Home / Fantasi / Lanyuan Game World / 02. Gadis Bordil

Share

02. Gadis Bordil

Author: Nayara Venn
last update publish date: 2026-04-22 00:03:48

Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang.

"Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli.

"Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.

Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga rumah sakit.

Ia berada di sebuah kamar sempit. Dindingnya terbuat dari kayu yang sudah lapuk, beberapa bagian mengelupas. Sebuah meja kecil di sudut, dengan cangkir kosong dan teko tanah liat. Di atasnya, ada cermin tembaga yang memantulkan bayangan samar.

Dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya, ia tidak mengenakan seragam sekolahnya.

Tubuhnya dibalut kain sutra tipis berwarna merah menyala, dengan motif bunga-bunga emas yang rumit. Lengan bajunya lebar, kerahnya rendah, memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Kain itu terasa asing, lembut tapi dingin di kulitnya. 

Lianara menatap tangannya. Kuku-kukunya dihias dengan cat merah terang. Pergelangan tangannya dihiasi gelang giok. Ia menyentuh wajahnya yang terasa tebal. Ia beranjak, tubuhnya limbung, dan meraih cermin tembaga itu.

Bayangan di cermin membuat napasnya tercekat.

Itu adalah dirinya, tapi bukan dirinya. Wajahnya dipoles riasan tebal, bibirnya merah menyala, matanya ditarik dengan garis hitam tajam yang membuatnya tampak lebih tua, lebih matang. Rambut hitam panjangnya ditata rumit, dihiasi jepit rambut emas dan bunga-bunga sutra.

"Apa-apaan ini!?" bisiknya, suaranya bergetar. Ia menampar pipinya sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi.

"Arka! Kamu di mana?! Ini nggak lucu!" Ia mencoba berteriak, tapi suaranya hanya menjadi bisikan parau. Kepalanya berputar. Mungkinkah ini prank? Tapi siapa yang bisa melakukan prank sehebat ini? Mengubah seluruh ruangan, mengubah pakaiannya, bahkan riasannya?

Tiba-tiba, tirai tipis di pintu bergeser. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tegas, dengan sepasang mata tajam yang seolah bisa menembus jiwa. Ia mengenakan hanfu gelap yang elegan, tapi auranya dingin dan tidak ramah. Di tangannya, ia membawa nampan berisi semangkuk bubur dan teh.

"Sudah bangun rupanya, Nona baru," kata wanita itu, suaranya datar, tanpa emosi. Ia meletakkan nampan di meja kecil. "Makanlah. Kau butuh tenaga."

Lianara menatap wanita itu dengan bingung. "Nona? Siapa kau? Di mana aku? Ini rumah siapa? Aku harus pulang, ini pasti salah paham."

Wanita itu hanya menatapnya. Tatapannya tidak berubah, tidak ada simpati, hanya penilaian dingin. "Pulang? Kau sudah di rumahmu, Nona. Ini adalah Rumah Anggrek Merah."

"Rumah Anggrek Merah? Apa itu? Aku tidak kenal tempat ini! Aku cuman gadis SMA, aku tersesat! Siapapun tolong aku!" Lianara melangkah mundur, merasa terancam oleh tatapan tajam wanita itu.

Wanita itu mendengus kecil. "Drama yang sama. Setiap gadis baru selalu begitu. Dengar, Nona, aku Madam Yue, pemilik Rumah Anggrek Merah ini. Dan kau, mulai sekarang, adalah salah satu penghuni di sini."

"Penghuni? Apa maksudmu? Aku bukan penghuni apa-apa! Aku mau pulang! Aku mau kembali ke ruang kelasku! Aku mau kembali ke dunia modern!" Lianara merasa panik. Kata-kata "Rumah Anggrek Merah" dan "penghuni" terdengar sangat tidak menyenangkan. Ditambah lagi dengan hanfu merah dan riasan tebal ini.

Madam Yue menatapnya lagi, kali ini dengan sedikit kebosanan. "Dunia modern? Ruang kelas? Apa yang kau bicarakan? Apakah kepalamu terbentur saat jatuh ke sini? Tidak ada yang namanya dunia modern di Dinasti Tianyu ini, Nona. Dan kau tidak jatuh begitu saja. Kau dibeli."

"Dibeli?! Aku dibeli?! Apa-apaan ini?! Ini abad berapa?! Aku bukan barang! Aku manusia! Dan Dinasti Tianyu itu... itu cuma ada di game! Lanyuan Game World! Ini pasti cuma mimpi! Aku pasti masih di dalam game!" Lianara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir mimpi buruk ini.

"Game? Kau masih saja mengigau. Dengar, Nona. Aku tidak peduli dari mana kau berasal, atau siapa dirimu sebelumnya. Bagiku, kau adalah gadis baru yang kubeli dengan harga mahal. Dan di Rumah Anggrek Merah, gadis-gadis sepertimu memiliki satu tugas utama: menghibur para tamu." Madam Yue melipat tangannya di dada, nada suaranya tegas dan tidak bisa dibantah.

