공유

Bab 5

작가: Anonima
"Terima kasih, Kak Nadine! Supnya enak banget."

Setelah Ferrick dengan hati-hati meniup sup untuk mendinginkannya, Yessy dengan gembira menyesapnya.

"Setelah bayiku lahir, kamu jadi ibu angkatnya, ya!"

Pada detik berikutnya, Yessy tiba-tiba meringis kesakitan. "Ah! Perutku!"

Dia memegangi perut bagian bawahnya dan berkata dengan kesakitan, "Perutku sakit sekali. Bayiku ...."

Mendengar kata-katanya, Ferrick langsung menjadi tegang. "Yessy, gimana keadaanmu?"

Yessy menatap Nadine sambil menangis. "Kak Nadine, apa kamu taruh sesuatu ke dalam sup .... Perutku sakit banget ...."

Sebelum Nadine sempat berbicara, Ferrick sudah menamparnya dengan kuat.

"Dasar jalang!"

Nadine langsung jatuh ke lantai. Sup panas dan lengket itu juga tumpah ke seluruh tubuhnya. Sensasi terbakar yang tajam menjalar di lengannya. Dia menutupi pipi kirinya yang bengkak dan dua tetes air mata mengalir di wajahnya.

"Kamu sendiri juga pernah punya anak, kenapa bisa kamu begitu nggak berperasaan?" Ferrick mengangkat Yessy yang pucat pasi, lalu berujar dengan mata penuh kebencian. "Sebaiknya kamu berdoa dia baik-baik saja!"

Nadine duduk lemas di sana untuk waktu yang sangat lama, sampai air matanya mengering. Dia tidak mengerti. Jelas-jelas, dialah yang telah berada di sisi Ferrick selama sepuluh tahun. Kenapa Ferrick lebih percaya pada kata-kata Yessy?

Sampai larut malam, pria itu baru kembali dengan membawa sekantong camilan.

"Cobalah, aku sengaja membelikannya untukmu." Ferrick duduk di tepi tempat tidur dan menatap pipi kiri Nadine yang masih merah. Secercah kesedihan terpancar di matanya.

"Aku minta maaf atas apa yang terjadi hari ini. Aku nggak bermaksud memukulmu. Aku cuma terlalu cemas ...."

Nadine melirik camilan itu. Semuanya adalah camilan favorit Yessy. Dia menggeleng dengan lelah. "Kalau nggak ada hal lainnya, aku tidur dulu."

Ferrick menghela napas dan mengeluarkan dua tiket dari sakunya. "Bukankah sebelumnya kamu bilang pengen nonton opera ini? Aku sudah minta orang belikan dua tiket. Gimana kalau kita pergi besok?"

Melihat Nadine masih menunduk dan diam, Ferrick tahu wanita ini benar-benar sakit hati. Dia meletakkan tiket itu di tangan Nadine dan berkata dengan lembut, "Tidurlah lebih awal. Kita akan pergi bersama besok."

Tidak ada yang bisa dilakukan Ferrick selain meminta maaf. Tidak peduli apa pun yang dia lakukan, dia sepertinya sudah bisa menganggap tidak ada yang pernah terjadi hanya dengan mengucapkan sepatah kata "maaf" yang sederhana.

Keesokan harinya, Nadine tidak ingin pergi. Akan tetapi, Ferrick sepertinya sangat bersemangat dan bersikeras menyeretnya pergi menonton opera. Akhirnya, keduanya duduk bersama di teater dan menunggu opera dimulai. Namun, bahkan sebelum babak pertama dimulai, pria itu menerima telepon dari Yessy.

"Kak Ferrick, aku pengen makan takoyaki dari tempat toko di timur kota itu. Kalau bisa, belikan juga sedikit makanan yang asam ...."

"Oke, aku akan membelikannya untukmu sekarang juga."

Setelah menutup telepon, Ferrick baru menyadari Nadine sedang diam-diam memperhatikannya.

"Yessy selalu mual selama beberapa hari terakhir, juga nggak nafsu makan. Hari ini, dia akhirnya sedikit berselera makan. Aku harus pergi ...."

"Emm, pergilah."

Ekspresi Nadine terlihat tenang, seolah itu adalah hal biasa. Ferrick menatapnya dengan rasa terima kasih, lalu buru-buru pergi. Dia pun menonton opera sendirian.

Sampai tirai diturunkan, Nadine sepertinya sudah memahami sesuatu.

Pada saat ini, ponselnya berbunyi. Dia melihat postingan Yessy yang menunjukkan meja penuh camilan dan Ferrick yang sedang memijat kakinya. Biasanya, Nadine pasti sudah sakit hati. Namun, dia malah tersenyum lega kali ini.

"Ferrick, aku sudah siap melepaskanmu."

Saat tiba di rumah, Nadine bertemu Ferrick yang hendak keluar. Melihat tubuhnya yang basah kuyup, pria itu buru-buru mengambil handuk untuk mengeringkannya. "Aku tadinya mau menjemputmu, tapi ...."

"Nggak usah." Nadine dengan halus menghindari tangan Ferrick dan berujar, "Aku mau pindahkan makam Luna."

Luna adalah nama yang diberikan Nadine kepada anaknya.

Ferrick tertegun dan bertanya dengan agak bingung, "Kenapa?"

"Semalam, aku mimpi dia bilang dia nggak bahagia tinggal di sana."

Ferrick tidak mencurigai apa pun. "Karena itu sesuatu yang Nadine inginkan, pindahkan saja."

Pria itu tidak tahu bahwa ini juga merupakan hal terakhir yang ingin Nadine lakukan sebelum meninggalkannya. Nadine ingin membawa anaknya meninggalkan tempat penuh luka ini.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status