu mendengar ucapan itu, Ferrick langsung tertawa, tetapi tangannya tidak berhenti bergerak. "Selama Nadine suka, aku rela melayanimu seumur hidupku."

Namun, sekarang ....

Air mata Nadine tak sengaja menetes ke dalam sup. Entah apakah sup itu akan keasinan. Dia diam-diam menyeka air matanya, lalu mengambil semangkuk sup dan berjalan keluar.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status