Beranda / Pendekar / Lahirnya Legenda Ksatria Abadi / Bab 3. PUTRI JADI PELAMPIASAN NAFSU

Share

Bab 3. PUTRI JADI PELAMPIASAN NAFSU

Penulis: MN Rohmadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-02 16:00:37

Bab 3. PUTRI JADI PELAMPIASAN NAFSU

Sepertinya ini bukanlah pertarungan akan tetapi lebih tepat jika disebut sebagai pembantaian.

Karena para prajurit dan pendekar bayaran itu seperti pohon pisang yang bisa di tebas dengan sangat mudah oleh anak buah Warok Buto Kolo.

Serangan para prajurit dan pendekar bayaran yang mengenai tubuh anak buah Warok Buto Kolo dibiarkan saja, mereka malah tertawa terbahak-bahak ketika sabetan serta tusukan para prajurit dan pendekar itu mengenai tubuh mereka.

Dan saat para prajurit dan pendekar itu tertegun, sabetan golok para perampok menebas leher mereka.

Kepala yang tertebas dan perut yang terburai langsung menghiasi hutan Mentaok.

Darah segar bercampur dengan air hujan seketika membuat tanah di bawah kereta kuda berubah merah.

Hanya dalam hitungan menit, semua pengawal juragan Atmaja sudah binasa di tebas golok dan pedang para perampok.

       Nimas Ayunina dan Juragan Atmaja yang bersembunyi di dalam kereta kuda tampak panik, saat mendengar teriakan kematian para pengawal mereka.

        Perlahan salah satu jendela kereta kuda terbuka, kemudian muncullah wajah pria paruh baya dengan pakaian bagus dari balik jendela kereta itu.

        Pemilik wajah pria paruh baya itu adalah juragan Atmaja yang penasaran, setelah suasana di luar kereta menjadi hening.

        Demikian juga dengan Nimas Ayunina, dia juga merasa penasaran ketika tidak mendengar suara pertarungan dan teriakan lagi.

        Saat wajah cantik nan molek Nimas Ayunina terlihat dari balik jendela kereta, Warok Buto Kolo dan anak buahnya langsung menjatuhkan rahangnya.

       Mulut mereka membentuk lingkaran atau huruf O, dan air liur tampak menetes keluar dari mulut mereka bercampur dengan air hujan.

      “Amboi cantiknya….”

      “Bidadari….”

      “Sungguh nikmat mana lagi yang aku dustakan setelah melihat kecantikan bidadari di hadapanku ini.”

       Para anak buah Warok Buto Kolo tampak bicara sendiri tanpa sadar memuji kecantikan Nimas Ayunina.

       Bahkan sampai ada yang berpuisi mensyukuri kecantikan yang dilihat.

      “Ha ha ha ha… sepertinya Kaisar Kegelapan telah mengirimkan bidadari untukku, ha ha ha ha…!”  

       Tawa Warok Buto Kolo menggema mengalahkan suara hujan yang membasahi bumi, ketika kesadaran nya sudah kembali setelah melihat kecantikan Nimas Ayunina.

      “Ha ha ha ha….!” anak buahnya juga ikut tertawa, melihat pemimpin mereka tampaknya sangat puas dengan hasil jarahan kali ini.

        Sementara itu juragan Atmaja yang melihat para pengawalnya sudah mati, segera keluar dari keretanya dan berlari ke arah kereta Nimas Ayunina.

        Niat hati untuk melindungi anak gadisnya, akan tetapi sebuah sabetan pedang menebas perutnya, yang membuat ususnya terburai.

       “A.. a.. a.. ayunina, maafkan Romo yang tidak bisa melindungimu…”

        Brukk…

Tubuh Juragan Atmaja langsung terjatuh di depan pintu kereta dengan nyawa sudah di bawa pergi Malaikat Maut sebelum sempat melindungi anak gadisnya.

       Perlahan dengan seringai mesum, Warok Buto Kolo melangkah menuju kereta yang berisi Nimas Ayunina, sambil memelintir kumisnya yang tebal dan melintang.

      “Hmmm… sepertinya malam ini akan terasa panas dengan adanya bidadari di pelukanku,’ gumam Warok Buto Kolo ketika sampai di depan pintu kereta.

        Brak….!

Sebuah dorongan kuat membuat pintu kereta terbuka, perlahan Warok Buto Kolo memasuki kereta dimana Nimas Ayunina berada.

       “Pergi… pergi… jangan mendekat… pergi…!”

Nimas Ayunina berteriak dengan histeris mengusir Warok Buto Kolo yang sedang mendekatinya dengan mata penuh dengan hawa mesum.