"Menghibur tamu?! Maksudmu aku harus jadi gadis bordil?! Tidak! Aku tidak mau! Aku bukan pelacur! Aku tidak akan melakukan itu!" Darah Lianara berdesir. Kata-kata itu begitu menghantamnya seperti palu. 

"Cukup!" Madam Yue membentak, suaranya naik satu oktaf. "Aku tidak punya waktu untuk cerita khayalanmu. Kau ada di sini. Kau gadis bordil. Itu kenyataanmu sekarang. Terima itu, atau kau akan menderita lebih dari yang bisa kau bayangkan."

Lianara terdiam, terkejut dengan nada suara Madam Yue yang mengancam. Air mata mulai menetes di pipinya, membasahi riasan tebal itu. Ia tidak bisa membantah lagi. Wanita ini tidak akan mendengarkan. Tidak ada yang akan mendengarkan.

"Aku tidak tahu apa-apa tentang menjadi gadis bordil," bisiknya, suaranya pecah. "Aku tidak bisa menari. Aku tidak bisa menyanyi. Aku tidak tahu cara menghibur pria."

Madam Yue tersenyum sinis. "Kau akan belajar. Atau kau akan kelaparan. Di sini, kau bekerja untuk makan. Dan untuk melunasi utangmu. Tidak ada jalan keluar yang mudah."

"Jadi aku benar-benar terjebak di sini?" Lianara bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

"Sekarang, makan buburmu, setelah itu akan ada yang mengajarimu cara bersikap di depan tamu." Madam Yue berbalik, tirainya bergeser lagi, dan ia menghilang di baliknya.

Lianara berdiri terpaku di tengah ruangan, hanfu merah itu terasa seperti kain kafan yang menjeratnya. Aroma dupa dan arak kini terasa lebih memuakkan. Tawa renyah dari luar, yang tadinya terdengar jauh, kini seolah mengejeknya.

Ia menatap bubur di nampan. Lalu ke cermin tembaga, melihat pantulan dirinya yang asing. Wajah yang bukan dirinya, tapi kini adalah satu-satunya identitasnya di dunia yang kejam ini.

Dia adalah Lianara, siswi SMA modern, tetapi di sini, di Dinasti Tianyu, di Rumah Anggrek Merah, dia adalah gadis bordil yang baru dibeli. Dan tidak ada yang peduli dengan siapa dia sebelumnya.

"Aku harus gimana sekarang!?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lanyuan Game World   06. Pendongeng Terbaik

    "Nona Lianara, punggungmu harus lurus. Senyummu harus lebih lembut, jangan seperti ingin menantang berkelahi," Mei Ling menegur, suaranya sabar tapi tegas. Ia menata kembali rambut Lianara yang terlepas dari sanggul sederhana. Mereka berada di sebuah ruangan kecil di belakang panggung Rumah Anggrek Merah, tempat para gadis bersiap.Lianara mendengus. "Aku nggak bisa senyum palsu, Mei Ling. Rasanya aneh. Lagipula, kenapa harus senyum begitu? Aku kan bukan model iklan pasta gigi."Mei Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di sini, senyum adalah topeng terbaik kita, Nona. Ini menunjukkan keramahtamahan, bukan kelemahan. Para tamu suka melihat gadis yang ceria, yang bisa membuat mereka lupa akan masalah mereka.""Masalah mereka? Aku juga punya masalah! Masalahku lebih besar dari masalah mereka!" Lianara memprotes, melipat tangan di dada. Hanfu merah muda yang dikenakannya hari ini terasa sedikit lebih nyaman daripada yang merah menyala, tapi tetap saja membatasi gera

  • Lanyuan Game World   05. Skenario Baru

    Arka berjalan menuju rak-rak yang berisi catatan geografi. "Baiklah, Arka," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya pelan di antara tumpukan buku. "Ini bukan lagi game. Ini nyata. Dan aku adalah Pangeran Li Zhen." Ia menyentuh sebuah gulungan perkamen yang sudah menguning. "Tapi aku punya keuntungan. Aku tahu alurnya."Ia mulai menarik gulungan-gulungan peta kuno, membentangkannya di meja. Peta Dinasti Tianyu terhampar di depannya, dengan nama-nama kota dan wilayah yang sangat ia kenal dari layar ponselnya."Qingzhou. Kota pelabuhan yang ramai, pusat perdagangan ilegal, dan lokasi Rumah Anggrek Merah," Arka menunjuk sebuah titik di peta. "Dalam game, ini adalah titik awal untuk beberapa misi sampingan yang melibatkan korupsi dan penyelundupan. Dan juga, tempat Gadis Bordil Tak Bernama itu."Ia menarik napas panjang. "Lianara, apakah kau benar-benar ada di sana?""Jika deskripsi Kasim Zhao benar, gadis unik yang berbicara aneh dan menarik perhatian saudagar kaya itu sangat mirip den

