Home / Fantasi / Lanyuan Game World / 04. Janji Kembali

Share

04. Janji Kembali

Author: Nayara Venn
last update publish date: 2026-05-15 13:04:12

Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.

Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status.

"Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"

Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."

Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan.

"Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana. Aku perlu membaca beberapa dokumen lama," Arka memutuskan. Ini adalah alasan yang bagus untuk mulai mencari informasi lebih lanjut tentang Qingzhou dan mungkin, keberadaan Lianara.

"Sekarang, Yang Mulia? Tapi Penasihat Agung akan segera datang," Kasim Zhao mengingatkan.

"Aku akan menemuinya setelah dari perpustakaan. Katakan padanya aku sedang memulihkan diri dengan membaca," Arka memerintah. "Dan siapkan beberapa pengawal yang bisa menjaga jarak. Aku tidak ingin ada yang menggangguku."

"Baik, Yang Mulia," Kasim Zhao membungkuk, lalu bergegas pergi untuk melaksanakan perintah.

Arka bangkit dari ranjang. Tubuhnya terasa lebih kuat dari yang ia ingat. Mungkin karena tubuh Pangeran Li Zhen memang sudah terlatih. Ia berjalan menuju cermin tembaga besar yang dihiasi ukiran naga.

Pantulan di cermin menunjukkan seorang pria muda yang tampan, dengan fitur wajah tajam, mata yang cerdas, dan aura kekuasaan yang kuat. Ini adalah Pangeran Li Zhen, persis seperti yang digambarkan dalam game. Bukan Arka, siswa SMA yang dingin dan kompetitif tapi di balik wajah itu, Arka masih bisa melihat dirinya.

"Jadi, ini kenyataanku sekarang," Arka bergumam pada pantulannya. "Putra Mahkota Dinasti Tianyu."

Ia tahu alur cerita game ini. Ia tahu siapa musuh-musuhnya, siapa sekutu-sekutunya, dan bagaimana ia harus bertindak untuk mencapai takhta. Ini adalah keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini.

Akan tetapi, ada satu variabel yang tidak pernah ada dalam game yaitu Lianara.

Jika Lianara benar-benar ada di Qingzhou, di Rumah Anggrek Merah, itu akan menjadi masalah besar. Dalam game, Gadis Bordil Tak Bernama adalah karakter minor yang mati di awal cerita, menjadi pemicu bagi beberapa misi sampingan. Jika itu Lianara, ia harus menghentikannya dan ia juga harus menyelamatkannya.

"Ini bukan game lagi," Arka berbisik pada dirinya sendiri, tatapannya menajam. "Ini nyata. Dan aku tidak akan membiarkan Lianara berakhir seperti itu."

Pintu kamar terbuka lagi, dan Kepala Pelayan Mei masuk dengan membawa jubah sutra kekaisaran berwarna biru gelap yang dihiasi sulaman naga perak. "Yang Mulia, jubah Anda sudah siap. Penasihat Agung sudah dalam perjalanan."

Arka mengambil jubah itu. Kainnya terasa mewah dan berat. Ia mengenakannya, merasakan beban tanggung jawab yang menyertainya.

"Wei Li," Arka berkata, suaranya tenang tapi penuh otoritas. "Aku ingin kau mencari tahu lebih banyak tentang Rumah Anggrek Merah di Qingzhou. Secara diam-diam. Laporkan kepadaku jika ada hal menarik, terutama tentang gadis-gadis baru di sana."

Kepala Pelayan Wei tampak terkejut, tetapi ia segera membungkuk. "Baik, Yang Mulia. Akan hamba laksanakan."

Arka mengangguk. Dia tidak bisa langsung pergi ke Qingzhou. Itu terlalu mencurigakan bagi seorang Putra Mahkota. Tapi dia bisa menggunakan sumber dayanya. Dia adalah Pangeran Li Zhen sekarang. Dia memiliki kekuatan.

Lianara, bertahanlah, pikir Arka. Aku akan menemukanmu. Dan kita akan mencari cara untuk kembali bersama-sama.

