Masuk"Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.
Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."
Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka."
"Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi geraknya.
"Kita semua punya masalah, Nona. Tapi kita dibayar untuk melupakan masalah itu, setidaknya di depan tamu," Mei Ling menjawab datar, sambil mengoleskan bedak tipis di pipi Lianara. "Ingat, Madam Yue menginvestasikan banyak padamu. Dia berharap kau bisa menarik perhatian tamu penting. Jangan mengecewakannya."
"Menarik perhatian dengan senyum palsu ini?" Lianara melirik pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang polos kini dipoles, membuatnya tampak lebih dewasa dan rapuh.
"Bukan hanya senyum, Nona. Madam Yue bilang kau memiliki keunikan. Gunakan itu," Mei Ling mengingatkan. "Kau tidak bisa menari seperti Xiao Lan, atau menyanyi seindah Yu Fang. Jadi, kau harus menemukan caramu sendiri."
"Keunikan apa? Maksudmu cerita-cerita anehku tentang dunia modern itu?" Lianara bertanya, sedikit skeptis.
Mei Ling mengangguk. "Itu bisa jadi. Para pria kaya itu sering bosan dengan hal yang sama. Cerita anehmu mungkin bisa menghibur mereka. Tapi jangan terlalu berlebihan, mereka juga tidak suka merasa dibodohi."
"Jadi, aku harus bercerita tentang internet? Atau drama Korea?" Lianara mencoba membayangkan reaksi para saudagar kuno itu. Pasti mereka akan mengira dia gila.
"Bercerita tentang tempat asalmu. Tentang budaya yang berbeda dan tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui," Mei Ling menyarankan. "Tapi ingat, Nona, intinya adalah membuat mereka merasa istimewa. Dengarkan mereka. Puji mereka. Buat mereka merasa seperti raja."
"Jadi, intinya akting?" Lianara menyimpulkan.
Mei Ling tertawa kecil. "Itu adalah seni bertahan hidup, Nona Lianara. Kita semua adalah aktris di sini. Hanya saja, panggung kita sedikit berbeda."
Tiba-tiba, seorang gadis lain masuk ke ruangan, tampak kesal. "Mei Ling, Nona Lianara. Madam Yue memanggil. Tamu-tamu sudah menunggu di aula utama dan ada beberapa wajah baru yang penting."
"Baik, Yu Fang. Kami segera ke sana," Mei Ling menjawab. Ia menoleh ke Lianara. "Sudah siap, Nona?"
Lianara menarik napas dalam-dalam. "Siap nggak siap, harus siap, kan?" Ia mencoba tersenyum, kali ini senyumnya lebih alami, meskipun masih ada ketegangan di dalamnya.
"Semangat itu bagus," Mei Ling mengangguk. "Tapi jangan terlalu keras kepala. Ingat, kau tidak sendirian. Kami ada di sini untuk saling membantu." Mei Ling meraih tangan Lianara, genggamannya hangat. "Jika kau merasa tidak nyaman, berikan isyarat padaku. Aku akan mencoba membantumu."
Lianara menatap Mei Ling, rasa terima kasih menghangatkan hatinya. "Terima kasih, Mei Ling."
"Mari," Mei Ling menuntunnya keluar.
Lianara melangkah ke aula utama Rumah Anggrek Merah. Cahaya lentera yang temaram, suara musik yang mengalun, tawa riuh para pria, dan aroma arak yang kuat langsung menyergapnya. Puluhan gadis bordil dengan hanfu warna-warni bergerak di antara meja-meja, menuangkan arak, menari, atau mengobrol dengan para tamu.
"Nona Lianara, kemarilah," suara Madam Yue terdengar dari meja paling depan, tempat beberapa pria berpakaian mewah duduk. Salah satunya adalah pria paruh baya dengan perut buncit, yang lain adalah pemuda tampan dengan pakaian sutra mahal, dan seorang pria berjanggut tipis dengan tatapan tajam.
Lianara berjalan perlahan, mencoba terlihat anggun seperti yang diajarkan Mei Ling, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ini adalah pertama kalinya dia bekerja.
"Ini adalah Nona Lianara, tamu-tamu sekalian," Madam Yue memperkenalkan, senyumnya dingin. "Gadis baru kami. Dia mungkin sedikit pemalu, tapi dia memiliki pikiran yang unik."
Pria buncit itu tertawa. "Unik, katamu, Madam Yue? Apakah dia bisa menari seperti Xiao Lan?"
"Atau menyanyi seperti Yu Fang?" tambah pria berjanggut tipis.
Madam Yue hanya tersenyum misterius. "Nona Lianara memiliki bakat lain. Dia adalah pendongeng yang luar biasa. Dia bisa menceritakan kisah-kisah dari negeri yang sangat jauh, kisah-kisah yang belum pernah kalian dengar."
Lianara menelan ludah. Ini dia. Kesempatannya untuk menggunakan keunikannya.
"Baiklah, Nona. Ceritakanlah sebuah kisah. Kisah yang bisa menghibur kami," kata pemuda tampan itu, tatapannya sedikit ingin tahu. Itu adalah Shen Rui, putra saudagar terkaya.
"Kisah apa yang ingin Anda dengar, Tuan?" Lianara bertanya, suaranya sedikit gemetar.
"Kisah tentang negeri asalmu," Shen Rui menyarankan. "Madam Yue bilang kau dari tempat yang sangat jauh. Ceritakan tentang itu."
Lianara menarik napas dalam-dalam. "Di negeri asalku, Tuan, kami memiliki benda ajaib bernama telepon genggam. Benda itu bisa menghubungkan kita dengan orang lain di seluruh dunia, bahkan melihat wajah mereka dari jarak ribuan."
Para pria itu saling pandang, jelas kebingungan.
"Telepon genggam? Apa itu?" pria buncit itu bertanya, dahinya berkerut.
"Ini seperti kotak kecil yang bisa memancarkan cahaya, dan di dalamnya ada banyak sekali cerita, gambar, dan musik. Kita bisa berbicara dengan suara kita, dan suara itu akan sampai ke orang lain dalam sekejap mata," Lianara menjelaskan, mencoba menyederhanakan konsepnya. "Kami bahkan punya internet, sebuah jaringan tak terlihat yang menyimpan semua pengetahuan dunia."
"Pengetahuan dunia?" Shen Rui tampak tertarik. "Apakah itu sejenis perpustakaan yang bisa dibawa kemana-mana?"
"Lebih dari itu, Tuan. Itu seperti perpustakaan yang hidup. Kita bisa mencari informasi apapun, dalam sekejap. Tentang sejarah, tentang ilmu pengetahuan, tentang resep masakan, bahkan tentang ramalan cuaca," Lianara mulai merasa lebih percaya diri karena ini adalah wilayahnya.
"Ramalan cuaca? Tanpa dukun?" pria berjanggut itu terkejut.
Lianara menggeleng. "Kami punya alat yang bisa memprediksi hujan, angin, bahkan badai. Kami juga punya benda yang bisa terbang di udara, membawa orang dari satu kota ke kota lain hanya dalam beberapa jam. Namanya pesawat."
Para tamu mulai berbisik-bisik, beberapa tampak terkesima, beberapa lagi mengira Lianara mengigau, tetapi mereka semua mendengarkan.
Madam Yue tersenyum tipis, puas karena keunikan Linara, baginya sekarang Linara adalah aset berharga dia, investasi jangka panjangnya.
"Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka.""Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi gera
Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya."Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?""Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip den
Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status."Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan."Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana
Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan."Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekat
Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang."Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli."Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga r
"Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah.""Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja."Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan."Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana s