  • Lanyuan Game World   04. Janji Kembali

    Tidak mungkin. Lianara tidak mungkin berakhir di tempat seperti itu, Arka mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Dia terlalu keras kepala, terlalu cerewet. Dia pasti bisa menghindari situasi itu.Akan tetapi, ia juga tahu betapa kejamnya dunia Dinasti Tianyu ini, terutama bagi wanita tanpa status."Rumah Anggrek Merah," Arka mengulang, nada suaranya sedikit berubah. "Apakah ada gadis baru yang menarik perhatian di sana?"Kasim Zhao tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia segera menjawab dengan hormat. "Hamba tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu, Yang Mulia. Tapi ada desas-desus bahwa ada seorang gadis baru yang cukup unik, sering berbicara hal-hal aneh, dan menarik perhatian beberapa saudagar kaya. Namun, itu hanya desas-desus."Unik? Berbicara hal-hal aneh? Menarik perhatian? Itu sangat mirip dengan Lianara. Arka merasakan dingin menusuk hatinya. Ia harus mencari tahu, ia harus memastikan."Kasim Zhao, siapkan keretaku. Aku ingin pergi ke perpustakaan istana

  • Lanyuan Game World   03. Putra Mahkota yang Terbangun

    Arka terbangun dengan sensasi aneh, seolah kepalanya baru saja ditarik keluar dari air es yang dalam. Bukan dinginnya kegelapan yang menelan mereka, melainkan kehangatan yang lembut, ditemani aroma cendana dan bunga sakura yang samar. Matanya terasa berat, tetapi saat ia memaksakan diri membukanya, yang pertama kali menyambutnya adalah kemewahan yang tak terbayangkan.Langit-langit ruangan dihiasi ukiran naga emas yang meliuk-liuk di antara awan, dicat dengan detail yang menakjubkan. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai anggun dari jendela besar, menyaring cahaya pagi yang lembut. Perabotan di sekelilingnya terbuat dari kayu jati berukir halus, bertahtakan giok dan mutiara. Ia terbaring di atas ranjang yang begitu empuk, dengan selimut sutra yang terasa seperti sentuhan awan."Ugh!" Arka mengerang pelan, tenggorokannya kering. Gerakan kecilnya itu segera menarik perhatian.Dari sudut ruangan, sekelompok orang yang tadinya berdiri diam seperti patung, kini bergerak cepat mendekat

  • Lanyuan Game World   02. Gadis Bordil

    Lianara terbangun dengan kepala berdenyut. Bukan lagi dingin dan kosong, melainkan kehangatan yang menyesakkan, bercampur dengan aroma dupa, arak, dan sesuatu yang manis, seperti melati busuk. Ia mengerjap, matanya terasa berat, kelopak matanya seperti direkatkan lem. Cahaya redup menembus celah tirai tipis, melukiskan pola samar di dinding kayu yang usang."Ugh..." Sebuah erangan lolos dari tenggorokannya yang kering. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa kaku. Seluruh tubuhnya sakit, seolah habis dipukuli."Arka?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mencoba memanggil nama itu, nama satu-satunya orang yang bersamanya saat dunia mereka runtuh. Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang dibelah oleh suara musik tradisional yang mengalun sendu dari kejauhan, diiringi tawa renyah yang terdengar asing.Ia memaksakan diri membuka mata sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu perlahan fokus. Ini bukan ruang kelas, bukan kamarnya dan bukan juga r

  • Lanyuan Game World   01. Babak Baru

    "Apaan sih, Arka? Nggak usah sok tahu, deh!"Lianara menyingkirkan tangan Arka dari ponselnya dengan kasar. Sore itu, ruang kelas 11 IPA 2 sudah nyaris kosong, hanya menyisakan mereka berdua dan debu yang menari-nari di sela cahaya matahari senja.Arka mendengus, membenarkan letak kacamatanya. "Aku cuma bilang, strategi itu inti dari Lanyuan Game World. Kamu fokus cerita mulu, ya jelas kalah.""Kalah apanya? Aku udah sampai level lima belas, lho! Kamu baru level dua belas!" Lianara memegang ponselnya erat, seolah Arka akan merebutnya kapan saja."Level itu cuma angka, Lianara. Tanpa strategi yang matang, kamu bakal stuck di misi utama. Game ini bukan visual novel, ini strategi kerajaan." Arka melipat tangan di dada, nada suaranya selalu datar tapi penuh keyakinan yang menyebalkan."Ih, apaan! Justru ceritanya yang bikin nagih! Dinasti Tianyu, perebutan kekuasaan, intrik-intrik istana, itu yang seru!" Lianara membanting tasnya ke meja. "Kamu tuh cuma bisa lihat angka, statistik, mana s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status