       “Ha ha ha ha… tidak perlu berteriak cantik, di tempat ini tidak akan ada orang yang menolongmu. Lihatlah semua pengawalmu sudah menjadi bangkai, jadi kalau kamu ingin selamat, maka turuti saja apa mauku, maka kamu akan selamat dan merasakan kenikmatan bersama-sama ha ha ha.”

      “Pergi… pergi… keluar… Tolong… tolong… tolong…!!”

       Breet….

Suara kain yang robek mengalahkan suara teriakan Nimas Ayunina, tangan kekar Warok Buto Kolo sudah berhasil merobek kain kebaya yang menutupi tubuh bagian atas gadis malang ini.

       Pemandangan indah seketika terpampang di depan Warok Buto Kolo, membuat nafsu iblisnya semakin menjadi-jadi.

       Di hadapan Warok Buto Kolo kini terpampang dada putih gadis cantik seperti bidadari yang sedang berusaha ditutupi dengan kedua tangannya.

       Meskipun suasana didalam kereta cukup gelap, akan tetapi tubuh Nimas Ayunina yang terbuka tampak berkilau seperti batu pualam.

       Nafas Warok Buto Kolo seketika memburu mengeluarkan udara panas dari lobang hidungnya, ketika  melihat betapa mulusnya dada gadis di depannya.

      “Tolong ampuni saya, jangan sentuh tubuhku. Saya adalah calon istri Raden Mas Wijoyo Kusumo. Apa kamu tahu hukuman apa yang akan kamu terima jika berani menggangguku,” kata Nimas Ayunina mencoba menakut-nakuti Warok Buto Kolo dengan nama anak dari penguasa kerajaan ini.

       “Ha ha ha ha… untuk apa kamu menakut-nakutiku dengan nama Raja yang lemah itu. Kamu sebaiknya menurut saja agar tubuhmu yang indah ini tidak terluka,” bujuk Warok Buto Kolo sambil berusaha menyentuh dagu Nimas Ayunina.

      “Tolong… tolong… tolong… pergi… pergi… tolong… tolong…!”

Teriakan Nimas Ayunina sama sekali tidak di perdulikan Warok Buto Kolo, dengan tenaganya yang kuat dia langsung memeluk tubuh gadis itu dan mulai menyentuhkan kumisnya yang tebal ke leher Nimas Ayunina yang jenjang.

        Sementara itu anak buah Warok Buto Kolo yang mendengar teriakan Nimas Ayunina tampak menyeringai dan ikut terbawa suasana.

       Tangan lembut Nimas Ayunina sama sekali tidak bisa mendorong tubuh kekar Warok Buto Kolo yang menindih tubuhnya.

        Tuuut…. tuuut… tuuut…tuit… tuit…tuut… tuuut.. tuit…

        Dan pada saat-saat kritis tiba-tiba terdengar suara suling yang mendayu-dayu mengalahkan suara derasnya hujan, bahkan mengalahkan suara petir yang menggelegar.

       Suara seruling itu seakan menghipnotis semua orang yang sedang melakukan kejahatan ini, tanpa terkecuali Warok Buto Kolo yang sedang melakukan aksinya di dalam kereta.

        Warok Buto Kolo sampai menghentikan aksinya, bahkan tangannya yang sedang menggerayangi tubuh Nimas Ayunina seakan menjadi kaku dan tubuhnya juga tidak bisa digerakkan.

       Tapi sebuah keanehan terjadi pada Nimas Ayunina, dia sepertinya tidak terpengaruh oleh suara seruling ini.

        Bahkan dia seperti mempunyai kekuatan lebih untuk mendorong tubuh kekar Warok Buto Kolo dari atas tubuhnya.     

       Tubuh Warok Buto Kolo yang beratnya hampir seratus kilogram dengan tubuh yang kekar, tentu saja membuat tenaga Nimas Ayunina yang digunakan untuk mendorong tubuhnya sedikit kesusahan.

       Dalam hatinya Warok Buto Kolo sangat kesal dan penasaran ketika tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku.

       Kekesalannya semakin menjadi-jadi, ketika mengetahui kalau wanita yang akan dinikmatinya bisa bergerak dan menyingkirkan tubuhnya yang sedang menindih tubuh wanita itu.

       Setelah bisa menyingkirkan tubuh Warok Buto Kolo dari atas tubuhnya, Nimas Ayunina segera merapikan pakaiannya yang sudah robek dan berantakan.

        Dengan tubuh gemetar dan dengan hati yang diselimuti dengan rasa takut, perlahan Nimas Ayunina mengeluarkan kepalanya dari dalam kereta untuk melihat situasi di luar.

       Sepasang matanya yang indah membelalak lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

        Di hadapannya Nimas Ayunina melihat ratusan anak buah warok Buto Kolo yang memiliki tubuh kekar dengan ciri khas kumis besar dan melintang, terlihat sedang berdiri selayaknya patung di bawah guyuran hujan deras.

