LOGINDuar! Ledakan yang sangat keras terdengar ketika dua aura saling berbenturan antar Ye Tian dan Heylong. Kemudian simbol-simbol kuno yang berada di mengelilingi tubuh Ye Tian bergerak mengurung naga hitam. "Mu-mustahil... bagaimana mungkin dia bisa memeliki kekuatan seperti itu..." Hey Long tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya. Simbol-simbol kuno itu terus menekan tubuhnya. Ledakan itu membuat altar batu retak-retak. Pecahan batu beterbangan, namun langsung hancur menjadi debu sebelum sempat menyentuh tanah. Aura Heylong yang semula mengamuk tiba-tiba terhenti, seolah ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih tinggi tingkatannya. Simbol-simbol kuno itu berputar semakin cepat, membentuk lingkaran segel yang saling bertaut, mengunci tubuh naga hitam dari segala arah. Heylong menggeram keras, berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya. Sisik hitam di tubuhnya berkilau, namun tak satu pun rantai simbol itu retak. "Aaargh—!" raungnya tertahan. "Tubuhku… ditekan sepenuhnya olehnya,
Langkah mereka terhenti hampir bersamaan. Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang menatap ke depan dengan sorot mata yang berubah tajam. Di hadapan mereka, seekor naga hitam raksasa terbelenggu oleh rantai kuno. Rantai itu melilit leher, tubuh, hingga keempat kakinya, menahan sosoknya di atas sebuah altar batu yang sangat luas. Naga hitam itu perlahan membuka mata ketika merasakan aura Ming Liu, Yinshen, Bao Liang, Ye Tian, beserta rombongannya. Cahaya dingin berkilat di pupil matanya. "Tch…," dengusnya rendah. "Aku tak menyangka kalian bertiga tunduk pada manusia." Tatapan naga hitam itu menyapu satu per satu wajah mereka sebelum berhenti pada Ye Tian. "Kalian tidak lebih seperti budak yang mau di perintah oleh manusia..." lanjutnya dengan nada meremehkan. "Yinshen, Bao Liang, Ming Liu—kalian benar-benar mengecewakanku." Tatapan naga hitam itu masih tertuju pada Ye Tian, penuh penilaian dan ejekan yang tertahan. Ye Tian tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya berdiri
Rombongan Ye Tian bergerak meninggalkan kawasan danau tanpa menoleh kembali. Hutan kembali menyelimuti mereka. Pepohonan kuno menjulang tinggi, akar-akar besar mencuat dari tanah seperti urat naga, dan kabut tipis menggantung rendah di antara batang pohon. Aura dunia kuno di tempat ini terasa semakin pekat, seolah setiap langkah membawa mereka lebih dalam ke wilayah yang belum tersentuh. Jiang Ruolan berjalan di sisi Ye Tian. "Dunia ini… jelas bukan reruntuhan biasa," ucapnya pelan. "Semakin jauh kita masuk, tekanan gravitasinya makin kuat." Ye Tian mengangguk tipis. "Ini bukan dunia yang diciptakan untuk kultivator lemah." Di belakang mereka, Ming Liu, Yinshen, dan Bao Liang berjalan dalam wujud manusia. Tidak ada lagi jejak keganasan—yang tersisa hanyalah kepatuhan mutlak. Yinshen melirik sekeliling. "Ada pergerakan aura di depan. Tidak kuat, tapi jumlahnya banyak." Bao Liang menyeringai tipis. "Seperti… pemburu tingkat rendah. Mereka menunggu mangsa." Shen Long tersen
Tekanan ruang di sekitar danau terus meningkat. Udara bergetar halus, seolah tak mampu lagi menahan keberadaan dua kekuatan besar yang saling berhadapan. Ular hitam raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Sisik hitam kebiruannya berderak, retakan kecil yang tadi muncul perlahan tertutup kembali oleh energi kuno yang mengalir deras di sepanjang tubuhnya. Aura buasnya melonjak satu tingkat, lebih pekat, lebih menekan. "Hmph… sudah ratusan tahun aku menjaga tempat ini," desisnya berat. "Bahkan banyak kultivator tingkat tinggi pun mati di hadapanku. Kau pikir tekanan ruang bisa menghentikanku?" Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Energi hitam pekat berkumpul di dalam tenggorokannya, berputar liar seperti pusaran jurang. Shen Long mengangkat alis. "Serangan jiwa bercampur energi kuno." Jiang Ruolan berteriak, "Tian’er, hati-hati!" Namun Ye Tian tidak mundur setapak pun. Tatapannya tenang, Ia mengangkat satu tangan. "Berisik." Satu kata itu jatuh bersamaan dengan— B
Ye Tian menatap sekilas ke arah danau yang membeku setengah. Permukaannya tenang, terlalu tenang—namun di balik lapisan es tipis itu, gelombang aura dingin terus berputar tanpa henti. Tatapannya lalu beralih pada Jiang Ruolan. Ia merasakan energi qi pada Kakak perempuannya itu kacau, namun jejak pertempuran jelas terlihat dari napas yang belum sepenuhnya teratur dan lengan bajunya yang robek di beberapa bagian. "Kakak dan para Saudara dan Saudari segera memulihkan diri terlebih dahulu. Jangan terlalu memaksakan diri, karena itu sangat berisiko. Bisa-bisa nyawa kalian melayang sebelum mendapatkan bunga teratai lima warna itu," ucap Ye Tian tenang. "Ular hitam itu bukan sekadar penjaga biasa." Jiang Ruolan tersenyum tipis, sedikit pahit. "Kamu benar, meski kami mencoba mengurungnya dengan segel formasi es, dia mampu mengancurkan formasi itu. Aku tadi sempat melawannya, tapi aku kesulitan menembus pertahanan
Ye Tian kembali memusatkan perhatiannya ke depan. Macan bertaring emas itu masih tertekan ke tanah, tubuhnya bergetar hebat. Aura Raja Buas yang tadi meledak kini kacau, naik turun tak terkendali. Tanah di bawahnya terus berderak, retakan menjalar semakin lebar. "Jangan menatap ke tempat lain… manusia," geram macan itu dengan susah payah. “Jika kau lengah, aku—" Tekanan ruang tiba-tiba bertambah berat. BOOM! Tanah amblas lebih dalam. Tubuh macan itu tertekan setengah masuk ke tanah, tulang-tulangnya berderak keras. Raungannya terputus, berubah menjadi erangan tertahan. Ye Tian melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kepala macan itu. Tatapannya dingin, tanpa emosi. "Kau terlalu banyak bicara untuk makhluk yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk." ucapnya datar. Macan itu terengah. Matanya bergetar, menatap Ye Tian dari jarak sedekat ini. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian—ketidakberdayaan total. "Jika…







