Accueil / Fantasi / Lanyuan Game World / 03. Putra Mahkota yang Terbangun

Partager

03. Putra Mahkota yang Terbangun

Auteur: Nayara Venn
last update Date de publication: 2026-05-15 12:59:26

Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.

Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan.

"Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.

Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekati ranjang. Mereka mengenakan jubah sutra yang berbeda-beda, dengan ekspresi cemas tapi lega di wajah mereka.

"Yang Mulia! Anda sudah sadar!" seru seorang pria paruh baya dengan pakaian kasim istana, wajahnya penuh kerutan. Ia berlutut di samping ranjang dengan cepat, diikuti oleh belasan pelayan lain yang juga berlutut, menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Arka menatap mereka dengan tatapan dingin, mencoba memproses informasi. "Yang Mulia? Siapa kalian?" Suaranya terdengar serak, tidak seperti biasanya.

Seorang wanita muda dengan hanfu hijau giok, yang tampak seperti kepala pelayan, maju sedikit. "Hamba adalah Kepala Pelayan Wei, Yang Mulia. Mereka adalah pelayan pribadi Anda. Anda sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari, Yang Mulia."

"Tiga hari?" Arka mencoba bangkit, tapi kepalanya terasa pening. "Kenapa aku pingsan? Apa yang terjadi?"

Kasim paruh baya itu, yang Arka duga sebagai kepala kasim, menjawab dengan nada khawatir. "Anda tiba-tiba pingsan di aula istana, Yang Mulia. Dokter istana mengatakan Anda terlalu memforsir diri dalam belajar dan mengurus urusan negara."

"Urusan negara?" Arka mengernyit. Ini mulai terasa aneh. Terlalu aneh untuk sekadar mimpi. "Siapa aku?"

Kepala Pelayan Wei tampak terkejut, begitu juga dengan para pelayan lainnya. Mereka saling pandang. "Yang Mulia adalah Pangeran Li Zhen, Putra Mahkota Dinasti Tianyu. Pewaris tunggal tahta kekaisaran."

Nama itu menghantam Arka seperti palu godam. Itu adalah nama karakter utama pria dalam Lanyuan Game World. Putra Mahkota yang dingin, cerdas, dan ditakdirkan untuk menjadi kaisar.

"Li Zhen..." Arka mengulang nama itu, mencoba merasakan resonansinya di lidahnya. "Jadi, aku Pangeran Li Zhen?"

"Benar, Yang Mulia," sahut Kepala Kasim. "Apakah Anda merasa tidak enak badan? Mungkin hamba perlu memanggil Dokter Wang lagi?"

Arka menggelengkan kepala. Ia tidak merasa sakit, hanya disorientasi. Namun, kecerdasannya yang tajam mulai bekerja. Jika ini adalah game, ia harus beradaptasi. Ia tidak bisa menunjukkan kelemahan. "Tidak perlu. Kepalaku sedikit berkabut. Aku butuh penjelasan. Apa yang terjadi sebelum aku pingsan?"

Kepala Pelayan Mei menjawab dengan hati-hati. "Sebelum Anda pingsan, Yang Mulia, Anda sedang berdiskusi dengan Penasihat Agung tentang reformasi agraria. Anda juga baru saja menyelesaikan sesi latihan pedang yang intens."

Reformasi agraria? Latihan pedang? Arka menarik napas dalam-dalam. Ini bukan simulasi. Ini terlalu detail. Terlalu nyata. Dan ia tahu persis dunia ini.

"Di mana kita sekarang?" Arka bertanya, pura-pura tidak tahu.

"Kita berada di Istana Timur, kediaman pribadi Anda di Ibu Kota, Yang Mulia," jawab Kepala Kasim. "Apakah Anda kehilangan ingatan, Yang Mulia?"

Arka menatap tajam ke arah Kepala Kasim. "Apakah kau meragukan ingatan Putra Mahkota, Kasim Zhao?"

Kasim Zhao segera menunduk lebih dalam, wajahnya pucat pasi. "Ampun, Yang Mulia! Hamba tidak bermaksud begitu! Hamba hanya khawatir dengan kondisi Anda."

"Khawatir itu bagus. Tapi jangan melampaui batas," Arka memperingatkan, suaranya dingin dan tegas. Ia harus membangun persona ini dengan cepat. "Berikan aku teh. Dan panggil Penasihat Agung. Aku ingin melanjutkan diskusi kita."

"Tapi, Yang Mulia, Anda baru saja sadar. Dokter Wang menyarankan Anda untuk beristirahat total," Kepala Pelayan Mei mencoba menyela.