       Samar-samar Nimas Ayunina juga mendengar alunan suara seruling yang terdengar sangat indah melantunkan nada-nada yang sangat menghipnotis siapapun yang mendengarnya.

        Dengan hati-hati Nimas Ayunina keluar dari dalam kereta, kemudian berjalan perlahan menjauhi kerumunan anak buah Warok Buto Kolo, ke belakang kereta kuda miliknya.

        Begitu sudah berada di belakang kereta kuda, dengan cepat Nimas Ayunina berlari menerobos derasnya hujan masuk kedalam hutan.

      Tanpa memandang semak perdu di depannya, Nimas Ayunina terus berlari menembus gelapnya malam berusaha menjauhi kereta kudanya.

      Saking paniknya berlari tanpa arah, Nimas Ayunina tidak menyadari kalau dia malah berlari ke arah sumber suara seruling yang menembus derasnya hujan.

       Brak…!”

      “Auww..” pekik Nimas Ayunina.

Dengan keras tubuh Nimas Ayunina langsung terjatuh, ketika dia menabrak sesuatu yang tiba-tiba ada didepannya.

       Mata Nimas Ayunina langsung menatap dengan tajam kearah benda yang baru saja di tabraknya.

       Samar-samar dia bisa melihat bayangan seorang manusia yang bertelanjang dada dengan rambut panjang berdiri di depannya.

       Manusia itu di tangannya terlihat memegangi sebuah seruling yang terbuat dari bambu kuning.

        Wajah manusia yang berdiri di depannya tidak terlalu jelas, karena rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang basah.

      “Si… si… siapa kamu…?” sambil memegangi kain yang menutupi dadanya, Nimas Ayunina bertanya sambil menatap sosok manusia di depannya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
MN Rohmadi
terimakasih
goodnovel comment avatar
Sitie khotimah
wah sepertinya ceritanya cukup panas
goodnovel comment avatar
MN Rohmadi
Mohon di follow akun penulis MN Rohmadi, terimakasih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 134. PURA-PURA TULI

    Bab 134. PURA-PURA TULI “Dasar otak lemot, sudahlah ayo kita ikuti anak muda itu,” ata Rudin pada akhirnya untuk menghindari percakapan yang tidak perlu. Meskipun masih terlihat kebingungan, akan tetapi Parto mengikuti langkah Rudin yang berlari cepat menuju keluar kotaraja. Sementara itu Jaka Tole yang menaiki kuda, terlihat cukup senang karena tidak ada mengikutinya. Begitu memasuki hutan diluar Kotaraja. Setelah menemukan tempat yang cukup lapang di pinggir kotaraja, Jaka Tole menghentikan lari kudanya. Kemudian dia segera memindahkan peti koin emas yang ada di atas kuda ke dalam ruang penyimpanannya. Tak lama kemudian sebuah api unggun pun terlihat dari kejauhan, Parto dan Rudin yang mengejar Jaka Tole tampak tersenyum lega saat melihat buruannya sedang istirahat. Dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, Rudin dan Prto mendatangi tempat pemberhentian Jaka Tole. “Diam, jangan bergerak!” perintah Rudin sambil mengacungkan sebuah parang

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 133. MENJADI INCARAN PERAMPOK KOCAK

    Bab 133. MENJADI INCARAN PERAMPOK KOCAK Raja Anusapati dan para prajuritnya tampak tertegun, menatap pemuda yang mereka anggap hanya seorang tabib ajaib ternyata adalah seorang pendekar yang sangat tangguh. “Beres, sekarang buka semua topeng mereka agar kita tahu siapa mereka sebenarnya,” kata Jaka Tole kepada Senopati yang sedang berdiri dengan bengong sambil menepuk telapak tangannya seolah-olah sedang membersihkan debu. “Ba… baik…, semuanya cepat buka topeng mereka!” Seketika itu juga para prajurit yang tersisa, segera membuka topeng kain yang menutupi penyerang mereka. “Ini… ini… bukankah dia Senopati Pandu? Salah satu orang kepercayaan Pangeran Panggulu?” Suasana seketika menjadi hebat, setelah semua pendekar bertopeng dibuka topeng yang menutupi wajah mereka. Karena beberapa dari pendekar bertopeng ternyata adalah prajurit kerajaan Mandala, hanya saja mereka di bawah penguasaan Pangeran Panggulu. Kini yang tersisa dari pendekar bertopeng ya