Ia melangkah keluar dari kamarnya, aura kekuasaan menguar dari dirinya. Istana Timur yang megah menyambutnya, puluhan pelayan berlutut di sepanjang koridor. Ini adalah dunianya sekarang, dunia yang ia kenal dari layar ponsel, kini menjadi kenyataan.

Dan di dunia ini, ia akan menggunakan semua pengetahuannya, semua kecerdasannya, dan semua kekuasaannya untuk melindungi satu-satunya orang yang tahu siapa dirinya sebenarnya. Bahkan jika itu berarti ia harus mengubah alur cerita game yang sudah ditakdirkan.

"Dimana Penasihat Agung?" Arka bertanya, suaranya menggelegar di koridor istana. "Aku sudah siap."

Arka melangkah masuk ke perpustakaan istana, langkahnya mantap meskipun pikirannya masih berputar kencang. Aroma kertas tua, tinta, dan kayu cendana menyambutnya, jauh berbeda dari bau arak dan dupa yang kini dihirup Lianara. Rak-rak buku setinggi langit-langit berjejer rapi, dipenuhi gulungan-gulungan kuno dan kitab-kitab tebal. Ini adalah harta karun informasi, dan Arka bertekad untuk menggali semuanya.

"Yang Mulia, perpustakaan ini memiliki koleksi terlengkap dari seluruh dinasti," Kasim Zhao berbisik, membimbingnya ke sebuah meja besar di tengah ruangan yang diterangi oleh lentera-lentera tembaga. "Apakah ada topik khusus yang ingin Anda pelajari?"

Arka mengangguk. "Aku ingin meninjau kembali sejarah Dinasti Tianyu. Terutama, catatan-catatan tentang geografi dan demografi wilayah pesisir. Dan juga, arsip laporan intelijen dari beberapa tahun terakhir."

"Wilayah pesisir, Yang Mulia?" Kasim Zhao tampak sedikit terkejut. "Biasanya, Anda lebih tertarik pada strategi militer dan hukum."

"Perubahan adalah bagian dari pertumbuhan, Kasim Zhao," Arka menjawab datar, tatapannya menyapu rak-rak buku. "Sebagai Putra Mahkota, aku harus memiliki pemahaman yang komprehensif tentang seluruh kekaisaran. Bukankah begitu?"

"Tentu saja, Yang Mulia! Hamba hanya terkejut dengan minat baru Anda," Kasim Zhao segera membungkuk. "Baiklah, hamba akan menginstruksikan para pelayan perpustakaan untuk membawa semua gulungan yang relevan."

"Tidak perlu," Arka menyela. "Aku ingin melakukannya sendiri. Kirim semua pelayan keluar. Dan para pengawal, minta mereka berjaga di luar pintu. Aku tidak ingin ada yang menggangguku."

Kasim Zhao ragu sejenak. "Tapi, Yang Mulia, keamanan Anda?"

"Aku akan baik-baik saja di sini. Aku hanya butuh ketenangan untuk berpikir," Arka menatap Kasim Zhao dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. "Ini perintah."

"Baik, Yang Mulia," Kasim Zhao akhirnya menyerah, membungkuk dalam-dalam, lalu memberi isyarat kepada para pelayan dan pengawal untuk meninggalkan ruangan. Dalam beberapa menit, perpustakaan yang luas itu menjadi sunyi, hanya menyisakan Arka sendirian di tengah lautan pengetahuan.

Lianara, tunggu aku datang membawamu pergi jauh dari dunia ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lanyuan Game World   06. Pendongeng Terbaik

    "Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka.""Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi gera

  • Lanyuan Game World   05. Skenario Baru

    Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya."Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?""Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip den

  • Lanyuan Game World   04. Janji Kembali

    Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status."Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan."Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana

  • Lanyuan Game World   03. Putra Mahkota yang Terbangun

    Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan."Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekat

  • Lanyuan Game World   02. Gadis Bordil

    Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang."Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli."Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga r

  • Lanyuan Game World   01. Babak Baru

    "Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah.""Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja."Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan."Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status