Home / Fantasi / Lanyuan Game World / 05. Skenario Baru

Share

05. Skenario Baru

Author: Nayara Venn
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-15 13:36:19

Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."

Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya.

"Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."

Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?"

"Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip denganmu, Lianara," ia melanjutkan, seolah berbicara pada bayangan Lianara. "Sangat mirip hingga membuatku muak."

Arka mulai mengingat detail-detail game. "Dunia ini memiliki alur takdir yang kuat. Setiap karakter, bahkan minor sekalipun, memiliki peran. Gadis Bordil Tak Bernama itu kematiannya adalah pemicu. Pemicu bagi Jenderal Han Wei untuk memulai penyelidikan korupsi di Qingzhou, dan juga bagi Shen Rui untuk mulai mempertanyakan nilai-nilai hidupnya."

Ia mengusap dagunya, berpikir keras. "Jika Lianara mengambil peran itu, berarti dia akan menghadapi takdir yang sama. Takdir yang sangat tragis."

"Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," Arka bertekad. "Aku adalah Pangeran Li Zhen. Aku punya kekuasaan. Aku punya informasi. Aku bisa mengubahnya."

Akan tetapi, ada keraguan yang menyelinap. "Tapi bagaimana? Bisakah alur takdir dalam Lanyuan Game World diubah? Apa konsekuensinya jika aku melakukannya?"

Ia ingat dialog-dialog dalam game, petunjuk-petunjuk tersembunyi. "Ada beberapa jalur cerita alternatif, tapi itu biasanya dipicu oleh pilihan pemain yang spesifik dan pilihan itu bukan tentang menyelamatkan karakter minor yang ditakdirkan mati."

Arka berjalan ke rak lain, mencari gulungan yang berisi laporan intelijen. Ia menemukan beberapa yang berasal dari Qingzhou. "Laporan tentang peningkatan aktivitas penyelundupan di pelabuhan," ia membaca salah satu gulungan. "Gubernur Liu semakin korup. Pejabat-pejabat lain juga terlibat."

"Ini persis seperti yang ada di game," ia menggumam. "Bahkan nama-nama pejabatnya pun sama. Ini gila. Ini bukan hanya dunia yang terinspirasi game. Ini adalah game itu sendiri yang menjadi nyata."

Ia membentangkan gulungan laporan lain. "Rumah Anggrek Merah. Disebutkan sebagai pusat informasi dan tempat pertemuan para saudagar serta pejabat korup. Pemiliknya, Madam Yue, wanita paruh baya yang licik."

"Madam Yue," Arka mengulang nama itu. "Karakter yang cukup berpengaruh di awal game, meskipun minor. Dia adalah penjaga gerbang bagi banyak informasi dan bagi Gadis Bordil Tak Bernama."

Arka merasa gelisah. "Lianara, dengan sifatmu yang keras kepala itu, bagaimana kau bisa bertahan di bawah Madam Yue? Kau pasti akan membuat masalah."

Ia kembali ke peta, menunjuk Qingzhou lagi. "Jika aku ingin menyelamatkan Lianara, aku harus pergi ke sana, tetapi aku tidak bisa begitu saja pergi sebagai Putra Mahkota. Itu akan menarik terlalu banyak perhatian dan akan memicu intrik istana dan itu juga bisa mempercepat takdir Lianara jika keberadaanku di sana dianggap sebagai gangguan oleh sistem dunia ini."

"Sistem," Arka memikirkan kata itu. "Jika ini benar-benar semacam simulasi yang menjadi nyata, apakah ada entitas yang mengawasinya? Apakah ada developer di balik layar?"

Ia menggelengkan kepala. Itu terlalu jauh. Fokus pada yang bisa dikendalikan.

"Baiklah, rencana," ia mulai merumuskan. "Langkah pertama: kumpulkan informasi lebih lanjut tentang Lianara. Konfirmasi apakah dia benar-benar gadis unik itu. Langkah kedua: cari cara untuk mendekati Qingzhou tanpa menarik perhatian. Langkah ketiga: setelah sampai di sana, cari cara untuk membebaskannya tanpa mengubah terlalu banyak alur cerita utama, jika itu memungkinkan."

"Tapi bagaimana cara membebaskannya?" Arka bertanya pada dirinya sendiri. "Madam Yue tidak akan melepaskan investasinya begitu saja. Terutama jika Lianara memang menarik perhatian orang-orang penting."