"Apakah kau berani menentang perintahku, Wei Li?" Arka menatap Kepala Pelayan Mei dengan sorot mata yang membuat wanita itu gemetar. Ini adalah tatapan yang selalu ia gunakan di sekolah saat menghadapi lawan dalam debat. Tatapan yang mengintimidasi.

"Tidak, Yang Mulia. Hamba akan segera menyiapkan teh dan memanggil Penasihat Agung," Mei Ling segera membungkuk dan bergegas pergi, diikuti oleh beberapa pelayan lain.

Arka menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Dia tidak bisa percaya ini. Dia benar-benar ada di dalam Lanyuan Game World dan dia adalah Pangeran Li Zhen.

Ini gila, pikirnya. Tapi ini nyata.

Ia mengamati tangannya. Bukan tangan remaja biasa. Ini adalah tangan yang lebih kuat, lebih dewasa, dengan bekas kapalan tipis di telapaknya seperti bekas latihan pedang, mungkin. Ia menyentuh wajahnya. Tidak ada kacamata. Wajahnya terasa lebih tirus, lebih tajam.

Lianara, apa kau juga di sini? Sebuah pikiran melintas di benaknya. Jika aku adalah Putra Mahkota, lalu bagaimana dengan dia? Ia ingat sifat Lianara yang keras kepala, pantang menyerah, tapi juga ceroboh. Di dunia yang kejam ini, sifat seperti itu bisa menjadi pisau bermata dua.

Kepala Kasim Zhao, yang masih berlutut di samping ranjang, memberanikan diri berbicara lagi. "Yang Mulia, apakah ada hal lain yang bisa hamba bantu?"

"Beritahu aku tentang situasi politik saat ini," Arka berkata, suaranya tenang. Ia butuh informasi sebanyak mungkin. "Apa saja masalah yang sedang dihadapi dinasti?"

Kasim Zhao, tampaknya lega karena Arka tidak lagi marah, mulai menjelaskan dengan detail. "Situasi di perbatasan utara masih tegang, Yang Mulia. Suku Xiongnu terus melakukan serangan kecil. Di dalam negeri, ada beberapa laporan korupsi di kota-kota pelabuhan, terutama di kota pelabuhan Qingzhou. Dan juga, ada desas-desus tentang pemberontakan kecil di wilayah selatan."

Arka mendengarkan dengan seksama. Informasi ini, semuanya, persis seperti yang ada di alur cerita game. Ketegangan perbatasan utara, korupsi di Qingzhou, desas-desus pemberontakan selatan dan ini semua adalah misi-misi awal dalam mode strategi game.

"Kota pelabuhan Qingzhou," Arka mengulang, perhatiannya sedikit tersentak. "Siapa yang bertanggung jawab atas wilayah itu?"

"Gubernur Liu, Yang Mulia. Seorang pejabat yang telah lama menjabat. Namun, laporan tentang ketidakberesan di wilayahnya semakin sering terdengar," jawab Kasim Zhao.

Qingzhou itu tempat di mana karakter Gadis Bordil Tak Bernama muncul dan mati tragis di awal game, pikir Arka. Kebetulan? Atau ini semua saling terhubung?

"Apakah ada laporan aneh dari Qingzhou? Sesuatu yang tidak biasa?" Arka bertanya, mencoba mencari tahu tanpa membuat Kasim Zhao curiga.

Kasim Zhao berpikir sejenak. "Tidak ada laporan yang terlalu luar biasa, Yang Mulia. Hanya laporan biasa tentang peningkatan perdagangan ilegal dan beberapa kasus kriminal kecil. Oh, ada satu hal. Ada rumah bordil baru yang cukup terkenal di sana, namanya Rumah Anggrek Merah. Konon, pemiliknya sangat licik dan memiliki koneksi yang luas."

Arka merasakan firasat buruk. Dalam game, gadis bordil tak bernama itu juga bekerja di rumah bordil di Qingzhou. Meskipun namanya tidak disebutkan di game, deskripsi karakternya samar-samar. Tapi jika Lianara ada di sini...

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Lanyuan Game World   06. Pendongeng Terbaik

    "Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka.""Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi gera

  • Lanyuan Game World   05. Skenario Baru

    Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya."Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?""Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip den

  • Lanyuan Game World   04. Janji Kembali

    Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status."Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan."Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana

  • Lanyuan Game World   03. Putra Mahkota yang Terbangun

    Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan."Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekat

  • Lanyuan Game World   02. Gadis Bordil

    Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang."Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli."Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga r

  • Lanyuan Game World   01. Babak Baru

    "Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah.""Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja."Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan."Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana s

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status