เข้าสู่ระบบUdara pagi di wilayah Valois terasa sangat menggigit. Embun tipis masih menyelimuti lapangan latihan yang terletak di bagian belakang kastil, menciptakan suasana yang remang dan mistis. Suara dentingan logam yang beradu memecah kesunyian pagi, diikuti oleh teriakan-teriakan komando dari para instruktur militer.
Di tengah lapangan, Lucien Ashford De Valois berdiri tanpa mengenakan jubah kebesarannya. Ia hanya memakai kemeja linen putih yang tipis, yang kini basah oleh keringat, menempel ketat pada otot-otot punggung dan lengannya yang kokoh. Pedang latihan di tangannya bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, memukul mundur dua ksatria elit sekaligus. "Lemah! Apa kalian hanya makan bubur pagi ini?" gertak Lucien sambil mengayunkan pedangnya, menjatuhkan senjata lawannya hingga terpental ke tanah. Cedric Lightmore, yang berdiri di pinggir lapangan sambil memegang handuk, hanya bisa menghela napas. Tuannya sedang dalam suasana hati yang sangat buruk sejak percakapan aneh dengan Grand Duchess kemarin. Namun, perhatian semua orang tiba-tiba teralih. Di ujung jalan setapak menuju lapangan, seorang wanita muncul. Itu adalah Celina. Namun, dia tidak mengenakan gaun pesta yang rimbun dengan renda dan korset yang menyesakkan napas seperti biasanya. Ia mengenakan pakaian berkuda yang pas di badan—celana panjang kulit yang ketat, sepatu bot tinggi, dan kemeja putih dengan rompi hitam. Rambut pirang platinumnya diikat tinggi dengan gaya ponytail yang praktis. Langkah kakinya mantap, dagunya terangkat. Ia tidak terlihat seperti wanita yang baru saja mencoba bunuh diri dua hari lalu. "Nyonya Grand Duchess?" gumam Cedric, suaranya cukup keras untuk membuat Lucien berhenti mengayunkan pedang. Lucien berbalik, napasnya memburu. Ia menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya, menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya yang kemudian berubah menjadi sinis. "Apa lagi sekarang, Celina?" tanya Lucien dengan nada bosan. "Jika kau datang untuk membawakan bekal buatan tanganmu yang rasanya mengerikan itu, lebih baik kau pulang. Aku tidak punya waktu untuk sandiwara domestik." Para ksatria di sekitar lapangan mulai berbisik-bisik. Mereka sudah terbiasa melihat Celina datang ke lapangan hanya untuk menangis atau mencoba memeluk Lucien di depan umum, yang selalu berakhir dengan pengusiran kasar. Celina tidak berhenti. Ia terus berjalan hingga jaraknya hanya tinggal tiga langkah dari Lucien. Aroma parfum mawar yang biasanya menyengat kini digantikan oleh aroma citrus yang segar dan tajam. "Kau terlalu percaya diri, Lucien," ucap Celina datar. "Aku ke sini bukan untuk memberimu makan. Aku ke sini karena suara berisik dari lapangan ini mengganggu waktu meditasi pagiku." Lucien tertawa pendek, tawa yang tidak mencapai matanya. "Meditasi? Sejak kapan kau peduli pada ketenangan? Kau adalah wanita paling berisik yang pernah kukenal." Celina mengabaikan hinaan itu. Matanya justru tertuju pada pedang kayu yang tergeletak di dekat kaki Lucien. "Gerakanmu tadi... terlalu banyak menggunakan kekuatan bahu. Kau terbuka di sisi kiri setiap kali melakukan serangan vertikal. Jika lawanmu bukan anak buahmu yang takut padamu, kau sudah kehilangan lengan kirimu sejak tadi." Keheningan seketika menyelimuti lapangan. Para ksatria menahan napas. Berani-beraninya seorang wanita yang tidak pernah memegang senjata mengajari "Iblis Medan Perang" cara bertarung? Wajah Lucien mengeras. Ia melangkah maju, mengintimidasi Celina dengan tinggi badannya. "Kau bicara seolah kau tahu cara memegang pedang, Vivianne. Apa kau sedang mencoba taktik baru untuk menarik perhatianku? Berlagak