Ia ingat Shen Rui, putra saudagar terkaya. "Shen Rui. Karakter yang jatuh cinta pada Gadis Bordil Tak Bernama itu. Dia mencoba membebaskannya, tapi terlambat. Jika Lianara adalah dia, maka Shen Rui pasti akan tertarik padanya."

"Dan Jenderal Han Wei. Dia yang akhirnya membersihkan korupsi di Qingzhou, sebagian karena kematian Gadis Bordil Tak Bernama yang membuka matanya tentang kekejaman di sana," Arka melanjutkan analisisnya. "Jika Lianara ada di sana, dia mungkin akan menarik perhatian Han Wei juga. Sifatnya yang jujur dan keras kepala itu bisa menjadi daya tarik atau bencana."

Arka menghela napas, "Ini berbahaya," ia bergumam. "Semakin banyak orang penting yang terikat dengan Lianara, semakin besar kemungkinan dia menjadi pusat perhatian. Dan dalam dunia game ini, pusat perhatian bagi karakter minor yang seharusnya mati adalah akhir yang buruk."

Ia mengingat kembali apa yang dikatakan Gu Yun dalam outline. "Jiwamu tidak berasal dari dunia ini. Anomali yang ditolak oleh dunia. Tubuhnya perlahan melemah."

"Gu Yun," Arka mengulang nama itu. "Dukun pengembara. Karakter yang tahu segalanya. Jika dia benar-benar ada di sini, dia pasti bisa membantu. Tapi dia baru muncul jauh di kemudian hari dalam game, setelah beberapa peristiwa penting terjadi."

"Aku tidak bisa menunggu sampai Gu Yun muncul," Arka memutuskan. "Lianara tidak punya waktu. Tubuhnya melemah. Itu berarti dia tidak bisa bertahan lama di dunia ini."

"Aku harus bertindak cepat," Arka menunjuk peta Qingzhou lagi, ia mulai memikirkan berbagai skenario tentang dan mengingat kembali setiap detail cerita dalam game.

Arka teringat sesuatu hal jika setelah kematian gadis bordil tak bernama itu memcu para sekutunya muncul, dimulai dari Jendral Wu dan penasehat Lin, saat ini mereka masih berpangkat sebagai seorang prajurit biasa.

Ia berpikir, jika dirinya meminta Jendral Wu dan Penasehat Lin untuk menyertainya dalam misis rahasia, itu akan menjadi sebuah tindakan implusif yang menghancurkan sistem game.

Arka teringat salah satu fitur game: sistem reputasi. "Jika aku melakukan tindakan yang meningkatkan reputasiku di mata mereka, mereka akan lebih mudah dijangkau."

"Penasihat Agung," Arka teringat. "Aku harus melanjutkan diskusi reformasi agraria. Itu akan menunjukkan bahwa aku serius dengan urusan negara. Dan itu akan memberiku alasan untuk bergerak di kemudian hari."

Ia mulai merencanakan langkah-langkah politiknya, dimulai dari pembahasannya dengan penasehat Agung, karena hanya Penasehat Agung lah yang bisa membuka jalan untuknya agar mempercepat plot game. 

"Lianara," Arka memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Lianara yang keras kepala. "Aku tahu kau pasti sedang berjuang. Aku tahu kau pasti sedang mencoba bertahan hidup dengan cara-cara anehmu."

"Tapi dunia ini tidak seperti dunia kita. Ini kejam. Dan kau adalah anomali," ia berbisik. "Aku harus menemukanmu." Batinnya merasa sakit. Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan pelan dari luar pintu perpustakaan.

"Yang Mulia, Penasihat Agung sudah menunggu Anda," suara Kasim Zhao terdengar dari balik pintu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Lanyuan Game World   06. Pendongeng Terbaik

    "Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka.""Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi gera

  • Lanyuan Game World   05. Skenario Baru

    Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya."Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?""Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip den

  • Lanyuan Game World   04. Janji Kembali

    Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status."Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan."Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana

  • Lanyuan Game World   03. Putra Mahkota yang Terbangun

    Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan."Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekat

  • Lanyuan Game World   02. Gadis Bordil

    Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang."Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli."Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga r

  • Lanyuan Game World   01. Babak Baru

    "Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah.""Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja."Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan."Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status