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 132. AKSI JAKA TOLE

    Bab 132. AKSI JAKA TOLE Tutur Jaka Tole sambil memandang sekelilingnya untuk mengantisipasi serangan pendekar bertopeng. Para Senopati yang mengawal sang Raja, tentu saja langsung mengenali sosok Jaka Tole yang pernah mengobati sang Raja. Mereka merasa lega, begitu tahu kalau keselamatan sang Raja ada yang menjaganya. Berbeda dengan para penyerang, mereka sangat marah begitu mengetahui ada orang yang membantu sang Raja. “Semuanya, segera habisi Raja yang sakit-sakitan ini. Jangan biarkan ada satupun orang yang selamat.” Terdengar teriakan dari arah belakang, seruan ini seketika membakar semangat para pendekar bertopeng. Seketika itu juga, ada puluhan pendekar bertopeng yang menyerbu ke arah Jaka Tole. Melihat ada pendekar bertopeng yang menyerangnya, tangan Jaka Tole bergerak kearahnya. Bugh…! “Argh… argh…” Terdengar jerit kesakitan dari beberapa pendekar bertopeng yang berniat membunuh sang Raja Anusapati. Tapi dihadapan Jaka Tole, para pengganggu itu bukanlah lawa

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 131. BANTUAN DATANG

    Bab 131. BANTUAN DATANG Pertarungan Pun terjadi di dalam hutan, para prajurit banyak yang tewas dan terluka, meskipun jumlah mereka lebih banyak dari para penyerang yang memakai topeng hitam. Hanya para Senopati yang bisa bertahan dan melukai beberapa penyerang. Sementara itu Baginda Raja Anusapati tampak siaga dengan golok di tangannya siap untuk menghadapi siapapun yang berani mendekat. Tiga ratus prajurit kerajaan kini hanya tinggal lima puluh orang termasuk para sekop yang menjaga sang Raja. Kenyataan ini tentu saja mengejutkan sang Raja dana para Senopati yang mengawalnya. Mereka sama sekali tidak menyangka, kalau ada orang yang berani menyerang Baginda Raja Anusapati dan pasukannya. “Baginda, sebaiknya Baginda Raja segera lari ke istana dan mencari bantuan, biar kami menghalangi mereka,” kata salah satu Senopati sambil terus bertarung menghadapi pasukan bertopeng hitam ini. “Mau lari? Ha ha ha ha… kalian tidak akan dibiarkan melarikan diri. Kalian akan kami bunuh

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 130. SERANGAN MENDADAK

    Bab 130. SERANGAN MENDADAK Begitu memasuki hutan, Jaka Tole segera mencari tempat yang nyaman untuk membuat rumah dari tanah. Sebagai pendekar yang menguasai elemen tanah, tentunya dia sangat memanfaatkan keahliannya ini untuk membuat rumah dari tanah seperti biasanya. Hanya dengan menggunakan pikirannya, dibawah pohon besar sudah berdiri sebuah rumah berbentuk jamur setengah lingkaran. Kali ini Jaka Tole membuat perapian dan cerobong asap di atap rumah tanahnya. Sedangkan bagian pintunya kembali ditutup dengan tanah, karena sia belum akan menempati saat ini. “Rumah sudah jadi, sekarang tinggal mencari ayam hutan atau kelinci untuk makan malam,” gumam Jaka Tole sambil menepuk telapak tangannya seakan sedang membersihkan debu. Sekelebatan saja tubuh Jaka Tole sudah menghilang dari tempatnya berdiri. Tubuh Jaka Tole berlompatan dari satu dahan ke dahan pohon lainnya. Sementara sepasang matanya menatap ke segala penjuru dengan tatapan tajam, hing

  • Lahirnya Legenda Ksatria Abadi   Bab 129. ROMBONGAN KERAJAAN

    Bab 129. ROMBONGAN KERAJAAN Dengan pakaian atas yang sudah dilepas, Jaka Tole berbaring diatas tempat tidur. Kemudian kedua wanita cantik itu juga naik keatas tempat tidur. Kedua wanita itu berbagi tugas, yang satu melihat dibagian atas sedangkan yang satunya memijat bagian kaki. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Jaka Tole, begitu tubuhnya ada yang memijat, seketika itu juga rasa kantuk langsung menyerangnya. Perlahan-lahan sepasang matanya mulai terpejam dan tanpa disadari dia sudah tertidur pulas. Kedua wanita penghibur itu belum menyadari kalau pria yang mereka pijat sudah tidur dengan nyenyak. Hingga salah satu wanita yang memijat bagian kaki bertanya. Mereka berdua belum menyadari kalau Jaka Tole sudah tertidur pulas, maklum saat ini dia sedang tengkurap, sehingga wajahnya tidak terlihat. “Raden, bagaimana pijatan kami, apakah enak?” “Raden…. Raden…. Raden….” Kedua wanita penghibur ini langsung panik, ketika pertanyaan mereka t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status