sebagai ahli strategi?" "Aku hanya bicara fakta," sahut Celina tenang. Ia membungkuk, mengambil pedang kayu yang tergeletak di tanah. Beratnya lumayan, tapi keseimbangannya cukup baik. Ia melakukan beberapa gerakan pemanasan pergelangan tangan yang terlihat sangat profesional. "Kembalikan itu," perintah Lucien dingin. "Bagaimana jika kita bertaruh?" tantang Celina. Ia menatap Lucien dengan mata hijau zamrud yang berkilat menantang. "Satu serangan. Jika aku bisa menyentuh dadamu dengan ujung pedang ini, kau harus memberikan satu hal padaku." "Dan jika kau kalah? Yang mana itu sudah pasti terjadi," sahut Lucien sinis. "Aku akan berhenti mengganggumu selama satu bulan penuh. Tidak ada kunjungan, tidak ada surat, tidak ada rengekan. Aku akan menganggapmu tidak ada." Lucien terdiam. Tawaran itu sangat menggiurkan. Sebulan tanpa gangguan Celina adalah surga baginya. "Baik. Tapi jangan menangis jika kau jatuh ke lumpur." Lucien mengambil posisi kuda-kuda, meski ia terlihat sangat santai. Baginya, ini hanya seperti bermain dengan anak kecil. Sementara itu, Celina mengambil posisi yang sangat berbeda. Kakinya terbuka lebar, pusat gravitasinya rendah, dan pedangnya tidak diarahkan ke depan, melainkan sedikit ke samping—gaya yang asing bagi orang-orang di zaman itu. "Mulai," ucap Cedric dengan suara gemetar. Lucien maju dengan satu langkah besar, bermaksud menjatuhkan pedang Celina dengan satu hantaman kuat. Namun, saat pedang mereka bersentuhan, Celina tidak menahan serangan itu. Ia justru memutar pergelangan tangannya, membiarkan pedang Lucien meluncur turun mengikuti aliran kekuatannya sendiri—sebuah teknik parry yang sempurna. Sebelum Lucien sempat menarik kembali senjatanya, Celina berputar dengan lincah. Gerakannya secepat kilat, memanfaatkan momentum tubuhnya yang kecil. TAP. Ujung pedang kayu Celina berhenti tepat di tengah dada Lucien, tepat di atas jantungnya. Lucien membeku. Ujung pedang itu menekan kemeja putihnya yang basah. Di hadapannya, Celina berdiri dengan napas yang stabil, senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan. "Kau terbuka, Yang Mulia," bisik Celina. Para ksatria yang menonton ternganga. Beberapa dari mereka mengucek mata, tidak percaya bahwa Grand Duchess yang "lemah lembut dan gila" baru saja melakukan serangan balik yang hanya bisa dilakukan oleh ksatria tingkat tinggi. Lucien menatap pedang di dadanya, lalu menatap wajah Celina. Ada sesuatu yang meledak di dalam hatinya—bukan hanya kemarahan, tapi juga rasa penasaran yang luar biasa. Tatapan wanita ini... sangat tajam. Tidak ada ketakutan, tidak ada obsesi. Hanya ada keyakinan. "Bagaimana kau melakukan itu?" tanya Lucien, suaranya rendah dan berbahaya. Celina menarik kembali pedangnya dan melemparkannya ke tanah. "Rahasia perusahaan. Sekarang, sesuai janji, aku ingin bayaranku." "Apa yang kau inginkan? Perhiasan? Gaun baru?" Celina menggeleng. "Aku ingin akses penuh ke perpustakaan pribadi keluarga Valois dan stempel resmi untuk melakukan transaksi bisnis atas nama Grand Duchess tanpa perlu tanda tanganmu." Lucien menyipitkan mata. Permintaan itu sangat tidak biasa. "Untuk apa? Kau ingin menguras kas keluarga?" "Aku ingin memperbaiki kekacauan yang dibuat oleh kepala pelayanmu yang korup," jawab Celina sambil berbalik. "Dan tenang saja, Lucien. Aku bukan lagi wanita yang akan mengejarmu sampai ke barak militer. Mulai sekarang, aku punya urusan yang lebih penting daripada mengemis cinta pada pria yang tidak punya hati." Celina berjalan pergi meninggalkan lapangan, membiarkan Lucien berdiri terpaku di tengah lapangan yang mulai hangat oleh sinar matahari. "Yang Mulia..." Cedric mendekat dengan ragu. "Apa yang baru saja terjadi?" Lucien tidak menjawab. Ia menyentuh dadanya, tempat ujung pedang Celina baru saja menyentuhnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. "Dia..." Lucien bergumam pelan, hampir tidak terdengar. "Dia benar-benar berbeda." Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Lucien tidak langsung pergi ke kantornya. Ia berdiri di sana, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kastil, merasa bahwa permainan baru saja dimulai—dan kali ini, ia bukan pemegang kendalinya. ***Raja Lucien menghempaskan tumpukan dokumen laporan dewan menteri ke atas meja kerja mahoni dengan satu gerakan tangan yang cepat, lalu menghela napas panjang sebelum berbalik menghadap Ratu Celina yang baru saja melangkah masuk membawa secangkir teh mawar hangat kesukaannya."Aku resmi mendeklarasikan pensiun permanen dari membaca tumpukan kertas membosankan ini mulai detik ini juga, Celina," ujar Lucien dengan suara bariton seraknya yang khas, tersenyum kecil sambil melangkah lebar mendekati istrinya.Celina menyerahkan cangkir teh tersebut, lalu mendengus geli sembari merapikan kerah kemeja suaminya dengan penuh kelembutan. "Kau berbicara seolah-olah kau adalah pegawai rendahan istana, Baginda Raja. Padahal kau baru saja mangkir dari tiga rapat penting dewan menteri sore ini," tegur Celina lembut penuh canda, matanya berbinar hangat.Lucien menyambar pinggang ramping istrinya dengan kedua tangannya, menarik tubuh Celina rapat-rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Biarkan p
Raja Lucien menyambar jubah wol tebal berwarna arang dari gantungan dinding kamar dengan satu sentakan tangan yang cepat, lalu melemparkannya ke bahu Ratu Celina untuk melindungi istrinya dari udara dingin subuh istana."Kau yakin ingin ikut naik ke bukit utara bersamaku, Baginda? Padahal kita baru saja berencana tidur seharian penuh di istana," protes Celina lembut dengan nada jenaka, merapikan kancing jubah tersebut di depan cermin besar sementara matanya melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca.Lucien melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya dari belakang di pinggang ramping istrinya lalu menumpukan dagunya di bahu Celina. "Aku tidak mungkin membiarkan ratu-ku pergi ke luar istana sendirian saat fajar menyingsing, terlebih lagi rencana liburan seharian kita hari ini dimulai dari sana," bisik Lucien parau tepat di telinga Celina, mengecup pelan leher istrinya hingga Celina mendengus geli."Alasanmu selalu saja ada, Raja yang posesif," cibir Celina manja, memutar tubuh
Raja Lucien menghempaskan tubuhnya ke atas sofa beludru panjang di ruang kerja pribadinya, lalu melonggarkan kerah seragam militer hitam yang masih melekat di tubuhnya dengan satu sentakan tangan yang cepat."Kau baru saja tiba dari perbatasan barat dua jam yang lalu, Baginda, dan sekarang kau sudah mengurung diri lagi di ruang kerja penuh tumpukan dokumen?" tegur Ratu Celina lembut sambil membuka pintu ruang kerja perlahan, melangkah masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hitam hangat.Lucien mendongak, menyipitkan mata elangnya lalu mendengus pelan. Ia menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. "Kemarilah, Celina. Dokumen-dokumen ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa rinduku yang belum tuntas sejak aku kembali ke istana," rayu Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina tersenyum geli, melangkah mendekat dan meletakkan nampan teh di atas meja mahoni sebelum duduk di samping suaminya. "Kau ini... gombalanmu semakin hari semakin tidak punya batasan," c
Raja Lucien menutup pintu kamar tidur utama dengan satu dorongan kaki yang cepat, lalu langsung mengangkat tubuh Ratu Celina ke dalam dekapannya begitu mereka tiba di balik pintu yang tertutup rapat dari pesta dansa Adipati Sterling.Celina terpekik kecil karena terkejut, namun tawa renyah langsung lolos dari bibirnya saat ia melingkarkan kedua tangannya secara otomatis di leher suaminya. "Lucien! Kau benar-benar tidak sabar, ya? Kita bahkan baru saja turun dari kereta kuda!" protes Celina manja dengan mata berbinar jenaka.Lucien tidak memedulikan protes itu. Ia berjalan cepat membawa istrinya menuju ranjang beludru besar, membaringkan Celina dengan lembut sebelum mengurung tubuh istrinya di antara kedua lengannya. "Aku sudah menahan diri selama dua jam penuh di aula yang penuh dengan para bangsawan sok sokan itu, Celina. Sekarang waktunya bagiku untuk menagih waktu pribadi dengan ratu-ku," bisik Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina menangkup rahang suaminya deng
Raja Lucien menyambar dasi kupu-kupu sutra hitam dari tangan kepala pelayan dengan gerakan cepat, lalu melilitkannya sendiri di kerah kemeja putihnya di depan cermin besar kamar utama. Ia merapikan ujung jas formal beraksen emas yang membalut tubuh tegapnya, sebelum membalikkan badan begitu mendengar derap langkah anggun dari arah kamar ganti.Ratu Celina melangkah keluar dengan balutan gaun malam panjang berwarna safir tua berkilau yang memeluk sempurna siluet tubuhnya, sementara rambut panjangnya disanggul modern dengan hiasan permata kecil yang memantulkan cahaya lampu kristal.Lucien terpaku seketika, menghentikan gerakan tangannya di udara. Ia melangkah lebar mendekati istrinya, lalu menangkup kedua pipi Celina dengan lembut. "Demi para dewa... kau terlihat luar biasa memukau, Ratu-ku," puji Lucien tulus dengan suara bariton seraknya yang khas.Celina tersenyum geli, menaruh kedua tangannya di atas bahu suaminya. "Kau sudah memuji gaun ini tiga kali sejak tadi, Baginda. Kalau ter
Raja Lucien menghentakkan pedang latihan ke atas lantai batu arena istana dengan bunyi dentingan nyaring, lalu menyeka keringat di keningnya menggunakan punggung tangan kanannya. Napasnya sedikit memburu setelah satu jam penuh melatih teknik tangkisan cepat bersama kepala pengawal kerajaan."Cukup untuk hari ini," titah Lucien dengan suara bariton tegasnya, melempar pedang tumpul itu ke dalam rak senjata.Pintu besar arena terbuka perlahan, menampilkan Ratu Celina yang melangkah masuk anggun dengan gaun musim semi berwarna lavendernya, membawa sehelai handuk kering dan botol air dingin di atas nampan perak."Kau menghabiskan pagi butamu di arena latihan lagi, Baginda Raja? Padahal para menteri belum datang ke ruang sidang," tegur Celina lembut, tersenyum kecil sambil menyodorkan handuk ke hadapan suaminya.Lucien segera menyambar handuk tersebut, menyeka lehernya, lalu menarik pinggang Celina mendekat ke dalam dekapannya tanpa ragu sedikit pun. Ia mengecup singkat kening istrinya. "Ju
Kastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika
Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah
Aroma amonia yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Celina. Kepalanya terasa seolah dihantam oleh palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya kabur, hanya menangkap siluet langit-langit tinggi dengan lukisan fresco bergaya Renaisans y
Keheningan di koridor sayap barat kediaman Valois terasa mencekam setelah kepergian Lucien. Di dalam kamar, Celina Camilla yang kini harus terbiasa dipanggil Vivianne tidak membuang waktu untuk meratapi nasib. Baginya, menangisi takdir adalah pemborosan energi yang tidak masuk dalam neraca keuntunga







